Nothing Impossible

Nothing Impossible
Part 2



Kakiku tertahan di sebuah pekarangan rumah bercat hijau. Rumah tua yang kini kelihatan unik berkat tangan-tangan kreatif yang mengubahnya menjadi gaya klasik.


Mataku melirik kesekitar, aku masih ingat betul, dulu aku dan Bening dibesarkan disini sampai usiaku menginjak 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Kemudian karena ada suatu konflik, nenekku memindahkanku dan Bening ke Bandung. Kampung halaman beliau tepatnya.


“ Binar cepet masuk! Lama banget sih!”


Aku mengerjap mendapati teriakan Bening yang ternyata sudah berada di dalam rumah, aku berdecak tak habis fikir. Tadi saja berlagak mellow, sekarang sikapnya sudah seperti singa betina, ganas!


Aku berjalan masuk dengan langkah berat, dapat kulihat Bening duduk berselonjor di salah satu sofa yang umurnya tidak bisa aku tebak. Gadis itu melupakan fakta bahwa rumah yang akan kami huni ini, rumah yang sudah lama kosong. Aku sendiri sudah bergidik ngeri sejak tadi. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusanku sebelumnya.


Aku berdiri di hadapn Bening, masih meliarkan pandangan kesekitar ruangan dengan penasaran. Mengabaikan teriakan Bening yang berteriak memitaku bergeser, karena posisiku menghalangi kegiatannya yang sedang mengotak-atik remot TV. Dalam hati aku mendecih melihatnya, TV tua mana bisa menyala?!


Bening berdecak melihatnya.” Elah, ini anak duduk kek!”


Mendengar nadanya yang sudah tidak bersahabat, aku medaratkan bokong disampingnya dengan kasar, yang langsung mendapat pelototan plus umpatan kasar karena sebagian tubuh Bening aku duduki.


Sengaja memang! aku terkikik dalam hati. Rasakan itu!dasar nenek lampir!


“ Bening....” aku memanggilnya sok misterius.


“Hmmmm....” jawaban Bening berupa deheman saja karena mulai fokus pada acara TV yang menyita perhatiannya.


Ya.... ini ajaib! TV tua itu ternyata bisa menyala. Apa mungkn ini ulah sihir Tinkerbell ya? Eh, memang Tinkerbell betulan ada di dunia nyata?


“Ning jawab, kek!” kesal karena di abaikan, aku mengguncang bahunya dengan kasar, padahal aku mau bicara serius padanya.


“ish, paan sih?!”


“ Lo serius mau tingal disini?”


Bening mengangguk yakin sekali “ off course”


“ lo yakin? Gak ada niatan ngekost gitu? Ih, serem bnaget rumahnya” aku bergidik melihat kelantai 2, dimana disana salah satu kamar akan aku temapti nantinya.


Bagaimana ya, menjelaskannya. Ini rumah tua dan yang mengisinya hanya aku dan Bening. Jadwal pekerjaan Bening yang tidak teratur mengharuskan aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Siang ataupun malam.


Huh! Belum apa-apa saja aku sudah berfikir yang tidak-tidak.


Bening menatapku sangsi. “ Kenapa lo? Mulai ragu lagi? Labil banget sih,nih bocah!” Decaknya kemudian.


“ siapa bilang? gak tuh!” aku tersinggung mendengar nadanya yang penuh cibiran.


“ terus kenapa?”


“Cuma belum yakin aja.”


“sama aja dungu! Udah balik alagi aja sana ke Bogor. Dasar anak Mama!”


Aku langsung melotot galak padanya. Apa tadi dia bilang?! Aku anak mama katanya?! Kalau begitu aku ingin bertanya, yang biasanya pulang sekolah ditungguin dirumah siapa? Bening! Yang biasanya kalau makan dbuatin makaann favoritnya siapa? Bening! Yang biasnya kalau tidur diingetin baca do’a dulu siapa? Bening! Dan barusna dia bilang kalau aku yang anak Mama?! Dasar manusia tidak tahu dir!


Kesal, aku melempar bantal sofa kearahnya yang bagusnya mengenai wajah mulus  Bening. Hal itu membuatnya murka dan mengupatiku dengan sumpah serapah.


“ Kurang ajar ya lo!”


Aku melengos pergi menuju lantai 2, membuka salah satu pintu yang semula sudah diberi label “ Binar, its Room”


Dikamar, aku langsung merebahkan diri diatas ranjang. Kamar ini tak seluas kamarku sebelumya. Ranjangnya tak seempuk ranjangku sebelumnya, furniturnya berbeda dengan barang yang aku punya sebelumnya. Aku harap bisa beradaptasi dengan keadaan baru ini secepatnya. Aku menaruh banyak harapan disini, semoga dengan perubahan ini hidupkupun akan berubah dengan sendirinya.


Semoga.


>>>>>>>>>>>>


Aku terperanjat dari tidurku dengan nafas tersengal, tanganku reflek memijit pelipisku yang terserang pening luar biasa, tadi aku bermimpi buruk, ditambah suara ketukan pintu yang suaranya serupa gebrakan membuatku terbangun dalam keadaann terkejut.


Biar aku tebak, ini pasti ulah Bening! Anak itu kelewatan sekali. Awas saja kalau kedatangannya hanya untuk menanyakan lipstik merah maroonnya yang dicurigai aku sembunyikan. Lihat saja, akan aku bakar semua alat make-upnya yang harganya selangit itu! Biar saja terjadi prang ketiga sekalipun, terkadang tingkat menyebalkan Bening tidak tanggung-tanggung.


“ lo apa-apaan sih?!” semprotku begitu pintu terbuka lebar. Namun nukan Bening yang kudapati, namun sosok lelaki yang membuatku bergeming langsung di tempat.


Aku salah sangka, ternyata dalangnya bukan Bening. Seharusnya aku curiga tenaga Bening tidak sekuat itu untuk menggedor pintu yang nyaris menyerupai preman pasar yang kelaparan.


“ lo kebo banget gila! Atau jangan-jangan tadi mati suri, ya?” ujar lelaki itu sarkas. Tidak ada nada bersabat dari suaranya. Bahkan ia punya bakat yang bagus mengajaku baku hantam.


Lantas, lelaki itu menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan seolah ingin mengatakan


"ini beneran, Binar?"


" Binar temen gue? Si dekil itu?!"


“ lo ternyata.” Aku menatapnya malas “ gue kira maling mau bobol kamar gue.”


Dia. Aga. Manusia itu melongo, mungkin terkejut mendengar ucapanku yang kelewat jujur. Lantas Aga menggelengkan kepalanya dramatis.


“ish bahasanya...ckckck! kayak gak di sekolahin.”


Aku mengggaruk kepalaku karena gerah. Entah ini efek bangun tidur atau kedatangan manusia ini yang beraura panas.


“ngapain lo kesini?”


“elah, kok bahasa lo gitu, sih?kesannya kayak gue pengganggu.” Aga keliahaatan tidak terima.


“emang lo ganggu!”


“lo jahat banget sama gue ya sekarang? Gak inget aja dulu lo ngintilin gue kemana-mana. Inget gak pas lo di usilin si gendut? Anak komplek sebelah yang cupu itu, siapa coba yang selalu nolongin lo? Gue, kan!”


“berisik ih! Ampun dah lo! Pala gue mau pecah ini!!" dengan rflek aku memegang kepalaku. Aku tidak bohong soal ini. Memang rasanya seperti akan pecah, mungkin karena suara Aga yang tidak ada bagus-bagusnya.


“ Eh, Bi....” Aga panik. Dia mencoba memegang kepalaku yang langsung ku tepis dengan kasar. Dia ini mau apa coba? Lancang sekali!


“ Itu kenapa kalian ribut-ribut disana? Aga, Binar nya bawa sini dong!” teriakan melengking khas ibu-ibu terdengar dari bawah mengintrupi kami. Aku langsung terdiam, otakku segera bekerja dengan cepat.


Suara itu......? siapa ya?


Ah, iya! Itu Mamanya Aga, Tante Mutia kalau tidak salah namanya. Aku sudah lama sekali tidak melihatnya, komunikasi kami berakhir ketika aku pindah ke Bandung. Rumah kami bertetangga, beliau juga Teman dekat Mama dulunya. Ya, orantuaku dan orangtua Aga berteman sejak kecil hanya saja tidak berlaku bagi anak-anaknya.


Tante Mutia punya 3 anak. Semuanya laki-laki.


Yang pertama namanya Raka. Usianya 2 tahun di atas Bening. Lalu yang ini Raga, aku biasa memanggilnya Aga dari sejak kecil, dia yang meminta dipanggil begitu, biar kedengaran cute katanya.


Usiaku dan Aga sebenarnya sama, hanya saja aku terlahir 2 bulan lebih awal darinya. Aga masih SMA, seharusnya aku juga, tapi berhubung aku diberi kelebihan otak di atas rata-rata alhasil ketika kelas 1SD aku loncat kelas. Jadilah Aga tertinggal 1 kelas denganku.


Sejujurnya aku dan Aga sempat berteman dengan baik mengingat usia kami yang tidak beda jauh, tapi seiring berjalannya waktu aku menyadari Aga bukanlah lelaki yang pantas menjadi temanku, dia anak yang manja yang kerjaannya merengek-rengek kepada sang Mama. Dan jujur saja, aku meragukan kodratnya yang lelaki itu.


Tapi anehnya, aku selalu mencari Aga kalau ada masalah atau terkena masalah. ya, contohnya seperti kata Aga tadi. Saat anak komplek sebelah menusiliku, Aga selalu mengenyahkan mereka dalam sekali kedip. Pokoknya atas nama Aga semua selesai. Itu yang membuat kami kelihatan dekat padahal sesungguhnya biasa saja.


“ayo, ditunggu Mama didepan.”


Aga membuyarkan lamunanku, dia menjulurkan tangan bak seorang panglima yang mau mengantarkan sang ratu kesinggah sana. Aku bergidik jijik latas menepisnya.


“gak usah! Gue bisa sendiri.” Ujarku masih dengan nada jutek. “dasar bocah!” cibirku, kemudian berlalu meninggalkan Aga.


Samar aku melihat dengusan kecil keluar dari muutnya. “ Gak berubah, masih sama judesnya.”


>>>>>>>>>


“ Nah, ini nih yang ditungguin.”


Sampai diruang tamu kedatanganku disambut hebih oleh wanita paruh baya, wanita ini bahkan sampai repot-repot menjemputku yang masih menuruni tangga lalu menggiringku ke sofa seolah-olah aku ini nenek tua yang tidak boleh berdiri terlalu lama takut asam uratnya kambuh dan kemudian merepotkan anak cucunya.


Ckckckck! apa aku  kelihatan setua itu?


Karena malas berdebat, aku menurut saja. Toh, tidak ada salahnya jua kan?


“makasih Tante.”


“haduuuuuuh.. gak nyangka lho, kamu bakal kejakarta lagi?” tante Mutia menatapku dengan wajah sumringah.


Senyum antusias turut terpancar diwajah wanita yang usianya kira-kira menginjak kepala empat ini. Namun meski begitu Tante Mutia tetap kelihatan awet muda.


“kamu makin gede, makin cantik ya.”ujarnya setelah cukup lama memandangiku.


Aku tersenyum kikuk mendengarnya. Itu pujian atau sindiran, ya? Mana ada anak gadis yang baru bangun tidur dengan keadaan rambut berantakan dan muka kusam dibilang cantik. Oke, mungkin itu hanya berlaku untukku.


“jangan dipuji Ma, nanti hidungnya terbang lagi.” Itu suara Aga. Dia muncul dari tempat dimana tadi  aku berasal, lalu dengan tidak tahu dirinya dia duduk disampingku sambil mengangkat sebelah kakinya kepaha.


Mama Aga yang melihat itu seketika menjitak kepala anaknya dengan sadis.”ish Aga! Turunin kakinya, gak sopan ya!”


“yah.. Ma” Aga memasang tampang memelas yang menjijikan.


“ Aga!”


Lalu tampang menjijikan Aga berubah masam setelah mendapat pelototan peringatan dari Tante Mutia. Aku sendiri menahan tawa melihat interaksi ibu dan anak itu. Aga ini memang payah sekali, masa begitu saja sudah takut. kelihatan sekali kalau ia anak yang penurut. Eh, atau anak penakut, ya?


“mama kamu apa kabar, sayang? Tante denger dilamar pengusaha kaya ya?” kata Tante Mutia yang membuat senyumku luntur seketika.


“mama baik. Iya tante. Minggu lalu tepatnya.”


“wahhh! Asyik dong sebentar lagi  punya papa baru.” Celetukan Aga yang asal itu membuat kedua tanganku mengepal kuat-kuat. Andai tidak ada mamanya disini sudah kupastikan kepalan ini mendarat sempurna diwajahnya. Bocah ini kurang ajar sekali bicaranya!


Tapi sepertinya hasratku membogem wajah Aga terbaca oleh Tante Mutia. Wanita paruh baya itu segera menyikut perut anaknya sampai Aga mengaduh kesakitan.


Aku  tersenyum dengan puas. hah rasakan itu!


“oh, iya? Selamat kalau begitu. Kok gak undang-undang sih, tante kan mau dateng.”


“emmm... acaranya sederhana Tante, yang diundang hanya kerabat dekat aja.”


“oh begitu. Semoga nanti lancar ya sampai ke pernikahan. Semoga juga pernikahannya langgeng sampai kakek-nenek.”


Aku tersenyum turut mengiyakan.” Amin tan. Makasih doanya.”


“gimana calon papa barunya? Baik gak? Kamu suka?”


Aku terdiam sebentar. Berfikir matang-matang. Om Adit orangnya baik, tapi aku tidak suka. Itu jawaban terjujur yang tidak akan aku katakan kepada siapapun. Cukup aku saja yang tahu, dan mungkin Bening.


“baik kok, Tan. Aku suka.”dan ya, itu jawaban penuh kebohongan yang kali kesekian kulontarkan apabila mendapat pertanyaan yang serupa. Mau bagaimana lagi? Jujur kedengaran menyakitkan bagi Mamaku sedang aku tidak suka menyakiti.


“bagus kalau begitu. Baik-baik sama papa baru. nanti belajar menjadi anak yang punya keluarga utuh, jangan mengasingkan diri  lagi, ya?”


Aku mengangguk mematuhi, tidak tahu saja kepindahanku ke Jakarta sedang menghindari mereka. Kuliah, menemani Bening dan bla bla bla hanya alibi semata bagusnya lagi tidak ada yang tahu alasan itu. Ya, kecuali Bening. Kakakulah yang faham betul tentang aku.


“ Tante dengar calon papamu duda beranak 4 ya? Apa benar itu?”


Deg!


Dugaanku masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Pertanyaan ini pasti tidak akan dilupakan ketika mereka tahu mamaku menikah dengan pengusaha itu.


Om Adit adalah pemilik perusahaan ternama yang wajahnya pasti wara-wiri di tv , koran, majalah, maupun internet. Wirausahawan terkenal semacam itu pasti identitas diri dan status keluarganya terkenal juga. Om Adit memang seorang duda beranak 4 dia belum lama bercerai dengan mantan istrinya yang kuketahui terlibat konflik perselingkuhan.


“Mmmmm... itu.”aku kembali sibuk berfikir mencari jawaban yang masuk akal namun juga bukan sebuah kebohongan.


Huft!! Inilah yang paling aku hundari ketika bertemu teman-teman mama ataupun teman-temanku lalu mendapat pertanyaan yang memuakan semacam ini. Memang pertanyaanya biasa saja, namun jawabanya sulit di cari. Searcing di google pun tidak akan ketemu. Mau jawab iya. Aku merasa agak sangsi mengakuinya, mau jawab tidak faktanya Om Adit memang duda beranak empat.


Seperkian menit aku masih membisu tante Mutia tersenyum canggung setelah sebelumnya mendapat colekan dari Aga.


“Yasudah Binar, gak perlu dijawab kalau kamu belum siap cerita.” Kemudian Tante Mutia tersenyum hangat. Senyum keibuan yang penuh pengertian." Tante faham kok.”


Aku balas tersenyum.”maaf Tante. Mungkin lain kali aku bakal cerita.”


“sudah tidak apa-apa. Tante pulang dulu ya. Kamu istirahat sana, pasti capek.”


Tante mutia berdiri dari duduknya.


“iya, makasih Tante.”


Nafasku berangsur lega begitu melihat Tante Mutia berjalan keluar pintu. Tapi langsung hilang begitu melihat penampakan yang masih setia disofa sana.


Aku mendelik tidak suka berharap Aga peka lalu menyusul ibunya keluar. Namun bocah itu malah bersidekap dan memandangiku dengan tatapan memicing.


“lo gak ada niat pulang?” aku bertanya sekaligus mengusir.


Aga menggeleng dengan wajah menyebalkan membuatku dirundung perasaan jengkel. Ish! Aga ini memang berbakat sekali menghancurkan mood seseorang.


“gue kan masih mau ngobrol sama lo. Kenapa sih, gak suka banget kayaknya gue disini.”


Oh, rupanya dia peka. Bagus kalau begitu. Lantas kenapa ini anak tidak pergi juga?


Aku memutar bola mataku.” Elah, gue capek kali. Jam 4 sore baru sampe tau!”


” kan udah tidur tadi. Gak pusing emang pala lo tidur terus?”


“udah ah, sana lo pulang. Gue mau makan. Laper!” kataku mengakhiri perbincangan ini lantas bangkit berdiri. Aku berniat kedapur mencari makanan yang katanya di bawakan Tante Mutia. Aku melihatnya diatas meja. Langsung saja tanpa ba bi bu aku membukanya dan melihat nasi serta lauk pauk yang semuanya bercita rasa masakan padang.


Emmmm.....mencium aromanya saja membuatku mabuk kepayang. Apalagi memakannya ya?


Secepat kilat aku mengambil piring yang ada didalam lemari. masih basah, sepertinya Bening sempat bersih-bersih sebelum pergi. Aku menempatkan nasi dan lauk-pauk secukupnya kedalam piringku lalu menyisakan setengahnya untuk Bening.


“ Laper apa doyan sih?”


Saat sedang asik menikmati makanan  suara Aga muncul dari arah sebelah tempatku duduk.


Aku melotot mendapati Aga menopang dagu dengan santainya. Anak ini sejak kapan duduk disitu coba?


Secara terang-terangan aku berdecak tidak suka. “ Anak SD ngapain sih masih dirumah orang malem-malem. Dicariin Mamanya, noh!” kataku menyindirnya.


Karena dulu sebelum aku meningalkan jakarta Aga masih kelas 6 SD dan dia tidak diijinkan keluar rumah lewat  pukul 6. Takut diculik kalong kalau kata Tante Mutia. Soalnya wajah Aga imut-imut gitu, mirip anak cewek.


“ Enak aja!” Aga menggeplak kepalaku.” Gue udah SMA ya kalo-kalo lo lupa!”


“sebodo ya! Udah ah, gue mau makan lo jangan ganggu.”


Benar saja, Aga tak menimpal lagi sampai aku menyelesaikan makan malamku yang kelewat ini. Tapi Aga yang menyebalkan kembali lagi begitu kami jalan diluar. Ya. Aku mengajaknya berjalan-jalan keliling komplek dengan alasan mencari udara segar padahal sejujurnya aku hanya tidak enak bila ketahuan tetangga kami berduaan didalam rumah terlebih lagi statusku sekarang disini sebagai warga baru.


Meskipun kenyataannya kami tidak berbuat apa-apa tetap saja fikiran manusia kan bercabang kemana-mana.


Di penghujung jalan Aga tiba-tiba berhenti melangkah, melenyapkan derap langkahnya yang berisik sehingga berubah menjadi sunyi. Lelaki itu menolehkan kepala seutuhnya kepadaku setelah sedari tadi ia hanya diam-diam mencuri pandang saja. Ya, aku memang menyadari itu sejak tadi hanya saja aku berpura-pura tidak peduli dan mengabaikannya.


“Gue heran deh liat lo yang sekarang?” ujarnya dengan alis yang berkerut tebal, bibir terlipat kedalam dengan mata yang memperhatikan wajahku seolah-olah memang ada keanehan disana.


“aneh gimana?” aku meraba-raba wajahku barangkali memang benar ada yang aneh. Tapi ah, rasanya wajahku tidak kenapa-napa.


“ Kok lo bisa cantik sih?”lanjutnya dengan wajah super polos. Aku terbengong- terbengong tidak percaya. Ya ampun! Kupikir apa padahal aku sudah berfikir yang tidak-tidak.


“padahal dulu tuh ya lo jelek banget! Item, dekil, rambut lo pendek kayak dora, kalo pakek baju suka punya kakak lo yang kegedean. Norak abislah pokoknya awwwss.....aduh! adududuh! Sakit Bi!”


Dan bebitulah kelanjutannya. Ocehan Aga yang sepanjang kali ciliwung langsung berubah menjadi pekikan begitu tanganku mencubit pinggang nya. Aga mengerang kesakitan wajahnya sampai merah padam tapi sayangnya aku sedang tidak mau mengasihaninya. Sekali-kali Aga memang harus diberi pelajaran kalau dengan teori tidak mempan dengan fisikpun aku tak keberatan.


“ Ulang sekali lagi coba?! Apa! Apa! Ha!”


Tanganku semakin kencang mencubit pinggangnya awas saja kalau sampai Aga mengulang kalimat yang tadi.


“iya. Iya ampun deh ampun! Lo cantik dari jaman orok deh iya. Gue yang jelek! Baperan lo!”


Kedua mataku memutar kesamping. Jijik mendengar pujiannya yang kyakini sebatas omong kosong.


“ Lepasin kali tangan lo, sakit tau!” Aga melirik tanganku yang masih setia di pinggangnya. Aku berdecak sekali sebelum melepas cubitan mautku yang luar biasa ini. Aga langsung melihat bekasnya dan mengusapi perutnya yang kemerahan. Melihat itu, senyum picikku terbit tanpa diminta. Hih, rasakan itu!


“ Ah, lo mah rese! kan perut mulus gur bernoda nih.”keluhnya sambil menunjukan noda kemerahan diperutnya.


“gitu doang nangis, dasar anak manja!”


“eh, ti-ati kalo ngomong! Lo gak tau kan berapa biaya buat perawatan kulit gue. Jutaan coy, jutaan!”


“Terus lo mau pamer maksudnya?”


Aga hanya mendengus, wajahnya masih semasam yang tadi. Kami mulai meneruskan langkah, aku mendengar hembusan nafas Aga ketika aku menoleh ternyata Aga sedang meniup telapak tangannya yang digosok berulang-ulang. hal itu ia lakukan untuk mencari sensasi hangat diantara semilir angin yang berhembus kencang. Sepertinya Aga kedinginan, ya biasa lah anak mama memang susah diajak keluar malam.


Aku hanya mengedikan bahu acuh. Tidak berniat menawarinya jaket tebalku sama sekali padahal aku sedang tidak merasa kedinginan.


“ Ga, Aga?!”


Aga yang sedang asik menggosok tangannya menoleh”apaan?”


“ Mobil baru? Punya siapa tuh?” kataku melirik pekarangan rumahnya yang berhadapan dengan taman.


“ Oh itu, punya sepupu gue. Napa emang? Keren ya?”


“ Keren juga bukan punya lo.”


“ Punya sepupu gue yapunya gue juga lah.”


Aku mencibirnya sekali lagi lantas duduk dikursi yang dekat lapangan basket disusul Aga yang entah mendapat perintah dari siapa duduk disampingku.


Kemi berdua saling diam, aku lebih memilih menikmati semilir angin sambil mengangkat pandangan keatas awan. Melihat rembulan bertabur bintang dengan seksama sampai tidak sadar berujung melamun. Hal itu berlangsung seperkian menit sampai suara Aga terdengar.


“jadi lo balik kejakarta dalam rangka apa?”


Aku menolehkan kepala, menatap Aga dengan wajah malas. Harus sekali ya dia menanyakan perihal ini?


“ Gue keterima di Universitas negeri dengan jalur beasiswa. Yakali gue anggurin.”


“ Oh ya?” Aga menaikan sebelah alisnya nampak sangsi.


Dan aku hanya mengangguk acuh. Mungkin Aga bisa membaca raut wajahku yang mengisaratkan kebohongan dan pertanyaan tadi hanya sekedar basa basi.


“ iya deh percaya. Congrats ya, jurusan apa?”


“ Hukum.”


Aga manggut-mangggut kemudian terlonjak dari duduknya, seperti tersadar akan satu hal.” Hukum? Serius lo?”


“yups! Kenapa? Gue terlalu hebat kan?”ujarku dengan senyum bangga.


Memang sesuatu yang patut dibanggakan bukan mendapat beasiswa jurusan hukum di universitas negeri pula. Siapapun juga akan berbangga diri peduli amat dikatai sombong atau apalah.


“ckckckck.... sombongnya!” decaknya. “tapi iya sih, keren Bi.”


“ngaku juga kan lo.” Aku tertawa kemenangan.


“terus nyokap lo juga bakal pindah?”


“ya enggaklah. Nyokap gue kan mau nikah lagi. bahagia sama keluarga barunya.” Aku sedikit malas membahas topik ini. Dan syukurnya Aga faham bahwa topik ini terlalu sensitif untuk di bahas sehingga yang Aga lakukan mengangguk sekali dan bertanya perihal lain.


“nenek lo gimana? Apa kabar?masih hidup kan, bi?”


Pertanyaannya itu langsung kuhadiahi jitakan keras dikepalanya. “ngomong apa lo bocah?! Lo doain nenek gue gak ada?! Ha?!”


“ Etdah! Gue kan nanya baik-baik. Kok, lo sewot sih?” Aga memprotes cara bicaraku yang katanya protes ini.


Ya jelas bagaimana tidak sewot, yang jadi bahan pertanyaan Aga soal nenekku seenak jidat ia meragukan keberlansungan hidup nenekku sampai sekarang.


”ya lo nanya gitu?!”


“dulu kan nenek lo tua renta banget, Bi ya kalo dilihat-lihat udah gak layak--- eh iya! iya Bi! Gak deh gak lagi. Ampun!”


Aga tidak jadi melanjukan ucapannya mendapati aku melotot seram kepadanya dia langsung memberi jakak 5 cm begitu melihat tanganku terkepal diudara.


“Elah, bar-bar banget sih jadi cewek” Aga menggerutu pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.


“ngomong apa barusan? Ulang?!”


Seketika Aga kicep.”enggak ada. Itu, lo tambah cantik kalo lagi marah.” Kemudian dia nyengir lebar diujung kalimatnya.


Mataku mendelik mendengar rayuan gombal yang murah meriah keluar dari mulut Aga. Oke, aku mengalah kali ini dan mengakhiri pertikaian kami yang mungkin tidak akan berakhir sekalipun malam berganti siang.


Aku kembali pada posisi dudukku yang semula, Aga juga.


“ Langitnya bagus ya bi.”


“hmm.”


Iya, langitnya memang sedang bagus banyak bintang yang bertabur diantara gelapnya awan hitam pemandangan yang tidak membosankan untuk dilihat.


Menit berlalu dengan sendirinya, pandanganku masih tetap keatas awan, lewat ekor mataku dapat kulihat jika Aga lagi-lagi sedang memperhatikanku, aku diam saja berpura-pura tidak tahu.


“ Lo kenapa sih gak ada bilang kalo mau balik ke jakarta?"


“lah, suka-suka gue dong mau balik atau enggak. Kenapa situ yang keberatan?”


“ya bukan gitu. Kalo lo bilang kan gue bisa jaga hati gue buat lo.”


Detik itu juga fokusku teralihkan. Aku menoleh menatap Aga dengan kening berkerut. Aga bicara apa barusan ? jaga hati? Sejurus kemudian tawaku pecah begitu memahami maksud dari perkataan bocah ini.


“tunggu, tunggu! Lo bilang apa tadi?”


“ kenapa? Ada yang salah?” dan Aga malah balik bertanya dengan tampang super polos, duh ya ampun tanganku gatal ingin menampar rasanya.


“ lo bilang lo mau jaga hati buat gue?”


Aga mengangguk polos. Tawaku semakin menjadi tak terkontrol lagi sampai rasanya perutku keram karena terlalu bersemangat menertawakan Aga.


“kok lo ketawa sih?”


“lo aneh sih. Lo pikir gue bakal suka sama lo segala bilang jaga hati buat gue. Sorry to say ya gue gak suka sama berondong.”


Aga mendengus.”elah, kita lahir beda dua bulan doang kali.”


“no!no!no!” aku menggelengkan kepala tidak setuju.”umur gue tetep lebih tua dari lo.”


“dasar lo! Awas aja suka sama gue duluan tau rasa.” Cibirnya.


“dih, pd amat gak bakal ya!”


Aga diam setelah itu, aku juga. Pembahasan ini memang tak perlu diperpanjang. Lalu mataku teralihkan kesuatu titik dimana letaknya berhadapan dengan tempatku duduk. Dapat kulihat seorang lelaki keluar dari pintu dan duduk dikursi lantai 2. Lelaki itu memangku gitar.


“ Abang lo apa kabar, Ga? Masih tetep jutek?”


Iya, itu Raka. Kakak nya Aga. dulu dia anak lelaki paling tampan sekaligus jutek sepajang komplek, tapi yang aneh hampir semua anak perempuan menyukainya. Bening juga sempat terpikat tapi bersyukur ada aku yang selalu menyadarkannya kalau Raka tidak bagus menjadi pilihan untuk masa depan.


“ Kenapa nanyain abang gue, suka lo?ha?” sahutnya kedengaran tidak suka.


“gak juga. Gue gak selera sama anak mama macam abang lo.”


“semua aja lo bilang bukan selera lo, jadi perawan tua sana!"


“duh, kok sensi. Selera gue kan tinggi. Maaf-maaf lo pada gak level deh.”


“ Asem lo, Bi.” Kata Aga sambil cemberut lantas ia bangkit meninggalkan aku ditaman sedirian.


Heii.. apa Aga marah? Lah, marah karena apa coba? Lihat betapa kekanakannya anak kelaki itu?