
Ternyata aku kalah telak.
Harapanku menguap, tidak tahu melayang kemana. Khayalan Tante Mutia menjadi kenyataan, Raka benar benar memandangiku tanpa berkedip. Laki-laki itu seolah terkena sihir sehingga tidak bisa melihat objek lain selain terus melihatku. Kepalanya tidak bergerak kemana-mana, jangankan kepala, matanya saja sulit untuk berkedip.
Sementara aku yang ditatap seintens itu hanya bisa menggaruk kepalaku yang mendadak gatal, lama- lama risih juga.
Apa benar aku secantik itu ya? Pemikiran itu entah bagaimana bisa bersarang dibenakku saat ini.
Padahal aku ini tipe perempuan yang memandang semua perempuan itu sama. Secantik apapun dan sejelek apapun selagi perempuan sejati maka nilai mereka tidak akan beda. Aku juga bukan orang yang berani menilai diriku sendiri sebelumnya.
"Tuh kan apa Tante bilang. Raka pasti akan terpesona." Aku tersadar sewaktu Tante Mutia menyenggol bahuku pelan, kerlingan matanya benar-benar berniat mennggodaku. Sekarang aku merasakan pipiku memanas, pasti sekarang kelihatan seperti kebakaran.
"Binar cantik banget ya Raka?" Lagi dan lagi, Tante Mutia mengulang pertanyaan itu. Mungkin sudah terhitung kali keempat namun tetap saja Raka tidak memberi tanggapan. Atau setidaknya belum. Mungkin.
Suara itu seolah seperti mantra yang menyadarkan Raka dari sihir. Laki- laki itu mengerjap, lalu menggelengkan kepalanya.
Sebuah penyanggahankah itu?
"Masa enggak sih? Kamu sampe terpesona gitu masih aja ngelak." Tante Mutia memprotes sikap anaknya yang disimpulkan sebuah penolakan, mewakiliku yang sebenarnya ingin juga mempertanyakan itu. Tapi aku telalu malu, nyaliku tidak setinggi itu.
Raka tak mengindahkan. Mengangkat tangannya untuk melihat jam dipergelangan tangannya. "Ma, udah selesai belum? Aku harus keBandara sekarang."
"Eh, oh iya ya? Kok mama bisa lupa?" Tante Mutia menepuk jidat, tersadar dari sesuatu yang dilupakannya.
"Ayo cepet-cepet! keburu Papa kamu sampai nanti. Bisa gagal ini rencana Mama mau kasih kejutan."
Tante Mutia menyuruhku masuk, tapi kali ini memintaku duduk bersamanya dikursi belakang. Ini aneh, padahal tadi ketika berangkat Tante Mutia mengatakan kalau kursi belakang sempit jika dipakai untuk berdua.
Apa aku salah kalau aku menaruh curiga?
Sampai dipertengahan jalan, aku masih memendam kecurigaanku. Ah, sudahlah Tidak pantas juga untuk ditanyakan. Lalu untuk membuka obrolan, aku bertanya mengapa kita terburu-buru pulang padahal sebelumnya kami menghabiskan waktu dimall sepanjang hari dengan berleha-leha.
Tante Mutia menjawab bahwa hari ini Om Wahyu pulang dari tugasnya diluar kota. Ia sedang merencakan kejutan kecil-kecilan dirumahnya berupa makan malam yang sudah dipesannya melalui delivery. Beliau juga mengundangku dan Bening untuk hadir karena sudah memesan banyak makanan. Sekarang aku faham kenapa Tante Mutia heboh sendiri sepanjang hari.
Dia sedang berusaha menyambut suaminya sebaik mungkin dengan mempercantik diri.
"Meskipun sudah tua, tapi Tante harus kelihatan awet muda biar Papanya Raka gak bisa berpaling dari Tante." Ujarnya ketika menangkap raut kebingungan diwajahku.
Aku tersenyum geli mendengarnya. Jadi hal seperti ini bukan hanya berlaku untuk anak muda saja?
Kemudian munculan pemikiran apa Mama juga seheboh ini ketika menyambut kepulangan suaminya yang sudah menghabiskan hari dengan pekerjaan.
Mobil Raka menepi dirumahnya terlebih dahulu, menurunkan Tante Mutia dengan segunduk barang belanjaanya. Tapi wanita itu dengan sigap membawanya sendiri dan menolak bala bantuan Raka yang sudah sigap mengambilnya ditangan, ibu tiga anak itu justru menyuruh Raka segera mengantarkanku kerumah karena takut kemalaman.
Heiii..jarak rumah kami kan hanya 10 langkah saja, bagaimana bisa aku akan kemalaman?
Dan keadaan inilah yang membuatku mati kutu sekarang. Berduaan didalam mobil bersama Raka.
"Harusnya lo bisa nolak kalo lo gaksuka."
"Ha? eh?!"
Suara itu membuyarkan lamunanku yang sedang memperhatikan jalanan.Aku sedikit tidak mendengar kalimat Raka sehingga hal itu memaksaku harus menanyakan kembali.
"Bisa diulang, kenapa tadi?"
"Kalo lo gak suka pake baju kayak gitu. Gak usah dipaksa."
Aku mengerjap. Raka terlalu peka ataumemang sekentara itu jika aku tidaknyaman dengan pakaian ini?
"Emang kelihatan banget ya?"
"Orang buta juga tau kalo lo gak nyaman."
Aku meringis sambil meneliti gaun cantik ini. Seharusnya tidak ada yang salah, tapi benar kata Raka aku memang merasa tidak nyaman berpakaian seperti ini.
"Sebenernya gue udah berusaha nolak. Tapi, gue bisa apa saat Tante Mutia bilang gak baik nolak pemberian." Jujurku karena tidak mau membuat Raka berfikir kalau aku pasrah-pasrah saja ketika mamanya mengeluarkan nominal yang tidak sedikit untuk membeli barang-barangku.
"Mama emang pemaksa orangnya. Harus pinter-pinter cari alasan mangkanya."
"Gue pikir gak ada salahnya juga nyenengin orang."
Raka mengedik bahunya."Terserah. kalo lo lebih peduli orang lain ketimbang diri lo sendiri."
"Well, selagi gue bisa."
Selepas itu Raka tidak menyahut lagi karena mobilnya sudah tiba didepan Rumahku. Aku turun dengan jinjingan penuh dikedua tangan. Mengumpat dalam hati saat heels 5 senti ini membuat langkahku tertatih-tatih.
"Perlu bantuan?" Tawar Raka.
Aku menimbang sebelum akhirnya menggeleng. Tante Mutia saja bisa sendiri, mengapa aku harus mengandalkan orang lain?
"Gak perlu. Makasih buat tumpangannya."
Lelaki itu mengangguk sekali kelihatan kesal karena tawarannya aku abaikan. Aku berjalan tergopoh-gopoh kedalam rumah dan langsung nyelonong masuk begitu tahu pintu rumah tidak dikunci.
Nafasku terasa ringan begitu menyandarkan punggung ke sofa da melepas jinjingan yang jumlahnya tidak terhitung itu dari tangan. Mataku terpejam merasakan sensasi oksigen yang bebas berkelana dirongga dada.
"Widdihhhh, habis jalan-jalan lo?"
Itu suara Bening, gadis itu datang dari arah dapur membawa gelas air. Lalu buru-buru meletakannya begitu melihat belanjaanku yang tergeletak dilantai.
"Dih, lo boros banget sih? Gak mikir dua kali apa kalo belanja. Ini juga, lagak lo beli barang-barang bermerek. Ckck." Bening menggerutu panjang lebar.
Aku mendelik tidak peduli. Dia piker cuma dia saja yang bisa pakai barang bermerek sementara aku hanya pantas menggunakan barang murah pedagang kaki lima.
"Denger ya, kalo jatah lo gak cukup sampe sebulan gue gak mau nambahin."
"Bodo amat. Lagipula itu bukan duit gue."
Dahi Bening mengerut dalam. "Lah? Terus?"
"Dibelanjaain Tante Mutia."
Aktifitas Bening yang sedang mengobrak abrik belanjaanku terhenti, dia menatapku dengan alis terangkat sebelah.
"Serius?! Ini semua?!" Tanyanya hebohsekali.
Aku mengangguk santai." Dia nitip juga buat lo."
Sekarang bukan hanya sebelah alis Bening yang terangkat tapi kedua- duanya.
"Dia sebaik itu dan lo percaya aja?!"
"Gak sih sebenernya. Tapi dia bilang udah lama pengen belanjain barang- barang anak cewek. Tapi gak punya anak cewek buat apa? Jadi pas belanja bareng gue dia girang banget."
"Binar, Binar." Bening tertawa entah karena apa. Tapi aku yang mendengarnya bisa menangkap bahwa dia sedang menertawakanku.
"Paan sih lo?!" Aku membentaknya tidak suka.
"Lo jadi anak naif-naif amat sih? Malu gue punya adek begonya gak ketulungan."
"Eh, itu mulut bisa tolong dijaga?! Lo boleh bilang gue bego kalau gue gak keterima di...."
"Oke, gue faham lo emang pinterbisa kuliah dengan jalur beasiswa." Bening keburu menyela sebelum aku selesai bicara. Aku tersenyum senang tebakannya tepat sasaran.
"Itu kan yang selalu lo banggain. Tapi, oh, come on baby! lo tuh naif banget sumpah!"
Sejujurnya yang ingin aku lakukan memoles bibir Bening yang penuh godaan itu dengan Bon cabai, Aku tahu Bening sedang berusaha memancing emosiku, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk tenang dengan mengabaikan ocehannya.
"Gue mau ngomong serius sekarang. Tante Mutia itu punya motif sama lo. Ati-ati aja sih kalo gue bilang." Ujarnya kemudian.
Aku ingin mengabaikan lagi, Tapi ucapannya yang ini menarik rasa penasaranku. "hah? Maksud lo apa?"
"Gue curiga ada sesuatu yang direncanain sama Tante Mutia deh."
Mata Bening menyipit. Mimik wajahnya dibuat semisterius mungkin agar aku semakin penasaran.
"Lo gak curiga apa?"
"Soal?"
"Dengerin gue." Bening membetulkan posisi duduknya lalu menatapku dengan seksama.
"Gue rasa nih ya, Tante Mutia mengintai lo jadi menantunya."
"Gue?" Aku menunjuk diriku sendiri sambil mengerut kening keheranan. "menantu?"
Bening bicara apa sih?
"Ngaco banget sih lo?! Ngomongnya melipir kesitu-situ!"
"Loh? gue punya alasan yang kuat kenapa bisa mikir kesana?"
"Apa?"
"Ya ini semua. Sikap ramahnya, perhatiannya yang berlebihan. Menurut lo ada gitu orang berbuat baik sampe segininya. itu semua dia lakukin pasti ada apanya gak mungkin banget bagi-bagi kasih sayang secara cuma-cuma. Gue bakal percaya kalau seadainya dia malaikat."
"Tapi kan Tante Mutia sahabat Mama, gak mungkin lah dia jahat."
"Ini tuh jakarta. Pinter-pinter deh lo hadepin manusia-manusia disini."
Aku berfikir senjenak, diam-diam mempertimbangkan omongan Bening. Kalau difikir pakai logika, Bening tidak salah. Semua orang juga akan menaruh curiga kecuali aku yang kata Bening naif ini. Tapi apa iya Tante Mutia menaruh rencana atas semua kebaikannya. Pasalnya dia bukan malaikat seperti apa yang Bening ungkapkan.
"Gue mencium bau-bau perjodohan deh".
"Lo bener deh." Akhirnya Aku menyerah, menyetujui persepsi Bening. karena tak kunjung menemukan persepsi lain yang menjurus kesana.
"Bener kan gue." Bening menepuk dadanya berbangga diri.
"Iya. Perjodohan antara lo sama Raka mungkin. Kalo gue jelas gak mungkinlah." Ujraku santai.
Namun ucapanku barusan itu langsung dihadiahi tempeleng oleh Bening. Spontan Aku memelototinya sambil mengumpat.
"Eh, tengil!" Namun Bening malah yang lebih galak." Gue udah punya Dafa ya. Mau juga lo yang dijodohin! Disini kanlo yang merana mendamba Pasangan hidup."
"Kalo Tante Mutia pengen lo jadi menantunya gue bisa apa? Gue ngalah kok."
"Sorry-sorry aja. Love date gue just only Dafa."
"Halah Dafa! Dafa! Dada faha maksud lo?"
☆☆☆
"Bi, kerumah Tante Mutia yuk. Gue udah laper ini." Bening merengek ketika membuka pintu kamar dan menemukan aku sedang bergelung dengan laptop.
"Gak ah, gue males. Gak laper juga."
"Tapi gue laper. Dan gue lagi males cari makan apalagi masak. Kecuali kalo lo mau keluar beliin makan buat gue." Katanya yang kubalas dengan kedihan bahu.
"Lo yang kelaparan kenapa gue yang direpotin sih?"
"Oh gitu!"Bening tidak menyahut lagi. Tapi picingan matanya patut kucurigai.
"Apa lo?"
"Atm lo gue sita sampai akhir bulan. Fiks mulai besok lo gak usah makan ya. Biar tahu gimana rasanya kelaparan." Gadis itu menunjukan Atm yang kemarin dia berikan padaku. Hih! Dia mencurinya?
Bening beranjak pergi dengan langkah tersentak. Aku segera berdiri, dengan kecepatan tak kalah cepat aku mengejarnya. Dan mengatakan kalau aku bersedia menemaninya mengemis makanan ke Rumah Tante Mutia.
Setelah melewati dua rumah yang menjadi penyekat rumahku dengan tante Mutia, kami sampai. Bening membetulkan tatanan rambutnya yang agak mengusut lalu mengetuk pintu yang langsung terbuka dan munculah sosok Raka dibalik pintu.
"Eh, hai." Bening menyapa duluan. Wajahnya berseri-seri.
"Kalian langsung masuk aja. Udah siap semuanya."
"Oh, oke. Kita masuk ya."
Raka mengangguk acuh lalu menggeser badannya sehingga ruang untuk kami berjalan semakin lebar.
Wajah berseri Bening lenyap karena bukan hanya sapaannya yang tak berbalas tapi sikap Raka teramat dingin mengatakan kalau Bening terlalu sok akrab.
"Hei, hei, hei bidadari turun dari mana ini kok tiba-tiba nyasar kesini?" Langkah kami otomatis berhenti mendengar suara yang berasal dari arah ruang keluarga.
Suara bass khas kebapak an itu menyita perhatian kami. Lalu aku dan Bening saling pandang dan sama-sama mengerti bahwa mungkin pria baruh baya ini Om Wahyu. Suami Tante Mutia.
"Hai Om. Maaf ya kita main nyelonong aja. Gak liat ada Om disitu." Bening terkekeh diakhir kalimatnya.
Kami menghampiri Om Wahyu dan menyalami beliau dengan sopan.
"Iya, gak apa-apa. Kalian udah gede- gede ya sekarang. Cantik-cantik ternyata."
"Hehe. Makasih Om. Anaknya juga ganteng-ganteng." Ini juga Bening yang menjawab.
"Iyalah siapa dulu Ayahnya. Ganteng gini. Biasalah, turunan." Om Wahyu terkekeh merasa geli sendiri dengan ucapannya. Lali-laki paruh baya itu kelihatan lebih tampan berkali-kali lipat ketika tertawa.
Sementara aku dan Bening beradu pandang dan sama-sama mempertanyakan lewat isyarat berapa kira-kira usia laki-laki paruh baya ini?
"Eh, Bening sama Binar udah dateng ya. Sini, sini sayang bantuin Tante bawa makanannya ke meja makan."
"Oke, Tante."
Kami menyempatkan mengucap permisi pada Om Wahyu yang diangguki oleh beliau. Dia sempat mengucap maaf karena merasa istrinya sudah merepotkan. Tapi kami mengatakan tidak apa-apa selagi tidak yang sulit-sulit.
"Wah!!! Tante banyak amat makanannya. Yakin bakal habis semua. Nanti sayang kalo kebuang."
"Gak bakal kebuang. Soalnya Tante ngundang satu tamu lagi. Temannya Om Wahyu."
Semua makanan sudah tertata rapi dimeja makan. Tamu yang Tante Mutia maksud sudah datang dan sekarang berada didepan, mengobrol dengan Om Wahyu dan tante Mutia. Aku melihat Bening sedang mengajak main Rama diayunan. Sekarang aku mulai bosan, merasa makan malam ini akan memakan waktu yang panjang. Aku celingukan mencari Aga. Anak itu seharian ini belum kelihatan.
Aku menyempatkan diri bertanya pada Tante Mutia, beliau menjawab Aga sedang dikamar. Baru saja pulang dari les privatnya dan aku disuruh melihatnya kesana sekalian menyuruh bersiap-siap karena sebentar lagi makan malam akan dimulai.
Aku berjalan menaiki tangga mengetuk pintu yang kuyakini kamar Aga.
"Aga?! Aga?!"
Tidak ada sahutan dari dalam sana aku berusaha memanggil lagi namun hasilnya tetap sama. Mungkin Aga sedang dikamar mandi jadi tidak kedengaran.
Aku berinisiatif kembali kebawah. Tapi telingaku tergelitik mendengar suara petikan gitar dari kamar lelaki ini.
Penasaran, aku mengurungkan niat untuk kembali kebawah dan kembali mengetuk kamar Aga bak orang yang mau mengajak baku hantam. Tapi caraku kali ini berhasil, terdengar suara Aga menyuruhku untuk masuk dengan nada berteriak.
"Hih lo rese ya! gue kira siapa?!" Komentar lelaki itu saat aku memasuki kamarnya.
Aku nyengir."Gue udah manggil lo dengan cara manusia tapi lo gak nyaut- nyaut. Jadi yaudah lah."
Aga mendengus. Lelaki itu menyimpan gitarnya, berlalu menuju Balkon. dibelakangnya aku mengekor dengan percaya diri. Mendadak lupa kalau ini kamar anak lelaki dan sebagai anak gadis seharusnya aku lebih berhati-hati.
"Lo lagi ngapain sih? Nyokap lo nyuruh kebawah juga."
"Males ah gue!"
Lelaki itu terduduk, memainkan kembali Gitarnya dengan asal. Aku menatapnya penuh tanya. Ada apa dengan anak ini? Dilihat dari sikapnya, Aga kelihatan sedang frustasi. Seperti gadis remaja yang baru mengalami patah hati pertama kalinya.
"Kenapa sih lo? Sok belagu galau gitu. Hih, sadar kenapa sih? muka lo gak ada pantes-pantesnya."
Aga menghentikan permainannya, menjadikan Gitar itu untuk menopang dagu, lalu menatapku lurus.
"Gue beneran galau tahu." Ungkapnya dengan wajah sendu. Kali ini aku tidak bisa menebak apa itu sekedar akting atau memang benar Aga sedang mengalami gangguan perasaan.
Aku duduk disebelahnya. Bersiap-bersiap mendengar curahan hati seorang bocah SMA.
"Galau kenapa?"
"Gue habis ditolak cewek."
Kepalaku otomatis menoleh, meneliti raut wajah Aga yang seolah merasakan kecewa ditinggal lara. Bukannya kasihan aku malah tertawa. Hal demikianlah yang membuat bibir Aga menggumamkan kata sumpah serapah.
"Apa wajah merana gue kelihatan selucu itu ya?"
Itu pertanyaan sarkasme. Aku tahu, oleh karenanya meski masih belum puas tertawa aku meredam mulutku dengan telapak tangan. Sepertinya mood Aga sedang kacau untuk diajak bercanda.
"Oke, sorry, sorry. Jadi ceritanya lo nembak cewek terus lo ditolak, gitu?"
Aga meangguk lemah. Kelihatan tidak bersemangat mengakui kekalahannya.
"Ceweknya cantik?"
Aga mengangguk."Banget."
"Pinter?"
Aga mengangguk lagi." Gak usah ditanya lagi."
"Famous dong?"
"Bintang dikelas plus seangkatan."
Aku tergelak lagi. Tapi tak lama karena Aga memelototiku seolah Mengancam kalau aku terus tertawa dia akan memakanku hidup-hidup.
"Lha, wajar sih kalo menurut gue."
"Kok wajar? Maksudnya gimana nih?"
Tanya Aga. Terlihat tidak suka dengan jawabanku.
"Yaelah Aga, Aga. Menurut gue sih dia itu sedikit lebihnya menghargai lo" Kening Aga berkerut dalam, dia pasti tak faham.
"Kenapa lo bisa beranggapan begitu?"
"Dengerin ya. Dia itu mendekati sempurna. Gue yang mukanya pas- pasan aja punya kali kriteria lelaki idaman. Ya intinya, lo bukan idaman itu cewek. Saran gue sih ya, banyak- banyak ngaca. Terus lupain dia."
Aga mendengus. Wajahnya bertambah kecut saja.
"Emang ya, kalo soal nistain orang lo yang paling bisa. Gue gak pernah ragu soal itu."
"Elah, gue jujur tau. Gak bisa banget gue memunafikan keadaan."
"Iya dah. Binar dengan segala bentuk kejujurannya. Selamat lo bikin gue merasa down sampai berasa masuk liang lahat."
Aku mendecak. Aga begitu mendramatisir. "Elah, baperan lo. Udah sih lupain aja. Masih kecil juga, main nembak-nembak anak gadis orang. Udah merasa bergelimang harta lo!"
"Emang. Tau sendiri harta gue udah gak ketadahan sampe tumpah-tumpah."
"Dasar sinting lo!"
Aga tergelak mendengar cibiranku. Entah bagian mana yang menurutnya lucu. Tapi aku senang, setidaknya upayaku untuk mengiburnya tidak sia- sia.
"Bi, gimana kalo lo aja yang jadi cewek gue. Mau, ya? Ya? Ya?"
Tentu saja respon pertama yang aku lakukan adalah memukul kepalanya. Bicara apa bocah ini?
"Ngaco lo!"
"Gue serius Binar Mentari Senja." Ujarnya menyebutkan nama lengkapku. Kemudian tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Seringkali kujumpai moment seperti ini dicerita Ftv, dimana si lelaki akan mengungkapkan perasaannya dan menyebut nama panjang diperempuan ketika siperempuan meragukan ketulusan kekasihnya. Bila sudah begitu, sudah pasti ungkapan perasaannya sebuah kejujuran dan si lelaki tidak mau menerima penolakan.
Aku akui aku tidak buta perihal ini, tapi aku tidak akan menganggap Aga serius sekalipun dia menyebut nama panjangku dengan mimik wajah begitu serius.
Ya, terkadang Aga memang selucu itu kalau bercanda.
"Lo lagi nembak gue maksudnya?"
Dia mengangguk mantap. Dan tawaku lagi-lagi ambyar kemana-mana. Menertawai kegilaan Aga yang entah berasal dari mana? Tuhan, ada ya orang semacam Aga ini, diciptakan hanya untuk menjadi bahan tertawaan.
"Jadi gimana?"
"Gila kali ya. Lo itu gue anggep adek gue sendiri. Lagipula gue gak suka sama berondong. Kan udah dibilang."
"Binar please. Umur gue cuma beda 2 bulan aja dan lo memperpanjang itu sumur hidup!" Aga mengacak kepalanya frustasi.
"Tapi lo masih SMA."
"Apa gue perlu loncat kelas, biar kita sederajat?"
"Idih najis amat. Lo segila itu ternyata."
"Gue serius Binar."
Aku membeku. Menilik kebohongan yang siapa tau bersembunyi dibalik kedua mata gelap Aga. Tapi aku tak menemukannya. Apa aku kelihatan naif kalau menganggap Aga serius dengan perasaanya?
Ah, tapi ini terlalu gila. Aga itu hanya teman mainku saat SD, perlu digarisbawahi bahwa kita sedekat itu haya ketika SD. Pertemuan beberapa hari lalu adalah yang pertama bagi kami setelah bertahun-tahun lamanya.
Mustahil Aga menyukaiku hanya dalam beberapa waktu belakangan ini kecuali apabila benih benih cinta itu tumbuh semasa kami masih SD, tapi itu lebih tidak mungkin lagi. Mana mungkin diusinya yang benar- benar dini Aga mengetahui sebuah rasa yang dinamakan cinta lalu dia mendalaminya.
Aku berfikir lagi. Mengingat ucapan Bening yang selalu aku percayai kebenarannya. Bahwa semua laki-laki memang pandai memainkan kata, oleh karenanya aku diwajibkan mencermati sebelum logikaku menganggapnya serius.
"Jadi gimana?"
Kudengar Aga mengulangi pertanyaan yang serupa, kali ini tampak tidak sabaran.
"Ya gak gimana-gimana."
"Gue diterima."
"Ya engg..."
"Eheemm!!"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah deheman mengintrupsiku dari arah pintu. Aku dan Aga sama-sama menoleh kepada dan Aga sama-sama menoleh kepada suara itu, dan menemukan Raka sedang bersandar diambang pintu dengan gaya sok coolnya. Sebelah tangan dimasukan kedalam saku dan satunya ditahan didagu. Sebelah alisnya menaik ketika menatap aku dan Aga bergantian, seolah menyimpan rasa curiga yang dia simpan didalam kepala.
Aga mendengus tak suka. Lalu menggerutu. "Kenapa sih lo bisanya ganggu suasana aja!"
"Lo berdua ditunggu diibawah."
Menghiraukan gerutuan Aga, Raka berbalik badan lalu pergi. Diam-diam aku bernafas lega. Kedatangan Raka seolah sudah menyelamatkanku.
"Yuk, ah turun." Ajakku kepada Aga.
"Tapi Bi, gue belum selesai." Aga menahan tanganku dan segera saja aku menepisnya.
"Lama lo. Keburu digrebek serumah entar."
Akhirnya Aga menyerah. Lelaki itu mengekor dibelakang dengan bibir mengerucut tebal.