Possessive Family

Possessive Family
Chapter Sebelas



* * *


Xeinard hanya duduk dalam keheningan ditengah ruangan kantornya yang sepi. Setelah mendapat berita dari para Bodyguard yang ia tugaskan secara diam-diam menjaga Elody, ia menghela napasnya.


"Syukurlah dia baik-baik saja,"


Bawahannya, Alfred, menatap aneh kearah tuannya itu, "Apa kau mengkhawatirkannya tuan?"


"Cih aku? Apa maksudmu," Xei mendecih, ia melotot pada bawahannya tanda tidak menyukai pernyataan yang Alfred katakan.


"Aku cuma lega karena dia tidak membuat masalah lagi seperti hari itu, aku hanya tidak ingin disalahkan oleh ayah dan ibuku jika dia kenapa-napa," kemudian dia melanjutkan lagi perkerjaannya kembali, setelah mendengar omong kosong yang Alfred katakan mood nya seketika hancur.


"Hm baiklah saya mengerti,"


Alfred hanya bisa tersenyum melihat tuannya yang biasanya dingin dan tidak mempedulikan siapapun mulai berubah karena seorang gadis bernama Elodiya.


'Semoga gengsimu yang sangat menyebalkan itu bisa secepatnya menghilang, tuan.'


Alfred kemudian membuka mulutnya lagi karena teringat akan satu hal yang mestinya ia tanyakan sedari tadi pada Xeinard, "Ah iya, tuan, apakah kita masih perlu menghukum para maid dan pengawal itu sendiri?"


"Tidak usah, biarkan saja Dexter dan adik-adikku yang lain yang mengurusnya. Dexter paling hebat kalau soal itu, jadi kita tidak perlu turun tangan," ucap Xeinard yang tau sifat asli dari seorang Dexter.


Bawahannya pun mengangguk, yah ... Kalau soal hukum-menghukum Dexter si anak gila memang jagonya!


Aku jadi penasaran bagaimana keadaan puluhan maid dan pengawal itu sekarang ya? Hm sudah pasti mereka tidak bisa selamat, batin Alfred.


* * *


Penjara bawah tanah. Salah satu tempat yang jarang orang ketahui itu diisi dengan suara jeritan dari ratusan orang yang menderita. Inilah tempat khusus milik keluarga Wellington untuk menghukum para bawahan, orang yang mengganggu keluarganya ataupun musuh yang mereka tangkap.


Tempat ini sebenarnya sudah menjadi bahan gosipan dikalangan para pelayan, tapi walau begitu tak satupun dari mereka pernah melihat apalagi pergi ke sana.


Sekali masuk kesana tidak akan ada yang pernah kembali lagi keluar. itulah yang selalu mereka dengar, jadi tidak ada yang pernah berani untuk mencari ruangan itu.


"Aaakh s-sakit, t-tolong!"


"Tolong!"


"Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi ahhh!"


"Hentikan, kumohon!!!!"


Teriakan itu terdengar digendang telinga Dexter,


'Ah, merdunya ...'


Ketiga saudaranya menatap dirinya yang tengah menikmati alunan teriakan para tahanan yang disiksa dengan tatapan benci padanya.


"Menjijikkan." sahut ketiganya berbarengan.


"Kami akan pergi dari sini, kau urus sisanya, aku malas berada di satu ruangan bersama dengan orang gila sepertimu." Aland mendecakkan lidahnya, kemudian mereka pun pergi dari tempat itu dan tersisalah Dexter dengan seorang perempuan yang kelihatan gemetar ketakutan.


Dexter tersenyum kemudian berjalan kearah perempuan itu yang langsung merangkak mundur berusaha menjauhinya, "K-kumohon a-ampuni k-kelalaian y-yang t-telah saya perbuat t-tuan, k-kumohon l-lepaskan aku, k-keluargaku masih butuh u-uang dan j-jika saya m-mati b-bagaimna m-mereka b-bisa hidup, hiks kumohon s-sekali ini saja,"


Wajah Dexter seketika berubah mimik menjadi sedih kemudian mengelus pipi perempuan itu dengan lembut.


"Kasihannya, tapi maaf ... aku tidak pernah melepaskan mangsa yang sudah kutangkap," Dexter kemudian mengambil pisau plastik yang ada disakunya kemudian menggesek pisau itu ke pipi sang pelayan malang.


Kalian mungkin bertanya-tanya kenapa ia tidak memakai pisau dapur saja yang runcing dan tajam dan lebih memilih sebuah pisau plastik untuk menyiksa korbannya. Alasannya adalah karena ia ingin membuat korbannya itu merasakan sakit secara perlahan-lahan dan menderita lebih lama. Teriakan-teriakan putus asa seperti itulah yang selalu bisa menaikkan kesenangan Dexter yang pikirannya sudah miring.


"T-TIDAK, TIDAKK KUMOHON TIDAK!!!!!"




Dexter membuang asal gunting kuku yang telah selesai ia pakai untuk mencabik-cabik korban terakhirnya hari ini. Cipratan darah dari para korbannya mengenai baju putih yang dia pakai. Ia yang melihat bekas darah di sekitaran lengan dan bajunya itu mendecih kemudian langsung pergi dari tempat itu.



Segera ia pergi membersihkan diri. Setelah mengganti pakaiannya, semua baju lama yang tadi terkena darah pun langsung ia buang ke dalam tong sampah.



Mencium bau tubuhnya, ia kemudian mengernyitkan dahinya karena bau anyir darah masih melekat ditubuhnya, "Ck bagaimana aku bisa bertemu Elody jika baunya masih seperti ini."



Ia dengan kesal kembali ke kamar mandinya dan menyabuni badannya bahkan sampai sebanyak 10x agar bau amis itu menghilang.



\* \* \*




Elody kemudian mendengar ketukan pintu dari seseorang, segera ia bangkit dari tempatnya dan membuka pintu itu.



"Selamat malam nona, saya Alicia, pelayan pribadi nona yang baru. Mulai sekarang bila anda menemukan kesulitan atau butuh bantuan mohon segera panggil saya kapan saja anda membutuhkannya!" seorang perempuan yang rambutnya terkepang dua itu mengenalkan dirinya sebagai pelayan barunya, membuat Elody bingung.



"Ah salam kenal juga! Tapi dimana Marina? Apakah dia sakit makanya jadi kamu yang menggantikannya?"



Pertanyaan Elody membuat pelayan berwajah hitam manis itu gelagapan. Karena Marina, pelayan pribadi Elody telah dibunuh oleh kakaknya sendiri namun adiknya itu tidak mengetahuinya.



"Ah d-dia sudah mengundurkan diri dari sini nona, katanya keluarganya membutuhkan bantuannya didesanya, jadi dia berkata kalau d-dia tidak bisa bekerja lagi disini," Alicia terpaksa berbohong karena jika dia mengatakan yang sebenarnya nyawanya yang akan jadi taruhannya.



Elody kemudian mengangguk lesu, tanda bahwa ia mengerti keadaannya. Padahal ia senang karna ada seseorang yang hampir seumuran dengannya seperti Marina, tapi sayang sekali dia harus kehilangannya sekarang.



"Baiklah apakah nona ingin langsung pergi ke ruang makan atau nanti saja?" Alicia bertanya kepadanya sambil tersenyum ceria.



"Hmm aku akan pergi ke sana sebentar lagi, perutku benar-benar sudah lapar sekali huhu," ucapnya sambil menatap perutnya yang rata.



Alicia hanya bisa terkekeh melihat tingkah nonanya yang menggemaskan.



\* \* \*



Makanan yang ada dipiring Elody seketika ludes berpindah ke dalam perutnya. Keempat kakaknya hanya terkekeh melihat kelakuannya itu termasuk Xeinard yang tanpa diketahui orang lain tersenyum tipis melihat tingkahnya.



"Elody, apa tidurmu nyenyak tadi? Kau ... Tidak mendengar apapun kan selama dikamar?" ucap Linden yang dibalas gelengan kepala dari Elody.



"Tidak kak, tadi siang tidurku sangat nyenyak sekali jadi aku tidak bisa mendengarkan apa yang terjadi disekitarku, memangnya kenapa kak?"



Keempatnya bernapas lega, untung saja seluruh kamar yang ada di mansion ini kedap suara, jadi suara tembakan tadi tidak terdengar sampai ke dalam kamar Elody.



"Tidak ada, hanya bertanya saja,"



Elody melotot kepada kakaknya itu, padahal dia kan sudah kepo. Saat mulutnya ingin mengeluarkan kata kata protes, suara dari Xeinard menghentikannya.



"Diamlah jangan berisik," ucap Xeinard dengan nada yang dingin pada Elody.



Dengan sang adik bungsu mengatupkan mulutnya kembali karena tidak ingin kena omelan lagi dari Xeinard.



Xei pun tersenyum puas melihat Elody yang menurut, segera ia memakan potongan terakhir steak yang ada di piringnya.



\* \* \*