
Hujan deras membasahi malam itu . Langit begitu gelap , bahkan menyeruak hawa dingin menusuk tulang.
Lucy berdiri di balik tirai , kilatan petir silih berganti menyambar , seolah saling bertukar rindu . Tersirat rasa cemas di benaknya.
" Sudah jam berapa ini Sam belum juga pulang. Apa pekerjaan tidak bisa di tunda besok ? ," Ujar Lucy pelan.
Tak lama terdengar dering smartphone , tatapan Lucy bergerak cepat .
" Mungkin itu Sam ," pikirnya.
" Hallo ? ," Suara lirih Lucy.
" Hallo sayang ? Apa kau mendengar ku ? ," Suara Sam bertanya.
" Hemm..aku mendengar mu , ada apa ? Mengapa belum pulang ? ."
" Ada sedikit masalah tadi dalam proyek yang baru, mau tidak mau aku harus menyelesaikan nya dulu ."
" Pikirkan kesehatan mu Sam, akhir-akhir ini kamu selalu lembur . Aku sedikit khawatir, bisa-bisa nanti kamu sakit ."
" Aku tidak apa-apa luc, apa Collin sudah tidur ?."
" Ya , dia sudah tidur sejak tadi . Jadi ? Kapan kamu kembali ? ."
" Satu jam lagi aku akan pulang, jangan menunggu ku . Kamu harus istirahat lebih cepat sekarang , pikirkan kandungan mu sayang ."
" Aku mengerti Sam. tapi aku cemas, jika semalam ini kamu belum juga pulang ."
" Baiklah baiklah , aku akan pulang istriku. Apa kamu senang sekarang ?."
" Hemm.. cepatlah pulang," Lucy sedikit merajuk.
" Kalau begitu aku tutup dulu telepon nya ."
" Berhati-hatilah di jalan Sam. Di luar sedang ada badai , jangan terlalu cepat membawa mobil ."
***
Satu jam kemudian, Sam dan Jason tengah menyelesaikan pekerjaan mereka. Sam bergegas mengambil setelan jasnya, dan turun menuju parkiran.
Sekali lagi Lucy masih mondar mandir di ruang tamu mereka. Tidak lepas pandangannya, menatap jam dinding besar di ruangan itu.
" Cepatlah Jason ! Lucy pasti masih menunggu kita di rumah ." Perintah Sam .
" Baik Presdir, tapi hujannya sangat keras, aku takut. karena jalanan sangat licin ." Jawab Jason.
" kalau begitu berhati-hatilah sedikit ." Ucap Sam Sambil melihat keluar kaca mobil.
Kepala pelayan terbangun, dan melihat Lucy masih terjaga. Dirinya menghampiri Lucy yang terlihat tidak tenang.
" Nyonya ? Mengapa dirimu masih belum tidur ? ."
" Aku masih menunggu tuan besar, tidak apa-apa. Tadi aku sudah menghubungi nya, dia bilang sebentar lagi akan pulang ."
" Kalau begitu tunggulah di kamar anda nyonya. Wanita yang sedang mengandung, tidak baik jika semalam ini masih terjaga."
" Terima kasih sudah mengingatkan ku kepala pelayan. Sebentar lagi aku akan naik ke kamar ku ."
" Baik nyonya, apa ada yang anda butuhkan sebelumnya ? ."
" Tidak, tidak ada . Ya sudah, aku akan kembali ke kamarku kalau begitu. Jika tuan sudah sampai, bilang jika aku menunggu di kamar ."
" Saya mengerti nyonya."
Dengan berat, Lucy melangkahkan kakinya naik menyusuri anak tangga.
" Kemana Sam ? Tadi bilangnya akan segera pulang . Tapi sampai sekarang belum sampai ?," Lucy mengomel sendiri sedari tadi.
Di lihatnya berulang kali layar smartphone miliknya. Kalau-kalau, Sam akan kembali menghubunginya.
Saking kesalnya, Lucy mulai marah-marah dan mengacak-ngacak rambutnya.
" Kemana sebenarnya orang itu ? Aku akan menelpon nya lagi kalau begini ." Lucy memutuskan untuk kembali menghubungi Sam.
Tapi berkali-kali dirinya mencoba menghubungi Sam. Nomer telepon milik Sam, malah justru tidak dapat di hubungi.
" Apa-apaan ini ? Sekarang teleponnya bahkan tidak bisa di hubungi !? ." Lucy menjadi gusar.
" Arrghh...aku sudah sangat mengantuk, kapan Sam akan kembali !? ."
Lucy membaringkan tubuhnya di ranjang, sambil memijat-mijat pinggang nya yang terasa pegal. Mulutnya mulai menguap, dan pandangannya, mulai samar-samar melihat jam dinding di kamarnya.
" Sudah jam 2 malam, aku tidak sanggup lagi. Sebaiknya aku tidur saja dulu." Lucy perlahan memejamkan kedua matanya, dan mulai terlelap.
Tak terasa denting jam semakin lama terus berbunyi,menandakan waktu yang berganti tapi Sam tak kunjung tiba. Lucy yang sudah terlelap pun, tak menyadari sama sekali. Jika suaminya belum juga kembali ke kediaman mereka, hingga pagi pun tiba, dan sinar matahari terlihat mulai menembus tirai jendela.
Terdengar suara burung pipit,
Mata Lucy perlahan terbuka, masih silau akan sinar.
Tangannya mengibaskan rambutnya yang hitam dan panjang . Seketika dirinya sadar , Sam tak ada di kamar itu. Dirinya tak pulang semalam , sekali lagi berusaha mencari tau . Dengan cepat jemari tangannya meraih telpon genggam miliknya.
Khawatir dan kecemasannya bertambah, dengan langkah yang sedikit berat Lucy mencari kepala pelayan .
" Apakah tuan tidak pulang semalam ! ."
" Maaf nyonya tuan belum terlihat sejak kemarin ." Singkat kepala pelayan.
" Apa tuan tidak menghubungi mu ? ," Tanya Lucy cemas.
" Tidak nyonya ."
Jawaban kepala pelayan semakin membuat Lucy cemas tidak karuan .
" Oh iya Jason, tunggu sebentar aku akan menghubungi nya !."
Tak selang beberapa lama, Jason mengangkat panggilan dari Lucy .
" Selamat pagi nyonya ."
" Mana Presdir ? Kenapa kalian tidak kembali ke kediaman Lewis Semalam ? Apa terjadi sesuatu ? Jawab ! ," Lucy setengah berteriak saat ini .
" Maafkan saya nyonya, saya sedang membantu Presdir. Saya lupa menghubungi anda, telpon genggam Presdir kehabisan daya. Kamu mengalami kecelakaan semalam ," jawab Jason pelan.
" Apa ! Kecelakaan ? Kalian bercanda kan ? Bagaimana keadaan Sam ? Jason aku bertanya padamu !," Lucy menjadi sedikit marah dan tak tenang . Sedari tadi, kakinya berjalan bolak balik di ruang tengah kediaman mereka.
" Presdir ada dirumah sakit saat ini nyonya ...."
" Rumah sakit mana ?! Katakan cepat ! Aku akan kesana sekarang ."
" Grand general hospital nyonya ."
" Baiklah sekarang aku akan kesana ! ."
" Tapi nyonya....."
Belum selesai Jason berbicara , Lucy sontak mematikan panggilan itu, dan mencari mantelnya. Dirinya bahkan masih mengenakan piyama tidurnya.
" Pak siapkan mobil dan sopir, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang ! ," Perintah Lucy cepat.
" Baik nyonya, segera saya siapkan ."
Tak sampai 10 menit, Lucy pun masuk dalam mobilnya, dan meminta sopir untuk bergegas ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, rasa campur aduk beradu dalam hati Lucy. Dirinya tak dapat membayangkan hal yg lebih buruk lagi, sambil memegangi perutnya.
Lucy berdoa pada Tuhan agar Sam baik-baik saja.
Selang dua puluh menit perjalanan menuju rumah sakit, Lucy akhirnya sampai, dan mencoba mencari ruangan atas nama pasien Samuel Lewis. Namun betapa terkejutnya Lucy, saat mengetahui tidak ada pasien bernama Samuel Lewis.
Dirinya kembali bertanya-tanya. Apakah dirinya salah mendengar percakapan tadi. Dirinya kembali mencoba menghubungi Jason, namun Jason tidak menjawab panggilan nya.
" Yang benar saja, aku khawatir setengah mati disini.orang-orang ini bahkan tidak bisa membuatku tenang sebentar saja."
Dirinya kembali meminta perawat, untuk mengecek nama suaminya tersebut. Namun sudah jelas tidak ada nama tersebut.
Dirinya kebingungan dan cemas, dan berjalan pelan di antara keramaian orang. Terduduk lemas di kursi tunggu.
Dimana mereka " batin Lucy.
Wajahnya tertunduk, setengah ingin menangis. Dari kejauhan, Sam melihat Lucy yang tengah menahan tangisnya.
Dirinya mendekati Lucy, dan berdiri di hadapannya.
" Maafkan aku sayang, tidak mengabarimu. Aku tidak apa-apa, apakah dirimu cemas ? ." Suara Sam terdengar jelas di telinga Lucy yang tertunduk.
" Sam ! ." Pandangannya secepat kilat menatap sam. tubuhnya tergesa-gesa meraih Sam. Sam memeluk Lucy dengan erat, merasa bersalah pada istrinya tersebut.
" Maafkan aku, kami mengalami sedikit masalah saat perjalanan pulang, tapi aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil ," Sam menunjuk pelipisnya yang terluka, dirinya menjelaskan musibah, yang baru saja dirinya dapat.
" Aku seperti akan mati Sam, saat mendengar kamu kecelakaan ! ," Lucy setengah kesal dan memukul dada Sam.
" Hei hei hei, aww...," Sam terlihat pura-pura kesakitan.
" Apakah sakit ? Apakah tubuhmu juga terluka ? ," Lucy panik melihat ekspresi suaminya.
" Ya sedikit, jangan memukuli ku lagi,aku sudah meminta maaf. Aku juga akan menebusnya, sekarang bagaimana kalo kita pulang ? Aku sudah lelah ." Pinta Sam.
" Baiklah, lain kali jangan buat aku cemas seperti tadi. Aku sedang mengandung, aku bisa pingsan, jika mendengar berita buruk tentang suamiku."
Sam kemudian bertingkah manis, dengan menarik daun telinganya di hadapan Lucy.
" Aku berjanji sayang, tidak akan membuatmu cemas lagi, aku berjanji ."
" Oke oke, oh tidak aku lapar sekali. Aku belum sarapan Sam." Keluh Lucy.
" Baiklah, kalo begitu kita bisa pergi untuk makan terlebih dahulu ."
Pagi itu pun di tutup dengan genggaman erat keduanya, mereka jalan beriringan. Lucy merangkul erat lengan Sam, terlihat sekali rasa cintanya yang besar untuk Sam.
Bersambung......