
Ini ospek kedua. Dan sekali lagi, aku mendapati namaku terdaftar dalam absen Maba yang datang paling akhir
Tuhan... nikmat mana lagi yang engkau dustakan!
Hari ini, semua Maba sedang berjajar rapi dilapangan. Nafasku masih tersengal ketika memasuki barisan. Berusaha mengatur nafas agar tidak ada yang curiga. Syukur-syukur nasibku mujur tidak ketahuan.
Namun sepertinya karena penampilanku yang mencolok ini beberapa panitia ospek yang sedang berjalan-jalan menyadari bau-bau kriminal ketika menatapku. Aku menunduk, membuang nafas panjang- panjang sambil menggumamkan berbagai macam harapan do'a. Tapi harapan itu sirna begitu sebuah suara menunjuku dari depan.
"Lo yang dibelakang! Maju sini!" Perintah bernada tegas itu terdengar menggelegar. Dari seorang lelaki yang berdiri satu-satunya didepan lapangan. Siapa lagi kalau bukan Raka. Si ketua BEM sok itu.
Aku melenguh sebentar sebelum menurutinya. Habis sudah riwayatku! Kenapa aku begitu yakin kalau yang ditunjuknya adalah aku. Itu karena cuma aku satu-satunya yang berdiri dibelakang. Sementara Maba yang lain sudah baris berpasang-pasangan.
"Cukup! Berhenti disitu."
Kakiku reflek berhenti begitu menempati titik dimana puluhan pasang mata dapat menyorotku dengan leluasa. Aku merasakan frasat buruk akan menimpaku tidak lama lagi. Itu juga yang membuat tubuhku tiba-tiba panas dingin. Belum apa-apa saja aku sudah gemetaran, aku juga bisa merasakan peluh membanjiri keningku yang terpapar langsung sang mentari padahal panasnya belum seberapa.
"Lo lagi, lo lagi." Decaknya malas.
Dengan tangan bersidekap, Raka memicingkan mata kepadaku. Dagunya mengedik angkuh.
"Lihat jam sekarang?"
Dengan reflek aku mengangkat tangan. Bukan karena patuh akan perintahnya tapi karena aku sedari tadi memang berniat ingin melihat jam. Hanya saja belum ada kesempatan.
Pukul 08 lewat 5 menit.
Aku memelototi jam tanganku. Sial! Hanya terlambat 5 menit. Padahal seharusnya aku bisa mengikis 5 menit itu seandainya tadi aku berlari dari halte bus.
Sial! Sial!sial! Lagi dan lagi aku hanya mampu memendam umpatan karena tak bisa berbuat banyak selain menyesalkan sesuatu yang sudah terjadi. Ya tuhan... kenapa sih nasibku sesial ini?
"Udah tahu apa kesalahan lo?"
"Tahu kak." Cicitku sambil menunduk.
Aku terpaksa memanggilnya dengan embel-embel Kak karena kampus ini menjunjung tinggi sopan santun.
"Sebutin apa?"
"Gue terlambat lagi."
"Good girl. Lo cukup berani mengakui kesalahan ya." Dia tersenyum sinis." Gue suka." Ungkapnya kemudian yang kuyakini sebuah sindiran.
"Tapi gue punya alesan..." aku bersiap menyangkal namun kalimatku segera dipotong olehnya.
"No!no!no!" Tangan kanan Raka mengibas dengan angkuh." Gue gak mau tau alesan lo apa? Dan gue juga gak ada niat kasih lo kesempatan buat menjelaskan. Apalagi buat membela diri. Jelas gak akan gue kasih!"
"Hukuman yang kemarin nyatanya gak cukup bikin lo jera ya." Dihelanya nafas begitu dalam, seolah menghadapiku sesuatu yang menguras jiwa, raga dan fikirannya.
"Yang laki-laki aja udah pada insaf, apa kabar sama lo yang kodratnya perempuan." Ujarnya yang berhasil menyentil nuraniku sebagai perempuan. Tapi aku masih tak bergeming, meski hasrat ingin memoles mulut Raka dengan lem sepatu terpatri begitu besar.
"Oh, atau jangan-jangan ini kebiasaan lo pas sekolah ya? Gue gak peduli gimana cara guru dan pengurus-pengurus sekolah lo memprioritaskan lo dan menganggap siswi teladan. Tapi disini gue pastiin skandal yang lo buat gak berlaku sama sekali."
Oh tuhan.. tajam sekali lidahnya manusia yang satu ini. Andai engkau memberiku kesempatan untuk merobeknya akan dengan senang hati aku lakukan. Sungguh tanganku sudah gatal, segatal-gatalnya.
Sabar Binar.. sabar! Biarlah dia membeo semaunya, anggap ocehannya seperti nyanyian burung yang tidak berarti apa-apa.
"Tapi, tolong dong! Lo tuh sekarang Maba di kampus kenamaan. Jaga nama baik kampus! Gak perlulah lo repot-repot bikin prestasi ini itu. Cukup kondisikan sikap lo yang gak disiplin ini."
Aku mendongak, rasa-rasanya uap dikepalaku ingin meledak sekarang juga. "Gue..."
"Gue gak ada kasih lo kesempatan buat ngomong perasaan." Gumamnya lebih ke pertanyaan.
"Tapi gue---"
"Selain gak disiplin lo juga suka membantah ya, ternyata?" Dihelanya nafas begitu panjang." Lo tuh seharusnya------"
"Raka?!"
Suara seseorang mengintrupsi dari arah gedung sebelah. Kepalaku tertoleh mencari sumber suara itu. Dapat kulihat seorang lelaki berkacamata menghampiri kami bersama seorang gadis dengan rambut memakai pita kuning, dimana artinya gadis itu juga peserta ospek.
"Tata kesiangan. Dia juga harus dihukum." Ujar lelaki itu. Menyuruh gadis bernama Tata ikut berdiri disampingku.
Raka terdiam, memperhatikan Tata yang tengah menunduk disampingku dengan mata tajamnya.
"Lo berdua lari keliling lapangan 10 putaran!"tandasnya kemudian.
"Lo gila!" Lelaki yang tak kuketahui namanya itu megintrupsi. Lalu berbicara." Gak inget kemarin tu cewek berakhir di Unit kesehatan habis lo suruh lari 10 putaran."
"Tapi hukuman itu pantas buat Maba gak disiplin kayak dia!"
"Lo bisa digugat kalo dia pingsan lagi, Raka." Lelaki itu dengas tegas memperingatkan.
"Terus mau lo apa?!"
"5 putaran udah cukup."
Raka menarik nafasnya sebentar lalu berucap. "Oke, 5 putaran."
Begitu suara peluit terdengar aku mulai berlari, diikuti gadis berkucir kuda disampingku bernamakan siapa tadi?
Ah, Tata ya kalau tidak salah namanya.
"Lo kenapa kesiangan?"
Aku menoleh karena merasa Tata bertanya padaku.
"Eh! gue kejebak macet."
Dia mengangguk." Nama lo Binar kan?" Tanyanya lagi.
"Lo tahu nama gue? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?"Tata tersenyum mendapati wajahkeherananku."Sorry, gue gak inget."
"Santai aja kok. Kita emang belum pernah ketemu. Tapi gue tau nama lo."
Aku memicingkan mata, menatap gadis asing ini dengan seksama. Ini aneh, Aku tak mengenalnya tapi dia tau namaku. Dia mencurigakan.
Seolah tahu kemana jalan pikiranku.
Gadis itu tertawa renyah." Gak usah mikir macem-macem. Gue tau nama lo karena kemarin gue lihat lo keluar dari Ruang Unit kesehatan pas gue liat Buku jurnal nama lo tertulis disana."
"Lo ada disana juga?"
"Enggak sih. Tapi cowok gue panitia ospek yang lagi jaga disana. Kebetulan aja gue iseng liat-liat."
Oh begitu rupanya. Pantas dia bisa tahu namaku.
"Gue Natasha Adelia. Lo bisa panggil gue Tata." Gadis itu menjulurkan tangannya sembari tersenyum dan kusambut dengan senyuman.
"Lo masuk jurusan apa?" tanyanya lagi.
"Hukum. Lo?"
"Woww Keren! Gue Arsitek."
"Lo juga keren."
Tata hanya tersenyum menanggapinya tanpa berkata lagi. Baguslah, aku juga sedang malas banyak bicara disaat nafasku tersengal begini.
Terhitung sudah putaran ke empat aku dan Tata mengelilingi lapangan ini, tinggal selangkah lagi maka semuanya selesai. Aku meliarkan pandangan kesekeliling, betapa luasnya lapangan ini. Entah berapa luas x lebarnya aku malas mengira-ngira. Tapi yang jelas, nafasku sudah tersendat-sendat didetik- detik terakhir.
Aku melirik Tata yang sekiranya 5 langkah dibelakangku.
Aku terkejut mendapati tubuh gadis itu terkulai lemah ditanah.
Ya tuhan! Tata kenapa?
Dengan gerakan cepat aku berlari, menghampiri gadis itu dan mengguncang bahunya.
"Ta, are you okay?"
Tata mendongak. Matanya mengedip lambat-lambat. Nafasnya ikut tersendat. Oh, jangan lupakan wajahnya yang pucat seperti mayat. Dia pasti dehidrasi.
"Kita ke Unit kesehatan sekarang."
Kataku, meraih tangannya dan kurangkulkannya dibahuku, berniat memapahnya. tapi mungkin karena akupun kelelahan tubuhku tak kuat menahannya sehingga yang terjadi kami jatuh bersamaan.
"Lo tunggu disini. Gue panggilin panitia ospek dulu."
Tata mengangguk lemah, sementara itu aku berlari mencari pertolongan. Sialnya, seluruh ruangan di lantai 1 kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. entah kemana perginya orang-orang. Lalu tanpa berfikir panjang lagi, aku berlari kelantai 2 menelusuri setiap ruangan sampai diruang bertuliskan Aula aku mendengar suara ricuh.
Persetan dengan nafasku yang hamper diujung tanduk, Aku mengetuk pintu seperti orang kesetanan. Dan detik itu juga kericuhan itu sirna. Berganti senyap dengan berpuluh-puluh pasang mata menatapku tanda tanya.
"Permisi kak!"
"Kenapa Dek?" Tanya seorang Gadis yang berdiri tak jauh dariku.
"Itu dilapang..." suaraku tersendat karena nafasku yang belum beraturan. Sehingga yang kulakukan menunjuk kearah lapang.
Satu diantara mereka untungnya ada yang peka. Lelaki berkacamata itu berjalan menuju balkon dan terkejut mendapati Tata terkulai lemas dibawah terik mentari.
"YA TUHAN! TATA!"
Mendengar seruan itu, panitia yang lain mulai ribut, ikut-ikutan berlari ke balkon.
Lelaki berkacamata tadi bertetiak kepada panitia lain untuk segera siaga 1 menyiapkan kotak P3k beserta peralatan ***** bengeknya. Lalu lelaki itu berlari pontang-panting menuruni tangga yang diikuti olehku dibelakangnya.
"Lo gak papa Ta?" Tanya lelaki itu begitu tiba disamping Tata. Taut wajahnya kentara sekali kalau dia begitu khawatir ketika memangku kepala Tata agar bisa leluasa bersandar dipahanya.
Dalam keadaannya yang lemah Tata masih sempat menyunggingkan senyum."Gue gak papa kok. Cuma lemes aja."
"Ck. Kan udah dibilangin, kalo gak kuat jangan maksain. Badan lo tuh lemah! Kenapa sih dibilangin susah banget!" Lelaki itu terus mengomel menyalahi Tata yang terlalu sok kuat.
Padahal sudah tahu tubuhnya sedang tidak vit. Sesekali juga dia mengumpat karena tim unit kesehatan tak juga menampakan batang hidungnya.
"Ta, lo bikin gue takut tau gak sih!" Katanya lagi terdengar suara kejujuran dari dalam hatinya.
Sementara itu Raka dan beberapa orang berjas putih mulai berdatangan, membawa Tandu dan tabung oksigen. Raka sempat menyentuh bawah hidung Tata sebelum menyuruh petugas kesehatan memasangkan tabung oksigen kehidungnya.
Lalu, tanpa diduga Raka menoleh kepadaku. Tatapan matanya seolah menuduh.
"Kalo ada orang sakit tuh bilang! Minta tolong kek! apa kek! Jangan dibiarin sendiri dilapang kayak gini. Udah tahu panas! Lo gak punya rasa manusiawi banget ya!"
Jleb!
Kalimat itu seperti silet yang menyayat-nyayat uluhatiku hingga menjadi potongan-potongan kecil. Rasanya sakit sekali menyadari semua orang menatapku dengan tatapan menuduh dan semua itu karena Raka.
Mataku memanas tanpa terasa. Jadi Usahaku berlari pontang panting ditengah nafas tersengal itu tak berarti apa-apa? Hanya karena aku meninggalkannya dibawah terik matahari seorang diri.
Tidak ingatkah dia kalau Tata begini juga karena ulahnya. Coba saja Raka tak menghukum kami dengan lari keliling lapangan. Tata tidak akan kelelahan, sekalipun dia sakit aku juga masih bisa menggendongnya sampai keunit kesehatan. Aku tahu ini hanya satu dari sebagin triknya untuk menjatuhkan aku dimata orang banyak.
Sungguh tidak habis dengan lelaki ini. kenapa dia selalu melontarkan kalimat pedas dan mengibarkan bendera perang semenjak kejadian dimalam itu. Ya, aku bisa menagkap sorot kebencian itu bekilat dimatanya.
"Lo mau bilang kalo gue penyebab Tata sakit? Ha?!"
"Lhoh, gue gak bilang. Kenapa lo bisa berfikir kesana? Merasa ya?"
"Lo tuh, ya!!!"
"Stop Raka!" Suara Tata mengintrupsi."Udah jangan salahin Binar. Dia gak salah." Aku mendengar suara Tata begitu lemah, aku menghampirinya dan melihat cairan berwarna merah mengalir dari kedua hidungnya.
Mataku membelalak. "Ta hidung!" Tanpa sadar aku berteriak histeris,"Hidung lo..."
Aku tak sanggup meneruskan kalimatku, rasanya seperti ada serangga yang menghisap darahku sehingga langsung naik sampai keubun-ubun hingga tak ada yang tersisa untuk kedua kakiku berpijak.
Lalu yang terjadi selanjutnya aku terkulai lemas. Kepalaku terasa berputar-putar, mataku berkunang-kunang. Dalam keadaan ini telingaku masih bisa mendengar teriakan yang saling nenyahut menggumamkan namaku dan terakhir yang bisa aku lihat, semua orang mengelilingiku, menguncang guncang wajahku kemudian.....
Gelap!
☆☆☆
Hal yang pertama aku rasakan ketika membuka mata adalah denyutan membabi buta dikepala, kedua mataku juga belum seutuhnya terbuka akibat pening ini, Seluruh tubuhku terasa linu sekaligus kaku, berat sekali digerakan.
Aku tak tahu jam berapa sekarang dan dimana tempatku berada? Terakhir yang aku ingat aku pingsan dilapangan. Dapat kucium bau alkohol dan obat-obatan yang begitu pekat. Tidak, ini bukan Unit kesehatan yang kemarin aku tempati. Baunya lebih pekat dari yang kemarin. Apa aku dirumah sakit?
"Lo sih semena-mena sama dia. Gini kan akhirnya! Gue udah peringatin lo sebelumnya, tapi lo gak pernah dengerin gue!"
"Gue cuma bertindak sesuai aturan. Dimana yang salah harus disalahkan! Dia terlambat dan menurut lo itu bisa dibenarkan?"
"Tapi gak gitu caranya Raka! Anak orang bisa mati lo suruh marathon tiap hari."
"Kalian ini ya, bisanya nyalahin aja. Kalo yang udah tu yaudah. Sekarang pikirin gimana caranya Binar sadar. Dia pingsan udah 8 jam, kalau 2 jam lagi belum sadar kita harus hubungi keluarganya."
APA?!!! Sudah 8 jam aku pingsan? selama itu? Pantas saja tubuhku kaku sekali digerakan.
Aku meringis karena kepalaku berdenyut mendengar teriakan orang bertengkar. Dapat kuyakini satu dari dua orang itu adalah Raka. Sepertinya mereka belum menyadari kalau aku sudah siuman. Hah! Haruskah aku berpura-pura masih dalam mode pingsan saja agar lelaki itu terus disalahkan. Tapi aku haus, tenggorokanku kering sekali sehingga tanpa sadar aku berdehem.
Hal itu sontak mengundang orang- orang yang berkumpul disofa itu mendekat.
"Lo udah sadar?" Pertanyaan itu berasal dari lelaki berkacamata. Dia juga mengambil lenganku dan memeriksa dibagian nadinya.
"Gu-- gue haus."
Dan dengan sigapnya lelaki itu mengambil air dari atas meja. Aku meneguknya hingga tandas, tanpa memperdulikan tatapan tanda tanya 6 pasang mata disampingku.
"Lo bikin kita khawatir Binar." Kata Tata.
Loh, bukannya tadi gadis itu juga pingsan ya? Kok bisa dia kelihatan sehat walafiat? Atau mungkin tidak jadi pingsan.Tata duduk dikursi dekat bankar.
Memperhatikan wajahku dengan seksama." Lo kok bisa pingsan sih? Aneh banget. Perasaan yang sakit tuh gue deh?" Katanya lagi, aku menggedik bahu lemah. Tidak mungkin kan aku mengatakan kalau aku punya phobia melihat darah.
Kata Bening aku harus merahasiakan hal itu dari orang asing. Akan berbahaya kalau nanti justru dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang mencari keuntungan dariku.
Ya, intinya aku phobia darah dan itu rahasia negara!
"Gue tadi belom sarapan. Dehidrasi kayaknya. Iya, gitulah pokoknya."
"Harusnya bilang kalo lo gak kuat. Gak usah sok kuat. Kalo lo kenapa-kenapa kan gue yang disalahin!"
Raka yang berdiri disebelah Tata menyahut, tapi matanya tidak menatapku. Nadanya ketus sekali.
Hish! Dia ini ya? Bukannya minta maaf atau paling tidak merasa bersalah malah mengucapkan kalimat pedas kepadaku. Huh! mendadak suasana diruangan ini terasa panas setelah lelaki itu berbicara. Padahal ruangan ini berAc.
"Yaudah, yang penting lo udah sadar. Apa yang lo rasa sekarang?"
Lelaki berkaca mata tadi memotong kalimatku yang siap meluncur.
"Pusing. Kepala gue nyut-ntutan."
"Mau dipanggilin dokter?"
Aku sontak menggeleng keras." Jangan! Mending gue pulang aja sekarang." Aku beringsut, berniat untuk bangun tapi mungkin karena tubuhku masih terasa lemah aku jadi terduduk kembali.
"Jangan dipaksain. Darah lo rendah banget tadi, Lo harus istirahat minimal 2 jam sebelum banyak gerak." Ujar lelaki itu lagi.
Begitu aku mendengar suaranya, entah mengapa rasanya dunia ini begitu damai. Aku memicingkan mata, memfokuskan padangan memperhatikannya. Aku baru sadar kalau lelaki berkacamata ini tampan, matanya yang tertutup kaca mata itu kelihatan meneduhkan, wajahanya enak dipandang. Berbanding terbalik dengan Raka. Sekalipun dia tampan tapi tidak berguna kalau bermulut pisau.
☆☆☆
Pukul tujuh kurang lima belas menit aku terbangun, hampir 5 jam aku tertidur rupanya. Padahal tadinya aku berniat hanya 2 jam saja, sekedar mengembalikan tenagaku. Tidak ada siapapun dikamar rawat inapku, apa semua orang sudah pulang? Jadi aku ditinggakan sendiri disini?
Ya Tuhan!!! Bagaimana dengan biaya administrasinya? Pasti mahal!
ditambah lagi kamar yang aku tempati ruang VIV. Haduh,,,, bagaimana ini?
Ceklek!
Suara decit pintu membuatku dalam sekejap menolehkan kepala. Rasanya lega sekali melihat lelaki berkacamata tadi berjalan memasuki ruangan ini. Ya siapa tahu dia bisa membantu. Eh, tapi kenapa hanya dia saja.
"Udah bangun ya?" Lelaki itu tersenyum."Butuh sesuatu?"
"Emmm... kalo gak keberatan gue boleh minta air."
Lelaki itu mengangguk, lalu mengambilkan segelas air putih.
"Makasih."
"With pleasure." Dia mengedik bahunya masih dengan senyum yang tak luntur. Duh, kenapa sih dia mesti senyam-senyum begitu, aku kan jadi serba salah. Mau balas senyum, nanti kelihatannya sok akrab. Cemberut? Masa iya orang sudah berbuat kebaikan dibalas cemberut. Sungguh, tak tahu diri namanya.
"Gimana? Udah merasa lebih baik?"
Aku mengangguk." Lebih baik dari yang tadi. Gue udah boleh pulang kan?"
"Kata Dokter sih lo bisa pulang hari ini juga. Lo cuma dehidrasi."
"Begitu ya?"
"Lo mau pulang sekarang? Ayo, gue anter."
"Eh, gak usah Kak! Lo udah bantu banyak. Gue bisa pulang sendiri kok."
"Ngomong apa sih? Lo masuk rumah sakit kan karena temen gue jadi anggep aja sebagai permintaan maaf dia ke elo."
"Yang salah tuh Raka, bukan lo. Jadi yang harusnya minta maaf juga dia!"
"Raka emang gitu orangnya. Tapi niat dia baik kok, dia cuma bertindak tegas sebagai ketua. Lo jangan ambil hati ya."
Aku tidak membalas dengan kata hanya tersenyum saja. Kalau saja lelaki ini bukan orang baik aku pasti akan mencibir bahwa ia terlalu baif jika menganganggap Raka itu baik.
"Jadi, lo mau langsung pulang?"
"Iya. Ini udah malem banget."
"Oke, Rumah lo masih yang kemarin kan?"
"Ha? Yang kemaren?" Aku mengerutkan dari heran.
Lelaki itu tersenyum penuh arti. "Puri kembangan blok A. No 9."
"Lo tahu rumah gue?!" Aku bertanya syok. Suaraku meninggi dengan sendiriya. Serius, aku terkejut bukan main.
"Lo penguntit ya?!"
Lelaki itu terkesiap. Mungkin menyangka reaksiku sangat berlebihan.
"Apa jangan-jangan lo gak inget gue ya?"
"Emang kita pernah ketemu sebelumnya? Sorry gue pelupa banget orangnya."
"Remember 2 yesterday. Bogor atau bus pariwisata?"
Aku memutar ingatan 2 hari kebelakang. Bogor ya? Memang ada apa dengan kota itu? Lalu mataku membelalak begitu ingatanku jatuh pada peristiwa di mobis bus tempo lalu.
"Oh god!!! Lo cowok berhoody hitam itu?"
"Baguslah lo gak lupa sama gue." Dia menghembuskan nafas lega.
"Serius lo cowok yang itu?!" Aku masih menatpnya tak percaya.
"Menurut lo?"
"Hih! Gue gak nyangka lo kakak tingkat gue." Aku bergidik ngeri, belakangan ini sering mendapat kejadian-kejadian tak terduga. Dunia memang tidak lebih besar dari daun kelor tuh bener ya?
"Lo ternyata orangnya lucu ya." Dia tertawa sebentar, lalu berdehem kemudian memasang wajah biasa lagi.
"Nama gue Gema. Lo Binar kan?"
Katanya lagi dengan tangan sebelah kanan terjulur kepadaku. Gema ya? Mataku melebar kala mengingat sesuatu.
"Boleh tau nama panjangnya?"
Gema sempat menaikan sebelah alisnya sebelum menjawab."Gema Baskara."
Benar. Dia Gema yang itu! Dia tinggi, putih, berkaca mata juga. oh dan ya, dia punya tahi lalat diujung kelopak mata kanan. Jadi ini Lelaki yang kucari-cari kemarin? Sungguh suatu keberuntungan aku bisa mengenalnya sekarang.
"Gema Baskara, anak Hukum, semester 4, berkacamata, punya tahi lalat diujung kelopak mata kanan. Jadi itu lo?"
Sekarang giliran Gema yang menayapku tanda tanya. "Lo kenal gue?"
Aku spontan menggeleng. Lalu menceritakan peristiwa kemarin, asal muasal aku dihukum oleh Raka keliling lapangan 10 kali. Itu juga yang menyebabkan aku terlambat bangun pagi tadi. Ya meskipun sebenarnya karena si brengsek Fajar sih.
Gema menertawaiku, Tawanya lantang sekali. Seolah penderitaanku sebuah kesenangan baginya, atau dia senang karena menjadi bahan pencariaku kemarin. Ah terserah dia lah, orang tampan kan punya hak bebas.
Aku cemberut tidak suka. Lama-lama kesal juga jadi bahan tertawaan. Huh! menyebalkan juga ya orang ini.
"Gue mau pulang aja ah!" Kataku ketus lalu menyibak selimut dan turun dari Bankar. Gema langsung menyadari gerakan itu dan dengan sigapnya, dia menahan tanganku.
"Gue anter ya."
"Gak usah! Gue bisa pulang sendiri."
"Tapi gue maksa."
Aku menatapnya tajam. Apa-apan dia ini? Seenaknya saja maksa-maksa anak orang. Aku laporkan kepihak berwajib tau rasa dia! "Yuk, jangan kelamaan mikir. Gak baik
tau."
Dan dengan tidak tahu dirinya Gema tersenyum, mengedipkan sebelah matanya genit, tidak kelihatan merasa bersalah sama sekali. Ada ya orang seperti ini didunia nyata, kukira hanya di novel-novel saja. Tanpa sadar tubuhku bergidik sendiri.
Belum selesai dengan pikiranku, tiba-tiba Gema meraih tanganku, menggandengnya erat dan setelahnya aku lupa kalau aku sudah meninggalkan ruang inap.