
* * *
Seorang gadis tengah menatap sendu kearah layar ponselnya. Bahkan sampai hari ini tidak ada telepon dari kedua orang yang sudah ia tunggu-tunggu semenjak beberapa Minggu ini.
Drrrtttt
Suara yang berasal dari ponsel pintarnya itu membuat Elody langsung bersemangat. Namun saat melihat nama peneleponnya yang ternyata berbeda dengan yang ia harapkan membuat Elody melengkungkan bibir cantiknya kebawah.
Menghela nafasnya, ia lalu menjawab panggilan itu.
"Dy gw udah nyampe rumah nih! Sore nanti ketemuan di cafe biasa yuk,"
“Serius?? Yayyy akhirnyaaa ketemu Tasyaaa! oke deh nanti kabari aku kalo kamu uda otw ya,”
"Sip, oh iya gw juga bawain banyak oleh-oleh buat bestfriend gw yang satu inii tauu hihihi,"
“Ahhh jadi ga enak, tapi makasih beib!”
"Ur welcomee, dah, dah, gw capek pengen tidur dulu ngantuk ih byee!"
“Ok istirahat sana, baybay.”
Tepat setelah mengakhiri panggilannya dengan sahabatnya itu, beberapa notif pesan masuk, segera ia membukanya.
...~~~...
Daddy❤️
“Maaf sayang, Daddy tidak bisa datang ke Bandung bulan ini, ada urusan penting yang harus Daddy selesaikan,”
...~~~...
...Segera ia pun juga mengecek pesan satu lagi yang berasal dari ibunya....
...~~~...
Mami💞
“Maafin mami Elody, kemungkinan liburan kali ini Mami juga tidak bisa bisa berkunjung kesana, jika ada waktu, Mami akan usahakan pergi ke Bandung nanti,”
...~~~...
Lagi-lagi seperti ini.
Setetes demi setetes air berwarna bening mulai terjatuh dari pelupuk matanya. Apa sesusah itu untuk menemui dirinya sekali saja?
Elody sekalipun tak pernah memaksa keduanya untuk mengunjunginya, karena ia sadar diri kalau dirinya hanyalah sesosok kesalahan belaka. Dia juga tau jika dirinya juga hanyalah orang yang membuat keluarga bahagia yang dimiliki oleh masing-masing orangtuanya hampir hancur.
Walaupun begitu, ini juga bukan salahnya kan? Dia tidak pernah meminta orangtuanya untuk melahirkan dirinya dan berkeinginan membuat keluarga mereka hancur. Dia hanyalah anak yang tidak tau apa-apa dalam permasalahan keduanya tapi malah dia yang terkena dampaknya.
Sekalipun ... Ia tidak pernah merasakan sentuhan hangat dan kasih sayang dari sosok yang disebut sebagai orang tuanya itu.
Ia ingin sekali membenci mereka namun, hatinya tidak akan pernah bisa melakukan hal itu. Dan akhirnya ia hanya menahan semua rasa sakit itu sendirian dan menerima semua nasibnya sekarang.
Mendoakan yang terbaik untuk keduanya, cuma itulah yang bisa dirinya lakukan untuk mereka.
* * *
Semenjak Bibi Mary meninggal, Elody lah yang mengurus semua urusan rumah sendiri. Walau sudah ditawarkan untuk memperkerjakan ART baru oleh Ayahnya, ia kukuh mau mengurus dirinya sendiri dan tidak ingin melibatkan orang lain. Yah, hitung-hitung belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dari sekarang, pffftt.
“Sudah bersih deh!” Ia melihat sekelilingnya yang nampak terlihat rapi dan bersih, lantai yang baru saja selesai ia pel pun sungguh sangat, sangat kinclong. Wah sudah berbakat bersih-bersih begini, bisa jadi calon menantu idaman sepertinya.
Dengan tangan yang cekatan ia memotong bahan-bahan yang sudah disiapkan dengan sangat rapih, menandakan kalau dirinya memang sudah sering melakukan kegiatan masak-memasak seperti ini.
Setelah semua makanannya matang, ia kemudian menaruhnya kedalam piring lalu menatap hasil karyanya yang menggiurkan itu dengan gembira.
Korean chicken fillet with Mozarella cheese, omelet dan yang terakhir ada sayur asem kesukaan Elody.
Krucuk-krucuk
Elody yang melihat sederet makanan enak diatas meja membuat rasa laparnya bertambah, perutnya pun sampai berbunyi menandakan bahwa ia ingin segera diisi. Dengan cepat ia menyendok kan nasi dan menaruh beberapa lauk lezat itu kedalam piringnya.
“Selamat makan!”
* * *
Disisi lain
Terlihat disebuah ruangan yang sangat besar, dua orang yang berjenis kelamin berbeda itu tengah terlibat sedikit pertikaian. Sosok wanita didepannya itu sungguh sangat keras kepala membuat sang pria terus menerus membujuknya karena keputusan gegabah yang ia buat.
“Kamu benar-benar sudah yakin untuk mengizinkan dia tinggal bersama kita?”
“Aku sudah yakin Xavier, kumohon ... Apa kamu tidak merasa kasian kepada anak malang itu? Bagaimanapun kamu orang tuanya, apa kamu tega terus meninggalkannya sendirian disana?”
“Bukan seperti itu tapi-”
“Sudahlah, aku dan anak-anak saja sudah setuju, hanya kamu saja yang terlalu berlebihan seperti ini. Ayolah tenang saja,” Laviera yang sudah menetapkan keputusannya tidak ingin lagi mendengar berbagai ocehan dari suaminya itu.
Segera ia meninggalkan ruangan kantor suaminya secepat kilat setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Xavier, “Bye Honey, aku ingin membeli beberapa perlengkapan yang lupa aku beli untuk keperluan Elody dirumah nanti, Semangat kerjanya sayang. Love you!”
Untungnya Xavier kalah cepat darinya yang sudah meninggalkan ruangan itu lebih dulu. Pria itu akhirnya hanya pasrah saja dengan kelakuan nakal dari istrinya itu dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Setelah turun menggunakan lift VIP, Laviera beserta dengan pengawal yang sekaligus juga tangan kanannya, Zain berjalan melewati sederet pekerja yang berada di lobby, yang tengah membungkukkan badan mereka pada Istri dari Presdirnya itu.
Mereka yang sedang meunduk mengintip sedikit kearah Laviera, sebagian menunjukkan ekspresi Iri dan yang lainnya terpana karena kecantikan bak seorang Dewi yang dimiliki oleh Laviera walau sudah lumayan berumur dan mempunyai banyak Anak sekarang namun tetap saja kecantikannya masih bertahan sampai saat ini.
“Zain,”
“Iya nyonya,”
Ia tersenyum lembut kemudian berkata kepada Zain,
“Tolong siapkan mobil segera, aku ingin pergi membeli beberapa persiapan untuk menyambut kedatangan putri tercintaku nanti huaaa, aku benar-benar sudah tidak sabar!”
“Baik, nyonya. Mobilnya sudah hampir tiba,”
Laviera yang tampaknya sangat antusias, terus bergumam sambil berjalan menuju ke arah mobilnya yang baru saja tiba.
“Hmm Aku sudah menyiapkan banyak buku kesukaannya, pakaian nya juga sudah, blablabla dan blablabla dan blablablabla~”
(Kepanjangan kalo sebutin daftar barang yg Uda Mommy Laviera beli bisa-bisa ampe mulut berbusa pun g bkl selesai~)
“Oh iya Aku lupa, astaga Cake nya! Hm apa aku harus membelinya atau membuatnya sendiri ya? Aduh bagaimana ini Zain.” dia terus berdebat dengan pikirannya sendiri dan terus menerus mengoceh sepanjang jalan menuju pusat perbelanjaan.
Zain yang sudah kebal terhadap ocehan Dari tuannya yang satu ini hanya terdiam dan menjawab sebisanya saja.
'Hah ... semoga telingaku masih berfungsi dengan baik setelah ini.'
* * *