Possessive Family

Possessive Family
Chapter Sembilan



* *


"Hiks, hiks."


Elody termenung didalam kamarnya. Sesekali menarik ingusnya dan juga menghapus air mata yang terus membasahi wajahnya.


"Sudahlah jangan sedih lagi Elody! Ini baru pertemuan pertama, masih ada kesempatan lain untuk membuat Kak Xei menerimamu! Ayolah semangat, semangat!!!"


Elody berkata pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya, berusaha untuk membuyarkan semua pikiran negatifnya.


Menghela napasnya dalam-dalam, perlahan tangisannya mereda dan senyuman mulai kembali nampak diwajahnya yang cantik.


"Hmm pertama-tama kita harus membuat rencana."


Namun sebelum itu dia juga berpikir kalau dirinya harus mencari tau mengenai Xeinard lebih dalam lagi. Misalnya makanan kesukaannya, atau kegiatan yang sering dia lakukan mungkin?


"Yosh, baiklah! Mommy pasti mengetahuinya, jadi aku harus bertanya padanya nanti."


Dengan gembira ia mulai menuliskan rencana-rencana yang akan dia lancarkan untuk mendekati Xeinard.


* * *


Nampak kelima kakaknya tengah duduk santai di Ruang keluarga bersama, walau sebenarnya tidak ada suara yang keluar disana, hanya ada keheningan yang mengelilingi sekitar.


Elody yang takut ingin pergi ke sana hanya mengintip dari belakang pilar yang ada didekatnya, dan dengan gembira memperhatikan kakak-kakaknya dengan seksama. Melihat mereka dari sini saja sudah cukup menurut dirinya tanpa ia harus bergabung didalamnya.


Namun sayang, Elody tidak tau kalau kelima Kakaknya itu memiliki panca indera yang tajam dan peka. Mereka sebenarnya sudah menyadari kalau Elody mengintip di balik pilar, bagaikan anak kucing yang sedang malu-malu pikir mereka.


"Hei keluarlah, aku tau kau ada disana!" Teriak Linden.


Elody yang tak peka masih terus melanjutkan acara intip-mengintipnya membuat kelimanya menggelengkan kepala mereka, dasar bodoh.


"Elody?" Dexter akhirnya membuka suara membuat Elody yang panik tak sengaja memecahkan vas bunga yang ada disampingnya.


"Aaah!" Ia berteriak namun sedetik kemudian membungkam mulutnya dengan tangan. Matilah aku ...


Dexter yang terkejut karena suara vas bunga yang pecah ditambah dengan teriakannya langsung saja berlari kearah tempat persembunyian Elody dan mengecek keadaan dirinya.


"Kamu tidak apa?!?! Apa ada yang sakit?"


Aland, Linden dan juga Chaiden pun entah kerasukan setan apa diam-diam berada di belakang Dexter untuk ikut memastikan apakah adik perempuannya itu baik-baik saja atau tidak.


"Ehm aku tidak apa-apa kok, tapi-aww!" Ia yang tak sengaja menggerakkan kaki kanannya tiba-tiba merasakan kesakitan, dan membuat keempatnya tambah panik.


Chaiden pun langsung menggendong tubuh Elody dan membawanya ke sofa. Setelah Elody didudukkan, Aland pun mulai berjongkok, mengecek keadaan kaki kanannya dan ia menemukan ada beberapa bekas pecahan kecil vas tertancap disana.


Dengan sigap ia menyuruh para pembantu untuk mengambil alkohol serta pinset untuknya, lalu pelayan dengan cepat pergi mengambilnya.


Mereka semua yang ada disana pun mengeluarkan keringat dingin bahkan Xeinard pun diam-diam terus mengarahkan pandangannya pada Elody yang sekarang ini sedang menangis di kursi yang berada tepat di sebelah kanannya.


"Hah ... Sudah selesai," Aland perlahan membuang napasnya setelah mengeluarkan pecahan terakhir dari kaki Elody lalu menutup area bekas tusukan dengan plester.


Menghela napasnya dengan lega, mereka akhirnya menenangkan Elody yang tengah menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah jangan menangis lagi! Kacanya sudah ku keluarkan, kau baik-baik saja sekarang," Aland yang tak tau bagaimana cara menenangkan perempuan yang sedang menangis hanya bisa berucap seperti itu dengan nada yang perlahan mulai melembut.


"Sudah tidak terasa sakit sekali kan?" Dexter dengan lembut menanyakan hal itu sambil memegang kedua tangan mungil Elody.


"Hiks, h-hiks i-iya." Dengan terbata-bata Elody akhirnya menjawab.


Linden juga menepuk-nepuk kepala Elody dengan lembut, Perlahan tangis Elody mulai mereda karena terbuai dengan perlakuan manis dari keempat kakak laki-laki nya. Ia kemudian mulai tertidur dibahu Chaiden yang berada disebelahnya, sepertinya Elody kelelahan akibat terlalu banyak menangis.


Mereka pun akhirnya memindahkan tubuh Elody ke kamarnya, dan dengan setia menemani Elody.


* * *


"Ukh ..." Elody yang merasa terganggu terbangun akibat sinar matahari yang menyengat menyentuh kulit putih pucatnya.


Ia kemudian mulai bangkit dari tempat tidur dan terkejut melihat sekitarnya yang menampilkan keempat sosok kakaknya yang sedang tertidur pulas. Dexter tertidur di kursi yang ada disampingnya begitu juga dengan Chaiden yang berada diseberangnya, sedangkan Aland dan Linden terbaring di sofa yang berada di kamar besarnya itu, kenapa mereka ada disini? Pikirnya.


Seketika rangkaian kejadian kemarin masuk kedalam ingatannya membuatnya langsung tersadar.


'Sepertinya karena kejadian kemarin! Astaga aku malu sekali!!!'


Kruyuk, kruyuk.


Bunyi yang berasal dari perut Elody pun membuat keempatnya terganggu, mata mereka akhirnya perlahan terbuka dan langsung mengarah ke Elody.


"Kamu sudah bangun ternyata. Maaf kamu pasti lapar, kami tidak membangunkanmu karena kamu tertidur sangat pulas kemarin." Ucap Dexter sambil bangkit dari tempatnya dan menyuruh pelayan untuk membawakan makanan.


"Ah tidak apa kok!" Ucap Elody sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.


"Dan terima kasih ... " lanjut Elody membuat perhatian mereka tertuju padanya.


"Karena telah membantuku kemarin, aku benar-benar minta maaf karena menyebabkan kekacauan." Elody menundukkan kepalanya, karena malu melihat kearah mereka.


"Hm tidak apa," Linden pun menjawab dengan datar. Yang lain pun menganggukan kepala mereka, setuju dengan perkataan Linden membuat Elody bernapas dengan lega. Akhirnya pelayan pun datang membawa makanan untuk Elody.


Dexter pun berusaha untuk menyuapinya makan walau sudah ia tolak beberapa kali, padahal yang luka hanya kaki Elody saja kan, bukan tangannya namun sepertinya Dexter sedang mencuri kesempatan untuk menyuapi adiknya yang polos itu.


'Cih!' Aland, Linden dan juga Chaiden pun hanya bisa mendecih melihatnya.


* * *