Nothing Impossible

Nothing Impossible
part 5



"Bibi?"


Panggilan Bening yang melengking dari luar pintu membuatku segera menutup telinga dibalik selimut. Aku bisa menebak kalau sebentar lagi panggilan itu akan berubah menjadi teriakan begitu pintu kamarku dibuka olehnya.


"BIBI!! YA AMPUN INI ANAK YA! KEBO BANGET JAM SEGINI TIDURAN!"


Kan? Apa kubilang.


Mengabaikan, aku berusaha tak bergerak sama sekali agar tidak membuat Bening curiga kalau sebenarnya aku hanya pura-pura tidur.


"Heh! Binar!"


Sialnya Bening menoel-noel pundaku yang tidak tertutupi selimut. Otomatis aku menggeliat geli, Bening hafal betul kelemahanku. Kalau aku paling tidak kuat disentuh-sentuh. Jurus ini selalu ampuh ia gunakan apabila aku sulit bangun.


"Gak usah pura-pura tidur lo Binar. Gue tahu barusan lo abis nonton kan?"


Dan detik itu juga sandiwaraku terbongkar karena Bening menarik selimutku dengan kasar sampai aku berjingkat kaget.


Respon Bening selanjutnya membuatku jengkel bukan kepalang. Gadis itu tertawa terpingkal-terpingkal, senang sudah membuatku jantungan sekaligus juga puas sudah membongkar sandiwaraku.


"Apa gue bilang! Buaya mau dikadalin. Gak bisa lah yaw!" Katanya seraya menggoyangkan terlunjuk lentiknya dengan bangga.


Cih! Jadi buaya kok bangga ya? Aku kadang heran dengan pola pikirnya yang penuh kelicikan ini.


"Sialan memang!" Umpatku dalam hati.


Kuhela nafas panjang, Well, bakat acting Mama sama sekali tidak diwariskan kepadaku ternyata. Ini percobaan kesekian yang kulakukan untuk mengasah bakat dan kesekian kali itu pula percobaanku gagal. Ah, sudahlah! Memang dasarnya aku tidak ditakdirkan untuk menjadi pendusta. Mau bagaimana lagi.


Aku bersandar disandaran ranjang, menatap Bening dengan penuh kemurkaan karena gadis itu masih menertawakanku dan mengataiku terus-terusan kalau aku payah sekali menjadi manusia.


"Ketawa terus gue kutuk mulut lo gak bisa ketutup lagi! Tau rasa lo!"


Bening cepat-cepat menutup mulutnya, memasang wajah ketakutan bak anak kecil yang habis dicaci maki ibunya karena sudah berbuat nakal. Hih! Dia ini ya, padahal dia yang sudah menganiayayaku.


"Hih lo mah mainnya kutuk-mengutuk, gak seru ah!" Gerutunya karena ternyata caraku ampuh. Aku tertawa, puas sekali. Sekali-kali bolehlah senang dengan karya sendiri.


Memang hanya itu cara satu-satunya yang ampuh mengatasi ketengilan Bening. Gadis itu punya sugesti yang kuat, ia percaya akan yang namanya doa kemurkaan orang terdholimi akan dikabulkan Tuhan. Atau dalam istilah yang lebih mudahnya karma. Dia tahu kalau dia baru saja mendholimi maka dari itu dia takut.


"Sebodo ya, suka-suka gue lah."


Bening mendumel, berdiri dari duduknya dan menyimpan sesuatu diatas nakas.


"Pakek tuh, Gak usah lama- lama! Gue tunggu 15 menit lo harus siap."


Aku meliriknya sekilas. Itu goodybag yang dibawa Mama tadi pagi. Sudah kuduga kedatangan Mama tadi pagi pasti bukan tanpa sebab. Itu terbukti.


Tadi sebelum Mama pulang, ia menyerahkan 2 goodynag ini kepada Bening. Berbicara bisik-bisik supaya aku tak dengar karena Mama tau kalau aku mendengarnya langsung dari mulut Mama aku akan menolak mentah-mentah. Tapi memang dasarnya Bening itu bermulut lebar akhirnya dia kelepasan. Mengatakan kalau Mama menyuruh kami datang ke acara ulang tahun Bayu yang dilangsungkan malam ini.


Dan aku yakin goody bag dimeja itu adalah goody bag yang tadi dibawa Mama. aku ingat betul warna dan motifnya sama persis. Aku hanya meliriknya sekilas tanpa berniat membukanya sedikitpun. Tidak dibuka saja sudah tahu isinya apa, gaun kurang bahan yang wujudnya sama persis dengan yang dikenakan Bening saat ini. dan sungguh, aku tidak tertarik sedikitpun untuk memakainya apalagi bepergian dengan baju seperti itu lagi. Cukup di acara pertunangan Mama saja. tidak untuk kedua kalinya diacara manapun lagi.


"Gue gak mau dateng Bening." Ujarku putus asa.


Aku kembali menarik selimut sampai menutupi kepalaku tapi dengan mudahnya Bening menarik selimutku dan membuangnya kelantai. Aku menggeram menahan murka. Bahaya kalau sampai nanti aku melempar vas bunga kekepalanya.


Oh ya ampun! aku ingin berandai dalam situasi ini, andai dia bukan Kakakku akan kupastikan perang ketiga pasti terjadi hanya karena selimut kesayanganku terenggok dilantai.


"Harus dengan cara apa sih gue bilang biar lo faham, kalo gue tuh gak bisa!"


Aku menggaruk kepala frustasi, ini seriusan aku tak berbohong. Aku putus asa berbicara dengan Bening tidak cukup sekali, berkali-kalipun dia masih tak paham parahnya lagi ia juga tidak mengerti teori manusia. Kalau bilang tidak ya berarti tidak.


"Gue gak mau dateng pokoknya!" Tukasku dengan tegas.


"Harusnya lo bilang kayak gitu didepan Mama tadi."


"Ya lo bantu bilang Mama dong! Yang ratu drama gimana sih! " aku menyindirnya.


Bening mendecak, melipat tangannya didepan dada. Duduk disampingku dan mencolek daguku dengan gemas.


"Say hello adek gue yang nyebelin ini. Lo kan tau gue paling gak bisa ngebantah Mama. Kelebihan gue gak manjur didepan Mama."


Aku mendesis menepis tangannya, kesal bukan main dengan tingkah Bening yang satu ini, hobinya menyulut emosi orang saja.


"Udah cepetan sana siap-siap. Ulang tahun Bayu 2 jam lagi. Jakarta Bogor lumayan macet dijam segini. Kita bisa terlambat kalau lo molor waktu."


Terserah. Ujar batinku masa bodoh.


Aku tak bergeming sama sekali, biar saja Bening berkata inilah, itulah sampai berbusa sekalipun aku tak akan mendengarkannya. Toh kalau dia capek juga diam sendiri.


Bening bercedak ketika aku tak juga beranjak dari ranjang dan malah bermain game cacing kesukaanku, lalu dengan entengnya dia merebut ponselku dan menyembunyikannya didalam tas.


Aku mendesis tak suka." Lo rese ya, sumpah!" Pekikku menahan geram.


"Lo nyebelin! Gak nyadar apa?!" Bening membentakku. Nadanya sudah tak bersahabat lagi, rupanya bukan hanya aku yang tersulit emosi. Tapi dia juga.


Kita ini mempermasalahkan apa sih sebenernya?


"Cuma dateng keacara ultah doang Binar please deh! lo hanya cipika-cipiki bentar, kasih kado ke Bayu, udah gitu pamit pulang. Prosesnya cepet kok, asal lo gak bikin ribet sendiri."


"Bener ya, abis itu gue bisa langsung pulang?" Aku agak sangsi kalau prosesnya memang secepat itu. Tidak mungkin Mama akan membiarkanku  pergi ditengah-tengah pesta. Rasanya kemustahilan yang tak mungkin terjadi.


"Iya gue jamin. percaya sama gue deh." Bening mengangguk mantap sekali."Kalo enggak, gue kasih voucher makan gratis sepuasnya selama seminggu khusus buat adek gue yang missquen ini."


"Oke, gue turutin." Tanpa berfikir panjang aku beringsut dari ranjang dan meleset kekamar mandi dengan goodybag yang tadi Bening simpan diatas meja. Mengabaikan cibiran Bening yang mengatakan kalau aku mata duitan.


Ya, memang. Bagaimana lagi mana bisa menak kalau kaitannya sudah sama perut.


Selepas dari kamar mandi, aku mulai mematut diriku didepan cermin, memakai bedak bayi dan liptint sekedarnya, juga merapihkan rambut panjangku sekilas lalu mencepolnya dengan rapi. Sederhana tapi elegan. Khas aku sekali.


Begitu selesai aku turun kebawah dan langsung disambut pelototan ganas dari kakakku.


"Lo mau bikin malu gue ya?!" Hardiknya seolah olah aku baru saja melakukan sebuah dosa tak termaafkan.


Aku mengerlingkan mata. Tahu betul kalau maksud ucapan Bening tak lain dan tak bukan menyinggung soal dandananku.


"Apa sih? Teriak-teriak gitu. Biasa aja kali, malu sama tetangga."


"Balik keatas cepetan!" Titahnya dengan murka seraya menunjuk kamarku dengan telunjuknya yang teracung, tapi aku tak menurutinya. Malah duduk disofa seraya memasang hells yang senada dengan gaunku.


Bening mengerang, dalam hitungan detik dia menggeretku dengan paksa kembali kekamar. Karena gerakan reflek itu aku jadi tak bisa mengelak dan terseret menurutinya. Oh tuhan,  bolehkah aku mengeluh?


Kalau dipikir lagi Bening ini memang tak tau diuntung ya, masih bagus aku mau menurutinya. Toh lagi, apa yang salah sih dengan dandanan sederhana, asal tidak kelihatan kampungan bukankah seharusnya fine-fine saja?


"Lo tuh ya kalo dibilangin batu banget! Gak bisa gitu nyenengin gue, Gue bilang tadi apa? Dandan Binar! Dandan!"


"Kan ini udah, lo gak liat bibir gue udah jeding begini! Lagian kan cuma pesta ulang tahun Bayu. Bukan acara kepresidenan, Gak usah lah berlebihan gitu!" Akupun jadi mulai kesal seenaknya saja dia ngomel-ngomel.


Bening berkacak pinggang, menunjuk wajahku seolah banyak sampah berserakan disana. "Begini lo bilang dandan?! Lo ngajak gue bercanda ?"


Tanpa segan Bening menggeledah laci make upku yang kosong, gadis itu lagi-lagi mengerang karena tak menemukan apapun yang dapat membantunya.


Akhirnya ia melenggang kekamarnya dan kembali lagi dengan membawa tas make up miliknya yang isinya seambrek. Aku terkejut ketika Bening membukanya. Oh tuhan, mau diapakan aku?


Aku menggeleng mengingat bagaimana tampilan wajahku dimalam pertunangan Mama. Iya sih kala itu aku kelihatan pangling, cantik kalau kata tanteku tapi Bening tidak segan-segan menaburkan segala jenis make up yang membuat wajahku timbul jerawat dikeesokan harinya. aku tak mau mengulaginya lagi.


Aku menutup wajahku dengan tangan rapat-rapat."Gak Bening! Gak mau gue jerawatan lagi. Muka gue udah jelek please lo jangan nambah penampakan dimuka gue lagi."


"Kali ini gue pakek produk lokal semua. Gue jamin kok ini cocok sama kulit lo yang jadul ini."


Aku tetap bersikeras, Sementara Bening masih belum menyerah, Kami memang sama-sama punya watak yang keras, enggan mengalah sesepele apapun persoalannya. kemudian tiba- tiba Bening terdiam cukup lama karena usahanya tak membuahkan hasil, tapi didetik berikutnya aku yang kalah telak ketika Bening mengancamku dengan memotong jatah bulanan.


Aku menghela nafas, jurus itu lagi. Selalu itu dan hanya itu yang akan mempan tanpa perlu menunggu detik berganti menit. Pada akhirnya yang bisa kulakukan hanya duduk manis merelakan wajahku diobrak abrik sibiang kerok ini.


“I am done!"


30 menit kemudian Bening berseru karena riasannya selesai dan hasilnya........


"Coba-coba lo liat sana!" Dengan riangnya gadis itu membalikan tubuhku hingga berhadapan dengan cermin.


Aku mendongak, langsung kicep melihat pantulan diriku yang kelihatan babyface dengan Make up natural ala-ala artis korea, dan riasan rambut yang membuat wajahku kelihatan jelas sisi imutnya. Diam-diam aku tersenyum sambil berpose sok cantik. Hmmm Oke, kali ini aku berani mengaku riasan Bening tidak buruk- buruk amat.


"Gimana gue udah cocok belom jadi makeover?"


Kubalas berupa gumaman saja. Tidak mungkin kan aku mengatakan iya, bisa- bisa besar kepala dia.


"Ah, lo mah emang susah mengakui bakat gue." Decaknya.


"Its oke. Gue akui kali ini....." aku sengaja menggantung kalimatku, menatap pantulan diriku sekali lagi."No bad."


"Pastilah. Bakat gue emang gak perlu diragukan lagi." Ujarnya berbangga diri. " kurang apa gue jadi kakak lo."


Aku mengerlingkan mata, tidak sudi mengiyakan.


"Yaudah yuk jalan, keburu malem nanti."


Bening beranjak pergi, aku mengekorinya dibelakang. Kami memasuki sebuah mobil sport yang disediakan Mama plus sopir pribadi untuk mengantar kami ke tempat dimana acara itu berlangsung.


Kami sampai dihotel setengah jam kemudian. Riuh suara musik berpadu orang-orang yang berlalu lalang langsung menyapaku begitu memasuki party room. Kebanyakan dari mereka usianya tidak jauh dari Bening. Kelihatan dari cara berpakaian mereka yang cukup terbuka dan menurutku sangat ampuh untuk mengundang hasrat para pria. Namun penampilan mereka berkelas, jauh sekali dengan gaunku dan Bening yang meskipun didapatkan dari mall ternama tetap saja kelihatan dibawah mereka.


Tapi ya sudahlah, kenyataanya kami memang bukan orang berada kan?


Kutarik tangan Bening agar mendekat kemudian berbisik.


"Ning, balik aja yuk. Feeling gue gak enak. Gak yakin juga Si Bayu- Bayu itu welcome sama kita."


Bening menatapku jengah, pasalnya aku sudah mengatakan itu hampir 5 kali semenjak memasuki mobil tadi. Entahlah, aku benar-benar merasa feelingku tidak enak.


"Binar, please deh! Ini lo udah sampe dan tinggal kasih kadonya. Dan abis itu terserah. Lo mau balik, silahkan. Mau enjoy the party lebih bagus lagi."


Kutatap Bening tak habis fkir. Enjoy the party katanya? Apa Bening sudah gila?! Apa yang perlu dinikamtin? Tatapan menilai semua orang disini?


Kehabisan akal untuk berkata, aku menyerah membuntuti Bening berjalan menuju ruang lebih dalam. Kulihat Mama dan Om Adit berdiri diantara dua sisi seorang lelaki berjas abu. Lelaki itu Bima, adik Bayu.


Sedang yang berulang tahun berada diarea dansa, aku tadi sempat meliriknya sekilas kalau ini ulang tahun Bayu yang ke 23. Sudah tua padahal, tapi masih dirayakan. Dasar ya orang kaya.


"Haii.... sayang kalian dateng juga rupanya. Om pikir kalian gak bakal datang." Sapa Om Adit sumringah begitu melihat kami mendatangi mereka.


Bening yang berjalan lebih dulu menyalami Om Adit dengan seulas. senyuman." Calon Kakak yang ultah masa gak dateng." Ujarnya sok akrab sekali padahal kami baru bertemu om Adit beberapa kali.


"Gitu dong, Om seneng dengernya. Kalian nanti ngobrol-ngobrol ya, biar cepet akrab."


Aku dan Bening saling tatap sebentar kemudian Bening mengangguk ragu-ragu sedangkan aku tersenyum sangsi. Feelingku mengatakan kalau Bayu bukan orang yang jinak soal perasaan. Maksudku, dia tipekal orang yang sulit menerima orang baru tanpa diiringi niat. Hmmm.. bagaimana ya aku mendeskripsikannya? Mudah di pahami tapi sulit dijabarkan. Ya, intinya terlalu kecil kemungkinan untuk kami bisa akrab.


Untuk kalian yang pernah berada diposisiku atau mungkin akan mengalami fase seperti ini faham ya apa yang kumaksud.


Kemudian perbicangan kami berlanjut pada obrolan rumpi, bicara tidak penting yang menurutku mengulur waktu. Om Adit sempat menanyakan perihal kedatangan kami yang mengapa tidak membawa pasangan masing-masing. Bening mengatakan kalau kekasihnya sedang ada urusan lalu mengkambing hitamkan aku karena aku tidak punya pacar.


Katanya akan sangat mengenaskan apabila aku datang sendirian. Sebagai kakak yang baik dia harus menutupi kekukarangan saudaranya. Aku sih diam saja karena sedang malas bicara panjang lebar. Padahal kalau aku jahat aku bisa mengatakan kalau Bening baru putus dari kekasihnya sehari sebelum Mama bertunangan dengan Om Adit. Dan sekarang dia sedang mengejar-ngejar mantannya itu. Lihatkan, siapa yang baik disini?


Aku menyapa Bima yang sedari tadi diam saja, dia membalas seadanya. Lelaki muda yang masih duduk dibangku SMP itu mungkin kikuk dengan pembahasan kami yang sudah berumur.


Oh iya, aku tadi sempat mendengar pujian dari Om Adit mengenai penampilan kami yang begitu manis menurutnya. Aku melihat Mama berbinar bangga mendengar pujian itu Mama juga sempat dipuji karena hebat mengurus anak-anaknya. berbeda dengan mantan istrinya yang pandainya hanya mengurus body dan harta saja.


Cih! Perbandingan lagi?


Aku heran, Kenapa sih laki-laki kalau sudah berpisah hobinya menjelek-jelekan? Membandingkan dengan calonnya yang baru. Padahal dulu ia penah berbagi jiwa dan raga dengan mantannya. Apa ia juga lupa anak yang sedang berulang tahun sekarang ini hasil dari mantan istrinya. Ckck! Manusia memang semonoton itu pola fikirnya.


Bening pamit pergi, aku segera menyusulnya dengan sigap. Langkah kami berlanjut mendatangi Bayu, lelaki itu tengah dikerubungi para kaum hawa, Dari cara mereka menyapa bisa dipastikan mereka itu teman-temannya Bayu. Aku dan Bening mau tak mau Menunggu beberapa menit sampai kerumunan para wanita itu bubar.


Saat jarak kami sudah hampir mengikis, tiba-tiba Bening berjinjit-jinjit seperti cacing kepanasan. Aku mulai was-was memikirkan tanggapan orang-orang yang melihatnya. apa kali ya tatapan orang-orang mengenai gadis yang satu ini?


"Gawat Bi! Gawat!" Serunya berbisik.


"Apa sih? Gak usah sok panik gitulah." Kataku berlaga santai, padahal aku juga mulai panik tapi tak tahu juga apa sebabnya.


"Gue perlu toilet. kebelet anjir! Ini udah diujung banget!"


Responku reflek memelototinya. Mengamcam gadis itu bahwa aku tidak mengijinkannya dan haram baginya untuk pergi.


"Gak boleh! Lo gak boleh kemana-mana sebelum kasih kadonya."


"Gak bisa Bi, ini udah mepet banget. Gue gak tahan!" Dia mendusel-dusel lenganku otomatis aku beringsut menjauh. hih ya tuhan, geli sekali!


"Bening kok lo tega sih." Kataku lirih. Kutatap Bening berkaca-kaca. Kalau dengan cara kasar tidak bisa, aku mencoba dengan cara halus. Semoga saja Bening luluh.


"Sorry banget Bi, ini soal image. Kalo gue ngompol, bukan cuma gue yang malu. Lo juga! Tuh lihat, antriannya panjang gitu."


Aku menengok kebelakang. Bening tidak bohong soal itu, tapi Tidak! Bening harus menemaniku disini persetan jika dia harus ngompol sekalipun. Silahkan katakan kalau aku jahat. tapi Bening tentu lebih jahat jika membiarkanku menghadapi Bayu seorang diri.


Aku menimbang sekali lagi, apa tidak masalah kalau aku kabur saja? Belum juga semenit aku mendapat ide berilian itu sebuah notifikasi pesan masuk dari Bening membuatku menghela nafas pasrah.


1 new messege


From:  Sayur Bening


Jangan coba-coba lo kabur darisana! Si Bayu udah liat kita tadi jangan sampai dia berfikir kita gak punya nyali buat berhadapan sama dia.


Aku memutar badan dan keluar dari barisan, membiarkan tamu yang lain bergerak lebih dulu dengan berpura-pura angkat telpon.


Aku memgirim balasan kepada Bening.


To: Sayur Bening


Tapi gue emang gak punya nyali kali. Lo yang faham soal beginian. Ayolah Bening....


From : Sayur Bening


lo bisa. Gue percaya kalo lo bisa ngadepin si Bayu.


To :  Sayur Bening


Lo jahat, sumpah!


From: Sayur Bening


Sorry sunshine, panggilan alam emang gak bisa ditolak.  Good luck ya. Love u so much😘😘


Aku memasukan ponsel kedalam slim bag karena ternyata sudah giliranku. Antrian sepanjang kali ciliwung itu cepat sekali bubar ternyata. Aku melangkah kecil- kecil sok anggun padahal aslinya sedang mengulur waktu, mencari ide bagaimana memulai say hello yang bagus agar kelihatannya tidak sok akrab tapi juga tidak kelihatan kaku.


Tapi hingga kami berhadap-hadapan sekarang otaku masih juga tumpul. Duh Tuhan, kemana sih perginya otak emas yang kau karuniakan itu?


"Ha-haii." Sapaku terbata. Yang dibalas oleh lelaki itu berupa ekspresi dingin dengan sebelah alis terangkat.


Aku kelihatan kaku sekali ya? Oke, aku tahu ini memang kelihatan kaku. Tapi, yasudahlah daripada kelihatan sok akrab lalu dibalas dengan keculasan. Ini jelas lebih baik.


Karena tidak tau harus berbasa-basi apalagi Aku langsung memberikan goody bag ditanganku kepadanya.


"Ini." Aku bergumam mencari kalimat agar kedengarnnya sederhana tapi bermakna.


" Emm.. selamat bertambah usia ya. Make a wish- nya semoga kita bisa berteman." Aku mengakhirinya dengan senyuman. Kata orang sih kalau aku senyum, kelihatan sekali manis. Ya, semoga saja bisa meluluhkan manusia datar ini.


Bayu menerimanya meski tanpa dengan ucapan terimakasih. Lelaki itu melihat isinya, lalu menyeringai ketika mengetahui apa isinya.


"Gue gak butuh barang murahan dari lo!" Katanya sembari melempar goodybag-nya tepat didepan kakiku. Aku menunduk, menatapnya dengan naas.


Barang murahan katanya? jam itu memang bukan aku yang membelinya. Tapi aku juga tidak buta soal fassion sampai tidak tahu berapa harganya.


Oh Tuhan, betapa aku sangat membenci orang-orang semacam ini. Tidak tahu cara bersyukur, tahunya malah mencela. aku menyesal sudah datang kemari yang mana artinya sudah merendahkan harga diriku sendiri. Sejak awal seharusnya aku memang tak perlu mendengarkan Bening. Seharusnya juga tidak perlu goyah hanya karena ancaman Bening soal drama yang Mama buat tadi pagi.


"Eh tapi, gue gak yakin sih orang sejenis lo bisa beli barang bermerek kayak gini."


"Pasti uang yang lo pake ini uang bokap gue kan?" Ujar Bayu lagi.


Aku diam, karena merasa Bayu tidak salah. Memang bukan aku yang membeli jam tangan ini. Mama yang memberikannya kepadaku agar aku tak perlu bingung memilih kado apa yang cocok untuk lelaki ini, mengingat seleranya yang setinggi langit sementara dompetku tidak bisa mengimbanginya. Dan bisa saja uang yang Mama pakai ini hasil pemberian Om Adit.


"Diam berarti iya. Udah gue duga." Bayu menyeringai." Gue faham sih, kalau orang sekelas lo dan keluarga lo cuma bisa pakai cara ini buat nikmatin harta bokap gue."


"Cih! Terlalu murah banget!"


Aku menggeram, sudah cukup rasanya aku diam mendengar caci makinya sampai sejauh ini. tapi tidak lagi setelah dia membahas soal harga diri yang bagiku harga mati.


"Bisa lo tarik omongan lo yang tadi?!"


Aku menatapnya tajam.


Lagi, dan lagi Bayu menyeringai sinis kepadaku. "Kenapa? Gak terima ya?"


"Lo bisa mengulang kalimat itu didepan bokap lo dan nyokap gue. Silahkan!" Aku menantangnya.


"Biar apa? Biar bokap gue tau kalo sebenernya gue cuma pura-pura nerima nyokap lo dan setelahnya posisi gue lo yang gantiin? Begitu?"


"Bukan. Biar bokap lo tahu kalau nyokap gue dan anak-anaknya sama- sama murahan. Dan dengan begitu mereka gak jadi menikah. Selesai kan. Itu yang lo mau?"


Bayu bersidekap. Menatapku dengan pandangan remeh. "Ohhh. Lo cukup berani juga ya ternyata."


"Kenapa mesti takut, sama-sama makan nasi kan? Kalo lo makan batu mungkin boleh gue pertimbangin. Tapi nanti, kalo emang lo bisa makan batu."


"Lo ya!" Bayu menggeram, tatapannya berubah menjadi nyalang." Liatin aja, gue gak bakal bikin hidup lo dan keluarga lo tenang."


"Gue gak takut tuh! Kenyatannya lo cuma berani ngancam doang. Buat bilang sama bokap lo sendiri aja gak berani. Iya kan?"


Bayu tak berkutik.


"Gue seneng sih tau sikap lo yang asli sekarang. Lain kali gak perlu lah gue sok-sok akrab didepan lo."


Bayu mendecih jijik. "Cuih! Gak sudi gue diakrabin sama barang murahan!"


Aku menatapnya penuh kebencian. Ucapannya benar-benar menyinggung naluriku yang menjunjung tinggi harga diri.


"Tau gak bedanya lo sama anjing?" Aku diam sebenyar sebelum melanjutkan." sama-sama najisin! "Aku berdesis setelahnya dan tersenyum puas.


Bayu kelihatan tak terima dengan perkataanku tadi. lalu dia mengancamku  dengan kalimat andalannya."Bakal gue pastiin lo nyesel berani ngomong gitu ke gue."


"Gue tunggu kalo gitu." Aku mengedik bahu acuh. Dia pikir aku akan takut? Oh tentu tidak akan! maaf-maaf saja ya.


Aku berbalik pergi, malas meladeninya lagi. tapi kupikir aku harus mengoreksi ucapanku yang tadi.


"Oh iya. Gue rasa, gue salah faham tadi. Kita gak bisa berteman ternyata. Gue gak bisa temenan sama anjing soalnya."


Aku mengucapkan kalimat terakhir dengan penuh penekanan sembari mengulas senyum iblis.


Bayu bungkam mungkin kehabisan stok kata-kata mutiaranya.


"Semoga bisa bertemu dilain waktu."


Tidak ada jawaban dari siempunya. Aku bergegas pergi dari room party ini dan menunggu dilobi, awalnya aku berfikir akan menunggu Bening selesai dari toilet dan mengajaknya untuk pulang tapi ketika aku mencoba menghubunginya dan meneror gadis itu dengan puluhan chat tak mendapat jawaban. Aku memutuskan untuk pulang sendiri.


☆☆☆


Aku menghela nafas menahan kesal saat tiba-tiba abang gojek yang kupesan tadi menurunkanku ditepi jalan yang lenggang. Motornya mogok karena hujan lebat yang melanda kota Bogor menyebabkan banjir kecil disisi- sisi jalan, airnya masuk kedalam mesin hingga motor mati tiba-tiba. Sibapak berniat mencari bengkel dan memintaku untuk menunggu tapi aku menolaknya karena tidak mungkin aku menunggu sampai motor itu kembali membaik sementara tidak ada yang tahu seberapa parah kerusakannya.


"Yaudah pak gak papa disini aja."


Sibapak gojek yang kuketahui bernama Ujang itu menggaruk kepalanya tidak enak hati." Maaf ya neng ini diluar kendali saya."


Aku mengangguk dan memasang senyum terbaikku." Iya pak. Saya tahu kok."


"Terus si neng nya nanti naik apa?"


"Saya mau minta jemput orang rumah aja. Bapak gak usah khawatir." Aku mengangguk sekali, bermaksud meyakinlan si Bapak kalau aku tidak masalah ditinggal sendiri.


Setelah sempat mengucapkan permintaan maafnya yang kali kesekian, si bapak gojek itu pamit sambil mendorong motornya. Aku masih menatapnya sampai menghilang dibalik belokan. Kini tinggalah aku sendirian, di pinggir jalan, ditempat yang aku tidak tahu letaknya dimana.


Aku duduk dihalte terdekat, membuka map google untuk mencari tahu posisiku, tapi ketika aku menyalakan data muncul notifikasi pesan bahwa tenggak waktu kuotaku habis dihari ini. Lalu aku mencoba peruntungan menghubungi Bening, satu-satunya harapanku yang tersisa, semoga saja Bening mau menjemputku atau paling tidak mengirimkan ojek online atau siapapun kesini, tapi harapan itu kandas lagi ketika tak ada jawaban dari telponku.


Aku menggigil mulai kedinginan, angin yang berhembus kencang mencoba menerbangkan rambutku yang sudah lepek. Mataku meliar kesekeliling, tak kutemukan siapapun, bahkan kendaraan juga tak nampak.


Setengah jam menunggu namun belum juga ada kendaraan yang lewat, aku mulai dilanda perasaan gelisah. Entah bagaimana ceritanya pikiranku tiba-tiba dihinggapi bayangan mengerikan yang sering terjadi di flm horor seperti penampakan hantu atau yang lebih membuatku bergidik takut adalah munculnya preman jalanan yang menodong mangsanya dengan pisau.


Aku segera menggeleng kuat-kuat.


Tidak! Tidak! stay calm Binar.... tidak akan ada apapun. Aku akan baik-baik saja. just calm down. Aku bergumam meyakinkan diriku.


Sialnya aku tidak bisa tenang, sekuat apapun usahaku mengusir kegelisahan ini, rasanya bayangan itu seperti mantra yang tak bisa pergi dari kepalaku.


Namun tak lama kemudian nafasku berangsur lega begitu melihat sebuah bus muncul dari arah barat. Aku melambai sambil berteriak keras, meminta sang supir berhenti dan membawaku pergi. Dan ya, doaku terkabul. Akhirnya aku terbebas dari acamaman mengerikan itu.


Tapi bus ini padat sekali aku tak mendapatkan kursi sehingga dengan berat hati aku harus berdiri diantara penumpang lain yang mayoritasnya kaum laki-laki. Ac yang dinginnya cukup membuatku menggigil karena dress tanpa lenganku yang basah juga lumayan menyiksa dan sebagai pelengkapnya aku mulai mengantuk sekarang. Kuhembuskan nafas panjang lantas meraih penyangga ketika mataku mulai memberat.


"Aduh!"


Suara pekikan itu serempak terdengar begitu Bus mengerem mendadak. Semua orang mengerang kesal begitupun aku karena sempat terpental kedepan sampai keningku menyenggol punggung seorang lelaki bertubuh gempal. Aku meneguk ludah susah payah ketika dia melotot galak.


Oh tuhan, seramnya.


"Ma-maaf, Kak. Saya gak sengaja." Cicitku.


Pria itu berdecak, namun matanya bergerak melirik tubuhku dari atas sampai bawah dengan tatapan yang bagiku tidak pantas dilakukannya terhadap orang asing. Aku berani menyimpulkan bahwa dia pasti sedang berfikir yang tidak-tidak terhadapku. Aku melengos pergi tanpa perlu mendapat balasan dari pria itu.


"Permisi Mbak."


Aku menoleh, ketika merasa seseorang mengajaku berbicara.


"Mmm. Saya?" Aku menunjuk diriku untuk memastikan bahwa memang akulah yang dia ajak bicara itu.


"Iya mbaknya. Kan yang cewek disini cuma mbak aja."


Reflek aku meliarkan pandangan kesekeliling dan langsung ternganga seketika. Oh ya ampun! Dia tidak bohong, memang cuma aku satu- satunya perempuan disini. dan lihat sekarang mereka semua kompak memandangiku dengan pandangan yang membuat jantungku jedar jeder.


Duh, Aku benar-benar takut sekarang.


"Eh, gue rasa gue salah masuk bus deh."


Aku menyeringai menutupi rasa malu sekaligus takut. Diam-diam memainkan jemariku untuk mengurangi rasa gugup ini. Tapi sepertinya ketakutanku tidak bisa ditutupi lagi, Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, memutar mutar bola mata mencari cara agar bisa segera turun.


Seolah tahu kemana jalan fikiranku, lelaki berkacamata ini menjelaskan bahwa aku sedang berada dibus pariwisata salah satu fakultas yang baru menyelesaikan tour di Bogor.


"Eeumm.. gue gak papa kok kalo mau diturunin disini."


Lelaki dihadadapanku ini hanya tersenyum tanpa berkata-kata. Aku tidak bisa menebak dia ini punya niat baik atau jahat? aku jadi bingung harus bagaimana selanjutnya.


"Memangnya lo mau kemana?"


"Pulang. Tapi kayaknya gue kesasar."


Dia mengangguk sekali."Rumah lo dimana?"


"Jakarta." Aku berfikir sejenak, rasa- rasanya dia bukan lelaki yang jahat. tidak mungkinkan ada iblis berwajah malaikat didunia realita. Ah tapi jangan salah, bukankah di jaman sekarang banyak iblis berkedok malaikat.


Tapi dipikir lagi kalau aku diturunkan disini aku sampai rumah dengan cara apa? Mengandalkan gojek jelas tidak mungkin, Bening? Mustahil sekali bisa membantu.


"Kalo gak ngerepotin sih, boleh gak gue nebeng sampe ketemu halte bus atau stasiun juga gak papa."


"Biar kita anterin lo sampe rumah."


"Eh, gak usah!" Aku mengibaskan tangan, menolak tawarannya. "


Rumah gue jauh. Lagi juga belum tentu kita searah."


"Ini udah malem, gak baik cewek malem-malem sendirian. Bahaya!" Katanya, suara itu terdengar tegas seolah tak menerima penolakan. Aku menimbang sekali lagi. menerima tawarannya atau tidak ya?


"Duh, gue gak enak jadinya. Turun disini aja gak papa kok. Gue bisa telpon orang rumah."


"Lo bisa hubungin orang rumah biar gak khawtir tapi kita tetep anterin lo."


"Heh? Tapi?"


"Gak ada tapi-tapi. Lo tenang aja, gue bukan penjahat kok." Dia tersenyum lagi, tahu betul kalau aku sempat berfkiran kesana.


Melihat keadaan diluar yang masih hujan lebat sedang malam semakin larut, Aku mengangguk mengiyakan. Oke, baiklah. Tidak ada salahnya aku menerima tawaran ini kan? Dosa juga kalau menolak niat baik seseorang. Untuk masalah yang terjadi nanti, biarlah nanti saja kupikirkan.


"Jadi ngerepotin ya?" Aku tersenyum tidak enak hati." lo sendiri mau kemana emangnya?"


"Gue mau balik. Kita searah kok. Jadi lo gak ngerepotin"


Lelaki berkacamata itu memberi isyarat agar aku menduduki kursinya, Padahal aku sudah berulang kali menolak dan mengatakan bahwa aku sudah biasa berdiri, tapi dia mengatakan kalau seorang perempuan tidak baik berdiri terlalu lama, apalagi jarak antara Bogor dan Jakarta memerlukan waktu yang panjang.


Aku tersentuh atas perlakuannya, dari sekian banyak penumpang dalam bus ini cuma dia yang mau memberikan kursinya untukku. Padahal kami tidak kenal sama sekali.


Darisana aku baru saja menemukan  fakta dari sebuah peribahasa.


Ternyata benar, di dunia ini malaikat itu ada.