Possessive Family

Possessive Family
Chapter Empat



***


Keesokan harinya.


Setelah mengabari Tasya kalau dirinya berencana untuk pindah ke Jakarta, Tasya dengan secepat kilat sampai dirumahnya dengan keadaan dirinya yang masih terlihat sangat berantakan karena habis bangun tidur.


"L-lu serius bakal pindah ke J-jakarta?"


"Iya Tasya sayangku!"


"Really??? Huaaa kita bisa masuk ke Wellington High School bareng! Astaga-astaga impian gw akhirnya bisa terwujud aaaahh!"


Ia dengan gembira melompat lompat diatas kasur Elody dan kemudian menarik tangan Elody, mengajaknya untuk bergembira bersama dengannya juga.


Elody pun juga dengan senang hati menerima uluran tangannya. Mereka bersenang-senang disana sampai hasilnya membuat kamar Elody berantakan.


Dan untungnya juga, Kasur Elody tidak jebol akibat lompatan Tasya yang sangat kencang tadi^^


Setelah merasa penat, mereka akhirnya berbaring lagi ditempat tidur. Dengan terengah-engah, Tasya pun mulai berbicara.


"Tapi Dy ... gw juga bener-bener seneng .... setelah ini ... sahabat gw yang imut ini ... akhirnya gak sendirian lagi,"


"Ody juga seneng, akhirnya aku bisa merasakan yang namanya tinggal dengan keluarga," Elody tersenyum sangat manis kala itu ... ia membayangkan bagaimana kehidupannya bersama dengan Daddy, Mommy dan juga kelima kakak-kakaknya.


Walau kurang satu orang lagi sih.


"Ah iya, kata lo disana juga ada lima kakak laki-laki lo ya, jujur gw jadi penasaran banget sama mereka!" Tasya berbalik ke arah Elody lalu menatapnya dengan berbinar-binar.


"Me too, Elody soalnya juga tidak pernah bertemu dengan mereka walau Daddy sudah pernah bilang kepadaku tentang mereka sih,"


Kilauan dari mata Tasya seketika menghilang.


"Yah! Gw kira lo udah pernah ketemu," Tasya kemudian membalikkan badannya kearah yang berlawanan dengan Elody, menandakan dirinya kecewa dengan jawaban dari mulut Elody tadi.


'Gw kan penasaran sama mereka, kalo adeknya aja cakep begini, Kakaknya pasti juga.' Batin Tasya.


Elody menatap Tasya dengan tatapan bingung, "Tasya kenapa?"


"Gatau ah," Tasya hanya menjawab seadanya, berpura-pura kalau dia sedang marah pada Elody padahal sebenarnya tidak.


"M-maafin E-lody k-kalau Elody gak tau,"


Melihat tingkah Elody yang gelagapan berusaha untuk membuatnya menerima permintaan maaf darinya membuat Tasya terkekeh.


"Gw bercanda sayangku, aduh ini anak satu lucu banget deh!" Ia tertawa sambil mencubit pipi Elody yang sedikit embul.


"Tasya ngagetin deh," Elody yang sudah hampir menangis perlahan mulai tersenyum lagi.


Setelah bercerita beberapa menit lagi dengan Tasya, ia kemudian mulai mengemas barang-barang yang sekiranya perlu dibawa dibantu dengan Tasya juga.


* * *


"Semuanya sudah siap! Oh iya ... aku belum menelepon Daddy,"


Sebelum benar-benar menekan tombol panggil ia menarik napas panjang terlebih dahulu,


'Hah ... Mari kita mulai hidup yang baru!'


Ia tersenyum lebar memikirkan bagaimana kehidupannya dengan keluarganya nanti, ia benar-benar sudah tidak sabar, semoga saja mereka semua bisa menerima kehadirannya disana nanti.


"Dad, aku sudah siap, semua barang-barang yang kuperlukan juga sudah kubawa, tinggal menunggu Daddy menjemputku saja,"


"Baiklah, tunggu disana, sebentar lagi Daddy dan Mommy sampai,"


"Baiklah Dad!"


"Dan oh iya ... apa kamu sudah sarapan?"


Elody langsung menepuk jidatnya, setelah Tasya pulang tadi ia lupa untuk memasak makanan untuk dirinya makan.


"Sudah kok Dad!" Elody terpaksa berbohong pada Ayahnya, tak mau membuatnya khawatir.


Kcucuk-krucuk


'Aduh perut kenapa harus sekarang ?!'


"..." setelah suara dari perut Elody terdengar, keheningan mulai terjadi, ayahnya pun hanya diam saja tidak berkata apapun namun Elody tau kalau ayahnya mendengar suara perut Elody yang keroncongan tadi.


"Baiklah, Daddy sudah membeli makanan untukmu, tunggu Daddy sampai, baru kita makan bersama nanti,"


"T-tapi D-"


Tuttttttt


Suara nyaring menandakan bahwa telepon sudah dimatikan sepihak oleh orang seberang, Elody hanya menutup wajahnya karena masih saja merasa malu.


"Aaah Ody bodoh, Ody bodoh!"




Sementara orang yang mematikan teleponnya sepihak tadi terkekeh kecil karena terus mengingat kejadian tadi.



'Anakku memang benar-benar yang paling lucu sejagat raya. Memang pantas dia menjadi anak Dari Xavier Wellington.'



Xavier tersenyum dengan bangganya sambil mengingat-ingat wajah dari anak perempuannya itu.



\* \* \*



Setelah selesai makan dengan kedua orangtuanya, Elody kemudian mengangkat barang-barang yang sudah dirinya kemas tadi menuju ke mobil, namun segera beberapa pengawal dari ayahnya muncul dan mengambil alih barang-barang yang ada ditangannya.



"Biar kami saja yang membawanya nona,"



Elody yang merasa tidak enak berusaha untuk mengambilnya kembali.




"Sudahlah sayang, itu sudah tugas mereka disini, Mommy tidak ingin kamu capek, mengerti?"



"Hmm baiklah Mommy,"



Kemudian Laviera pun merangkul Elody dan berjalan menuju ke Mobilnya bersama.



Ditengah perjalanan Elody tidak dapat menghilangkan rasa gugup dan cemasnya. Ia masih takut memikirkan apakah kelima kakak-kakaknya akan menerima dirinya atau tidak nanti.



Laviera yang mengerti dengan kecemasan Elody pun menepuk-nepuk pucuk kepalanya dengan sayang.



"Jangan khawatir sayang, mereka pasti akan menerimamu, bagaimana mungkin mereka menolak seorang adik yang cantik dan baik hati sepertimu! Mommy yakin itu," Elody membalas perkataannya dengan senyuman dan berusaha mempercayai kata-kata Laviera tadi.



\* \* \*



Elody menengok kesekelilingnya. Ia benar-benar kagum dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.



'Astaga ini besar sekali!'



Ia terheran-heran melihat tampak depan dari rumah yang akan ditinggalinya itu. Bak istana, Kediaman Tempat ayahnya tinggal benar-benar sangat besar sekali. Halamannya saja sudah seperti Stadion sepak bola yang ditanami dengan berbagai tanaman yang indah.



Warna warni yang berasal dari berbagai bunga didepannya itu memenuhi pandangannya.



Setelah menikmati pemandangan itu sejenak dirinya baru sadar kalau Laviera dan juga Xavier yang tadinya ada didekatnya sudah menghilang.



'Astaga, dimana Daddy dan Mommy?'



Elody yang kebingungan akhirnya berjalan jalan disekitar taman saja, ia berpikir mungkin saja orang tuanya masih ada disekitar sana.



Dan tanpa sadar ia sudah berjalan sangat jauh dan entah bagaimana bisa berada di wilayah Mansion bagian barat yang memiliki pohon-pohon yang lebat seperti hutan dan danau besar yang ada di tengah-tengahnya.



Tentu saja ia terkejut melihatnya karena melihat danau sebesar itu juga ada didalam sini. Astaga Mansion ini benar-benar amat sangat luas sekali!



Ia perlahan mulai berjalan disekitar danau dan menikmati keindahan yang tersedia disana.



Pemandangannya memang sungguh menakjubkan namun rasa cemas didalam hatinya masih tak dapat hilang.



Segera ia yang tadinya duduk di padang rumput yang hijau nan tenang itu kemudian berdiri dan mencari jalan pertama yang ia lewati tadi.



Namun naasnya, ia melupakannya.



Aaahh sekelilingnya tampak sama saja dimatanya!



'Aduh Bagaimana ini!'



Ia berlarian kesana kemari namun tetap tidak menemukannya. Dengan pasrah ia akhirnya duduk kembali di padang rumput tadi.



Jika kalian bertanya-tanya kenapa ia tidak menelepon ayahnya saja dan dengan secepat kilat ayahnya pasti akan menjemputnya dengan mudahnya. Namun sayang, baterainya baru saja habis entah karena apa. Padahal gadis itu sudah mengecasnya tadi pagi.



Dia menghela napasnya kemudian menatap sendu ke danau.



"Siapa kau?"



Suara yang sedingin es tiba-tiba memenuhi panca indranya.



\* \* \*