
* * *
Makan malam pun selesai, Elody kemudian diantar oleh Laviera menuju kamar tidurnya. Mereka berbincang sedikit sampai akhirnya pintu kamar yang memiliki plakat cantik bertuliskan 'Elodiya' dengan ukiran bunga-bunga disekitarnya terlihat.
Setelah sampai di tempat tidur, ia pun berbaring bersama ibunya. Laviera yang tau kalau dirinya masih belum terbiasa berada di rumah yang sangat besar itu memutuskan untuk menemaninya sampai ia pun tertidur.
Laviera menatap anak itu dengan iba. Elody sudah tumbuh sebesar ini tanpa bersama dengan kedua orangtuanya. Ia termasuk orang yang paling tau mengenai diri Elody ini. Sedari dulu Laviera selalu mengawasi Elody lewat bodyguardnya. Keseharian Elody seperti apa, apa yang dia lakukan, ada dimana dia, bersama dengan siapa ataupun juga kesukaannya, Laviera mengetahui semuanya.
Ia pun sengaja menyiapkan perpustakaan khusus di dalam kamar Elody karena Laviera tau kalau Elody sangat suka sekali yang namanya membaca. Bagi Elody buku sudah seperti temannya yang selalu menemani dirinya saat ia merasa kesepian.
"Maafkan Mommy sayang telah membiarkan kamu sendiri selama ini," Laviera menggenggam tangan mungil Elody yang masih tertidur pulas itu dengan rasa bersalah yang dalam.
'Seandainya aku lebih cepat membawa Elody kesini ....'
Laviera menghela napasnya menghapus semua air matanya yang menetes kemudian mengecup dahi Elody sebelum dirinya pergi.
"Tidur yang nyenyak sayang."
* * *
Elody melihat sekelilingnya dengan kebingungan, "Ini dimana?"
Turun dari kasurnya ia segera keluar dari pintu yang paling besar dibiliknya itu. Keluar dari ruangan itu ia tiba-tiba bertemu beberapa orang yang tidak asing disekitarannya. Nampaknya seperti pelayan dan pengawal bisa dibilang?
"Pagi?" Dexter yang tiba-tiba muncul didepannya menyapa Elody yang sepertinya sedang kebingungan entah kenapa.
'Aaahh ini rumah Daddy! Kenapa Ody bisa lupa!'
Ia memukul kepalanya berkali-kali dengan tangan mungilnya, tak sadar kalau sedari tadi ia belum menjawab sapaan dari kakaknya itu.
"Jangan dipukul, kepala cantikmu bisa terluka," Dexter menarik tangan Elody dengan lembut dan mengusap bagian kepala adiknya yang baru saja dirinya sendiri pukul tadi.
"Ehehehe tidak kok, kepala Ody itu keras seperti batu tau!" Elody yang berencana untuk membuktikan bahwa perkataannya itu benar berniat untuk kembali memukul kepalanya lagi, dan tentu saja Dexter menghentikannya.
"Iya kakak percaya, sekarang kita turun kebawah dan makan dulu Mommy dan Daddy sudah ada disana." Dexter membawanya turun melalui tangga utama, atas permintaan dari Elody tentunya, ia tidak mau memakai lift didalam rumah, rasanya aneh sekali menurutnya.
Setelah melewati tangga besar yang langsung bertujuan ke ruang tamu, dari situ mereka kemudian berjalan lagi menuju ruang makan dan tak sengaja berpapasan dengan duo kembar tak seiras alias Chaiden dan juga Linden.
Elody ternsenyum dan menyapa mereka, "Hai kak! Mau menuju ke ruang makan juga ya?"
Mereka hanya melirik sedikit kearah Elody namun setelah itu berjalan melewatinya tanpa adanya jawaban yang keluar dari mulut mereka itu.
Elody yang melihat sikap mereka seperti itu membuat wajahnya tertekuk. Ia pikir mereka sepertinya tidak menyukainya. Setelah melihat Dexter, Elody berpikir kalau mereka merupakan orang yang mudah diajak bicara sama seperti kakaknya yang satu itu.
Namun sepertinya harapannya sudah hancur.
"Biarkan saja, mereka memang orang yang seperti itu, lagipula kan ada Kakak kamu tidak perlu mempedulikan yang lainnya lagi, cukup kakak saja," Dexter mengelus lembut pucuk kepala Elody dan berusaha menyemangatinya.
Elody pun akhirnya mulai tersenyum lagi dan berterima kasih pada Dexter, karena sudah menyemangatinya walau ia sendiri tidak menyadari ada maksud tersembunyi dari perkataan Dexter itu.
* * *
Siang harinya
Alhasil jadilah Brian, sang kepala pelayan mansion lah yang menemani keduanya dengan dirinya yang sebagai tour guide mereka.
Woah ... itulah yang selalu Elody keluarkan tiap melihat sekitarnya.
Dia bahkan sepertinya akan sakit jantung bila terlalu lama melihat-lihat sekeliling Mansion yang super duper luas ini dan segala hal yang ada disana membuatnya susah sekali bernapas dengan benar.
Laviera pun sama terkejutnya dengan Elody. Bedanya dia terkejut karena banyak sekali tempat dan berbagai barang-barang yang entah dia lupa atau memang dia yang tidak pernah melihat keseluruhan Mansion dengan benar dan menjadi tidak tau apa-apa saja disana. Oh my ...
Banyak tempat yang mereka kunjungi seperti ruang keluarga, ruang bioskop, lapangan golf, ada juga lapangan basket dan sepak bola, kemudian swimming pool yang ada diluar maupun dalam ruangan, dan banyak lagi. Astaga Elody benar-benar pusing karena berusaha mengingat banyak tempat lainnya yang padahal masih dalam satu wilayah rumahnya itu, namun entah kenapa sangat luas sekali.
Mommy nya pun sudah terlihat kelelahan, dan akhirnya mereka pun menyudahi acara jalan-jalan mereka dengan menggunakan mobil golf dan menuju ke rumah utama.
"Hah ... capek sekali," keluh Laviera yang baru saja turun dari mobil golf dan disusuli oleh Elody.
"Iya ... ternyata rumah Daddy berkali-kali lipat lebih besar dari yang Ody bayangkan,"
Laviera pun mengangguk, menyetujui perkataan dari anak perempuannya itu. Astaga ...
* * *
"Zain kau sudah mengurus perintah yang kusuruh kan?"
Zain mengangguk, "Ya nyonya, tuan Xei berkata kalau malam nanti tuan akan pulang ke rumah,"
Laviera tersenyum lebar, anaknya yang nakal itu akhirnya pulang hari ini.
Disisi lain Elody yang sedang berada dikamarnya tengah bermain dengan anjing kesayangannya, Luna, menggunakan sebuah mainan berbentuk tulang yang sering Luna gigiti.
Namun notifikasi dari ponsel pintarnya yang tiba-tiba membuat Elody beralih menatap kearah Handphone nya.
Tasya
Gw udah sampe dijakarta beberapa jam yang lalu Dy!
^^^Elody^^^
^^^Yayyyy nanti kalo ada waktu ketemuan yuk, tapi Ody belum tau Daddy izinkan keluar atau tidak :(^^^
Tasya
Iyaa gw ngerti kok, gak usah buru-buru masih bisa vidcall ini. Lagipula gw juga baru sampe, santuy aja!
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu kamarnya membuat Elody sedikit terkejut.
Segera ia mengakhiri percakapannya dengan Tasya, lalu ia menghampiri pintu.
"Kak Dexter?"
* * *