
* * *
"I-ini betulan k-kamarku?"
.
Elody menatap kamar yang dikatakan Laviera sebagai "kamar yang akan ditinggalinya mulai sekarang" itu dengan terkejut.
B-bukankah ini terlalu besar dan sedikit berlebihan?
"M-mommy apa ini tidak terlalu besar untuk disebut sebagai kamar?"
"Tentu saja tidak sayang, malah sepertinya ini kurang untuk ukuran kamar seorang remaja perempuan sepertimu, bukan begitu?" Laviera menatap kamar itu sambil mengerutkan keningnya tanda ia masih merasa tidak puas dengan kamar yang sudah disiapkannya itu, Elody hanya menatap dengan tidak percaya kearahnya, tidak tau ingin berkata apalagi.
Laviera kemudian menunjukkan toilet yang ada didalam kamarnya itu baru kemudian walk in closetnya. Ia benar benar tak bisa menahan keterkejutannya melihat semua hal yang tersimpan disana.
Semua merek terkenal lengkap mulai dari tas, sepatu, pakaian, celana, aksesoris, dsb tertata rapi disana. Bahkan ia tidak bisa menghitung jumlah barang yang ada diruangan yang bahkan ia sampai tersesat didalamnya itu akibat luasnya yang terlalu besar dan seperti labirin.
Setelah keluar dari ruangan itu Elody teralihkan fokusnya karena satu pintu misterius yang masih ada didalam kamarnya itu.
Ia lalu memutuskan bertanya kepada sang ibu, "Mommy itu ruangan apa?"
Laviera tersenyum dan menyuruh Elody untuk melihatnya sendiri, Elody yang bingung kemudian memutuskan untuk menuruti perkataan dari Mommy nya itu. Ia perlahan membuka pintu berukuran besar itu dan langsung dibuat terkagum-kagum karenanya.
"I-ini!"
Perpustakaan yang sangat luas tertangkap dalam netranya.
"Ody suka hm?" Tanpa sadar Laviera sudah ada disampingnya dengan senyuman terukir diwajahnya.
"Ody sangat suka sekali!"
Laviera tampak tersenyum lebih lebar dari sebelumnya, melihat anak perempuannya yang gembira seperti itu membuat ia sangat, amat gembira. Oh my kenapa anak perempuanku seribu kali bertambah cantiknya jika tersenyum seperti ini...
Laviera berpikir seperti itu sambil memandangi Elody yang tengah berkeliling, melihat buku-buku disekitarnya dengan tatapan yang terpancar kebahagiaan.
Sampai panggilan Zain membuat Laviera terpaksa harus pergi dari tempat itu.
"Mommy pergi kebawah dulu ya sayang. Setelah selesai melihat-lihat disini, jangan lupa untuk mandi dan mengganti pakaian, mengerti? Sebentar lagi adalah waktunya untuk makan malam, jangan sampai terlambat sayang," Laviera berkata kepada Elody kemudian menghampirinya.
"Baik Mommy!"
Ting!
Lift berbunyi membuat keheningan yang terjadi diantara Xavier dan Keempat anaknya mulai mereda. Tak lama setelahnya sosok wanita cantik melangkahkan kakinya kearah mereka.
"Jadi kalian sudah melihat Elody tadi," Laviera menyesap tehnya dengan santai kemudian menaruhnya lagi diatas meja.
Mereka hanya terdiam menunggu kelanjutan dari perkataan Laviera, sedangkan Xavier? Ia hanya diam saja karena dirinya tau Laviera juga pasti akan mengatakan hal yang sama dengan yang ada dipikirannya.
"Mommy harap semuanya bisa akur dengan adik kalian itu dan menjaganya baik-baik. Mommy tidak mau ada yang membeda-bedakan dirinya dengan yang lain, kalian satu keluarga, darah Ayah kalian juga mengalir dalam dirinya. Jadi Mommy harap kalian tidak bertindak kekanak-kanakan dan bersikap baik kepada Elody,"
"Tenang saja Mom." hanya Dexter yang menjawabnya dengan senyuman, sedangkan yang lain hanya mengangguk malas.
"Bagus! Mommy percaya pada kalian."
\* \* \*
Setelah memilih asal pakaian yang akan dikenakannya, Elody kemudian turun kebawah dengan gugup. Makan malam dengan keluarga untuk pertama kalinya yang dia rasakan seumur hidupnya, kyaaa! Dia sudah tidak sabar lagi.
"Elody, kemari sayang!"
Tersentak karena panggilan dari Laviera ia kemudian segera bergegas menuju Mommy nya itu dan duduk disebelah kursi yang ditunjuk oleh Laviera yaitu kursi sebelahnya.
"M-maaf aku terlambat," dengan kepala yang tertunduk dia meminta maaf kepada semuanya.
"Cih aku sudah lapar dan karena kau perutku menjadi sakit," ucap Aland yang kesal sambil menatap Elody yang persis ada didepannya dengan tajam tapi setelah melihat wajah ibunya yang juga ikut melotot namun bedanya kearah dirinya itu, membuatnya langsung memalingkan muka.
Dexter yang ada di sebelah kanannya tersenyum, "Tidak usah dengarkan perkataanya, kami juga baru beberapa menit yang lalu sampai, dia hanya mengarang saja,"
Elody menoleh kearah Dexter yang melemparkan senyuman manis pada dirinya.
"I-iya kak ehm ... " Elody tampak mengerutkan keningnya, bergelut dengan pikirannya yang sedang berusaha keras untuk mengingat nama dari kakak laki-lakinya yang ada disebelah dirinya ini.
"Dexter, namaku Dexter," ia terkekeh saat Elody yang dengan malu-malu meminta maaf karena lupa dengan namanya.
Setelah percakapan singkat itu selesai, acara makan malam pun dimulai. Semuanya terlihat khidmat memakan makanan yang tersaji diatas meja. Elody hanya memperhatikan sekelilingnya dengan air liur yang hampir menetes dimulutnya.
"Ayuk dimakan sayang," Laviera kemudian menaruh beberapa lauk pauk kedalam piring Elody. Setelah itu Elody perlahan menggerakkan sendoknya dan menyuap satu sendok penuh makanan itu kedalam mulutnya.
'OMOOOO'
Elody tak dapat berkata-kata lagi, ini benar-benar makanan terenak yang pernah dirinya makan! Dia dengan cepat menyuapkannya lagi kedalam mulutnya sampai tak terasa semuanya sudah habis ia lahap dalam sekejap tanpa dirinya sadari.
Ia menatap sekeliling yang terlihat hening, namun ekspresi mereka seperti sedang berusaha menahan tawa. Astaga dia lupa kalau masih ada banyak orang disini!
Aland pun juga mencibirnya, sedangkan Xavier, Chaiden dan Linden hanya diam dan masih mempertahankan ekspresi dingin mereka seperti biasanya.
Pengen ketawa aja ditahan mas, cuih. -Author
Dexter yang ada disebelahnya mengacak rambut adik barunya itu dengan gemas, membuat yang lain pun menunjukkan ekspresi yang aneh.
Sebelumya seorang Dexter tidak pernah menunjukkan ketertarikan sedikitpun dengan lawan jenis kecuali ibunya. Ia memang ramah dengan orang-orang disekitarnya baik keluarga maupun orang yang diluar ikatan darah itu. Namun jangan salah kira, walaupun dia yang selalu dicap sebagai orang ternomal dari pada anggota keluarganya yang lain tetapi sebenarnya seorang Dexter tidak sebaik yang orang lain pikirkan.
Bagi keempat saudaranya Dexter adalah seseorang yang aneh. Tidak, lebih tepatnya mereka lebih mencapnya sebagai orang gila sebenarnya.
Jalan pikirannya yang paling tidak mudah ditebak, perilakunya terkadang juga aneh dan diluar nalar seorang manusia biasa, itulah yang membuat keempatnya memilih menjauh dari orang aneh itu, meskipun Dexter merupakan saudara kandung mereka.
Dan sekarang ia tertarik dengan perempuan, yang sebenarnya adalah mahluk yang paling ia benci? Astaga, dunia sepertinya akan runtuh sebentar lagi!
Melontarkan tatapan yang mengandung perasaan jijik dan merasa asing dengan diri Dexter yang ada didepan mereka sekarang, membuat Dexter menoleh kepada keempatnya.
"Ada apa?" Dexter bertanya sambil ternsenyum kepada mereka.
Ukh ...
Wajahnya yang mengukirkan senyuman manis itu selalu sukses membuat mereka mual, dengan segera mereka membalikkan kepala kearah yang berbeda tidak ingin lama-lama melihat saudara mereka yang pikirannya sudah miring itu.
\* \* \*