
* * *
Tingtong, tingtong.
Suara dari bel rumah yang berbunyi membuat fokus Elody teralihkan yang tadinya sedang melihat anjing kesayangannya itu makan.
Ia lalu mulai melangkah menuju pintu Utama rumah dan perlahan membukanya.
"Hal-" ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi terkejut, ia masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang.
Tidak, tidak mungkin.
"D-Daddy?" Elody yang masih belum menerima keadaannya sekarang hanya terdiam. Dia benar-benar kaget melihat Ayahnya bersama seorang wanita cantik disebelahnya persis ada dihadapannya sekarang, tidak berbeda jauh dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Ayahnya kepada dirinya juga.
Segera Elody menyadarkan pikirannya yang melayang-layang entah kemana dan mempersilahkan mereka masuk.
* * *
Sementara di kediaman keluarga Atkinson
"Tasya, kamu benar-benar serius ingin tetap sekolah di Bandung sayang?"
"Iya Mom, Tasya udah yakin,"
"Tapi kamu kan sudah berencana untuk masuk ke Wellington High School, kamu benar-benar akan melepaskan impianmu begitu saja? Daddy hanya ingin yang terbaik untuk kamu sayang,"
"Please Dad, aku cape bahas itu lagi, aku mau istirahat dikamar aja ya, bye Dad, Mom."
Tasya segera menaiki tangga menuju ke arah kamarnya yang berada di lantai atas.
Didalam kamar ia hanya terdiam dan menatap langit-langit kamarnya.
'Gimana kalo gw ajak Elody ke Jakarta. Apa dia mau ya?'
Segera ia menggelengkan kepalanya menghapus pemikirannya itu, "engga, engga! Dia ga mungkin mau pasti,"
"Tapi-"
Menghela napas, ia terus tenggelam dalam imajinasinya, membayangkan bagaimana kehidupannya nanti jika seandainya ia bersekolah di Wellington High School.
Hah ... pasti menyenangkan. Tapi jika tidak ada Elody ... itu menjadi sia-sia saja menurutnya.
"Ah sudahlah." Tasya kemudian mulai menutup matanya, ia berencana untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya dengan tidur sebentar .
* * *
Rumah Elody
Wanita yang duduk disebelah orang yang disebut Elody sebagai "Daddy ini" ikut merasakan kecanggungan yang terjadi diantara keduanya.
Laviera yang tak tahan dalam situasi itupun akhirnya yang memutuskan membuka pembicaraan lebih dahulu.
"Halo Elody," Ia berusaha untuk tersenyum lebar bahkan disituasi yang seperti ini.
Mata Elody seketika terbuka lebar mendengar sapaan dari wanita itu. Laviera yang melihat ekspresi ketakutan dari Elody saat menatapnya membuat dirinya sedikit ekhem sakit hati.
"Ah ... h-halo juga t-tante,"
"Panggil dia Mommy Elody, dia adalah Mommy mu,"
Suara rendah dari seseorang mengoreksi perkataan Elody.
"M-mommy?" Elody akhirnya tersadar kalau orang yang ada disamping Ayahnya itu merupakan istri Ayahnya.
Semenjak ia lahir, dirinya sekalipun belum pernah melihat sosok dari Laviera ini jadi wajar saja jika dia tidak tau.
"Iya sayang, mulai sekarang aku adalah Mommy nya Elody, jadi jangan sungkan sama Mommy ya," ia kemudian mengelus kepala Elody dengan sayang.
"Oke M-mommy?" Dia masih sedikit kebingungan mencerna semuanya namun perlahan dia mencoba untuk memanggil Laviera seperti yang dia suruh.
"Hem, betul sekali seperti itu!" Laviera tersenyum menahan tangisan kebahagiannya karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa mempunyai anak perempuan yang bahkan sangat imut dan Lucu seperti ini.
'Ya Tuhan terimakasih!!! Kau mengabulkan semua doa-doaku. Demi apa anak imut ini sungguh melebihi ekspektasi dan keinginanku. pokoknya aku akan merawatnya Elody kecilku dengan sebaik-baiknya! Ahhh aku sudah tidak sabar ingin melakukan aktifitas bersama antara ibu dan anak dengannya, kyaaaaa.'
Elody hanya memandang polos kearah Laviera yang mengeluarkan ekspresi aneh diwajahnya.
"A-apa mommy sedang sakit? w-wajah Mommy sepertinya sedikit pucat."
Elody menjadi khawatir karena melihat Laviera yang dimatanya mengeluarkan ekspresi aneh yang dia artikan seperti sedang menahan sesuatu.
Xavier pun juga yang tadinya terus mengarahkan fokusnya kepada putrinya langsung menatap istrinya cemas dan dengan tanda tanya.
"Ah ... tidak, tidak, Mommy baik-baik saja, sangat baik-baik saja. J-jangan khawatir sayang!"
Setelah mengatakan itu Elody dan Xavier akhirnya bernafas dengan lega.
"Baiklah, sebenarnya tujuan Daddy dan Mommy kesini adalah ..."
"..... Untuk membawamu ikut bersama kami tinggal di Jakarta,"
Laviera langsung melotot melihat kelakuan suaminya itu, belum apa-apa ia dengan seenaknya mengutarakan langsung tujuan mereka kesini, setidaknya mengobrol dan menanyakan keadaannya kek bukannya begitu dia daritadi hanya terdiam dan menatap Elody saja.
'Hem, dasar gengsian.'
J-jakarta???
"Aku?"
"Iya sayang tentu saja kamu, Mami sudah mempersiapkan semuanya, kamar dan segala barang-barang yang kamu perlukan sudah tersedia disana, jadi kamu tidak perlu khawatir. Mommy tau kamu pasti kesepian disini sendiri kan,"
Elody menggelengkan kepalanya.
"Elody b-baik baik saja kok disini, Mommy dan daddy tidak perlu membawa Elody kesana, itu terlalu m-merepotkan kalian bukan ..."
"Tapi mommy tidak merasa begitu, kamu tau? Mommy sudah menunggu hari ini tiba sayang. Karena disana hanya ada Kelima kakak Laki lakimu saja, tidak ada anak perempuan yang bisa menemani Mommy, Mommy sungguh merasa sangat kesepian sayang , "
"Kumohon hm ..."
Elody yang masih ragu hanya terdiam dan melihat ke arah Ayahnya untuk meminta bantuan. Sayangnya Ayahnya hanya berpura-pura tidak tau dan terus menyeruput secangkir kopi yang tadi ia siapkan untuknya.
Pasrah, ia akhirnya mengiyakannya.
"B-baiklah kalau itu mau Mommy, tapi jika Mommy ingin memulangkanku ke bandung lagi nantinya, Elody akan menerimanya,"
"Terima kasih sayangg huaa!" Laviera langsung membawa Elody kedalam pelukannya yang hangat, ia bahkan sampai menitikkan air matanya karena terlalu gembira.
'Tentu saja Mommy tidak akan mau meninggalkan anak Mommy ini sendirian lagi disini hem! Itu tidak akan terjadi sayang,'
Walau sedikit ragu-ragu, tangan Elody perlahan mulai membalas pelukan dari Laviera, diam-diam ia pun juga menangis dalam dekapan sang Ibu.
Xavier yang melihat momen mengharukan antara ibu dan anak itu pun mengangkat sudut mulutnya perlahan.
"Baiklah sekarang, ayuk kita segera berangkat!"
"Ah ... bisakah Mommy dan Daddy memberikan aku waktu satu hari lagi untukku tinggal disini?"
"Hem ... baiklah lakukan sesukamu, Daddy dan Mommy akan pulang ke Jakarta hari ini karena ada urusan jadi tidak bisa lama-lama disini. Bila besok kamu sudah siap telepon Daddy ok?"
"B-baiklah Dad." Elody yang masih canggung dengan Xavier karena sudah lama tidak bertemu hanya menjawabnya seadanya dan menampilkan senyum terpaksa diwajahnya.
* * *