
* * *
Semenjak keadaan kakinya mulai pulih, Elody akhirnya bisa dengan bebas berjalan-jalan lagi seperti sedia kala.
Tersenyum lebar, Elody memandangi langit biru yang ada diatasnya sembari merebahkan tubuhnya diatas padang rumput nan hijau, tempat yang paling disukainya dari seluruh area yang ada di mansion. Sudah banyak yang terjadi setelah hampir lewat dua minggu dimana kejadian dirinya yang tak sengaja terluka akibat terkena pecahan vas hari itu.
Sekarang hubungan dirinya dengan kakak laki-lakinya mulai terbilang emm ... bisa dibilang dekat, mungkin? Yeah, tentu saja kecuali dengan kakak tertuanya.
Kakak-kakaknya yang lain beberapa hari ini selalu menjenguk dan menemani dirinya selagi Elody masih dirawat dikamar dan tidak diijinkan untuk bergerak satu langkah pun dari tempat tidurnya.
Sangat memberatkan memang, namun apa dayanya jika itu adalah perintah dari Keempat kakak, Ibu dan juga Ayahnya yang galak.
Ayahnya yang hari itu baru saja pulang bersama dengan ibunya yang menemani dirinya pergi bekerja langsung saja memarahi kakak-kakaknya yang mereka pikir tidak bisa menjaga Elody dengan baik dan ingin menghukum mereka. Tidak berbeda jauh dengan sang suami, Laviera pun sangat marah. Ia bahkan sampai menangis dan hampir mengutuk keempat tidak, maksudnya kelimanya anaknya.
Astaga yang benar saja ...
Apa kalian tau kenapa aku bilang kelimanya? Yep, karena Xeinard pun juga menjadi sasaran dari orang tua mereka untuk dimarahi. Mau bagaimanapun Laviera dan Xavier sudah mempercayakan kelimanya untuk menjaga Elody termasuk juga Xeinard, anak tertua mereka.
Elody pun yang merasa tak enak berusaha menenangkan ibunya yang sedang mengamuk, alhasil Laviera langsung jinak dan tidak jadi menjatuhkan putusan itu namun akhirnya Elody tetap harus menerima konsekuensinya dengan ia yang tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar selama sebulan penuh.
Tapi untungnya dengan permohonan dari Elody yang terlihat menyedihkan dimata sang ibu, Laviera yang tak sanggup melihat itu pun memutuskan untuk mengurangi masa dirinya dikurung dalam kamar itu menjadi dua minggu saja.
Dan selama itulah ia mulai akrab dengan Aland, Linden dan juga Chaiden. Perlakuan mereka pada dirinya pun mulai melembut. Mereka selalu memperhatikan Elody dan setia berada disampingnya agar ia tidak merasa kesepian atau bosan.
Namun ada nilai minus yang didapatnya sebenarnya. Mereka benar-benar menjadi over protektif terhadap dirinya, sampai-sampai terkadang perilaku dari mereka memberatkan jiwa dan raganya.
Seperti inilah contohnya.
"Elody! Ck ada dimana dia sekarang?!?!" Aland berteriak sambil menengok kesekelilingnya.
"Ody, apa kau ada disini?" Dexter pun juga dengan wajah panik terus mencari Elody.
Elody yang masih duduk ditepian danau menghela nafasnya, baru saja ia menghilang dari pandangan mereka selama hampir sepuluh menit saja, kakak-kakaknya sudah mencarinya sampai seperti ini, Omo ...
"Ketemu kau," Elody langsung bangkit dari tempatnya saat melihat Chaiden yang berjalan kearahnya. Ia kemudian lebih terkejut lagi saat Linden yang entah darimana datangnya langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya kembali ke dalam Mansion.
"Kakak! Turunkan aku!"
"Hmm tidak akan, anak nakal sepertimu harus aku hukum dengan keras agar tidak mengulangi kesalahan yang sudah diperbuatnya lagi," Linden berucap, masih dengan wajah datarnya namun nampak ketegangan dan kepanikan diwajahnya masih tersisa.
Chaiden pun yang mengikuti dari belakang juga ikut menatap kearah Elody dengan tajam seolah-olah setelah ini dia akan dimakan habis olehnya.
'D-daddy, M-mommy cepatlah pulang, hiks.'
Aland dan juga Dexter yang baru saja diberi kabar kalau Elody sudah bersama dengan mereka pun akhirnya dengan secepat kilat kembali dan menemuinya.
Brakk!
"Elody!" Dexter langsung membuka pintu utama dengan tenaga yang kencang dan berjalan cepat dengan Aland disampingnya.
"M-maafkan aku, tadi aku hanya pergi ke danau sebentar, aku benar-benar minta maaf hiks," Elody pun menjadi menangis karena melihat reaksi kakak-kakaknya yang terlihat sangat khawatir dengan dirinya, membuat Elody merasa bersalah.
Emosi keempat laki-laki itu pun akhirnya mulai menyurut karna melihat tangisan menyedihkan dari sang adik. Mereka menjadi gelagapan, bukan seperti ini yang mereka mau!
"M-maafkan kami E-Elody, kami hanya khawatir denganmu, semestinya bilang dulu pada kakak jika ingin pergi kesana, kami tentu saja akan menemanimu," Dexter berjongkok dihadapannya dan menghapus air matanya dengan lembut.
"I-iya h-hiks a-aku hiks l-lupa, m-maaf," balas Elody yang masih tenggelam dalam tangisannya.
Aland pun menarik napasnya dan duduk disebelah Elody, "Aku juga minta maaf karena berteriak padamu, aku tidak marah hanya khawatir saja padamu, jangan menangis lagi sweetie, kau tau wajahmu jadi jelek jika menangis seperti ini,"
"B-biarin h-hiks," ucap Elody, walau begitu ia tetap dengan malu-malu menutupi wajahnya yang masih basah dan segera bangkit pergi dari sana.
Keempat kakaknya hanya tertawa melihat tingkah lucu dari adik bungsunya itu.
Setelah Elody sudah menghilang dari penglihatan mereka, senyum yang tadinya terukir di wajah keempatnya perlahan menghilang.
"Brian," Sang kepala pelayan yang menunduk sedari tadi dibelakang Aland akhirnya menengok kearah para tuannya dengan gemetar.
"Panggil seluruh pelayan dan juga pengawal yang diperintahkan untuk berjaga disekitar Elody," ucap Aland dengan wajah datarnya.
"B-baik t-tuan," Brian segera bergegas pergi dan setelahnya kembali dengan puluhan pelayan serta pengawal dibelakangnya yang gemetar ketakutan.
"Sekarang, mari kita dengarkan penjelasan dari kalian semua," Dexter tersenyum kearah para pelayan dan penjaga yang tertunduk ketakutan.
"Ampuni kami tuan, Mohon ampuni k-kami!" Mereka menjatuhkan diri ke lantai yang dingin, tak bisa mencari alasan lagi, hanya bisa pasrah dan memohon pengampunan dari keempatnya.
Namun semuanya hanya sia-sia saja, Chaiden tanpa aba-aba mengarahkan tembakannya secara asal kesalah satu maid yang ada disana.
Dorrrr!
Sang maid yang terkena tembakan merintih kesakitan sampai memuntahkan darah dari mulutnya. Peluru itu tepat mengenai tempat jantungnya berada. Dapat dipastikan kalau dia hanya memiliki kesempatan kecil untuk hidup, itu juga kalau-kalau ada yang mau membawa tubuhnya langsung kerumah sakit.
Namun siapa yang ingin? Keempat tuannya? Tidak mungkin, salah satu dari mereka kan pelaku yang menembak maid itu. Kalau rekan kerjanya yang lain? Mereka juga dalam keadaan diambang kematian sekarang, jadi bagaimana mereka bisa mengkhawatirkan maid tadi?
"Singkirkan tubuhnya dari sini. Ah ... bersihkan juga darahnya yang ada dilantai, aku tidak ingin adikku muntah karena melihat semua darah yang berceceran ini," Linden berkata kepada bawahannya yang sekarang berada dibelakangnya, dan dengan segera ia melaksanakan tugas yang diberikan Linden bersama dengan rekannya yang sudah terbiasa melihat kejadian mengerikan seperti ini selama bekerja dibawah tuannya yang sekarang.
Keadaan mulai tenang, para maid dan pengawal yang masih terus bersimpuh mulai bisa bernafas dengan lega walau sebenarnya masih ada rasa ketakutan dan kesedihan karena kehilangan salah satu rekan kerja mereka, tapi mereka mengira sepertinya tuannya itu tidak jadi menghabisi mereka yang masih hidup disini karena pasti adiknya akan membenci mereka jika dirinya tau keempatnya bertindak kejam begitu.
'Sepertinya kami masih punya harapan.' Pikir mereka sambil menghela nafas lega.
Namun perkataan dari Dexter membuat harapan mereka langsung pupus, "Kalian pikir ini sudah selesai?"
Ia tersenyum miring, kali ini berbeda dari senyumnya yang biasa.
"Kalian tau? Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai." suara dari para maid dan pengawal yang terus meminta ampun, memenuhi gendang telinga mereka namun sayang, para bawahan keempat tuannya itu terus menyeret mereka semua tanpa belas kasih pergi dari tempat itu.
* * *