Possessive Family

Possessive Family
Chapter Lima



* * *


Elody terkejut mendengar suara dingin yang entah darimana asalnya itu. Ia menengok ke kanan dan kirinya, namun hasilnya nihil, ia tidak dapat menemukan siapapun disana.


'Apa aku salah dengar tadi?'


Sayangnya ia lupa mengecek kesatu tempat. Segera sesosok lelaki mendarat tepat didepannya dengan melompat dari atas pohon dekatnya berada sekarang.


"Astaga!" Elody menatap laki-laki yang persis ada didepannya itu dengan rasa yang campur aduk yaitu terkejut dan takut. Siapa dia?


Elody menganilisnya dari atas hingga bawah dengan menggunakan mata bulatnya yang memancarkan rasa keingintahuan yang dalam.


Sangat tampan. Satu kata yang bisa Elody deskprisikan. Badan tinggi serta atletis, kulit putih pucat, wajah yang tampan, mata yang setajam elang, hidung mancung, dan aura yang mengitimidasi.


Semuanya itu komplit ada didalam lelaki didepannya ini. Namun walau dengan tampang yang seperti itu tidak membuat perasaan Elody jauh lebih baik, malah bertambah parah. Sekarang ia pasti benar-benar terlihat bagaikan seekor kelinci kecil yang ketakutan karena ditatap oleh serigala yang lapar.


"Biar kutanya sekali lagi, siapa kau? Dan kenapa kau bisa ada disini," matanya tambah melotot kepada Elody yang hanya terdiam dan memperhatikannya saja.


"A-ah i-itu a-aku e-em,"


Elody yang mengalami goncangan dalam batinnya menjadi tak bisa berbicara dengan benar dan tergagap-gagap.


Untung saja, suara lembut teralun, bagaikan takdir, pemandangan Laviera dan Xavier yang sepertinya sedang mencarinya terlihat tak sengaja dipandangannya.


Segera ia melambaikan tangan dan berteriak,


"Aku disini!" Mereka yang mendengar teriakan darinya segera menoleh, dan setelah melakukan kontak mata dengan mereka dari jauh, ia bersiap untuk menghampi keduanya, berniat kabur dari laki-laki seram didepannya ini.


Namun tangan mungilnya tiba-tiba tertahan oleh sebuah tangan yang 2 kali lipat lebih besar darinya.


Elody ingin sekali melepaskan dirinya dari tangan pria yang memegangnya itu namun entah kenapa ia tidak punya tenaga untuk melakukannya. Dengan tubuh yang seluruhnya gemetar ia tetap berdiri disitu dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri kedua orangtuanya.


"Ya ampun Elody, bagaimana kamu bisa sampai disini! Astaga apakah kamu baik-baik saja??"


Laviera menatap Elody dengan cemas begitu juga dengan Xavier. Ayahnya yang mengerti keadaan Elody, kalau anak perempuannya itu sekarang sedang ketakutan langsung mengarahkan pandangannya kearah Chaiden.


'Lepaskan tanganmu dari anak itu Chaiden' seperti itulah artian dari sorot mata tajam yang dilemparkan Xavier kepada anak laki-lakinya itu.


Segera si bungsu melepaskan kaitan tangannya dengan Elody dan akhirnya Elody pun bisa bernapas dengan lega dan memeluk Laviera. Ia berusaha untuk menahan air matanya didepan mereka, tidak ingin terlihat cengeng pikirnya.


Laviera kemudian juga menatap Chaiden dengan perhitungan, artiannya memang berbeda dari ayahnya tapi jujur menurutnya itu terlihat lebih seram.


'Kita bicarakan ini lagi nanti, kalo sampai Elody kenapa-napa karena kamu, awas saja!'


Begitulah kira-kira maknanya, Chaiden langsung mengalihkan pandangannya kearah yang lain, kemudian Laviera pun menuntun Elody ke jalan awal yang ia cari-cari tadi dan merekapun akhirnya memasuki Mansion itu.


Elody menatap sekeliling dengan takjub. Keindahan dan kemegahan Mansion ini benar-benar tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


Rumahnya yang lama memang tergolong luas juga namun bisa dilihat dari sekilas saja bahwa Mansion ini berpuluh-puluh kali lipat besarnya daripada tempat tinggalnya dulu. Wow ... ia tau ayahnya merupakan orang yang bisa dibilang sangat berkecukupan namun, ia tidak tau bahwa sampai seperti ini.


Elody tak dapat menahan rahangnya yang terbuka lebar tanpa sadar, Laviera hanya terkekeh melihat tingkah anak polos ini.


"E-ehehehe iya Mommy, Elody lupa," Laviera menyadarkan Elody dari lamunannya dengan perkataannya itu. Ody yaampun, bodoh!


Laviera menggiringnya ke tempat duduk besar di depannya sekarang diruangan yang dugaan Elody merupakan ruang tamu dari Mansion besar itu.


Menepuk tangannya dua kali, salah satu pelayan yang tadinya terdunduk menghampirinya. Laviera kemudian menyuruh pelayan untuk menyiapkan teh serta camilan untuk mereka. Setelah mengetahui permintaan dari majikannya pelayan itu segera undur diri darisana.


Setelah tehnya sampai, mereka berbincang ria, Laviera terus mengajak Elody mengobrol dan tanpa sadar setengah jam sudah berlalu.


Laviera setengah menengok kebelakang, lalu memanggil Zain, "Tolong panggilkan anak-anak kesini dan bilang bahwa semuanya tanpa terkecuali harus turun kebawah dan aku tidak menerima alasan apapun pada mereka yang bersikeras menolaknya."


"Baik, nyonya."


Zain segera menuju ke lantai atas dengan lift yang tersedia disana, tak lama kemudian ia turun bersama dengan tiga orang laki-laki yang wajahnya nampak asing sekali bagi Elody dan satu orang laki-laki yang beberapa waktu lalu Elody temui di Bagian barat Mansion.


Laviera tiba-tiba menyadari bahwa ada satu orang yang kurang disana, "Dimana Xeinard?"


"Dia bilang kalau sedang ada urusan penting dikantor, jadi kemungkinan tidak bisa pulang kerumah untuk sementara waktu," Linden menjawab pertanyaan ibunya dengan terkesan dingin, namun sebenarnya suara yang ia keluarkan tergolong dengan nada yang lembut bagi orang yang sudah mengenalnya lama. Ia hanya bersikap seperti itu didepan Ibunya saja dan selalu hanya dia. Namun kedepannya siapa yang tau bukan? Mungkin saja sebentar lagi akan ada seseorang yang juga perlahan mulai memasuki ruang istimewa dihatinya itu.


"Anak itu dasar ..." Laviera menghela napasnya, pasti karena hal ini makanya ia sengaja mencari alasan untuk tidak pulang kerumah.


Jika kalian penasaran, Xeinard merupakan Anak pertama dari pasangan Laviera-Xavier. Dia merupakan salah satu petinggi sekaligus penerus di perusahaan ayahnya. Dingin, penuh ambisi, dan tentunya Sangat, sangat tampan, bahkan pernah ada kabar burung yang mengatakan bahwa ada beberapa wanita yang sampai masuk rumah sakit karena tak tahan melihat ketampanan dari seorang Xei.


Dan sekarang masalahnya adalah si Tampan itu tidak ingin pulang kerumah karena kesal dengan ibunya yang berencana untuk memasukkan Elody yang dicapnya sebagai orang yang hampir membuat keluarganya hancur dulu kedalam keluarganya.


Xei benar-benar membenci anak itu sedari dulu. Itulah sebabnya karena dia tau Elody akan datang hari ini membuat dirinya menjadi malas untuk pulang kerumah dan mencari alasan dengan mengatakan kalau ada urusan yang harus dia kerjakan dikantor.


Ckckck dasar.


Okay skrg bck to the story lagi.


Elody menatap keempatnya yang terduduk di sofa depannya dengan sedikit kebingungan. Laviera yang tau perasaan Elody akhirnya membuka suara lagi,


"Elody pasti bingung ya, jadi mereka adalah Kakak-kakak Elody sekarang! Yang disana ada Aland, Dexter, Linden, dan terakhir si Bungsu yang baru saja kamu temui tadi yaitu, Chaiden. Jangan sungkan dengan mereka ya sayang, kalian sekarang adalah satu keluarga, jadi kalian ...."


" ... harus akur dengan Elody, mengerti?" Laviera tersenyum bagaikan malaikat kepada mereka namun berbeda dengan yang dilihat oleh keempat anak lelakinya itu dari yang lain, itu lebih seperti ... Senyuman iblis bagi keempatnya.


"Baik Mom," mereka hanya menjawab dengan uring-uringan. Daripada jadi masalah jika tidak dijawab sesuai dengan keinginan ibunya itu kan.


Mau bagaimna lagi~


Sang ibu tersenyum puas mendengar jawaban dari mereka dan menatap Elody kembali.


"Mari kita lihat kamarmu sayang! Elody pasti akan suka,"


Laviera yang bersemangat menarik Elody yang dengan pasrah saja mengikutinya, tidak ingin merusak kebahagiannya dari ibunya itu.


* * *