
Aku dan Bening melempar pandang, saling bertanya diam-diam mengenai keberadaan Mama yang tiba-tiba saja pagi ini kami temui sudah duduk cantik di sofa ruang tamu. Tapi kemudian pertanyaan kami ini sama-sama berakhir dengan gelengan kepala dan kedikan bahu.
Sementara wanita paruh baya yang menjadi objek kebingungan kami sedang duduk manis sambil menikmati secangkir teh hasil buatannya disofa seberang kami duduk.
"Kok kalian diem aja sih? Kayak patung. Kaget banget ya liat Mama disini?" Mama mengakhiri kalimatnya dengan kekehan. Merasa keberadaannya yang tiba-tiba ini bukan sesuatu yang perlu kami herankan.
Oke, mungkin aku tidak akan bertanya-tanya kalau saja Mama punya jampi-jampi atau paling tidak dirumah ini ada pintu ajaibnya Doraemon.
"Mama kok datang gak kabar-kabar. Kan Bening bisa kosongin jadwal dari kemaren-kemaren." Bening tersadar duluan.
"Sengaja. mama mau bikin kejutan buat kalian. Gimana, mama berhasil kan?"
Iya. Mama berhasil. Aku dan Bening terkejut luar biasa. Batinku berbicara.
"Kalian apa kabar? Kenapa gak pernah nengokin Mama atau sekedar telpon. Ini udah hampir sebulan loh sejak kalian pindah." Keluhnya, wajahnya yang semula ceria berubah sendu." Mama kangen sama kalian."
Lagi lagi aku dan Bening saling melempar pandang kemudian dia mengedikan dagunya penuh isyarat, aku faham betul apa yang ada didalam kepala Bening. Gadis itu menyuruhku untuk memulai sandiwara seperti kesepakatan kami tempo hari apabila Mama mengungkit soal ini.
Tapi karena pada dasarnya aku tidak punya bakat akting sekalipun aku bunya blog pribadi yang isinya membuat cerpen atau karangan indah aku menolak perintah Bening. Oleh karenanya aku menggelengkan kepala dengan tegas bahwa aku tidak mau. Bening sempat memelototiku tapi aku lebih galak melotot kepadanya.
Bukankah dia selalu bangga dengan bakat akting yang dia miliki sejak lahir itu? Kenapa tidak dipakai sekarang saja. Sayang kan kalau dianggurkan.
"Emm. Maafin kita Ma." Dan akhirnya gadis itu menyerah, aku boleh bangga kan dengan keahlian mataku yang bisa meluluhkan hati sebening kakakku ini.
Ya, biar bagaimana hitam akan selalu menang melawan putih bukan, mau menganggap aku jahat? Silahkan!
"Bening sibuk sama kerjaan Bening, Binar juga mulai sibuk sama persiapan kuliahnya. jadi ya gitu.." Bening menunduk memasang wajah memelasnya. "kita gak sempet ke Bogor."
"Kan bisa telpon. Ini bukan jaman purba, kalian punya handpone kan?" Mama mulai berbicara dengan suara agak-agak sewot. Bibirnya mengerucut, mengisyaratkan sekali bahwa beliau sedang merasa kesal.
"Apa Mama perlu belikan handphone baru, supaya kalian bisa kabari Mama?"
"Eh, gak perlu Ma. Minggu lalu Bening baru ganti handphone kok. Nih, lihat." Bening meraih ponsel dari dalam saku dan menunjukannya kepada Mama, dia juga sempat meliriku sekilas hanya untuk memastikan wajah terkejutku.
Bening punya handphoe baru? Dan dia menyembunyikannya dariku? Oh, bagus ingatkan aku nanti untuk menjualnya ditukang loakan. Hp keluaran terbaru pula, mayan agak miring harganya.
"Ya terus kenapa gak pernah kasih kabar? Udah lupa ya mamanya masih hidup?"
"Ya ampun Mama! Kok bicaranya gitu." Bening terkejut ketika Mama melontarkan kalimat keramatnya,
sama. aku juga.
Ini khas mamaku sekali, kalau marah atau kecewa mama tidak pernah menghardik kami dengan suara toa atau tarik urat seperti ibu-ibu yang lain cukup dengan kalimat santainya yang sarkasme.
"Gak boleh bicara kayak gitu. Bukannya Mama pernah bilang itu sama aja menyalahi takdir." Bening mulai mengeluarkan kalimat sok bijaknya.
Mama tak memberi tanggapan. Tapi helaan nafas yang keluar dari mulutnya serta pejaman matanya yang berkedut jelas sekali menunjukan kalau Mamaku ini sedang menahan amarah.
Hening yang mengisi sampai menit kesekian cukup membuatku terusik, Kali ini Bening tidak mengampuniku lagi, dia melempar kode agar aku meneruskan dramanya bahkan dia sampai repot-repot mengancamku dengan jatah bulanan yang akan raib apabila aku tidak menurutiya.
Bahuku turun tanda menyerah. Dan mulai mencari ide agar sandiwara ini berlanjut tanpa mencurigakan.
"Iya Ma. Maafn kita ya. Kita mengaku salah karena gak sempet luangin waktu buat Mama. Kita juga sebenernya kangen kok sama Mama." Tambahku pada akhirnya.
Mama membuka mata, tepat saat itu sebutir cairan keluar dari pelupuk matanya.
Mama menangis? Oh, God! apa actingku kurang meyakinkan ya? Lagi juga kan sudah dibilang kalau aku tidak punya bakat acting. Bening sih!
"Bening, Binar...." katanya memanggil nama kami dengan suara yang membuatku langsung dilanda perasaan was-was.
"Kalian gak perlu melakukan ini kalau kalian gak bisa."
Kalimat itu Otomatis membuat keningku berkerut dalam. Gagal faham dengan apa yang Mama ucapkan. Jangan bertanya bagaimana reaksi Bening, si ratu drama itu juga kebingungan menafsirkannya.
"Mama tahu kalian sedang menghindari Mama kan? Kalian bukan gak ada waktu, tapi sengaja kan? Kalian berbohong sama Mama."
"Mama bicara apa sih? Gak mungkinlah kita menghindar dari Mama. Mama ada-ada aja deh." Bening tertawa mencoba mencairkan suasana tapi rupanya kali ini gagal, sebab Mama masih memasang wajah seriusnya.
"Pernikahannya masih 3 bulan lagi. Mama bisa batalin kalau kalian mau."
Aku terkejut bukan main ternyata pemikiran Mama sampai kesitu hanya karena sikapku dan Bening yang mengabaikannya belakangan ini. Apa ketidaksukaan kami memang kelihatan sejelas itu ya?
"Mama jangan aneh-aneh deh." Aku angkat bicara. Kali ini aku serius bukan melanjutkan drama yang tadi." Beritanya udah kesebar sejagat raya. Apa kata keluarga Om Adit kalau tiba-tiba Mama batalin pernikahnnya. Dan mereka tahu kalau kita penyebabnya. oh ya ampun Mama! jangan permainkan orang yang udah serius."
Aku mengusap wajahku gemas. Bagaimana ya cara bicara tanpa emosi didepan orangtua, duh aku paling sulit menyembunyikan rasa kesalku sekalipun didepan Mama.
Mama tersenyum disela wajah mendungnya. "Kalian dan Om Adit adalah pilihan. Dan Mama memilih kalian."
Akibat kalimatku yang blak-blakan tadi, aku mendapat satu cubitan ganas dari Bening. Duh, jangan tanyakan bagaimana rasanya! Cubitan Bening tuh niat banget pakai hati. Memang sih kecil tapi kuku panjangnya itu loh, wajib dikhawatirkan.
Dia berbisik kalau lagi-lagi aku salah bicara, dia juga mencibir karena aku tidak pandai mengatur emosi dengan baik. Aku diam saja sambil cemberut.
Diam juga bukan berarti mengiyakan, hanya sedang berusaha menahan diri agar aku tidak menjambak rambutnya sampai rontok untuk balas dendam. karena dia mencubitku sampai kulitku mengelupas. Jelas-jelas dia tahu kulitku sensitif.
"Mama gak harus memilih. Kita dan Om Adit, Mama bisa memilikinya."
Itu bukan suaraku, percayalah Aku orang yang tidak bisa berbicara Semanis itu sekalipuan hanya sekedar acting.
"Tapi mama gak mau kehilangan kalian. Kita bisa kembali kayak dulu, hidup bertiga tanpa ada yang menjauh."
"Gak kayak gitu caranya. Oke, kita ngaku kalau kita memang menghindari Mama. Tapi alesannya bukan karena kita gak suka atas pernikahan Mama. Kita cuma merasa perlu waktu buat beradaptasi sama semua ini. Kita udah dewasa Ma, punya pemikiran yang gak harus Mama tahu. Bening minta mama faham soal itu."
"Tapi..."
"Kalau mama fikir dengan batalin pernikahan Mama kita akan senang. Mama salah, kita justru akan hidup dalam lingkar rasa bersalah karena sudah merenggut kebahagiaan mama.”
"Ma, aku tahu bagaimana rasanya Mama menjalani hidup dengan status janda untuk kedua kalinya. Pasti menyakitkan. Sudah cukup Mama berada dalam fase itu sampai sejauh ini, Jadi sekarang giliran Mama mendapat bahagia Mama."
"Mama merasa egois kalau Mama berjuang untuk kebahagiaan Mama saja. Sementara kalian enggak."
"Mama gak egois. Kita bukan gak bahagia kok. Kita cuma perlu waktu. Mama hanya harus menunggu. Tunggu sampai kami merasa siap. Jadi... Mama janji sama Bening kalau Mama gak akan ulang kalimat itu."
"Tapi... "
"Janji kalau mulai sekarang Mama harus berjuang untuk kebahagiaan Mama."
Aku masih memperhatikan keduanya dari tempatku duduk. seperti penonton drama india yang jalan ceritanya sudah banyak disiarkan di tv nasional. Sesekali juga menggelengkan kepala, menatap Bening antara takjub sekaligus ingin muntah. Benar-benar ya Bening ini actingnya luar biasa sekali.
Aku spontan bergidik jijik membayangkan kalau akulah yang menggantikan posisi Bening.Aku berani meyakini kalau mungkin dunia ini akan kacau sekacau-kacaunya.
"Bening... Binar." Mama tersenyum merekah, kemudian merentangkan kedua lengannya yang langsung disambut olehku dan Bening dengan pelukan. Kami berpelukan erat sambil menangis haru seperti teletubis yang baru saja kehilangan anggotanya.
"Mama sayang sama kalian."
"Bening juga sayang Mama."
Aku berdehem sebentar. "Aku juga."
Dari posisiku saat ini aku bisa melihat Bening tersenyum, lalu kepalanya terangguk sewaktu matanya bertemu dengan mataku Seolah hal yang dilakukannya sebuah isyarat bahwa sekarang sudah saatnya mengikhlaskan apa yang seharusnya harus terjadi.
"Ya ampun... manisnya-manisnya."
Pelukan kami seketika terberai mendengar suara seseorang. Perhatian kami langsung terpusat kearah pintu tepat dimana suara itu berasal. Begitu kami menoleh, yang kami dapatkan yaitu sosok Tante Mutia berdiri disana.
"Mutia. Kamu datang diwaktu yang salah. Rusak suasananya aja!" Mama menggerutu, ekspresi wajahnya sudah berubah ceria lagi.
Loh, kemana wajah mendungnya?
Alih-alih tersinggung, Tante Mutia malah terkekeh, menghampiri kami dan melakukan cipika cipiki khas kaum ibu-ibu dengan Mama.
"Apa kabar kamu? Lama banget ya kita gak ketemu." Ujar Tante Mutia Kelihatan antusias sekali bertemu dengan Mama. Ya, wajar sih. Namanya juga ketemu teman lama.
"Seperti yang kamu lihat tadi, awalnya kupikir buruk." Mama melirik aku dan Bening sekilas sebelum tersenyum." tapi sepertinya aku salah faham."
"Ya, kamu memang payah dalam menjalani peranmu sebagai ibu. Gak peka sama anak sendiri." Cibirnya sarkas.
Aku ingin mengiyakan, tapi tidak tega dengan Mama.
"Aku tahu, itu sebabnya aku merasa harus belajar memahami anak-anaku lebih jauh lagi mulai saat ini."
"Dari dulu kamu memang sulit memahami perasaan orang lain. Tak terkecuali anakmu sendiri."
Mama mendengus pura-pura tak terima."Dasar ya kamu ini."
"Kenapa? Aku benar kan?"
"Iya tapi cukup sampai tadi saja, setelah ini aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak- anakku." Mama berucap dengan percaya dirinya.
Sementara Tante Mutia mencibir dan mengatakan kalau ia tidak yakin dan akan menunggu sampai Mama membuktikannya.
Kemudian mereka mulai bernostalgia, mengenang masa-masa muda mereka dulu yang selalu kompak dan tidak terpisahkan sampai suatu ketika Mama menghilang karena suatu peristiwa, lalu berlanjut menggosipkan anak-anak Tante Mutia yang kata Mama tampan- tampan lalu berakhir menggosipkan aku dan Bening.
"Tidak kusangka anak-anakmu tumbuh menjadi gadis yang manis dan pintar ya?"
'Tentu, aku memang mewariskan yang baik-baik untuk anak-anakku."
"Yayaya." Tante Mutia mendecak. Kelihatan ingin menyangkal tapi fakta berbicara lain" Meski berat aku perlu mengakuinya."
"Bi, bahasan ema-ema kabur yuk!" Bening yang sedari tadi sibuk dengan ponsel berbisik kepdaku.
Aku masih dalam mode ngambek berat dan tidak berencana damai dengannya dalam waktu dekat, saat dia mengajakku kedapur untuk membantunya menyiapkan sarapan aku diam saja pura-pura tidak dengar.
"Binar.. bantu kakaknya sana. Kamu kan paling enak kalo bikin sarapan." Mama berujar begitu menyadari kalau aku duduk ogah-ogahan disofa sementara Bening mulai bereksperimen didapur.
Ucapan Mama itu seperti perintah. Gak bisa dibantah jadi ya, meski berat aku tetap beranjak menyusul Bening dan meninggalkan Mama dan tante Mutia bernostalgia.
"Mutia jangan bahas itu didepan anak- anakku. Aku tidak mau mereka tahu soal lelaki brengsek itu."
Samar aku mendengar suara Mama yang berubah serius. Jiwa penasaranku yang sudah lama terpendam mendadak bangkit kembali. Aku bergerak lambat dan bersembunyi dibalik sekat, tadinya aku mau kembali untuk mengambil karet rambutku yang tertinggal di sofa, tapi urung mendapati interaksi Mama dan Tante Mutia yang serius.
Dibalik pilar aku menyembulkan kepala, memastikan bahwa posisiku tidak dijangkau oleh jarak pandang keduanya.
"Tapi mereka harus tahu Wulan, mereka punya hak. Bening juga kelihatan sudah dewasa dia akan segera membutuhkan Rai."
"Dengar! Anakku tidak membutuhkannya! Mereka sudah cukup memiliki aku!"
"Tapi aku merasa bersalah melihat anak-anak kamu. Aku turut andil atas apa yang terjadi sama kamu dan anak- anakmu. Seharusnya kalian hidup bahagia."
"Aku bersyukur kedua anakku hebat- hebat, mereka tidak membutuhkan lelaki brengsek untuk bisa hidup bahagia."
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi menurut jiwa kebatinanku mengatakan kalau ini pembicaraan yang rahasia dan bersifat privasi sebab Mama merahasiakannya dariku dan Bening. Aku harus kembali menyimak baik-baik sebelum mereka mengganti topik lagi.
Puk!
Aku menutup mulut dengan tangan secepatnya ketika merasakan tepukan dipundaku. Sial! Hampir saja aku berteriak.
Ketika berbalik badan aku menemukan Bening berdiri disana dengan alisnya yang terangkat.
Anak ini ya! Betul-betul minta dimutilasi.
“Nguping ya lo?" Katanya menuduhku." Gak boleh tau ngupingin orang tua, dosa hukumnya."
"Paan sih! Sok tau banget lo!" Kataku ketus." Orang gue lagi liatain itu" mataku bergerak kesekeliling. Mencari objek yang masuk akal untuk dijadikan alasan.
Bening menyenggol lenganku."Itu apa.. alesan mulu bisanya."
"Noh, yang lagi jogging." Aku menunjuk jendela yang berhadapan dengan taman. Tempat dimana taman itu biasa dipakai olahraga oleh orang-orang." Iya. tuh lihat pada bening-bening cowoknya."
Kedua mata Bening menyipit selepas melihat kejendela." Lo liatin si Raka? Naksir jangan-jangan nih? Cieeee....." Bening menyenggol lenganku lagi menggoda.
Respon pertamaku melotot sempurna, Kepalaku langsung menoleh kejendela, dan Bening benar. Disana hanya ada Raka yang sedang olah raga. Tidak ada siapapun lagi.
Waduuuhh! Senjata makan tuan ini namanya. Jangan sampai Bening bicara macam-macam dan kedengaran Tante Mutia. Mau ditaruh dimana ini muka.
"Ciiee Binar lagi puber." Lantas Bening merangkul bahuku dengan santai dan mencolek-colek daguku hinggak aku kesal.
"Paan sih berisik! Awas lo nyablak didepan tante Mutia."
Aku mengancamnya namun tanpa diduga detik berikutnya yang terjadi adalah.
"Tante... Binar naksir loh sama Raka. Dijodohin mau katanya!" Bening berteriak lantang sekali. Suaranya yang toa itu membuatku khawatir terdengar Tante Mutia.
"Oh ya? Sipp nanti bantu tante atur ya Bening."
Glek!
Dugaanku terbukti tidak lama setelahnya. Aku memberengut menahan umpatan sementara Bening tertawa terpingkal sampai memegang perutnya.
Bagus sekali anak gadis ini ya. Huh, kenapa Tuhan menciptakannya sebagai manusia sih, padahal Iblis lebih mendominasi sifatnya.