
Aku tak menyangka kalau lelaki tadi benar-benar mengantarkanku sampai rumah dengan selamat. Bahkan ketika turunpun dia sempat menanyakan apakah badaanku sakit atau tidak karena berjam-jam tidur dikursi dengan posisi yang tidak nyaman.
Dia juga menawariku minyak angin ketika aku bersendawa dan yang lebih membuatku yakin jika dia itu malaikat adalah ketika dia memberikan jaket hoodynya kepadaku tadi. Katanya pakaianku terlalu terbuka rentan terkena angin malam, dia juga menyarankan sehabis ini aku harus minum air hangat sebelum tidur.
Aku turun dari bus setelah mengucapkan terimakasih banyak kepadanya berulang-ulang dan menitipkan salam untuk sang supir. Tadi aku berniat melepas jaket hoody ditubuhku tapi lelaki itu menahannya dan mengatakan 'pakai saja'. Sungguh, aku dibuat tidak bisa berkata-kara olehnya. tidak tahu balasan apa yang layak untuknya.
"YA AMPUN SUNSHINE! AKHIRNYA LO PULANG JUGA!" lengkingan itulah yang pertama kali menyapaku begitu pintu rumah terbuka. Tidak perlu bertanya suara itu milik siapa?
Semesta sudah tahu kalau Bening dianugrahi suara cetar oleh sipenciptanya. Bening menyergapku, memelukku dengan erat dan mengucap syukur karena aku dipulangkan dalam keadaan utuh.
Ck!ck! Dia ini ya? Tidak sadarkah kalau aku menderita karenanya.
"Binar, ih lo bikin gue khawatir sumpah!" Katanya sambil mengusap- ngusap rambutku tapi aku tak mengindahkannya, aku mendengus jengkel, melepas pelukannya dan berlalu pergi.
"Eh, Bibi! Kok maen nyelonong aja."
Aku pura-pura tidak mendengar, asik meminum soda yang tadi kuambil dari dalam kulkas. Baru saja aku minum 2 tenggak, Bening merampasnya dan menjauhkan botol sodaku sejauh mungkin. Hal itu membuatku tingkat kejengkelanku bertambah saja.
"Lo kan abis kehujanan, gak bagus minum soda. Nih, minum hot lemon tea biar badan lo angetan." Katanya sembari menyerahkan secangkir hot lemon tea kepadaku. Oh, jangan lupakan juga senyumnya. Aku tahu dia sedang merayuku supaya tidak marah- marah.
Awalnya aku berniat untuk membuangnya ke wastafel tapi badanku menggigil lagi dan kupikir tidak masalah kalau aku meminumnya. Biar, lupakan soal gengsi saat ini.
Hening menyapa ruang makan ini, aku menikmati minumanku dalam diam, menganggap gadis disampingku fatamorgana meski suaranya ambyar kemana-mana. Terserah dia mau bicara sampai berbusa sekalipun aku tidak mau menanggapinya.
"Bibi lo marah ya sama gue." Bening merajuk ketika dia meminta maaf tapi aku malah membuang muka.
Sudah tau marah malah bertanya. Memang ya manusia tidak tahu diri itu ternyata ada.
Tanpa perlu menunggu jawabanku Bening berceloteh lagi, menjelakan kenapa dia meninggalkanku dipesta tadi dan mengenai kenapa tak mengangkat telponku dia berkata kalau dipesta tadi dia betemu dengan gebetan yang sudah lama dincarnya. Dia terpaksa mengabaikan telponku untuk mengejar lelaki itu supaya bisa bertukar nomor telpon. Lihat tuhan, jahat sekali mahluk ciptaanmu ini.
Aku murka mendengarnya.
"Jadi disaat gue mati-matian nahan malu ngadepin si brengsek Bayu, lo malah mati-matiam ngejar gebetan lo?!"
Bening mengerjap. Diam sebentar,mungkin terkejut aku membentaknya.
"Bi." Cicitnya pelan.
"Lo tahu gak sih gue tadi diturunin ojol ditengah jalan, dan gue gak tahu dimana. gue gak bisa apa-apa karena hp gue gak berguna. Lo tahu gak! gue nunggu bus berapa jam dan sekalinya dapet gue malah salah masuk bus yang isinya lelaki semua! Tau gak gimana takutnya gue? Ha?!"
"Bi jangan marah please. Gue tau salah, gue minta maaf." Bening mendekatiku, merangkul pundaku dengan mesra seolah-olah marahku hanya bercanda.
"Sebagai permintaan maaf gue, gue bakal tepatin janji gue untuk ngasih lo voucher gratis selama seminggu."
"Lo pikir nyawa gue seharga makan seminggu apa?!"
"Oke, dua minggu." Gadis itu mengerjapkan matanya merayuku.
2 minggu ? Hih! dikira aku akan tergoda apa? masa iya harga diriku dibayar hanya untuk 2 minggu.
"Lo pikir gue semurahan itu?!"
"3 minggu deh."
3 minggu ya? Hhmmm menarik juga. Eh, Tapi sebentar...
"3 minggu menurut lo cukup membayar nyawa gue seandainya tadi gue kenapa-napa?!"
Bening berdecak. Antara gemas sekaligus kesal."Yaudah sebulan."
Dan mataku langsung berbinar. Kemudian berdehem." fiks gue maafin."
Bening langsung menoyor kepalaku. "Ckckck! Dasar mata duitan lo!"
"Bodo! Mana duitnya?!"
Bening melemparkan kartu debit miliknya yang mulai sekarang sepenuhnya menjadi milikku. Kemudian melengos pergi, wajahnya cemberut.
Dia marah. Lah atas dasar apa memangnya? Karena aku memorotinya? Tapi kan dia yang menawarkan, aku hanya mengiyakan saja.
Aku tidak bersalah kan?
☆☆☆
Aku dikejutkan oleh penampakan Tante Mutia yang berdiri didepan pintu. Wajar sih sebenarnya mengingat rumah kami hanya berjarak 10 langkah saja, tapi bagiku kelihatan aneh karena Tante Mutia datangnya bersama anak sulungnya dalam keadaan rapi dipagi buta begini.
Lihat, bahkan langitpun masih kelihatan gelapnya.
"Selamat pagi sayang, sudah bangunkah?"
Aku mengerjap, masih berusaha mengumpulkan nyawaku yang tertinggal dikasur. Sampai 5 menit kemudian nyawaku masih melayang dimana-mana dan aku malah menutup mata sambil berdiri dengan kepala bersandar dipintu.
"Kayaknya baru bangun banget ya. Tante ganggu dong?"
"Eh!" Aku tersentak merasakan sentuhan dipundaku. Lembut, membuatku semakin nyaman untuk melanjutkan tidur. Tapi aku segera sadar mengingat ada Raka disini. Setidaknya aku harus menjaga image didepan laki-laki ini kalau tidak mau disebut perawan kebluk.
"Eh, gak kok Tan. Udah bangun dari tadi." Aku nyengir lebar, semoga saja mulutku masih seharum strawberry seperti semalam saat aku selesai menggosok gigi. Kemudian aku mempersilahkan keduanya masuk.
"Mau minum apa Tan? Tapi dirumah cuma ada Teh." Aku bertanya tapi juga tidak memberi pilihan.
Memang kalau habis bangun tidur begini, otaknya masih ketinggalan dialam mimpi.
"Gak usah repot-repot. Biar Tante yang bikin sendiri kalau mau."
"Emmm Raka?" Aku menawari laki-laki yang sedang asyik bermain ponsel itu tapi hanya sekedar basa basi. Kuharap sih dia tidak mau. Aku malas pagi buta begini sudah obrak abrik dapur.
"Gak usah."
Oh, syukurlah. Aku bernafas lega tanpa sadar.
"Binar, kamu masih ngantuk ya Sayang?"
"Ha? Emm...enggak Tan. Aku masih kaget aja ini. Iya gitu Tan." Aku nyengir mencoba menutupi mulutku yang hampir akan menguap lagi.
"Kalo kamu masih ngantuk gak papa kok, nanti siang aja kita jalannya."
"Emang kita mau kemana Tan?"
"Tante mau ngajak jalan-jalan. Ke mallMau ya."
Pagi-pagi begini? Ya Tuhan!!! Kupikir ada apa?
"Ha? Mall." Aku menganga karena sadar sesuatu.
Mall ya? Tidak! Tidak! Aku jelas akan menolak ajakan itu. Mall bukan tempat yang cocok untukku. Aku tidak suka keramaian yang tidak jelas. Waktuku hanya akan terbuang sia-sia disana. Aku memijit pelipis, memutar otak bagaimana caranya agar Tante Mutia membatalkan rencananya dan kalau bisa segera pergi dari sini.
"Emm, Tan kayaknya aku gak bisa ikut. Masih ngantuk ternyata." Aku berpura- pura menguap padahal sebenarnya rasa kantukku sudah hilang semenjak mendengar ajakan Tante Mutia tadi.
"Yasudah, kamu tidur dulu aja sana. Tante tungguin sampe kamu bangun."
"Aku tidurnya lama loh Tan. Nanti Mallnya keburu Rame gimana."
"Gak Papa, Tante seneng malah kalo Rame. Gak sepi kayak kuburan."
'Tapi aku yang gak suka rame-rame!!" Balasku tapi dalam hati.
"Yasudah sana kalau mau terusin tidurnya. Tante tunggu disini ya."
"Ma, biar aku aja yang temenin Mama."
Suara Raka terdengar setelah sejak tadi asyik dengan dunianya. Aku melonjak dari sofa dan mengangguk dengan semangat.
"Iya Tan, ide bagus itu."
Tapi sepertinya aku salah bicara, karena sekarang Baik Tante Mutia maupun Raka sama-sama menatapku.
"Kamu gak mau ya jalan sama Tante. Kamu malu?"
Heh! Kok jadi gini sih? Duuhh salah ngomong ya? Memang ya yang paling susah itu menghadapi jalan pikiran orangtua.
"Eh, enggak gitu Tan maksud akutu... emmm.."
Duh, apa ya? Apa ya?
Aku kehabisan kata-kata. Wajah Tante Mutia kelihatan murung, raut sedih itu kentara sekali diwajah cantiknya yang tanpa make up. Kan aku jadi kasihan. Apa aku harus iba?
"Yaudah tunggu lima menit ya. Aku siap-siap dulu."
☆☆☆☆
"Lo serius mau pergi dengan baju kayak gitu?" Raka berkomentar begitu melihat aku menuruni tangga.
Aku mengamati penampilanku sekali lagi. Celana jeans dan kaos kebesaran, dipadukan sepatu keets biasa membuatku kelihatan santai sekali. Aku rasa penampilanku normal-normal saja.
Ya iya sih, memang berbanding terbalik dengan penampilan Tante Mutia yang menggunakan Dress selutut dan heels 8 Cm serta tas ternamanya yang menurutku kelihatan mencolok. Tapi, ya masa bodohlah, toh aku memang tak punya koleksi baju dengan merekternama.
"Emang kenapa?"
"Lo mau olahraga apa nge Mall?"Tanyanya dingin.
"Ada masalah ya? Gue nyaman kayak begini kok."
Laki-laki itu siap membuka mulut, mungkin mau berkomentar lebih panjang lagi. Tapi tertahan begitu tante Mutia berucap duluan.
"Raka udah gak Papa. Nanti aja di mall gantinya sekalian belanja baju baru. Yuk sayang, keburu siang nanti."
Sebenarnya aku ingin bertanya lagi, kenapa Tante Mutia mendadak mengajak ke Mall. Dan mengapa juga harus bersamaku? Tapi aku harus bersabar dulu sampai setidaknya kamisudah berada di mobil.
Aku sedikit gondok sewaktu Tante Mutia memaksaku duduk didepan bersama Raka. Sementara Tante Mutia ngotot ingin duduk dibelakang sendiri dengan alasan tidak mau berdempet- dempetan ditempat yang sempit.
Padalah tempat duduknya luas, dipakai bertiga saja cukup apalagi berdua. Memang sih harus yang kurus-kurus beda ceritanya kalau orangnya macam Tante Mutia yang badannya... begitulah.
Iya aku tahu kok, dia risih duduk dengan aku yang penampilannya berantakan ini. Salahkan saja Mamanya yang keras kepala. aku juga tidak mau kalau boleh jujur.
"Raka kamu boleh pulang dulu, nanti jemput ya kalo kami selesai belanjanya."
"Hmm."
Laki-laki itu menurut, tidak bertanya lebih banyak, Perintah Tente Mutia itu seolah keharusan yang tidak bisa ditolak atau diganggu gugat oleh siapapun. Aku bisa melihat dari cara keduanya. Dari yang suka memerintah dan yang satulagi baik-baik saja ketika diperintah.
Kami keluar dari mobil dan memasuki Mall terbesar dipusat kota yang ternyata masih belum buka.
Iya masih tutup. Say hello, ini masih jam 8 shay! Jam 8! Catat! Mall mana coba yang buka dijam segini? Tante Mutia memang ada-ada saja.
Alhasil, yang kami lakukan nongkrong cantik di kafe-kafe kecil. Kami menjadi pusat perhatian ketika masuk, banyak yang menatap kami dengan tatapan berbeda-beda. Dari ketika mereka menilik penampilan Tante Mutia lalu selanjutnya kepadaku.
Entah, apa yang mereka fikirkan. Mungkin menebak gadis yang diajak oleh wanita cantik ini anaknya atau pembantunya.
2 jam lamanya kami duduk santai di kafe bertuliskan Senada irama, mall kelihatan sudah ramai dan Tante Mutia segera menyeretku keluar dari kafe kecil ini.
Toko yang pertama kami kunjungi adalah toko peralatan alat tulis. Aku mengerut dahi sewaktu Tante Mutia memilih semua peralatan sekolah yang temanya girly.
"Menurut kamu bagusan yang Mana sayang?" Tante Mutia menunjukan dua buah Tas ransel dengan bentuk yang sama namun warna yang berbeda. Satunya pink dan satunya biru pastel.
Aku menatapnya sambil berfikir. Ini untuk Aga atau Raka ya? Aku tidak akan percaya kalau Raka atau Aga senurut itu sampai mau dibelikan perlengkapan sekolah yang seharusnya dipakai anak perempuan.
"Bagus kok dua-duanya Tan."
"Kamu lebih suka yang mana? Apa mau beli dua-duanya."
"Boleh Tan. Biar adil. Jadi Raka sama Aga gak berantem." Usulku yang justru membuat Tante Mutia tertawa.
"Ini bukan buat mereka. Masa iya Tante beliin tas cewek. Aneh-aneh aja kamu."
Aku menganga. Jadi bukan untuk mereka ya?
"Lah, terus?"
"Ini buat kamu. Kan besok kamu udah mulai kuliah. Tante mau beli semua keperluan kamu. Ya anggap aja sebagai hadiah karena Tante belum pernah kasih apa-apa selama bertahun-tahun."
"Tapi kan aku lagi gak ulang tahun Tante. Masih lama juga."
"Udah gak papa. Terima aja, Tante memang sudah merencanakan ini kalau kita ketemu."
"Gak perlu repot Tante. Aku udah beli semuanya kok."
"Gak ah! Gak repot kok, Tante malah seneng kalo kamu mau terima. Jangan ditolak ya, Binar."
Tante Mutia tersenyum tapi memasang wajah memelas yang memaksa. Aku jadi bingung bagaimana menolaknya.
"Yasudah tapi ini aja ya. Udah cukup kok."
"Oke." Wanita ini tersenyum senang dan dengan riangnya mulai memilih- milih. Padahal belum lima menit aku bilang kalau aku hanya akan menerima satu hadiah saja.
Ah, aku harus menolaknya dengan cara apalagi ini?
"Ayo, pilih Binar. Kok diam aja sih, mau yang mana. Kamu bebas ambil apa aja."
Aku hanya mengambil satu dari semua tawaran yang Tante Mutia tawarkan. Tapi ketika sampai dimeja kasir barang- barang itu justru sudah dipacking semua. Tentu saja aku terkejut bukan kepalang saat pegawai kasir menyebutkan total nominal yang harus dibayar.
"Tante!! Jangan!!" Aku tidak kuasa untuk tidak berteriak sewaktu Tante Mutia mengeluarkan kartu kreditnya dengan tenang-tenang saja Berbanding terbalik dengan aku yang syok luar biasa padahal aku tidak merugi sama sekali.
"Apa sih kamu teriak-teriak. Malu ah diliatin orang."
Aku melihat kesekeliling, memang iya sih sekarang kami jadi pusat perhatian.
"Makasih ya Mbak." Ujar Tante Mutia setelah pegawai kasir tadi sukses melakukan transaksinya.
Rupanya aku sudah kecolongan, semua belanjaan itu sudah turun dari meja kasir dan kartu kredit Tante Mutia pun sudah berpindah tangan. Bukannyasenang, aku malah menatap nanar barang-barang itu.
Oh ya ampun! Uang sebesar 12 juta itu sudah hangus, berganti dengan barang- barang yang nantinya entah akan kupakai atau tidak.
Aku menunduk termenung dan tidak sempat menyadari saat Tante Mutia memintaku menemaninya ke salon.
"Kok jadi murung, kenapa sayang? nKamu gak suka?"
"Bukan gitu. Kalo Mama tahu aku pasti diomelin."
"Sudah jangan khawatir. Tante gak akan minta tagihan ke Mama kamu kok. Kamu diam-diam aja."
"Kalo Mama ke rumah pasti bakal liat barang-barangnya Tante."
"Bilang aja hadiah dari Tante."
Itu malah jauh lebih buruk. Aku menghela nafas kasar.
"Sudah ya, Tante mau nyalon dulu. Kamu juga siap-siap sana."
Hah! Siap-siap untuk apa? Aku masih berusaha berfikir, tapi tidak lama kemudian datang seorang wanita cantik mengenakan seragam salon, dia menyapaku dengan senyum ramahnya.
"Hallo, selamat siang. Mari saya bantu ya mba."
"Ha?"
Tanpa menunggu jawabanku pegawai wanita ini menggiringku kesebuah kamar perawatan kulit. Menyuruhku berbaring, tapi menurutku ini bukan sekedar perintah melainkan pemaksaan sebab aku sudah menolak tapi pegawai wanita ini tak mendengarnya. Apa dia tuli? Ah, kurasa tidak. Aku ingin marah tapi pegawai dia mengatakan dengan tampang memelasnya.
"Mbak tolong, ikuti saja. Kalau tidak saya bisa dipecat karena tidak memberi pelayanan prima kepada pelanggan."
Hal itu sukses membuatku iba. Ini pasti ulah Tante Mutia.
Aku tidak memprotes lagi dan menuruti intruksinya untuk rebahan sementara pegawai wanita ini mulai bekerja bersama dua wanita lainnya.
Tapi aku tidak bisa lagi tinggal diam ketika pegawai ini meminta untuk mengganti pakaianku dengan Dress selutut berwarna putih.
"Apa-apaan ini?!" Aku menolak dengan nada tinggi. Kalau orang pintar yang berhadapan denganku pasti peka kalau aku sedang marah.
Pegawai wanita ini menunduk, memohon secara halus." Saya mohon Mbak, semua pelayanan ini sudah dibayar mahal. Gaji saya bisa-bisa dipotong untuk mengganti rugi apabila Mbak menolak intruksi ini."
Alasan itu lagi? Ini pasti ulah Tante Mutia. Aku harus menemuinya sekarang dan mengatakan jangan membuat orang merasa terancam dengan kalimatnya. Tapi Tante Mutia malah menertawakan aku, dan menyuruhku menurut saja apabila aku kasihan pada pegawai itu.
"Ya ampun kamu ini. Tinggal dipake aja gaunnya. Apa susahnya sih?"
"Aku gak bisa pakai Dress Tante. Rasanya gak nyaman. Lagian harganya juga pasti mahal."
"Binar Tante gak suka ya kamu bahas-bahas soal harga!" Tante Mutia berbicara dengan nada tinggi. Aku tercengang sedikit kaget.
Dari sejak pertama kali aku melihat Tante Mutia, banyak yang aku kagumi dari wanita berkepala empat ini. Sikapnya yang ramah, pembawaannya yang lembut serta bicaranya yang halus. Lalu untuk pertama kalinya wanita paruh baya ini berbicara dengan nada tinggi kepadaku. Apa sikapku sudah keterlaluan ya?
"Binar maaf." Tante Mutia meraih tanganku sewaktu aku masih dalam keadaan tercengang. dapat kurasakan tangannya gemeteran, dan wajahanya murung. kenapa sekarang malah Tante Mutia yang kelihatan merasa bersalah?
"Maksud Tante bukan gitu. Tante cuma gak suka kamu bahas-bahas soal uang. Itu menyinggung Tante, seolah-olah apa yang Tante belikan ini harus kamu bayar nantinya. Padahal Tante melakukan ini untuk menyenangkan hati Tante karena dulu Tante berharap punya anak perempuan dan bisa melakukan hal seperti ini setiap hari. Tante mohon, kamu mengerti ya? Dan jangan marah."
Ohh begitu rupanya. Pantas saja.
"Aku yang minta maaf Tante, aku yang salah. Oke, Binar ganti baju dulu ya."
"Ka-kamu gak marah kan, sayang?"
Aku tersenyum sambil menahan genangan yang mendesak dipelupuk mataku." Gak kok Tan. Aku yang harusnya minta maaf karena gak bisa ngertiin Tante."
"Kamu gak salah. Tante seneng kalo sekarang kamu sudah mengerti. Yasudah ganti baju dulu, habis ini kita pulang."
Aku mengangguk sambil berlalu keruang ganti. Sekarang aku ingin menangis, bukan karena kesal atau marah tapi karena terharu. Kok bisa sih, orang asing seperti Tante Mutia sebaik itu terhadapku? Kebaikan apa coba yang pernah kulakukan sampai tuhan mengirimkan malaikat seperti Tante Mutia. Bukan bermaksud membandingkan, tapi kenyataanya Mamaku saja tidak pernah memperlakukanku selembut Tante Mutia.
Kenapa mendadak aku merasa khawatir kalau suatu saat aku lebih menyayangi Tante Mutia ketimbang Mama kandungku sendiri. Tidak bermaksud jahat, hanya saja aku punya banyak alasan kenapa sampai berpikir kesitu.
Selesai berganti, aku kembali ketempat dimana Tante Mutia menunggu. Wanita itu tersenyum cerah melihat penampilanku yang berubah drastic dari penampilanku yang sebelumnyseperti gembel jalanan.
"Wawww!!! Anak gadis siapa ini? Cantik sekali." Ujarnya.
Aku tersipu mendengarnya. Ya tuhan padahal yang memujiku ibu-ibu bukan lelaki tampan.
"Makasih banyak Tante."
"Sama-sama sayang."
"Dressnya cocok banget dibadan kamu. Pokoknya kamu cantik banget deh!" Tante Mutia terus saja memujiku tiada henti.
Kemudian kami mulai berjalan keluar, sepanjang jalan, banyak pasang mata menyorot kearahku dengan pandangan terkagum-kagum.
Aku malah gugup karena tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Sementara Tante Mutia yang berjalan disebelahku kelihatan bangga sekali seolah ingin menunjukan pada dunia bahwa iniloh anakku. Cantik kan?
"Coba saja kalau Raka lihat."
Aku menoleh mendengar kalimat Tante Mutia. Apa hubungannya dengan Raka memangnya?
"Pasti dia juga akan terpesona. Gak akan bisa mengalihkan perhatian dari kamu. Dia pasti akan mati kutu! Ah, Tante jadi gak sabar liatnya."
Keningku berkerut dalam sekali. Sekalipun aku secantik apa yang orang lain pikirkan, sungguh ini semua tidak ada kaitannya dengan Raka.
Tante Mutia mencolek daguku dan mengedipkan Mata." Kamu percaya gak sama Tante."
Enggak! Ujarku. tapi hanya sanggup kuucapkan dalam hati.
Aku tidak sejahat itu sampai tega menghancurkan imaginasi wanita sebaik Tante Mutia, sehingga yang bisa aku lakukan hanya tersenyum sambil menaruh harapan kalau khayalan saja.
Tbc