Possessive Family

Possessive Family
Chapter Dua



* * *


"Elody, sini!" suara melengking dari seseorang yang ia kenali memenuhi gendang telinga mungilnya. Dengan segera gadis yang merasa terpanggil namanya itu menoleh, dari kejauhan matanya menangkap sosok perempuan yang sudah hampir selama sebulan penuh ini tidak ia temui.


Segera ia menghampirinya sambil merekahkan senyum manis di wajahnya.


"Tasyaaa huaaa ... kangen!"


"Aaaah gue juga!"


Bagai tak bertemu selama berabad-abad mereka berpelukan dengan sangat eratnya disana, tak mempedulikan beberapa pasang mata yang terus memperhatikan, keduanya hanya acuh dan mengarahkan fokusnya kepada satu sama lain saja.


"Kamu udah nunggu lama ya? Apa aku sudah terlambat?"


"Enggak kok tenang aja! Ini gue juga baru dateng,"


"Yeyyy Syukurlah!"


Ia kemudian duduk di kursinya dan disambut dengan beberapa pertanyaan dari sahabat karibnya itu.


"Gimana kabarnya baik-baik aja kan?!"


"Hem! Elody baik-baik aja kok, kalo Tasya gimana selama liburan ini?"


"Yah seperti yang lo liat," Tasya tersenyum kepada Elody menandakan bahwa keadaannya baik.


Setelah itu mereka bercerita banyak hal mulai dari hal-hal kecil sampai besar, semua yang ada di pikiran mereka dicurahkan tanpa ada satupun yang tertinggal. Sampai akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulut Tasya.


"Eh by the way liburan kali ini ... Orangtua lo ... apa pulang kerumah?" Tanya Tasya hati-hati.


"... Jawabannya seperti biasa ... tidak," Elody hanya menjawab dengan senyuman sambil meminum Ice choco latenya yang baru saja datang.


"Ck bisa-bisanya anak gw yang ini imut ini ditelantarin! seengaknya cuman sekali kek gak bisa apa mereka liat anaknya sendiri!"


"Padahal mereka yang buat ... Kenapa Lo yang sebagai anak malah kena imbasnya sih," tambah Tasya dengan gumaman. Dirinya memang sudah lama mengenal Elody bahkan dari semasa berada di Sekolah dasar mereka sudah bersahabat, itulah yang membuat Tasya mengetahui hampir semua tentang dirinya termasuk perihal tentang Keluarganya.


"Ah tenang aja mereka bukannya sengaja kok! Katanya Daddy sibuk karena-" namun Tasya malah menyela dan menjawab lebih dulu daripada dirinya.


"-banyak pekerjaan dan Mommy pun juga makanya mereka berdua gak bisa dateng, Hah ... itu lagi yang lu mau bilang kan?"


"E-ehehehe t-tapi m-memang b-benar kok, mereka gak mungkin ... Bohong kan," Elody berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kedua orangtuanya mengatakan hal yang sebenarnya, walau alasan itu selalu ia dengar setiap tahunnya.


Tasya memandang Sahabatnya kesayangannya itu dengan tatapan iba, bagaimana orang tua Elody bisa meninggalkan gadis termanisterimuterlucutercantikterbaik sepertinya ini?!?! Mereka pasti sudah gila fiks n o d e b a t n o k e c o t.


Yang Tasya tau sudah hampir genap tujuh tahun kedua orangtua Elody sudah tak pernah mengunjungi gadis malang itu. Namun mereka tetap mengirimkan uang tiap bulannya, untuk biaya keberlangsungan hidupnya.


Tentu saja uang yang diberikan keduanya bukan nominal yang sedikit dikarenakan kedua orangtua Elody ini yang sebenarnya masuk ke dalam daftar salah satu orang terkaya di Indonesia, ah tidak, tidak, bahkan sebenarnya sampai dunia!


Jdi kapanpun Elody membutuhkan uang mereka akan selalu mengirimkannya bahkan jika diminta dengan nominal yang tinggi sekalipun dan Elody hanya menghamburkan uangnya untuk sesuatu yang tak berguna itu tak masalah buat mereka, walau sebenarnya Elody tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti itu sih.


Dan ingat ini adalah rahasia jadi jangan ada yang membocorkannya kepada siapapun mengerti?!?!


Uang banyak, rumah besar, sekolah yang bagus.


Ia sudah memiliki hampir semua yang orang lain impikan namun baginya, itu semua hanya sesuatu yang tidak bernilai sama sekali dimatanya. Yang dia inginkan hanya satu yaitu ...


Cinta dari kedua orangtuanya, hanya itu saja. Namun rasanya sangat sulit sekali untuk mendapatkannya.


Elody yang melihat suasananya menjadi tidak enak langsung dengan segera mencairkannya.


"Eh sudahlah, kita kesini bukan mau bahas yang bikin sedih seperti ini haish! Nah sekarang bilang sama Ody, Tasya mau daftar SMA dimana?"


"Ehmm kalo itu belum tau sih gw, masih mikir-mikir dulu tapi bokap sih saranin di ... E-ehmm-"


"-Jakarta,"


senyum Elody perlahan mulai menghilang, "Eh J-jakarta?"


"T-tenang aja kok gw belum daftar disana, l-lagian juga gw udah bilang sama Daddy ada sekolah di Bandung yang gw lebih minatin, jadi buat apa harus jauh-jauh kesana hm?,"


"A-ah sebenarnya tak apa kalau kamu mau disana, aku c-cuma sedikit terkejut. Lagipula sayang sekali nilai ujianmu kemarin kan bagus-bagus, aku yakin pasti banyak sekolah disana yang lebih bagus daripada disini yang nerima kamu,"


"Ck emang gw nya yang ga mau terus gimana?! Pokoknya gw mau tetep disini!"


Sambil memegang tangan pucat Elody, ia pun tersenyum.


Tak kuasa menahan tatapan puppy eyes yang sahabatnya itu layangkan padanya, tentu saja membuat Elody pasrah, "Yah ... baiklah, tapi Ody cuman gak mau jadi penghalang buat kamu, aku tau dari dulu kamu mau kan masuk ke Wellington High School, dan menurutku dengan nilai kamu yang semuanya diatas rata-rata itu kemungkinan besar dapat peluang untuk diterima. Dan sekarang kam-"


"Ssssttttt yaelah itu udah lama ngapain dibahas lagi deh, gw uda ga punya niatan lagi buat daftar disana. Oh my, please deh mending kita bahas yang lain aja ga bakal kelar kalo begini terus. Nah sekarang giliran Lo. Udah ada rencana mau dimana?" Tasya yang sudah pusing karena berbagai ocehan Elody segera mengubah topik pembicaraan.


Bisa bosen lama-lama pembaca ck:v


"Kalau itu aku pun belum tau juga sih hehehehehe,"


"Yah semoga lu bisa dengan cermat mutusin mau daftar dimana dan semoga aja yah, siapa tau kalo takdir kita minatin sekolah yang sama yaa!!!"


"Iyaa aminn!!"


* * *


"Ody pulang!" terdengar pantulan suara seorang gadis yang baru saja memasuki tempat tinghal dengan wajah yang tersenyum.


Seperti biasanya, tidak ada yang menjawab. Rasanya sungguh ... Hampa sekali.


'Sudah hampir satu tahun,'


Flashback


Elody yang melihat ojol yang ia pesan sudah sampai didepan rumahnya dengan segera menghampirinya.


Setelah itu ia menoleh ke wanita di sebelahnya yang nampak sudah mulai memiliki keriput di wajahnya dan tersenyum.


"Bi aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa jangan lupa untuk telepon Ody, Byee!"


Ia tersenyum kemudian mengelus kepalanya dengan tatapan sayang layaknya seorang Ibu, "Iya, kamu juga belajar yang rajin ya. Bibi yakin pasti ujian kali ini kamu bisa dapat peringkat pertama lagi,"


"Aminnn!"


"Kalau gitu aku berangkat dulu Bi!"


Segera, motor yang ditumpangi Elody mulai melaju dengan kecepatan sedang perlahan mulai menghilang dari pandangan Marry, setelah itu Marry masuk kedalam rumah dan bersiap untuk pergi ke supermarket membeli beberapa stok makanan dan juga bahan-bahan buat memasak nantinya.


* * *


Marry yang tengah menyebrang jalan tak melihat bahwa ada bus yang melaju dengan kecepatan super kencang kearahnya, tanpa adanya peringatan bus itu segera menabrak Marry yang masih dengan gembiranya pulang dari supermarket dan tadinya berencana untuk memasakkan makanan kesukaan Elody.


Namun naas, harapan itu tidak akan dapat terjadi setelah bus itu membuat Marry terlempar jauh akibat hantaman yang sangat kuat dari bus mengenai tubuhnya.


Segera sekolompok orang mulai mengerubungi dirinya yang penuh luka.


"Ambulans! Ambulans! Cepat panggil ambulans!!!!"


* * *


Elody yang teringat masa lalu perlahan tatapan matanya mulai mengosong. Ia ingat bagaimana rasa sakit yang ia rasakan dan banyak tangisan yang sudah ia keluarkan saat itu.


Bahkan kepedihan hatinya rasanya masih terasa sampai sekarang. Sakit, sangat, sangat sakit.


Pengasuhnya yang ia sudah anggap sebagai Keluarganya yang paling dekat dengannya, telah tiada.


'Ah sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi, ini memang sudah takdir.'


Setelah itu ia mulai membuyarkan semua pikiran-pikiran yang membuatnya merasa sedih, dan bergegas mengganti bajunya.


"Guk, guk, guk!" Suara dari anjing kesayangannya yang mendekat membuat senyum Elody mulai merekah.


"Lunaku sayang aku pulang!"


Ia segera membawa anjing berjenis siberian husky itu ke dalam gendongannya. Hah ... Untungnya anjing yang beberapa bulan lalu ia beli ini baru berusia 6 bulan, jadi ia masih sanggup menggendongnya.


"Guk, guk, guk!"


"Kamu mau makan?" Ia mulai menurunkan tubuh Luna perlahan-lahan dari dekapannya.


"Guk, guk, guk!" Melihat anjing yang baru saja turun dari gendongannya itu menjadi bersemangat saat ditanya tentang makanan, membuat Elody mengerti dan segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan Luna.


...* * *...