
* *
"Kak Dexter?"
Elody menatap Dexter yang tersenyum dihadapannya sekarang.
"Boleh kakak masuk?" Tanya Dexter sambil menunjuk ke dalam kamar Elody, segera Elody pun membalasnya dengan semangat.
"Hm tentu saja kak, Ayuk!" Elody langsung menarik tangan Dexter dan menuntunnya masuk kedalam. Dexter mengelilingi kamar Elody yang didalamnya dihias banyak hal salah satunya dengan beberapa foto dirinya bersama teman-temannya. Elody pun bercerita banyak hal dengan Dexter mengenai kehidupannya dan teman-temannya di Bandung dengan senyuman yang masih setia bertengger di wajahnya.
Dexter menikmati rangkaian kisah yang Elody katakan sambil masih melihat-lihat isi dari kamar Elody, ia sesekali tertawa karena adik yang berdiri disampingnya itu mengeluarkan ekspresi yang sangat serius kala dirinya sedang bercerita dan menurut Dexter itu terlihat sangat menggemaskan.
Sampai Dexter terpaku, menatap salah satu foto yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat keras dan cepat. Ia segera menoleh kearah Elody seolah menyuruhnya untuk menjelaskan sesuatu mengenai foto itu.
"Oh kalau itu foto saat aku sedang jalan-jalan bersama teman-teman ke Puncak, dan yang disampingku ini namanya Brandon. Saat itu sunrise nya sedang bagus membuat teman-teman pun jadi semangat untuk berfoto namun hanya kami yang tidak ikut karena aku saat itu sedang ngantuk sekali. Tapi setelah mereka selesai bersua foto tiba-tiba semuanya mengalihkan tatapannya kearah Brandon dan aku dengan senyuman ehm... aneh bisa dibilang (?) Dan akhirnya langsung memaksa kami untuk foto berdua. Dan jeng jeng! ternyata hasilnya bagus sekali lebih dari yang kukira! Dan karena Itu potret ini menjadi salah satu foto yang paling aku suka kak!"
Dexter terdiam setelah mendengar penjelasan dari Elody. Dari ekspresinya Ia terlihat seperti tengah berpikir keras. Dan entah kenapa firasat author menjadi tidak enak karena itu.
'Brandon? Aku harus mencari tau siapa dia sebenarnya. Sepertinya aku mesti menyiapkan suatu permainan yang menarik untuknya. Apa ya? Hm ... pasti membosankan jika langsung membunuhnya kan.'
'Ah aku dapat ide!'
Ternyata oh ternyata Dexter sedang membuat suatu rencana abnormal lagi dalam kepalanya yang sudah korslet. Astaga ... Semoga kamu selamat dari genggaman orang gila ini, Brandon ...
"Kakak?" Elody melambai-lambaikan tangannya ke wajah Dexter yang masih tenggelam dalam lamunan gilanya itu. Setelah mendapatkan kesadarannya kembali ia langsung tersenyum seperti semula.
"Ah tidak ada, kakak tidak apa-apa," ia lekas mengganti topik pembicaraan mereka dan tak terasa malam telah tiba, yang artinya sebentar lagi Kakak tertua mereka akan pulang.
* * *
Jarum jam berdentang menunjuk kearah angka dua belas.
Sesosok pria tengah mengendap-endap perlahan dalam kegelapan di rumahnya yang besar dan terlihat sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya sekarang, namun berbeda dari yang dipikirkan, pria itu ternyata tidak menunjukkan ekspresi takut atau semacam itu, dia hanya terus berjalan didalam sana.
Dia tidak memikirkan lagi apakah ada hantu atau tidak disekitarnya. Yang jelas ia harus segera masuk ke kamarnya sekarang sebelum seseorang yang lebih menakutkan daripada hantu menghampirinya.
Tring!
Lampu-lampu disekitarnya tiba-tiba menyala semua. Nampak sosok perempuan dari kejauhan menatapnya sambil tersenyum penuh arti membuatnya menarik nafas dalam-dalam dan menyerukan berbagai umpatan dalam hati.
'Shit!'
Perempuan itu lalu mendekat dan mulai membuka mulutnya,
"Baru pulang Xei?" Suasananya menjadi lebih tidak enak saat Laviera berkata dengan senyuman yang Xei paling tidak ingin lihat itu.
"Hem."
Xeinard berdehem, dan berusaha kabur dari sana, "Aku masuk ke kamar dulu,"
Sudah hampir sampai dikamar, langkah nya tiba-tiba terhenti karena dihalangi oleh ibu tercintanya ditengah jalan, fiks sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur karena harus mendengarkan ocehan-ocehan yang sangat merdu dari sang ibu sampai pagi.
"Eittss tunggu sebentar, ada yang harus kita bicarakan dulu bukan?"
Sesuai dugaannya, r.i.p sudah gendang telinga Xeinard.
* * *
Ia pikir sepertinya kakaknya itu kurang tidur akibat suatu hal, karena pekerjaannya mungkin?
Laviera pernah bercerita tentang Xei kepadanya dan ia ingat Ibunya pernah berkata kalau Xei merupakan salah satu petinggi di perusahaan Ayahnya, jadi tanpa harus bertanya lagi Elody tau pasti pekerjaan yang harus dikerjakannya sangat banyak.
'Kasihannya ...' batin Elody sambil menatap iba Xeinard.
Sayangnya anak polos itu tidak mengetahui fakta nya, kalau yang membuat kakaknya kelelahan itu bukan karena pekerjaan Xei yang menumpuk tapi alasannya karena Xei mendapat omelan selama berjam-jam dari ibunya tercinta. Kenyataan memang terkadang sangat berbeda dari yang kita sendiri pikirkan.
"Ada apa sayang?" Laviera sang pelaku, melirik Elody yang masih setia melihat Xavier.
Laviera pun ikut mengarahkan pandangannya kepada anak tertuanya dan berkata pada Elody,
"Oh astaga! Aku lupa mengenalkanmu pada Xei," Xeinard yang merasa terpanggil pun menoleh dan matanya tak sengaja menatap Elody yang melihat kearahnya. Segera Elody langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dengan perasaan gugup.
Laviera kemudian melanjutkan, "Jadi Xei, ini adikmu Elody. Dan Elody dia adalah kakak tertuamu Xeinard. Mulai sekarang kamu harus menjaga Elody dan bersikap baik padanya ok Xei?"
"Hm."
Xeinard lagi-lagi hanya berdehem dan terus fokus pada acara makannya. Laviera pun hanya menghela napas melihat sikap dingin dari anaknya.
Sabar ...
Selesai makan, Elody tak sengaja berpapasan dengan Xei dijalan menuju kamarnya. Ia kemudian menyamai langkah Xeinard yang sudah berjalan didepannya.
"Halo!"
Satu kali, Xei hanya mengabaikannya.
"Nama kakak Xeinard ya?"
Dua kali, Xei lagi-lagi mengabaikan sapaan dari Elody, yang membuatnya mulai kesal.
"Ka-"
Ya ampun sudah cukup!
"Ck berisik!" Xeinard menatap kearah Elody yang sudah terlihat ngos ngosan akibat mengejar Xei, tapi walau lelah ia tetap tersenyum kepadanya.
"Kak Xei kan? Kita belum berkenalan dengan benar tadi. Namaku Elody, salam kenal kakak!"
Deg!
Kakak?
Ia sedikit terkejut dengan panggilan dari Elody yang ditujukan untuk dirinya. Sekalipun ia tidak pernah dipanggil seperti itu oleh keempat adik laki-lakinya sama sekali, jadi entah kenapa rasanya sedikit menggelitik hati saat mendengar kata itu diucapkan oleh Elody.
"Aku bukan kakakmu! Jangan pernah panggil aku seperti itu, aku benci namaku disebut dengan gelaran aneh dan oleh orang yang aku benci,"
"Itu menjijikkan."
Setelah mengatakan itu ia kemudian memasuki lift dengan wajah datar dan meninggalkan Elody yang masih tertegun disana.
'Apa kak Xei membenciku?'
* * *