
Dirga tergeletak di tanah berdebu. Dia tidak berdaya, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka memar. Beberapa bagian tulangnya telah patah, bahkan satu jari kelingkingnya sudah putus dari tempatnya. karena tidak kuat menahan rasa sakit dia pun akhirnya tidak sadarkan diri.
Si preman yang memegang pisau lipat itu melihat kondisi Dirga yang sudah tidak sadarkan diri. Dia sedikit kaget karena takut korbannya akan meregang nyawa. Tentu kalau hal itu terjadi, maka dia dan kelompoknya akan terkena masalah. Maka perlahan dia mendekati Dirga, dan mencoba memegang tangannya untuk mengecek denyut nadi Dirga.
Setelah merasa yakin bahwa denyut nadi Dirga masih berdetak. Dia masih belum yakin, maka dia menempelkan jari telunjuknya ke dekat daerah lubang hidung Dirga. Tidak jauh berbeda dengan si preman yang membawa pisau itu. Para preman yang lainnya pun yang tadi ikut pengeroyok Dirga merasa khawatir takut korbannya mati.
"Bos Baron, apa dia masih hidup?" salah satu preman itu bertanya kepada preman yang masih memegang pisau lipat di tangan kanannya.
"Ya Bos apa dia masih hidup? kita akan mendapatkan masalah jika dia sampai mati oleh kita. Bisa-bisa kita akan diincar oleh pihak kepolisian" tambah salah satu preman lainnya, kepada preman pemegang pisau itu. Yang ternyata orang yang memegangi pisau lipat itu adalah pemimpin kelompok tersebut.
Baron tidak menjawab kedua pertanyaan anak buahnya itu. Dia tetap fokus mengecek keadaan Dirga. Setelah beberapa saat akhirnya dia bernafas lega. Baron merasa yakin bahwa Dirga masih bernafas. Kemudian dia berdiri dan menghadap ke teman-temannya.
Para preman yang lainnya mereka masih terdiam menatap Baron dan menunggu jawaban dari Baron.
"Si kunyuk ini ternyata masih hidup maka kita tidak akan terkena masalah kalian tenang saja!", Jawab Baron meyakinkan para anak buahnya.
Baron melihat sekeliling tempat itu. tidak ada seorangpun yang ada di sana selain para anak buahnya. Dia merasa tenang bahwa tidak ada saksi mata yang melihat pengeroyokan itu. "Lalu bagaimana kita sekarang Bos Baron? Apa yang harus kita lakukan pada si kunyuk itu?".
"Sudah biarkan saja si kunyuk itu, dia orang miskin yang lemah tidak mempunyai kekuasaan. Dia tidak akan bisa membalas ataupun melaporkan kita karena tidak ada bukti dalam pengeroyokan ini lebih baik kita sekarang pergi dari sini", kata Baron kepada teman-temannya.
Kelima preman yang menjadi anak buahnya Baron itu pun mengangguk setuju dengan keputusan ketua mereka. Maka mereka pun perlahan berjalan meninggalkan Dirga yang masih tergeletak tidak berdaya di tanah berdebu itu.
Namun setelah beberapa langkah mereka berjalan mereka mendengar suara gemeretak dari arah tempat Dirga terbaring itu. secara bersamaan mereka menghentikan langkahnya. Mereka semua merasa penasaran dengan suara nyaring itu.
Suara itu cukup keras terdengar di telinga mereka. hal itu membuat penasaran mereka, kemudian mereka pun berbalik ke belakang dan menatap ke arah Dirga yang masih terbaring itu. Kedua mata Baron terbelalak lebar hampir keluar dari tempatnya melihat pemandangan yang ada di depannya.
Begitupun kelima anak buahnya menatap ke arah Dirga tidak percaya. walaupun mata Dirga terlihat masih terpejam, tetapi hal aneh yang mengerikan terjadi kepada seluruh tubuhnya. Ternyata suara nyaring yang mereka dengar adalah bersumber dari tubuh Dirga yang sebelumnya mereka patahkan bergerak dengan sendirinya.
Beberapa tulang Dirga yang patah itu bergerak-gerak dan kembali lagi menyatu ke tempat asalnya. begitupun semua luka lebam yang ada di tubuh dan wajah Dirga perlahan menghilang dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.
Sedangkan keenam preman yang dari tadi memperhatikan proses penyembuhan tubuh Dirga mereka bergetar ketakutan.
Pasalnya baru kali ini mereka melihat hal yang mengerikan seperti sekarang. "Mo..mo..monster", kata Baron sedikit berteriak sambil kedua matanya tetap menatap ke arah Dirga. Wajahnya pucat pasti seakan semua darahnya hilang entah ke mana.
Begitupun kelima anak buah Baron mereka semua mundur perlahan satu langkah. Tanpa aba-aba apapun Baron kemudian berbalik dan berlari sekuat mungkin meninggalkan kelima anak buahnya. Dia tidak peduli jika akan dianggap penakut oleh teman-temannya itu. Yang ada di dalam pikirannya dia harus lari dari orang aneh yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri walaupun dia sedang pingsan.
Melihat pimpinannya yang berlari terbirit-birit meninggalkan mereka. anak buah Baron pun tidak tinggal diam, mereka pun ikut berlari mengejar Baron karena merasa ketakutan dengan apa yang terjadi kepada Dirga. Setelah merasa jauh dia berlari akhirnya Baron berhenti dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Baron membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lututnya, sambil berusaha mengatur nafasnya kembali. Dia teringat perkataan orang tuanya dahulu bahwa ada sebagian orang yang mempunyai kekuatan ilmu terlarang rawarontek.
Almarhum orang tuanya orang tuanya berpesan bahwa dia tidak boleh berurusan dengan manusia penganut ilmu terlarang rawarontek itu. Karena manusia pemilik ilmu rawarontek itu adalah orang yang tidak bisa mati. Mereka tidak akan mati walau terkena tembakan peluru sekalipun.
Walaupun kepalanya terpisah jika disambungkan dan ditempelkan ke tempat asalnya maka orang itu akan sembuh kembali seperti sedia kala. Tidak lama kemudian telinganya mendengar derap langkah kaki dari arah belakangnya.
Baron berpikiran bahwa suara itu berasal dari kelima anak buahnya yang mengejar dirinya. Dia merasa yakin bahwa kelima anak buahnya pun akan merasa ketakutan, dengan apa yang terjadi kepada Dirga. Dan benar saja dugaan Baron, saat dia berdiri dan melihat ke belakang, teman-temannya sudah berada tepat di belakangnya.
"Bos Baron kenapa kamu meninggalkan kami?" tanya salah satu preman itu sambil mencoba menenangkan diri seperti Baron tadi. Nafas mereka juga terlihat tidak teratur karena sudah berlari tanpa berpikir apapun.
"Goblok kalian apa tidak lihat orang yang tadi kita keroyok itu dia mempunyai ilmu terlarang rawarontek?" Baron membentak anak buahnya itu dengan bertolak pinggang menatap mereka. Kelima anak buahnya pun terkejut dengan perkataan pemimpinnya itu.
"Apa benar Bos Dia mempunyai ilmu rawarontek yang mengerikan itu?" tanya salah satu anak buahnya karena dia sedikit tidak percaya dengan perkataan Baron barusan.
"Iya aku yakin itu. karena kita sudah melihatnya tadi, bahwa dia bisa menyembuhkan diri sendiri hanya dalam waktu beberapa detik saja. Hal itu tidak akan terjadi kepada manusia normal seperti kita. Untuk kedepannya kita tidak boleh berurusan dengannya lagi kalau masih sayang dengan nyawa kita."
Baron yang mempunyai badan kekar dan tinggi besar itu pun merasa ketakutan dengan ilmu yang dimiliki oleh Dirga. Apalagi dengan anak buahnya, melihat pemimpinnya ketakutan, mereka merasa yakin dengan apa yang dipikirkan Baron bahwa Dirga adalah pemilik ilmu terlarang rawarontek.
Terima kasih sudah mampir jangan lupa like, comment dan favoritnya. Agar tidak ketinggalan update dari novel baru ku ini. Semoga semua orang yang membaca cerita ini diberi kesehatan dan kebahagiaan selamanya.