Nothing Impossible

Nothing Impossible
part 10



"Gue pulang!"


Aku terlonjak dari kursi sewaktu mendengar suara Bening yang menggelegar dari arah pintu depan.


Aku melirik dinding, Pukul 01.00 dini hari. Gadis itu selalu pulang dalam keadaan malam sudah larut. Bukan hal yang aneh karena pekerjaan Bening tidak mengenal siang atau malam.


Kepalaku terasa berat sejak sore tadi. Sejujurnya hal yang kudambakan adalah bergelung dibawah selimut dan terjun kedunia mimpi. Tapi bagaimana bisa tidur sedang banyak sekali yang merecoki pikiranku.


"Bibi lo belum tidur kan?"


Nafasku berhembus kencang kala suara Bening semakin lama semakin mengganggu indra pendengaranku.


Bibi? What the hell!!


"Heh! Bibi ya! dipanggilin gak nyaut-nyaut. Budek apa lo?!"


Sekarang gadis itu memukul kepalaku seenaknya begitu menemukanku dimeja makan. aku mengerang keberatan. Oh Tuhan, andai dia bukan kakaku, Ingin sekali rasanya aku melemparnya ke blackhole agar gadis ini lenyap tanpa membuatku harus menjadi pembunuh terlebih dahulu.


"Bibi---"


"Berhenti panggil gue dengan panggilan sampah lo itu, gue bukan pembantu!" Ujarku dengan nada tinggi.


Moodku sedang buruk jadi tolong ya, jangan mengajakku bercanda.


"Ckckck. Judesnya judesnya!" Bening mengerling, menggeser kursi disebelahku untuk ia duduki. Kemudian memandangiku dengan pandangan menilai.


"Bodo ya!" Aku mengangkat bahu acuh." Pokoknya awas aja lo panggil gue babu lagi!"


"Siapa sih yang bilang lo pembantu, honey. Lo kan adik manis gue."


Gadis itu tersenyum sok imut lantas menepuk-nepuk daguku. Aku segera menepisnya dengan kasar.


Aku diam enggan menyahutinya. Sadar tidak ada keuntungan yang akan aku dapat apabila beradu mulut dengannya. Gelar Kakak selalu dimenangkan olehnya. Dan aku harus puas dengan kekalahan karena menyandang status adik.


Miris sekali!


"Harusnya lo seneng gue manggil lo dengan nama kesayangan. Jaman sekarang mana ada kakak semanis gue."


Aku mendeliknya. "Gak harus Bibi, Bisa?!"


"Lho kenapa?"Bening mengernyit keberatan. Wajah sok polosnya malah kelihatan seperti orang bodoh." Bibi itu lucu, cute, unik. Cocok lah sama muka- muka jadul kayak lo ini."


Aku memijit pelipisku yang mulai berdenyut lagi. Sejak awal sudah kutekankan Seharusnya memang tidak perlu bicara banyak-banyak dengan Bening, gadis itu punya keahlian yang bagus membuat kadar darah tinggi seseorang meningkat dalam waktu singkat.


"Ini. gue hampir aja lupa." Bening meletakan dua box besar yang kuketahui isinya pizza.


"Gue bawain ini buat lo. Dan please, berenti makan mie rebus. Jangan kayak orang susah deh. Sekalipun lo memang susah sih." Dengan santainya dia menggeser mangkuk mie milikku yang belum kusentuh sama sekali.


Tau apa yang selanjutnya dia lakukan. Bening memakannya! Padahal belum lima menit dia menghinanya. Ya Tuhan, betapa tak tahu malunya mahluk ciptaanmu ini.


Shit! Aku sudah siap merampasnya tapi tangan Bening terlalu lincah untuk menahan. Dan finally, aku mengalah sambil komat kamit. Sesekali menyelipkan doa semoga saja Bening terkena munta ber esok harinya atau minimalnya sakit perut lah. Aku sungguh tidak rela setengah mati mie buatanku masuk keperutnya bahkan lebih ikhlas seandainya mie itu teronggok ditong sampah.


"Anjir! Gila! Gila! Kapan kali gue terakhir makan mie." Ujarnya sambil menyeruput kuah mie langsung dari mangkuknya.


Bagus sekali! Bahkan belum semenit dia mengataiku orang susah karena memakan mie, tapi lihat sekarang?


Bening memakannya dengan lahap nyaris seperti orang susah yang makan mie saja sudah sepatutnya bersujud-sujud.


"Lo kelihatan begitu memprihatikan Bening. Sedih gue liat lo, asli!" Aku mencibirnya terang-terangan memasang wajah penuh rasa iba.


"Berisik deh lo! Gue kan udah bosen makan makanan mahal terus. Boleh lah sekali kali tukeran makanan sama lo. Toh, gue gak tega liat lo makannya beginian terus. Gak sehat tahu."


"Ya, ya, ya. Anggap aja gue percaya."


Bening menggedik bahu, dia kembali fokus dengan mangkuknya lalu dia bertanya sesuatu yang moodku kembali merosot sampai jatuh keperut.


"Gimana ospek lo? Seru? Banyak cogan-cogan ya disana? Tajir-tajir tuh pasti"


"Biasa aja."


"Ah, gak mungkin amat. Kampus lo kan kampus ternama gue yakin isinya anak pengusaha semua atau paling enggak anak konglomerat."


"Gak juga. Buktinya gue rakyat jelata bisa ada disana."


"Ya itusih emang lo lagi mujur aja." Bening mendengus." Well, lo emang keren sih."


"Ngaku juga lo?" Aku tersenyum meyombongkan diri.


"Terus lo ada gebetan gak? Atau lo yang justru digebet? Pokoknya ya Binar, lo mesti banget dapetin salah satu anak konglomerat itu. Gue tahu lo memang gak cantik tapi ya gak buruk-buruk amat kok. Inget ya, lo harus punya pacar anak orkay. Harus dan wajib! Camkan itu!"


"Paan sih, gue yang ospek kok lo yang repot sendiri."


"Aih! Aih! Judesnya adek gue. Kayak yang lagi patah hati."


"Berisik!"


"Ih, beneran patah hati ini anak apa ya?"


Aku menjatuhken kepala kemeja dan menekan kupingku supaya suara Bening tidak menyelinap kedalamnya.


"Cerita-cerita dong sama gue. Lo patah hati kenapa? Ditolak cinta? Cinta bertepuk sebelah tangan? Cinta tak berbalas, atau cinta tak dapat memiliki? Yang mana kisah lo?"


"Ngaco benget sih lo, ih! Udah sana ah pergi! ganggu orang aja. Gue lagi badmood juga."


"Binar adek gue satu-satunya yang begonya kelewat."


Bening langsung mengatupkan bibir begitu aku melototinya. Dia menarik nafas panjang lalu berdehem.


"Emm oke ralat, maksudnya yang pinter tapi agak bego sih dikit. Intinya, lo kenapa sih? Bete banget. Shering lah sama gue. Gini-gini gue pakarnya cinta tahu."


Aku diam. Tidak percaya gadis seperti Bening yang bermulut lebar itu bisa membantu. Kalau merusak suasana dan menambah masalah sih, iya dia jagonya.


Kepalaku masih bertumpu dimeja, menatap kosong pada sebuah benda. tiba-tiba saja peristiwa yang menimpaku siang tadi berkelebat tepat ketika mataku merapat.


Kenyataan bahwa Raka adalah kakak tingkatku benar-benar tidak masuk akal, terlebih dimana aku bertemu sosok itu lagi. Kenapa sih aku harus bertemu lagi dengannya?


Aku menghela nafas, tanpa sadar menggumamkan sesuatu tak jelas.


"Binar." Tepukan dipundakku terasa mengejutkan, padahal aku yakin Bening melakukannya pelan.


"Lo kenapa sih? Kusut banget gitu mukanya. Ada masalah?"


Aku membuka mata. Wajah Bening kelihatan serius sekarang.


Salah tidak sih kalau aku menceritakan ini kepada Bening? Apa kakakku ini bisa mencarikan solusinya?


"Lo lebih percaya mana? Takdir atau kebetulan?"


Hening sejenak. Bening kelihatan sedang memperhatikanku dengan alisnya yang bertaut.


"Gak ada yang namanya kebetulan. Dari awal udah gue bilang semuanya itu takdir."


"Berarti pertemuan gue dengan dia juga takdir menurut lo?"


"Dia?" Bening mengernyit. Mungkin otaknya masih dalam mode loading sehingga akses untuk berfikirnya agak minim. "Dia siapa?"


"Seseorang yang gak gue harapkan ada dalam takdir gue."


Bening menampilkan ekspresi wajah kebingungan. Dia pasti sedang berusaha mengingat rumus-rumus itu. Tapi sedektik kemudian matanya membulat.


"Fa-jar?" Tebaknya ragu-ragu.


Sial! Kenapa tepat sasaran sekali?


Aku bungkam. Mengiyakan rasanya tak sanggup.


"SERIUS DIA YANG LO MAKSUD ITU FAJAR?! DEMI APA LO?!" Bening berteriak heboh. Seolah olah baru mendengar kabar kalau aku bertemu artis idolanya.


"Bening please! Bisa gak sih jangan kumat selain pada waktunya!"


"LO GAK HALUKAN?!" Bening lagi-lagi menghiaraukan gerutuanku." Jangan bilang lo masih belom move on dan masih berharap sama tu anak? Apa itu juga alesan lo jadi jones sampe sekarang?"


Aku mendengus keras-keras. Bening berbicara seolah aku ini gadis malang yang mengenaskan karena dicampakan kekasihnya lalu hidupku terkungkung didalam bayangan masa lalu. Aku tertawa lucu membayangkan jika aku seperti itu, pasti hidupku teramat sangat memprihatinkan.


Tapi sayangnya aku tidak begitu. Ya memang, dulu aku pernah berada dalam fase itu, tapi sekarang aku sudah bangkit dan sudah bisa melangkah. Aku hanya perlu menunggu waktu sampai semuanya kembali teratur lagi. Ya, aku yakin. Aku hanya perlu waktu.


"Apa menurut lo gue bakal haluin si brengsek itu?"


"Mmm gue agak sangsi juga sih?" Bening mengetuk dagunya. Matanya terjuling keatas, sok-soan berfikir.  Lalu kemudian dia terlonjak dengan heboh.


" Terus, terus? Reaksi dia gimana, waktu pertama kali liat lo? Gue mau tau? Syok gak dia?"


"Pertanyaan lo kebalik. Lo yang harus tau reaksi gue pertama kali liat dia."


"Gimana? Gimana?"


"Jantungan gue Bening! Jantungan!"


"Ah, lo mah emang dasarnya aja lebay. Kalo gue ya, ketemu mantan macem tu anak, gue gamprat dulu! Bogem dulu! Tonjok. Anything that, yang penting dia kesiksa."


"Tau deh yang otaknya kriminal!"


Dan Satu tempeleng mulus mengenai kepalaku. Aku mengaduh kesakitan karena Bening melakukannya tidak main-main.


"Siapa yang barusan lo katai criminal itu ha?! Adek durhaka!"


"Lo kakak durjana!"Aku melotot galak padanya tapi dia malah membalas memelototi aku jauh lebih galak.


Beberapa menit hening mendominasi ruang makan ini, aku dan Bening sama-sama sedang meluruskan pandangan kedepan. Entah kemana fokus objeknya, yang jelas kami sedang menikmati suasan hening ini.


"Kenapa?"


"Karena didunia ini gak ada yang namanya kebetulan, Binar. Kebetulan hanya dijadikan kedok bagi orang yang belum siap menerima takdir." Lanjutnya masih dengan pandangan lurus kedepan.


Aku tak tahu mengapa Bening berkata demikian. Tapi aku yakin dia pasti punya alasan tersendiri atau mungkin dia punya pengalaman pribadi. Kali ini aku mencoba mendengarkan, sebab Bening akan berubah menjadi sosok yang serius kalau sudah begini.


"Memangnya apa yang bisa lo maknai dari sebuah takdir?" Tanyaku penasaran.


"Takdir itu suatu kehendak yang mutlak akan terjadi. Sekalipun lo mati- matian menghindarinya."


"Jadi menurut lo pertemuan gue dengan dia sesuatu yang pasti terjadi?"


"Menurut lo apalagi? Bukan tanpa alasan kenapa kalian bisa bertemu setelan 2 tahun lalu berpisah tanpa alasan yang gak jelas."


"Lo punya sudut pandang yang lebih bagus supaya gue bisa percaya?"


"Gak ada. Tuhan yang paham soal itu. Tapi senggaknya menurut gue takdir menginginkan akhir untuk cerita kalian. Ya sejenis penyelesaian untuk sesuatu yang belum selesai." Bening menaikan bahunya tak yakin."mungkin."


"Apanya yang belum selesai?! Gue sama dia udah sama-sama punya cerita yang baru. Dan kita sama-sama fine."


"Menghindar jelas bukan bentuk penyelesaian Binar. Lo kelihatan banget belum bisa berdamai."


Aku tertawa kecil, Bening ini bicara apa sih? "Siapa bilang? Gue gak menghindar."


Sementara Bening yang menyadari gelagatku hanya menaikan alis tinggi- tinggi. Nampak tak yakin."Oh, ya?"


Aku mendecak, tahu betul Bening sedang melemparkan tanggapan tidak percaya. "Lo kadang tingkat sok tahunya kebangetan deh!"


"Sekarang gue tanya sama lo apa lo bailk-baik saja pas ketemu dia?"


"Gue fine. Ya..." sedetik setelahnya aku ragu-ragu. Apa mungkin perasaan sesak yang kurasakan tadi hanya sebuah bentuk rasa terkejut yang berlebih. Bukan perasaan aneh itu, kan? Iya, aku yakin itu.


"Gue rasa gue gak kenapa-napa."


"Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan. Untuk apa?"


Aku melirik Bening keberatan. Sadar betul kalau Bening sedang menyindirku lewat nyanyiannya.


Bening tidak pernah salah dalam menilai sesuatu. Setidaknya untuk hal ini. Kalau aku mengatakan baik-baik saja atas pertemuan tiba-tiba tadi jelas sebuah kebohongan besar.


Faktanya sekarang isi kepalaku dipenuhi oleh si keparat itu.


Ya, Fajar Gumilang! Lelaki terbrengsek yang pernah kukenal dan sialnya pernah menciptakan sebuah kenangan manis dan tersimpan rapi dikepalaku sebagai memori. Dia kakak tingkatku saat SMP lalu menjalin hubungan secara diam-diam 3 tahun lamanya. Lalu kami berpisah tanpa alasan ketika aku masih duduk dibangku SMA. tepatnya kelas 2. Kala itu, Fajar baru saja menyelesaikan masa putih abunya dan berniat meneruskan pendidikan ke Jakarta.


6 bulan setelah kepindahannya Fajar tak mengirimiku pesan lagi. Komunikasi kami seolah hilang tertelan bumi. Lalu 2 bulan berikutnya Fajar mengirimiku pesan yang berisi permintaan maaf beratus- ratus kali juga salam perpisahan kalau ini adalah kali terakhirnya ia bisa mengirimiku pesan sebelum ia dijodohkan dengan anak dari teman orangtuanya.


Fajar tak bercanda, karena kemudian dia menghapus semua akses komunikasi yang biasa kami pakai untuk bertukar pesan. Sampai disitu aku menganggap kisah kami sudah selesai sekalipun tak ada kata yang terucap dari mulut kami masing- masing. Aku memutuskan untuk pergi, melupakan semua tentangnya. Hal-hal yang kusuka darinya.. apapun itu aku berusaha merubah menjadi kebencian. dan semuanya berjalan lancar sampai dengan pertemuan tak terduga tadi..


Aku kembali bernostalgia, dan tersadar ketika tangan Bening lagi- lagi menyentuh pundaku. Aku ingin marah karena ulah Bening barusan jantungku berdetak tak karuan, tapi Bening berbicara panjang lebar dan aku tidak diberi ijin untuk menyela.


"Lupakan dia Binar. Dia udah beda status. Ambil kesimpulan atas semua yang terjadi, Tuhan tau kalau dia bukan lelaki yang baik buat lo. Lo cuma harus buka mata selebar-lebarnya, dan lihat dunia ini luas. masih banyak lelaki yang pantas bersanding sama lo."


Seharusnya ucapan Bening benar. Aku tahu seberapa lebar dan luasnya permukaan bumi ciptaan Tuhan ini. Pelajaran semacam geografis sudah kupelajari sejak SD. Dan berdasarkan Ilmuan juga aku percaya kalau belahan bumi ini terdiri dari bermilyar-milyar kilometer luasnya. Tapi, sebuah fakta yang terealisasikan tadi membuatku ragu atas penemuan ilmuan itu, kalau benar bumi ini luas mengapa kami harus bertemu lagi?


Mengapa pula kami harus tinggal dikota yang sama? apa sudut benua sana sudah penuh sehingga tidak nsanggup menampung manusia satu itu?


Mengapa tuhan, mengapa?! Rasanya aku ingin bertanya kepada setiap manusia dan menemukan jawaban yang sekiranya masuk diakalku.


"Gue udah coba Bening. Tapi praktek gak semudah teori."


"Asal niat dan usahanya seimbang. Gue yakin pasti bisa."


"Lo gak tau sih seberapa keras usaha gue. Sebelum ini gue merasa baik baik saja. Susah payah gue berusaha melupakan dia dan tinggal beberapa tahap lagi gue bisa melepas tanpa perlu merasa kesakitan. Tapi sekarang...." aku tak sanggup berkata-kata lagi.


"Tapi sekarang lo merasa ragu kan?"


Aku mendesah lelah. "Gue gak ngerti Bening. Gue merasa usaha gue selama ini sia-sia."


"Jelas sia-sialah. Sebab usaha lo 100% tapi niat lo cuma 10%."


"Siapa bilang, niat gue 100% juga kok." Protesku.


Bening mengerlingkan matanya."Iris kuping gue kalo lo seniat itu."


"Sok tau lo!"


"Jelas gue tahu." Bening berujar begitu yakin. Kelewat yakin malah.


"Kalo lo seniat itu lupain Fajar seharunya lo iklas lepasin dia sama perempuan lain. Dan lo juga seharusnya iklas melepas semua barang-barang yang dia kasih sekalipun didalamnya banyak kenangan manis."


"Udah gue lakuin kali. Gak perlu lah lo ceramah begituan. Semua orang juga tahu kalo step pertama melupakan itu buang barang-barangnya juah-jauh."


"Kalau lo tahu kenapa lo masih pakek cincin itu?"


Aku terdiam. Mengangkat jari tengahku dengan rekleknya. Iya, cincin ini ternyata masih melingkar disana selama bertahun - tahun dan aku tidak menyadarinya. Aku membukanya buru-buru dan mengangkatnya tepat didepan wajah, memperhatikannya lekat-lekat.


"Buang jauh-jauh tuh benda. Itu tuh yang bikin lo gagal move on."


Cincin ini, aku dapat dari lelaki itu. Jangan pernah berfikir kalau ini cincin tunangan, cincin pernyataan cinta, atau apapun itu yang nilainya berharga.


Ini pun bukan terbuat dari emas, perak, tembaga. Ketahuilah ini hanya cincin mainan yang terbuat dari besi murahan. Kalian hanya akan menemukannya disebuah jajanan anak seharga 500. Ya, aku mendapatkannya dari jajanan anak yang sialnya jajanan itu aku dapat dari lelaki itu.


Aku tersenyum kecut bila mengingat fase itu, dimana ketika itu kami masih duduk dibangku SMP. Fajar mentraktirku jajan diwarung kaki 5 agar aku berhenti menangis sehabis dikerjai olehnya.


Tau hal gila apa yang dia lakukan sampai aku menangis? Dia menaruh ulat bulu diatas kepalaku. Tentu saja aku ketakutan, tapi ujungnya justru dia yang takut ketahuan ibunya sudah mengusili anak orang. Katanya ia akan dipindahkan ke luar kota apabila berbuat nakal.


Aku tersenyum kecut bila mengingat fase itu, perlukah aku mencatatnya sebagai kenangan terindah.


"Mungkin kadarnya sekitar 75%lah."


Bening menggeleng sangsi."No!no! Just 10%."


Aku tertawa. Mungkin secara tidak langsung mengakui kelihaian Bening dalam menebak sesuatu.


"Gue gak mau bilang lo bener. Tapi gue bukan pengecut yang gak mau mengakui kebenaran."


"Apa gue bilang!" Gumamnya. Memasang smirk wajah bangga." Gue tuh pakarnya soal beginian. Kisah asmara lo yang kampungan gini mah udah basi banget ditelinga gue."


"Terus aja nistain gue. Bunuh gue sekalian kalo perlu."


Bening tertawa meliriku." Jangan lah. Ntar lo mati gak ada dong yang jadi


tumbal bahan bullyan gue. Lo Bibi gue satu-satunya." Gadis itu merangkul bahuku dengan santainya, lalu menggerakannya kekanan dan kekiri seolah-olah kami memang sedekat itu sebelumnya.


Aku berkelit ingin membebaskan diri tapi Bening menahannya. Dia malah mendekatkan kepalanya dengan kepalaku, aku sempat keherenan mendapati perubahan sikapnya yang tiba-tiba.


"Lo tetep kesayangan gue biar kata lo kucel, dekil, bogel, item, bau lo tetep ade gue satu-satunya." Ujarnya penuh penghinaan.


"Terus aja yang diungkit fisik gue bagian itu."


"Loh, kan memang iya begitu sih?"


Aku mendengus. Kupikir kewarasan Bening sudah kembali ketempatnya, aku akan tenang kalau anak ini bicaranya ngawur. Aku tahu, Bening memang sulit mengakui kelebihanku.


Sekalipun aku tidak cantik sepertinya tapi aku cukup manis. sekalipun kulitku tak seputih miliknya akan tetapi cukup menjadi pujian para ibu-ibu. Aku tak pernah pesimis soal pemberian Tuhan.


"Binar."


"Hmm."


"Lupain dia. Please dengerin gue."


Kepalaku otomatis terangkat untuk bisa melihat wajah Bening.


"Kenapa? Lo khawatir sama gue?"


"Jelas. Gue takut Bi." Katanya lirih.


"Melihat lo sekarang. Gue seperti melihat Mama pas cerita tentang pertemuannya dengan Om Adit. Cukup Mama Binar, jangan lo."


"Mama gak kayak gitu Bening. Lo percaya omongan mereka."


"Gue tahu. Tapi mulut manusia itu yang paling menjijikan. Semuanya bisa berubah ketika yang berbicara manusia. Gue takut....Jangan sampai Fajar berpisah dan lo dalangnya."


"Apa yang lo pikirin sebenernya?"


"Just you."


"Lo nuduh gue jadi pelakor? Lo yakin gue punya bakat begituan?" Aku menatapnya tak percaya. Tega sekali Bening berfikir sampai kesana.


"Melihat lo yang dulu sampe sekarang. Banyak yang gue takutkan mengenai lo Binar."


"I am oke Bening. Gue udah gede dan faham mana yang baik dan buruk buat diri gue sendiri."


"Gue cuma gak mau masa depan lo hancur cuma karena satu lelaki. Didunia ini gue cuma punya lo. Sekalipun nyatanya kita memang masih punya Mama dan mungkin juga Ayah."


Aku membisu ditempat. Dengan pandangan lurus menembus manik matanya. Ya, aku bisa melihat Bening bersungguh-sungguh ketika mengucapkan itu. Aku terharu mendengarnya, Bening termasuk orang yang agak sungkan mengungkapkan rasa pedulinya terhadapku. Itupula yang membuat hubungan kami terbilang aneh. Kadang akur tapi lebih banyaknya bertengkar bermodal hal-hal kecil.


Kalau mau tahu, seumur-umur ini kali ke 3 Bening mengungkapkan isi hatinya mengenai hubungan kami yang berstatus kakak adik. Pertama ketika Mama memutuskan menikah dengan Papa Aftar, kedua ketika Mama meminta restu ingin menikah dengan 0m Adit dan ini yang kali ke3. Tapi yang ini aku bisa melihat ketulusan yang sebenar-benarnya dari sorot mata sebening telaga miliknya.


"Menurut lo gue bakal bisa lupain dia?"


"Bisa. Gak ada yang gak bisa, bisa itu dimulai dari terbiasa."


"Terus gue mesti apa?"


"Buka hati lo untuk orang lain."