Perfect Color Of Life

Perfect Color Of Life
bab 27



Bastian selalu memikirkan kata-kata Bram mengenai seorang pria yang Akira panggil dengan sebutan Yayan, bukankah hal tersebut dapat membuat semua orang yang mendengar nama panggilan tersebut menjadi memiliki pemikiran jika mereka memiliki hubungan khusus?


Bastian terus merenung disofa yang terdapat di kamar VIP tersebut.


"enghhhhh" erangan Akira, semuanya dari yang tadi menundukan kepala mereka, dengan segera langsung mengangkat kepala mereka, dengan perasaan campur aduk Bastian mendekati Akira, awalnya Sandra ingin mencegah Bastian agar tidak dulu ke dekat Akira, tetapi Sandra sudah lebih dahulu dicegah oleh Bram, bagaimana pun itu Bastian merupakan orang yang penting dihidup putri kesayangan mereka.


"hallo, Akira kamu sudah bangun?" tanya Bastian yang sudah dengan cepat memposisikan dirinya dikeadaan yang membingungkan seperti ini.


"jangan.......jangan.......mommmmm" panggil Akira.


dengan segera Sandra menghampiri Akira


"hey tenanglah nak, dia baik kok, dia mau jadi temanmu, dia anak dari sahabat daddy, jadi jangan takut, dia bakal jagain Akira kok" seru Sandra.


dengan kikuk Bastian membenarkan ucapan Sandra "ah itu iya bener, aku mau temenan sama kamu boleh kan?"


tanpa menjawab Akira malah langsung menanyakan tentang seseorang, yang dapat membuat hati Tian teriris


"mom tapi kak Yayan mana?, katanya dia ngga bakalan lama perginya, besok kak Yayan pulang kan?" tanya Akira dengan polosnya, Akira seperti berubah menjadi dirinya yang berumur 12 tahun, benar-benar sesuatu yang langka.


"sayang, sekarang ada kak Tian yang bakalan ajakin Akira main, jalan-jalan, dan pastinya jagain Akira" jelas mommy Sandra yang dengan susah payah menyembunyikan perasaan sedihnya, hampir saja air matanya menetes dengan segera dirinya menghapus air mata tersebut. seorang ibu tidak akan mampu melihat keadaan putrinya seperti ini, jika seorang ibu melihat anaknya terbaling lemah, pasti dirinya akan menyalahkan dirinya sendiri, dirinya berasa, ia gagal menjaga sang buah hati, dari dulu ia rawat, ia mengajarkan membaca, berjalan, berbicara, semua tak luput dari penglihatannya, tetapi sekarang ia melihat anaknya terbaring lemah, siapa yang tidak akan sedih melihatnya?.


"sungguh?, kak Tian juga bisa jadi kayak kak Yayan?" tanya Akira dengan antusias.


Bastian hanya menganggukan kepalanya dengan lemas, hatinya terasa seperti teriris-iris oleh pisau yang tajam, melihat kekasih hatinya dengan antusias membicarakan lelaki lain.


"apa lelaki itu yang membuat Akira tidak pernah membuka hatinya?, jika iya gue bakal punya saingan yang sangat berat"


batin Tian.


*****


sudah seminggu berlalu, sehari-hari Akira menjalani terapi psikis, sekarang sudah terliat sedikit kemajuan, Akira sudah berani untuk menatap dunia luar, melihat orang-orang berlalu lalang, dan dirinya juga sudah diijinkan kepada pihak sekolah, dan tidak lupa setiap hari Bastian beserta yang lainnya mendatangi Akira.


awalnya Bella dan Naisha sangat terpuruk melihat keadaan sahabatnya yang sudah bisa dianggap seperti saudara kandung bagi mereka, tetapi dengan bantuan dari Putra dan Daru mereka berhasil melewatkannya, selama ini Daru selalu ada untuk Bella hal tersebut membuat mereka menjadi lebih dekat, dan jangan lupakan pertengkaran-pertengkaran kecil tentunya.


sudah seminggu Bastian hampir menghabiskan hari-harinya di rumah sakit untuk merawat Akira, dan kabar baik mereka juga sudah akrab kembali, karna sedari dulu Bastian selalu pulang malam jadi orang rumah tidak ada yang menanyakan, karna memang sudah sedari dulu Bastian seperti itu, mereka fikir Bastian pergi bersama temannya, dan juga selama seminggu itu Bastian tidak pernah absen dalam merawat Akira.


Akira dikabarkan sudah boleh pulang besok hari, hal tersebut pastinya membuat semua orang merasa sangat bahagia dan bersyukur.


"saya sarankan, agar ingatan Akira cepat kembali bawalah dia ketempat dimana kalian membuat kenangan, saya harap kenangan asmara kalian, karna perasaan tidak pernah hilang, dengan begitu akan lebih mudah memulihkan ingatannya. " jelas dokter John kepada Bastian, dan dengan patuh Bastian menuruti perkataannya.


"Akira abis ini kita pergi kesuatu tempat yok pasti kamu bosen kan dirumah sakit terus" ajak Bastian.


"wahhhh mau banget, tapi aku izin ke mommy daddy dulu yah" seru Akira dengan antusias.


"ngga usah tadi aku udah izinin" jawab Tian dengan senyuman manisnya.


"perasaan apa ini?, aku juga pernah merasakannya, tapi kapan?" Akira terus menerus bertanya mengenai perasaannya.


Bastian yang melihat perubahan ekspreksi Akira menjadi Khawatir


"kamu kenapa Ra?" tanya Tian dengan khawatir.


"ah aku ngga papa kok, udah yok kita pergi" ajak Akira langsung menarik tangan Bastian.


awalnya Bram dan Sandra ingin menjemput Akira, tetapi mereka ada urusan mendadak begitu pula dengan Chris.


"ehhhhh tungguuu" tiba-tiba Akira menghentikan langkahnya yang membuat Bastian kebingungan.


"kenapa?" tanya Bastian dengan sangat penasaran.


"itu--- aku ngga tau mobilnya dimana, hehe" jawaban Akira yang begitu polos membuat Bastian tertawa terbahak-bahak.


"dasar kamu tuhhhhh, udah ayok" ajak Tian.


*****


Bastian memberhentikan mobilnya di dekat Halte bus, yang mana membuat Akira mengernyit heran


"kita ngapain kesini kak?" tanya Akira.


"itu ada cilok kesukaan aku kita makan dulu yok disana" ajak Tian dan dituruti oleh Akira, sebenarnya tujuan utama Bastian adalah mengingat kenangan dimana dirinya dengan tidak sengaja melaju digenangan air, yang mana mengenai seorang gadis, yang tak lain Akira.


saat Akira ditinggal membeli cilok, dengan tidak sengaja Akira melihat seorang gadis seumurannya terkena genangan air, dan dengan segera pemuda yang mengenai air memberhentikan kendaraannya, entahlah keberuntungan apa yang berpihak pada mereka, kejadian tadi seperti rekayasa ulang dari kejadian dimana yang membuat keduanya bertambah dekat, seperti film yang diputar-putar dalam memory Akira, sehingga membuat dirinya sedikit pusing.


Bastian yang melihat Akira memegang kepalanya dengan segera menghampiri Akira "Akira kamu gapapa?" tanya Tian dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"ngga kok kak aku gapapa" jawab Akira menyembunyikan rasa sakit, serta rasa penasarannya, dirinya sangat penasaran tentang apa yang dirasanya tadi, seperti deja vu?


"nih cilok buat kamu" Bastian menyodorkan seplastik cilok kepada Akira, dan dengan senang hati Akira menerimanya.


mereka menghabiskan sorenya di bawah Halte bus, hingga memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


*****


gaisss jangan pelit jejak dongggg, ini author sudah berusaha untuk up secepat mungkin, jadi author mohon agar kalian juga meninggalkan jejak.


jejakmu membuatku bahagia


anjaiiiiii


semoga ngga bosen yah sama karyaku