
Ini adalah hari pertamaku ospek. Sialnya, dihari yang kutunggu-tunggu ini aku malah ketiban sial. Tau hal apa yang membuatku kesal bukan kepalang?
Aku kesiangan dan mendapat poin minus dimata senior. dan hal itu juga yang menyebabkan aku dijemur bersama Maba lainnya dilapangan.
"Lihat jam sekarang!" Suara cempreng gadis yang sedang berdiri didepanlapang mengintrupsi kami. Secara reflek aku langsung mengangkat tangan melihat jam tangah yang bertengger manis disana.
Pukul 08.33.
Aku mengumpat diam-diam agar tidak kedengaran Kak Faya. Bisa bahaya kalau aku ketahuan mengumpat didepannya. Perempuan bermulut lebar itu cukup mengerikan kalau sudah berceramah.
Aku terlambat 33 menit dihari pertama ospek. Hebat sekali! Rekor yang sempurna Binar. Tapi.... kok bisa sih? Padahal aku sudah bangun pagi-pagi sekali. Ah, ini pasti akibat macet yang melanda perjalanan tadi.
Kulirik kanan dan kiri seketika menganga, Oh yaampun kenapa aku baru sadar kalau disini aku perempuan satu-satunya.
Ini benar-benar..
Memalukan!
"Kalian tau apa kesalahan kalian?!"
"Tahu, kak!" Para lelaki menjawab dengan malas-malasan.
Kak Faya menyeringai puas."Bagus! Kalian akan dihukum. Sambil menunggu ketua panitia, kita pemanasan dulu, oke."
Kak Faya memutar sebuah lagu ditape recorder, ini lagu khas untuk senam.
"Kalian semua harus ikuti gue. Kalau enggak hukuman kalian akan ditambah." Ancamnya.
Perempuan berambut merah itu memutar tubuhnya kedepan, mulai memperagakan gerakan-gerakan yang menurutku agak menjijikan.
Kaus kurang bahan dan celana legging ketatnya menunjukan lekukan tubuhnya yang memang body gols, ditambah gerakan-gerakan yang aneh itu aku berfikir Kak Faya sedang menggoda para lelaki.
"Satu! dua! Tiga! Empat!"
Dan dugaanku tidak meleset. Alih- alih menurut, para lelaki ini justru menatap Kak Faya penuh minat. Aku menatap jijik mereka satu-satu yang tengah menganga seolah sedang membayangkan sesuatu dibalik pakaian yang dikenakan Kak Faya. Cih! Semua lelaki memang menjijikan.
"Heh, lo!"
Aku berjengkit kaget mendapat teguran Kak Faya yang terang-terangan ditunjukan padaku.
"Kenapa gak ngikutin gue dan malah bergidik gitu! Lo merasa jijik?!"
Mampus aku ketahuan!
"Eng---enggak kok kak."
"Lo harus dihukum!" Katanya sambil melipat tangan didepan dada, seringai sinisnya berhasil membangunkan alarm waspada dikepalaku. Duh, semoga bukan yang aneh-aneh ya.
"Ulangi gerakan gue barusan didepan!"
"Ha?" Aku melongo terlampau terkejut. Apa katanya tadi?
"Lo budek ya! Gue bilang lo ulangi gerakan gue yang barusan! Didepan!"
"Gue..." aku terbata. Bagaimana ya cara menolaknya. "gue gak---"
"Kedepan sekarang atau lo mau gue aduin ke ketua panitia karena lo gak nurut sama gue. dan......" Dia menyeringai menunjuk 9 orang lelaki disampingku satu persatu."mereka semua juga akan nanggung hukuman karena lo!"
"Dengar semuanya! Nasib kalian ada ditangan perempuan ini!"
Mendengar itu, secara serempak aku didorong kedepan oleh mereka semua. Beberapa lelaki yang belum kutahu namanya melotot galak mengancamku.
"Lo harus joget kayak Kak Faya tadi!"
Aku menggeleng. Memasang tampang semelas mungkin.
"Gue gak bisa!"
"Lo harus bisa, gue bakal nganggep lo pahlawan kalau lo menyelamatkan kami."
Sebagian lagi memasang tampang memohon, mengatakan aku harus melakukan ini agar kita semua selamat.
Ini gila! Aku tidak mau melakukannya. Biar saja dihukum, toh akan lebih adil kalau mereka juga dihukum bukan?
"Gue kasih waktu 5 detik buat lo berfikir! Dalam hitungan kelima kalo lo belom joget, gue pastikan nasib kalian lebih mengerikan dibanding ini!"
"Ayolah, Binar! Lo bakal berjasa kalau lo menyelamatkan kita semua. Gue gak akan lupa. Serius! Toh, cuma joget. Gak sulit kok!"
Pala lo yang gak sulit! Umpatku dalam hati. Memang gak sulit kalau saja gerakannya sedikit lebih waras. Aku juga tidak akan menolak malah dengan senang hati melakukannya.
Oh tuhan! Aku mohon selamatkan aku. Aku tidak mungkin berjoget ria seperti cacing kepanasan disiang bolong begini. Terlebih tadi aku sudah mencibir Kak Faya, apa kata dunia kalau sekarang aku yang berjoget menjijikan itu didepan mereka semua.
"1, 2, 3, 4, 5."
Musik diputar dan detik itu juga aku benar-benar pasrah. Dengan muka semerah kepiting rebus dan mulut komat kamit aku berjoget meniru gerakan Kak Faya. Kuharap tidak ada yang berfikir kalau aku sedang menggoda kaum hawa seperti apa yang kufilkirkan tadi mengenai Kak Faya.
Samar aku mendengar, seringaian puas dari Kak Faya dan cibiran dari para lelaki dibelakangaku. Katanya gerakanku tidak enak dipandang, terlalu kaku dan juga tubuhku terlalu kurus. Lebih bagus Kak Faya kemana-mana.
Kurang ajar sekali mereka! Aku melakukan ini untuk mereka dan sekarang mereka menertawakanku.
Oh tuhan! Kirimkan hujan lebat, badai, gempa bumi atau apapun untuk membunuh mereka atau paling tidak datangkan seseorang untuk menghentikan ini.
"Faya!"
Teriakan seseorang berhasil mengalihkan Kak Faya dari seringaiannya. Perempuan ular itu gelagapan dan segera menekan tombol off di tapenya.
"Siapa yang nyuruh lo muter music dilapangan? Gue bilang lo urus mereka. Disuruh gitu aja gak becus!" Suara itu terdengar marah.
"Ini gue lagi hukum mereka."
"Dengan joget-joget gak jelas kayak gini?! Kenapa gak sekalian aja lo nari sryptis."
Sekarang aku bisa bernafas lega, akhirnya malaikat penyelamatku datang. Tolong ingatkan aku untuk berterimakasih nanti. Eh tapi, tunggu sebentar. Suara itu, rasa-rasanya kedengaran tidak asing ya?
"Iya sorry. Gue kan niatnya mau ngasih hiburan, biar mereka gak tegang- tegang amat." Ujar Kak Faya sambil cemberut.
"Yaudah berhubung lo udah kelar. Gue serahin sama lo. Urus tuh anak-anak lo!"
Perempuan ular itu pergi, posisinya digantikan oleh lelaki yang menyelamatkanku tadi. Kini posisi kami berhadap-hadapan. Dan respon pertamaku ketika melihat wajahnya adalah. Terkejut bukan main.
Tuhan apakah ini mimpi?
Aku terpaku ditempat dengan tatapan kosong. Tau hal mengejutkan apa yang membuatku tidak habis fikir?
Ternyata orang yang menyelamatkanku adalah Raka. Simuka bercabang itu! Yang mana artinya dia kakak tingkatku sekarang.
Oh Tuhan, Jakarta itu luas. Dan memiliki universitas terbaik yang tidak hanya satu saja. Bagaimana bisa Raka sekarang menjabat sebagai kakak tingkatku.
Aku bertanya-tanya sampai rasanya otakku melorot ke perut. kenapa sih dia harus jadi kakak tingkatku? Kenapa dia harus jadi panitia ospek? Kenapa juga hari ini aku kesiangan? Aku mendengus menyembunyikan keluhan, sudah pasti hari ini aku akan habis dikerjai oleh lelaki itu habis-habisan.
"Ambil barisan masing-masing! Baris yang rapi. Lalu perkenalkan nama kalian dan sebutkan alasan kenapa kalian bisa terlambat?!"
Mendapat intruksi itu aku dan 10 orang lainnya kalang kabut mengambil posisi, menghindari panas yang cukup terik, aku memilih berdiri dibelakang.
"Tolong ya, barisannya dirapihkan? Atau nanti hukuman kalian ditambah!"
Tentu saja hal itu membuat 10 pasang mata mendelik menatapku dengan pandangan tidak terima.
"Iya, iya, gue kedepan!" Aku mendesah, lalu berjalan dengan lunglai. Kenapa dan kenapa sih kalau orang pendek tidak pernah mendapatkan hak manusiawinya?!!!
Dan diposisi inilah aku bisa melihat Raka dengan begitu jelasnya.
Tatapan kami bertemu untuk seperkian detik sebelum seringain mencurigakan terbit di bibirnya. Tatapan penuh dendam itu nampak kentara sekali dimatanya sama seperti semalam yang dia tunjukan kepadaku.
Usai perkenalan, kami diberi hukuman. Mencari seorang yang katanya pelitanya fakultas Hukum. Dengan dibekali beberapa clue, kami diwajibkan dapat menemukan orang itu dalam waktu 20 menit. Sebagai tanda buktinya aku harus meminta foto bersama dengan pose saling berjabat tangan beserta sebuah tanda tangan.
Oke, kedengarannya tidak buruk. Ketimbang harus berlama-lama berjemur dibawah sang mentari.
- Tampan
- Tinggi
- Putih
- Berkacamata
- Punya tahilalat diujung Mata
- Semester 4
- Inisialnya dari huruf G.
Langkah pertama yang kutelusuri adalah mencari gedung fakultas hukum, bertanya kepada salah satu mahasiswa dimana ruang mahasiswa semester 4. Begitu ketemu, ruangannya sepi. Hanya beberapa mahasiswi yang duduk dikursi depan. Aku menghampiri dua orang yang sedang membaca buku dikoridor.
"Hallo kak, maaf ganggu waktunya. Aku Maba yang lagi dihukum. Kakak bisa bantu aku gak?" Kataku dengan nada sesopan mungkin.
"Oke. Jadi apa yang bisa gue bantu?" Jawab salah satu dari keduanya.
"Ini, aku disuruh nyari orang dengan clue seperti yang ada di note ini."
Aku menunjukan note ditanganku kepadanya dan langsung diterimanya dengan baik.
"Kira-kira siapa ya, kak?"
"Kayaknya sih Rio." gumamnya ragu- ragu.
"Hah? Rio?" Teman disebelahnya menimpali." Rio kan anaknya bogel. Diclue-nya tertulis orang itu tinggi."
"Eh, iya bukan deng." Gadis berkacamata itu bergumam kecil." Disini juga tertulis inisialnya G."
"Emmm... itu Gema deh kayaknya." Sahut temannya lagi.
Gadis berkacamata itu menjentikan jarinya." Iya ini Gema."
"Namanya Gema Bagaskara. Dia tampan, tinggi, pakek kacamata dan punya tahi lalat diujung mata. Lo bisa temui dia diperpustakaan. Biasanya jam segini dia nongkrong disana."
Begitu keterangan gadis berkacamata tadi, dari keterangan itu lah yang membuatku berada diperpustakaan sekarang. Mencari lelaki bernama Gema-Gema itu.
Karena malas menebak aku memutuskan bertanya kepada petugas perpus. Bapak petugas itu mengatakan kalau perpus sudah kosong. Pengunjung terakhir memang lelaki bernama Gema Baskara, tapi Gema sudah pergi 5 menit yang lalu.
Aku berlalu setelah mengucapkan terimakasih kepada petugas perpus dan berjalan dengan bahu melorot. Kemana lagi aku harus mencarinya, dan lagi waktuku sudah habis.
Akhirnya mau tak mau aku kembali kelapangan dalam keadaan tangan kosong, dan mendapati pelototan Raka. Oh jangan lupakan teriakannya yang mengatakan kalau aku Maba yang payah karena hanya aku saja yang tidak berhasil menjalankan misi sementara 10 maba lainnya kembali dengan hasil memuaskan.
Kuabaikan semua celotehnya, terserah saja dia mau mengatakan apa sampai mulutnya berbusapun aku tidak akan mendengarkannya.
"Sesuai kesepakatan, sebagai gantinya lo harus keliling lapangan 10 putaran."
Aku melotot terlalu terkejut. 10 putaran? Hah?! Yang benar saja, apa Raka sudah gila! Lapangan ini luas dan lebar, keliling 5 putaran saja aku tidak bisa menjamin bisa menyelesaikannya. apalagi 10 putaran.
Aku ingin protes, paling tidak meminta keringanan seandainya orang ini bukan Raka. Melakukan itu kepadanya sama saja dengan menurunkan harga diriku. Sayangnya, itu bukan aku sekali.
"Oke."
Aku mengangguk, tidak membantah apalagi mengemis minta keringanan. Oke, 10 putaran ya? Kemungkinan besar yang akan aku alami paling pingsan.
Well, hanya pingsan. Kedengarannya tidak begitu buruk.
☆☆☆
Keningku mengerut dalam, mataku masih terasa berat untuk dibuka. Aroma obat-obatan yang menguar dapat kucium begitu pekat. Ini pasti Unit kesehatan. Sudah kuduga, aku memang akan berakhir ditempat ini pada akhirnya.
Masih dalam keadaan mata tertutup aku merasakan kesulitan mengais oksigen, ada sesuatu yang mengganjal dihidungku. Apa ini? Aku merabanya perlahan.
Kapas? Apa aku mimisan?
"Jangan dibuka dulu. Tunggu sampe kering, Hidung lo masih basah tadi."
Suara itu...
Kedua mataku langsung terbuka dalam sekejap. Tuhan!!!!! Alangkah terkejutnya aku menemukan sosok lelaki yang berdiri disamping bankarku ini. Apakah ini mimpi?
Tuhan kuharap iya.
"Heii.... are you oke?"
Tapi suara bass yang terdengar nyata menyentakku kedunia nyata.
"Lo mungkin masih merasa pusing, lebih baik istirahat beberapa jam lagi."
Ujarnya sebelum aku mendengar derap langkahnya yang samar.
Apa dia sudah pergi? Aku memberanikan diri untuk mengintip. Ternyata dia sedang merapihkan laci obat-obatan disebelah banker tempatku berbaring.
Aku tak bisa berada satu ruangan dengannya. Tak sanggup rasanya berbagi oksigen dengan lelaki iti. Kalau dia tak pergi, maka biar aku saja yang pergi.
Aku menjatuhkan kaki kelantai, tapi sepertinya pergerakanku ini terbaca olehnya.
"Lo mau kemana? Kondisi lo masih belum stabil Senja."
Gerakanku terhenti begitu saja. Ternyata ini bukan mimpi. Lelaki itu sungguhan ada disini. Ya... Tuhan bagaimana mungkin?
Lalu, Senja?
Dulu, hatiku akan berdebar jika mendengarnya memanggil namaku dengan nama itu, tapi sekarang kenapa terasa menyesakan.
"Nama gue Binar!" Aku merasa punya kewajiban untuk mengoreksinya.
Lelaki itu tersenyum."Binar Mentari Senja. Right?"
"Gue biasa dipanggil Binar kalau-kalau lo lupa." Aku mengingatkanya lagi.
"Bagi semua orang memang iya. Tapi lo tetap Senja bagi gue."
Aku mendesah sesak. tidak bisa lagi seperti ini. Kami sudah selesai sekalipun belum ada kalimat itu yang terucap dari mulut kami masing- masing.
"Lo gak berhak memberikan panggilan itu sekarang. Kita sudah selesai."
“Senja..”
“Cukup Fajar! Tolong buat semuanya sederhana dengan lo bersikap sepantasnya.”
Senyum diwajahnya hilang, berganti dengan raut terluka. “Senja lo berubah."
“Karena kita juga sudah berubah Fajar.” Sekarang aku mulai frustasi.
Kenapa Fajar tak paham juga, kenapa dia tak sadar dimana posisiny sekarang sekarang?
“Kita bukan lagi kita. Lo udah merubahnya menjadi dua bagian. Gue dan lo.”
“Senja maaf.” Lirihnya lembut. “Gue emang salah… tapi jangan benci gue”
Aku mendecih. “Mulai sekarang anggap kita gak saling kenal, kalau kita gak sengaja bertemu, lo gak usah nyapa gue.” Ujarku tegas lalu pergi dari ruangan ini dengan perasaan campur aduk.
Fajar tidak mengerjarku sama sekali. Kenapa tiba-tiba rasanya sulit sekali bernafas dan hatiku serasa panas seperti sedang berjalan diatas bara api.
Ceklek!
Tepat ketika pintu terbuka rinai diujung kelopak mataku turun tanda diminta.aku mengusapnya perlahan dan melihat butir air itu dijemariku.
Tidak! Ini tidak benar Binar! Aku tidak boleh selamanya memenjarai api itu. Aku harus mencari air agar api didalam hatiku segera padam.
Dengan langkah tertatih aku menyusuri koridor menuju toilet, sejujurnya aku masih merasa letih. Aku memang punya daya tahan tubuh yang cukup payah untuk melakukan aktifitas berat seperti tadi.