Nothing Impossible

Nothing Impossible
Part 1



Terhitung hampir 2 jam pesta ini berlangsung, dan selama itu pula aku tidak berhenti menghela nafas atau sesekali mendecak kalau ada kesempatan.


Lagi, entah ini yang keberapa kalinya aku menghela nafas. Aku tidak suka tempat ini, suasananya ramai dan begitu terang. Tidak cocok dengan aku yang lebih suka suasana tenang dan gelap.


Dan lagi, hells 8 senti dan gaun kurang bahan sepanjang lutut ini semakin menambah deritaku saja. Oh, jangan lupakan make up setebal 5 senti yang Bening taburkan diwajahku, demi apapun ini begitu menyiksa.


Lalu seakan belum cukup, aku diberi wejengan panas oleh Mama bahwa aku harus selalu tersenyum disepanjang pesta ini, bersikap seolah-olah aku turut Bahagia seperti dua pasangan paruh baya yang sedang melangsungkan acara ini. Oleh karenanya senyumku akan mengembang otomatis begitu menyalami para tamu dan langsung luntur seketika begitu antrian tersebut berakhir sementara.


Aku melirik Mamaku yang sejak tadi tersenyum lepas ketika menyalami tamu undangan. Kelihatan sekali rona bahagia di wajahnya yang masih terlihat muda diusianya saat ini meski sudah menginjak kepala 3.


Ya…Tuhan mamaku cantik sekali. Sampai aku bertanya-tanya apa benar aku ini anaknya? Pasti tidak ada yang mengira kalau wanita cantik itu seorang janda yang sudah memiliki anak gadis seusiaku.


Tanpa kusadari, ternyata senyumku langsung menguap entah kemana. Diam-diam membuang muka lalu menunduk, termenung sendiri.


Huh! Siapa yang bisa menebak kalau sebenarnya aku masih tidak terima jika setelah ini Mamaku tidak akan sendiri lagi. Semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu, Mamaku akan berubah status dan kemudian menjadi milik lelaki itu, akan ada sosok baru dalam hidupnya. Dan mungkin sesosok anak lain yang diharapkannya akan lahir. Kemudian aku? Terlupakan.


Oh, sungguhankan cerita dalam sinetron yang sering aku tonton itu akan aku alami?


"Hallo… kamu Binar kan?”


Senyumku otomatis langsung terbit begitu seseorang yang tak kukenal menyapaku dengan ramah. “Hallo Tante, iya aku Binar.”


Wanita itu tersenyum puas, senang karena tebakannya benar.”sudah Tante tebak. Kalau kayak gini kamu mirip banget ya sama Bening ternyata." ujarnya Ketika selesai meniliku dari ujung kaki sampai kepala. “Masih inget dengan Tante?”


Aku berfikir sejenak, menatap wajahnya lebih lama. Namun wajahnya kelihatan asing diingatanku.


“Emm… apa sebelumnya kita pernah ketemu?” Aku bertanya kerena yakin sekali aku tidak mengenalnya.


“ini Tante Merry, teman kantor Mama Kamu. Kamu pasti lupa ya?”


Merry… Merry.. Merry, aku terus merafal nama itu, barangkali kami memang pernah bertemu dan ada secercah harapan bisa mengingatnya. Aku masih berusaha berfikir tapi sampai akhirnya didetik yang kesekian aku menyerah, otakku masih belum menemukan ingatan mengenai sosok wanita ini.


“Hehe.. Maaf Tante. Aku memang payah soal mengingat wajah orang.” ringisku.


“Gak papa. Lagian wajar kok, Tante juga udah lama gak main ke rumah.”


Aku menanggapinya dengan senyaman saja.


“Kapan-kapan boleh dong, Tante main kerumah Mama kamu yang baru.” Tante merry mengerling menatap Mama dan Om Adit dengan pandangan yang seolah mengisyaratkan sesuatu. Firasatku langsung berubah buruk.


"Oh soal itu. Bicarakan saja dengan Mamaku.”


“Eh, Tante dengar pernikahannya dimajukan 3 bulan lagi ya?” ujarnya setengah berbisik.


Dahiku mengerut heran. Dari mana Tante Merry mendengar kabar itu? Aku saja yang notebanya bagian terpenting dalam hubungan mereka baru tahu semalam. Atau jangan-jangan gosipnya memang sudah tersebar dan hanya aku yang baru tahu. “iya Tante.”


“Kenapa? Memangnya gak kecepetan tuh? Padahal mama kamu kan belum lama kenal sama Pak Adit.”


“Memangnya kenapa? Ada masalah ya?”


“Mama kamu itu karyawan baru dikantor, yang kebetulan beruntung dipilih Pak Adit untuk dinikahi.”


Aku diam saja, Mengacuhkannya. Malas menanggapinya lagi, faham sekali kemana alur pembicaraan ini akan berakhir. Jadi kubiarkan saja Tante Merry bicara sesuka hatinya, tidak akan nada yang akan masuk ditelingaku.


“Seharusnya mereka perlu waktu yang panjang untuk saling mengenal. Bukankah kamu juga harus beradaptasi dengan calon Papa baru. Mama kamu pernah cerita, kamu juga belum bisa menerima kepergian Papa Aftar kan? Papa tirimu yang kemarin.”


Sampai dititik ini aku merasa tante Merry sudah keluar batas. Wanita ini sok tahu sekali, berani-beraninya menyimpulkan sesuatu padahal dia tak tahu apa-apa. Memang dasar wanita ular! Bersikap sok baik didepan tapi membicarakan Mamaku akhirnya.


“Aku gak faham soal itu Tante. Tapi Tante pasti lebih tau kalau pernikahan itu perkara yang baik. Dan sesuatu yang baik perlu disegerakan.” Aku menjawab dengan nada sedikit culas. Tidak peduli akan dikatai tidak ramah sekalipun. Toh, Tante Merry juga tidak punya attitude yang pantas untuk aku hormati. Tidak ada teman yang membicarakan temannya terlebih lagi kepada anaknya sendiri.


“Ah, iya benar juga.” Tante Merry kelihatan kikuk. Mungkin menyadari kalau aku terusik oleh ucapannya.” Kamu memang pintar ya?”


Memang! Mangkanya berhati-hati kalau mau bicara denganku.


“Oh, maaf Tante bisa segera bergeser? Antrian dibelakang sudah panjang ternyata.” Aku menampilakan senyum setan kepadanya.


“Eh, ya ampun kok bisa lupa ya?” Tante Merry meringis menahan malu begitu mendapati orang-orang dibelakangnya mendesaknya untuk segera turun.


“Yasudah Tante Cuma mau ngucapin selamat ya, Binar. Bentar lagi punya Papa baru.” Ujarnya lalu menyalamiku dengan senyum lebar, tapi aku tau senyumnya palsu. Tidak ada ketulusan didalam manik matanya.


“Makasih Tante.”


Wanita itu mengangguk sebelum pamit. Aku mendengus keras-keras. Senyum palsuku luntur lagi, Tapi tidak bertahan lama karena ternyata para tamu sudah berbaris rapi di depanku.


Aku ingin mengeluh, kenapa semakin malam semakin panjang sih antriannya. Padahal ini hanya acara pertunangan saja, yang diundang hanya sekedar sanak saudara dan teman dekat Mama dan Om Adit. Aku sudah pegal berdiri dipanggung. Tenggorokanku juga rasanya kering belum minum selama hampir 2 jam.


Sambil memaksakan bibirku untuk tersenyum lagi aku kembali menyalami para tamu, diam-diam melirik Bening yang berdiri diujung sana. Aku tahu sejujurnya dia juga tak ubahnya seperti aku, bedanya dia pandai memanipulasi orang-orang sehingga kelihatannya menikmati suasana.


Tanpa sadar aku mendumel dalam hati ketika pandangan kami bertemu dan Bening menahan tawa seolah mencibirku, dia pasti tahu kalau aku sudah muak dan ingin segera pergi.


“Eh, ini bener Binar kan? Binar anaknya Wulan?” Ucap Tante Mia, Kerabat dekat Mama yang sekian lama tidak berjumpa.


Aku meringis sambal terpaksa mengembanngkan senyumku lagi. Wanita setengah baya ini pasti sulit mengenaliku dengan penampilan seperti ini. Khas perempuan feminim pada umumnya. Rambut terurai, gaun tanpa lengan sepanjang lutut, hells 8 senti dan make up cetar membahana. Ini jelas bukan aku sekali, Bening berhasil merubahku menjadi orang asing.


“Hehe… iya Tante.”


“wahh! Tuh kan kamu juga bisa cantik kalau jadi perempuan.” Ujarnya yang membuatku melongo.


Memang selama ini aku bukan perempuan ya? Hanya karena aku tidak suka dandan, tidak suka rambut terurai, tidak suka pakai dress, tidak suka pakai hells, dan lebih percaya diri berpenampilan apa adanya. Apa karena semua itu mereka berani menyimpulkan kalau aku tidak layak disebut perempuan.


Ck. Kenapa pemikiran manusia itu monoton sih?


“Memang biasanya aku gak cantik ya?”


“Ah, cantik kok.” Tante Mia tertawa menutupi rasa tak enaknya.” Cuma, Binar yang sekarang cantiknya berkali-kali lipat.”


“Oh, ya? Makasih kalau begitu.”


Tante Mia menyentuh pipiku sekali lalu merengkuhku kedalam pelukannya. Dulu Ketika aku jauh dari Mama. Tante Mia memang yang paling bersimpati terhadap keadaanku dan Bening.


Aku memejamkan mata dipelukan Tante Mia, merasakan ketenangan yang menjalar dihatiku. Aku paling suka pelukan ibu-ibu. Pelukannya seolah mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya pasti baik-baik saja.


“Selamat ya, sebentar lagi kamu punya Papa baru. Selalu Bahagia ya, sayang.” Ujarnya dengan wajah bahagia tapi matanya yang berkaca-kaca tak bisa berbohong. Sorot kasihan yang terpancar di kedua matanya berhasil mengumpulkan cairan bening diujung mataku.


Tidak! Aku tidak boleh menangis.


Aku mengangguk sebagai jawaban, tidak sanggup mengucap kata, aku takut pertahananku akan runtuh apabila aku memaksakannya.


Selepas pelukan kami berakhir, posisi Tante Mia diganti oleh undangan yang lain. Ternyata bukan hanya Tante Mia saja yang bersikap demikian, tapi hampir semua tamu undangan dipesta ini yang notabennya kerabat Mama. Mereka yang faham betul bagaimana kondisi Mamaku dan kehidupanku selama ini pasti merasa simpati. Tapi disisi lain juga turut Bahagia Mamaku tidak terkubung dalam jerat masa lalu yang sudah menyandranya.


Ya, semua orang senang akhirnya Mama menemukan calonnya lagi setelah 5 tahun menjalani hidup sebagai single mother yang selalu digunjingkan para tetangga. Harapan keluargaku terkabul setelah mengetahui Mama hendak dipersunting pengusaha kaya yang sebelumnya merupakan atasan Mama dikantor.


Kalau ada yang bertanya apa aku Bahagia atau tidak sekarang? Maka aku akan menjawab dengan mantap. Tidak sama sekali!  Anak mana yang akan Bahagia melihat Mamanya menikah lagi, terlebih ini pernikahan Mamaku yang ketiga setelah sebelumnya menjanda selama 5 tahun selepas perceraiannya dari Papa Aftar. Tapi Kembali lagi, kalau mamaku bahagia aku bisa apa? selain turut mengamini kehendaknya.


Aku melihat sekitar, antrian para tamu masih Panjang tapi aku benar-benar tidak kuat lagi disini. Aku memutuskan untuk meninggalkan panggung dan menghiraukan tatapan tanda tanya para tamu.


Nafasku baru lega setelah aku ditempat tanpa keramaian. Taman pinggir kolam renang memang tempat yang tepat untuk menenangkan diri. Aku melepas hells, melemparnya kesembarang tempat niatnya sih kedalam kolam, tapi akan repot jadinya kalau ketahuan orang-orang.


Kemudian aku duduk disisi kolam dan menyelupkan kedua kakiku kedalam air yang hanya sebatas betis. Rasanya dingin, ya lumayan bisa mendinginkan kakiku juga… hatiku.


Hah! Nafasku berhempus dengan teratur. Ini baru yang Namanya hidup.


“Hayoo! Kabur lo ya?”


Aku mengumpat mendapati tepukan keras dipundaku. Tanpa menoleh saja aku sudah hafal betul siapa dalangnya. Siapa lagi kalau bukan Bening. Ah, aku lupa dia memang punya keahlian merusak mood seseorang.


“Terus lo apa namanya?” Aku bertanya balik, untuk apa dia kemari kalau tidak sedang kabur juga. Iya kan?


“Kalau gue bukan kabur.” Bening duduk di sebelahku ikut menyelupkan kakinya kedalam air.


“Ini namanya nyelametin diri lah.”


Aku mendengus.”sama aja Oneng!”


“Oneng ndasmu! Yang sopan kali. Gue ini kakak lo.”


“Bodo amat ya! Giliran dipanggil Mbak lo gak mau.”


Bening menggeplak kepalaku.


Ya ampun… apa-apaan dia ini?!


“Heh! Gue bukan Mbak-Mbak tukang jual jamu ya!”


“Yaudah kakak.”


Bening bergidik geli. “Gue juga gak mau kita keliatan seakrab itu, sih.”


Aku menggeram. Lama-lama kesal juga. “Maunya apa sih? Tadi katanya suruh sopan. Panggil mba gak mau, kakak juga. Lo pengen dipanggil tante ha!”


“Mulut lo ya bi! Pengen gue peres apa?!”


“Sebodo lah! Gue masih kesel sama lo ya. Gara-gara lo gue terjebak selama 2 jam dengan pakaian kurang bahan pilihan lo ini dan hells sialan yang bikin kaki gue pegel.”


Bening mengerut kening sebentar. Kemudian terbahak keras.”Yeu. kok ngegas sih lo? Di bikin cantik gak mau. Dasar bocah!”


Aku malas membalas lagi, Bening pun sepertinya tak membutuhkan tanggapan. Kemudian Hening menguasai atmosfer dikolam ini, kami sama-sama bungkam menikmati kesunyian.


“Mama kelihatan bahagia banget ya?”


Kepalaku otomatis tertuju kedepan sana. Tepat dimana Mama berdiri berdampingan Bersama lelaki paruh baya itu. Kulirik Bening yang ternyata juga sedang menatap dua pasangan itu. Wajahnya kelihatan biasa saja, tidak ada sedih-sedihnya sama sekali.


“Salah gak sih kalo gue bilang gak bahagia sekarang?”


Aku menoleh lagi mendengar gumaman pelan dari Bening. Keningku otomatis mengerut.


“Gue fikir cuma gue doang yang ngerasa begitu?”


Bening tertawa. “Menurut lo gue bahagia liat nyokap nikah lagi untuk yang ke 3 kali? Sama duda beranak 4 lagi. Gak ada dalam daftar mimpi gue.”


Aku mengedikan bahu. “kelihatannya lo memang biasa saja. Gak ada sedih-sedihnya.”


“Gak sedih bukan berarti gue bahagia kali!”


Bening mendengus. “Ngapain gue kesini kalo gue baik-baik aja disana?”


“Tapi muka lo kelihatan seneng-seneng aja.”


Bola mata Bening mengerling. “Gue memang punya bakat acting kali.”


“Emang! Ratu drama dasar!” Cibirku.


“Bangga lo punya kakak macem gue.” Alih-alih tidak terima, Bening justru berbangga diri, seolah bakatnya itu memang sesuatu yang patut diapresiasikan.


“Bi, apa yang bakal lo lakuin setelah ini?”


Aku termenung. Sebenarnya itu juga yang aku fikirkan.


“Mungkin pergi.”


Memang pilihannya hanya itu. Tinggal Bersama mereka jelas ketidakmungkinan. Sehabis ini Mama akan tinggal dirumah yang disediakan Om Adit Bersama anak-anaknya. Mereka memang belum resmi menjadi suami istri, Tapi Om Adit sudah menyediakan rumah mewah untuk Mama sebagai kado pertunangan mereka. Sejujurnya aku dan Bening juga ditawari tinggal disana tapi kami menolak mentah-mentah dengan alasan terlalu jauh dari kampusku dan juga pekerjaan Bening.


☆☆☆


“Coba difikirin lagi sayang, masa kita harus pisah lagi? Mama pengen kita hidup bareng-bareng.” Mama mengelus tangan Bening yang berada dalam genggamannya. Menatap nanar tangan itu seolah tak rela meninggalkannya.


“Jangan pergi ya, sayang?”


Aku mendelik memberi kode kepada Bening, Gadis itu terlihat tidak tega melihat Mama memohon-mohon agar kami tidak pergi. Tidak, jangan sampai Bening berubah fikiran dan membatalkan niat kami untuk pindah ke Jakarta.


Ya, Setelah kami berdiskusi sepanjang malam. Akhirnya kami memutuskan untuk mengisi rumah nenek yang merupakan tempat masa kecil kami dulu.


“Tapi Ma, kita gak bisa tinggal disana. Kita gak punya hak atas rumah itu.”


Mama terlihat sedih oleh jawaban Bening. ”Rumah Mama, rumah kamu juga. Rumah kalian sayang. Kalian kan anak-anak Mama.”


Aku menggaruk kepalaku yang terasa gatal. Lama-lama jengah juga dengan keadaan ini. Aku berinisiatif untuk maju menghadap Mama, Bening memang selalu payah Ketika berhadapan dengan Mama apalagi kalau sudah pasang wajah memelas andalannya. Jadi kupikir memang aku yang harus turun tangan sendiri.


“Ma, gak bisa gitu Mama kan belum resmi jadi istrinya Om Adit. Apa kata orang kalau tahu dirumahnya ada penghuni lain yang bukan keluarganya. Om Adit kan pengusaha kaya, pasti gosipnya bakal langsung kesebar kemana-mana. “Kataku reflek mengeluarkan unek-unek yang mengganjal dibenakku sejak tadi. Tidak menyadari kalau ucapanku secara tidak langsung menyinggung perasaannya.


Sedetik kemudian aku menyesalinya. Aku baru sadar kalau sudah salah bicara. Aku menunduk, tidak berani menatap wajah Mamaku.


Bening menyikut lenganku kasar.”Lo kalo ngomong difikir dulu kenapa sih?!” Bisiknya kepadaku.


”Gue reflek tadi. Gak maksud ngomong gitu.”


Bening mendecak. “Yaudah minta maaf sana.”


Tubuhku langsung didorong oleh Bening agar lebih dekat dengan Mama. “Ma, maaf. Maksud Binar tadi gak gitu. Binar Cuma…..” aku terdiam, bingung harus bicara apalagi.


Sekarang aku kehilangan akal untuk mencari alasan yang masuk akal agar tidak menyinggung nalurinya sebagai seorang wanita.


“Emm. Maksud Binar, disana kan ada anak-anaknya Om Adit Mama juga harus menghargai Kak Bayu. Mungkin Kak Bayu bisa nerima Mama, tapi belum tentu sama kami. Lagi pula aku sama Bening juga punya kesibukan baru dijakarta.” Akhirnya, aku bisa bernafas lega setelah menemukan alasan itu. Agak berbelit sih, tapi yang penting masuk akal.


“Iya. Kamu benar Binar. Tunggu sampai waktunya tiba kalian pasti akrab.”


Aku tersenyum sangsi. Aku dan Bayu akan akrab? Sepertinya tidak akan, kemungkinannya sangat kecil.


Bayu adalah anak pertama dari Om Adit, Usianya 1 tahun lebih tua dari pada Bening. Laki-laki yang nantinya akan menjadi Kakak tiriku itu akan tinggal bersama Mama. Sejauh ini aku tidak bisa menyimpulkan bagaimana sikapnya terhadap Mama apakah baik atau justru buruk karena setahuku dia tidak memberi tanggapan apapun sewaktu Om Adit meminta persetujuan untuk menikahi mamaku.


Tapi dari caranya menatapku dan Bening aku bisa yakin kalau lelaki itu tidak suka terhadap kami. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan sikapnya, toh aku juga sejujurnya tidak suka dengannya.


“Yasudah, kalau memang itu keputusan kalian. Dan menurut kalian itu yang terbaik. Mama bisa apa?” Ujarnya kedengaran putus asa. Tapi sedetik kemudian Mama mengembangkan senyumnya. Bukan senyum tulus menurutku.


“Makasih ya Ma, udah ngertiin kita.” Bening memeluk Mama dengan erat. Meskipun Bening menginginkan kepindahan ini, aku tahu ia merasa berat jauh dari Mama.


“Bening pergi ya, Ma.”


“Iya, Sayang.” Mama membalas pelukan Bening tak kalah eratnya.


“Kita gak bakal macem-macem kok meskipun jauh dari mama. Kita bakal jaga diri sebaik mungkin.” Bening tersenyum penuh keyakinan dan melepas pelukannya.


Lalu sekarang giliran aku berpelukan dengan Mama.


“Binar, pergi ya Ma.”


Aku memeluk wanita paruh baya ini dengan perasaan tak karuan. Senang? Aku rasa bukan. Sedih? Apa iya, aku bisa sedih hanya karena berpisah dengan Mama? Dulu bertahun-tahun kami tidak hidup seatap, apa mungkin 3 tahun saja memberi efek seluar biasa ini saat keadaan memaksa kami berpisah lagi. Tapi hatiku merasa perih saat Mama membalas pelukanku tak kalah erat. Lalu menggumamkan nasehatnya yang sekian lama tak pernah kudengar lagi.


“Iya, sayang. Kamu jaga diri juga disana. Baik-baik sama kakak kamu. Belajar yang bener, terus jadi kebanggan Mama. Mama cuma punya kalian yang bisa membuat Mama merasa bangga.”


Hatiku terenyuh, tanpa sadar butiran bening perlahan terurai dari sudut mataku.


Kapan ya terakhir kali Mama menasehatiku seperti ini? Rasanya aku sudah lama sekali.


Buru-buru aku menghapus sisa air mata yang membekas diujung mata dan melepas pelukan kami secepatnya.


“iya, Ma. Binar akan berusaha jadi yang terbaik.” Ucapku agak sedikit parau.


“Mama percaya, kamu gak bakal ngecewain Mama.”


Mama tersenyum, mengelus kepalaku dengan lembut. Tuh kan, mataku memanas lagi. Aku segera mengerjapkan mata sebelum pertahananku kembali runtuh. Entahlah belakangan ini aku jadi melankolis. Sebentar-sebentar galau, sebentar-sebentar nangis.


Tau jika aku sedang dirundung perasaan pilu, Bening menggeretku agar segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan kami kejakarta. Mobil ini milik Om Adit tapi sekarang berganti kepemilikan. Siapa lagi kalau bukan Mama.


Begitu didalam mobil, aku langsung menyandarkan punggung ke jok untuk bersandar, lalu mataku terpejam berharap perasaan aneh yang menyesakan didadaku ini hilang. Tapi, sebesar apapun usahaku tetap saja gagal. Dadaku masih sesak.


“Bening?”


“Hmmm.”


“ Gimana perasaan lo sekarang?”


Tidak ada jawaban dari gadis yang duduk disebelahku ini. Tapi samar-samar aku mendengar suara isak tangis. Mataku otomatis terbuka, lalu menoleh kesamping dan menemukan Bening tengah menatap jalanan dengan pandangan kosong. Tapi pipinya ada butiran air mata yang turun dari kedua matanya.


“Lo nangis?!”


Bening mendelik menatapku. Mungkin tidak terima air matanya yang suci diragukan olehku. Ya memang, aku perlu kepastian bila menyangkut soal Bening. Perlu kalian ketahui, Bening itu ratu drama. Dia selalu berhasil menjadi juara pertama ketika mengikuti lomba adu akting. Dan sekarang diapun lolos saat mengikuti audisi acting disalah satu stasiun televisi.


“Menurut lo!? Ini air mata apa? Ha?!”


Bahuku mengedik.” Air mata buaya mungkin.”


“Mulut lo ya!” Bening menghela nafas, mengalihkan pandangan lagi kejalanan, terlihat enggan menanggapi cibiranku.


“Gue gak nyangka loh kalo sedihnya bakal berasa banget.” Aku bergumam.


“Lo mulai ragu sama pilihan lo sendiri?”


Aku terdiam sambal berfikir. Sejujurnya aku memang ragu sejak awal. Tapi aku diharuskan untuk memilih dan aku sudah memilih, ini adalah pilihanku maka aku tidak boleh menyesalinya. Namun, tetap saja perasaan ragu itu selalu muncul manakala aku terdiam dan memikirkan masa depan.


“Apa menurut lo ini pilihan terbaik?”


“Gue gak tau. Tapi apa menurut lo tinggal dirumah orang asing pilihan terbaik?”


Yang Bening maksud orang asing disini adalah Om Adit. Ya, laki-laki itu hanya baru bertunangan dengan Mama belum sampai ketahap pelaminan. Jadi wajar kan bila kami menyebutnya orang asing.


“Jelas gak sama sekali!” Aku menjawab dengan mantap.


Bening menatapku aku balas menatapnya. Kami terdiam cukup lama dengan pandangan saling menusuk.


“Lo percaya gak sih kalau misalnya yang terjadi ini udah takdir?” Tanyanya.


“Percaya.” Balasku.


“Berarti ini memang takdir kita, memang apa yang bisa lo lakuin buat ngelawan takdir?”


Aku membenarkan dalam diam. Bening benar, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima dan menjalani.


Aku percaya, bahwa Tuhan hanya akan melimpahkan kebaikan saja. Dan apapun yang terjadi, anggap saja semua ini memang yang terbaik. Tuhan tidak pernah salah apalagi keliru dalam mengatur rencana-Nya.


         TBC


Hallo, ini cerita pertamaku setelah lama break dari dunia kepenulisan. Agak ragu sih waktu memulainya. Menimbang berkali-kali. Lanjut, enggak, dan tapi kemudian aku teringat sebuah pepatah.


Kamu tak akan menjadi apapun kalau tidak berani memulainya.


Dan ya, kali ini aku mencobanya.


Fyiiiii… Akhirnya jadi juga. Semoga kalian suka ya.


Happy reading, guys.😊😊😊