Nothing Impossible

Nothing Impossible
Part 3



“Kemana lo?”


Aktivitas Bening yang sedang memasang tali sepatunya terhenti Ketika mendapati pertanyaan dariku. Dia menoleh sebentar dengan muka datar sebelum Kembali melanjutkan aktifitasnya.


“Kerja lah. Yakali jalan-jalan.” Balasnya sewot. Kelewat sewot malah, ah, mungkin dia sedang PMS. Bening memang punya emosi yang buruk kalau sedang PMS. Its oke, aku memakluminya.


“Masih pagi loh?”


“iyalah. Gue kan pekerja keras, pergi pagi pulang pagi.” Balasnya sedikit membuatku tersinggung. Dan kupikir dia juga memang sengaja menyinggung.


Bening lantas berdiri merapihkan kemeja putihnya yang sebenernya masih rapih. Gadis dengan rambut sepinggang itu mengambil ID Card kebanggaannya dari dalam tas dan mengalungkannya dileher.


Oh iya, aku lupa bilang kalau sekarang Bening berubah profesi. Dia mengabaikan tawaran menjadi artis dan memilih bekerja sebagai presenter di stasiun TV swasta nasional yang kurang terkenal.


“Kak…”


Bening menoleh ketika hendak beranjak pergi. Matanya menyipit menatapku penuh curiga, sudah hafal diluar kepala apabila aku memanggilnya memakai embel-embel Kak pasti ada maunya.


Ya, memang!


“Mau apa lo?”


“Uang buat ongkos dong.”


Bening mendengus. “yang kemarin udah abis?”


“Kan buat belanja kebutuhan  rumah juga. Tuh liat, kulkas penuh ulah siapa? Lo mana peduli soal begituan.”


Bening berdecak, Tapi tak pelak meninggalkan uang beberapa lembar diatas meja. “nih ya, harus cukup buat makan siang sampai malem. Hari ini gue pulang malem. Gak ada kata merengek minta makan pas gue legi kerja.”


Aku tersenyum senang, tanganku yang lincah ini langsung merebut lembaran uang yang melambai indah diatas meja.


“Oke deh. Makasih kakaku tersayang! Love uuuuu.”


Bening bergidik geli Ketika aku memonyongkan bibir dan memberinya kecupan jarak jauh.


“Sarap lo ya! Dah ya, gue pergi!”


“Iya sana pergi. Ntar lo dipecat gue gak kecipratan duit lagi.” Gumamku sambal terkikik.


“Najisin punya adek!”


“Suara Bening yang terdengar seperti umpatan itu hanya kubalas berupa kikikan. “Najisin juga lo sayang, kan.”


Tidak ada balasan dari Bening. Gadis itu sudah menghilang dibalik pintu.


Aku menoleh kekanan kekiri, celingukan sendiri kemudian menghela nafas panjang begitu sadar aku sendirian dirumah.


Mulai sekarang aku harus terbiasa dengan keadaan ini.


☆☆☆


Sebenarnya hari ini aku tidak ada jadwal kemana-mana. Uang yang Bening berikan tadi pagi masih tersimpan cantik didalam dompetku. Jadwal ospekku masih sekitar 5 hari lagi. Aku meminta uang hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau nanti Bening mendapat shift malam dan paginya belum pulang jadi aku tidak perlu kerepotan mencari pinjaman untuk makan besok pagi.


Meminta pada Mama?


Oh jelas tidak akan! Perlu diketahui bahwa setelah Mama menikah lagi, aku dan Bening sudah enggan menerima apa-apa lagi dari Mama. Alasannya sederhana, aku dan Bening tidak mau memakan uang pemberian Om Adit barang sepeserpun.


Tok!Tok!Tok!


Aku mengetuk rumah Aga. Berniat mengembalikan kotak makan yang dibawakan Tante Mutia kemarin, tidak lama kemudian muncul sosok laki-laki dengan penampilan acak-acakan. Aku menatapnya lama, bukan karena terpesona tapi lebih ke……jijik.


“Napa lo? Liatin gue kayak gitu? Terpesona sama gue?”


Aku bergidik. Menutup hidung Ketika bau tidak sedap menguar dari badan Aga.


“Ini serius gak sih, rumah Tante Mutia?”


“Menurut lo?”


“Sejak kapan Tante Mutia melihara gembel?”


Wajah Aga yang asam bertambah asam sekarang.


“Asem banget mulut lo, Bi.”


“Aga siapa yang dating? Kok gak disuruh masuk tamunya.” Suara Tante Mutia terdengar dari dalam rumah lalu aku langsung nyelonong masuk, mendorong Aga yang menghalangi jalanku.


“Heh, ini bocah main masuk-masuk aja! permisi-permisi kek!”


Samar aku mendengar Aga menggerutu. Aku mengabaikan saja dan menghampiri Tante Mutia yang sedang masak didapur.


“Hallo Tante, lagi masak apa?” Sapaku ramah.


“Eh, Binar. Hallo juga sayang. Ini lagi buat Ayam balado kesukaan Raka. Gak tau nih tiba-tiba Raka udah manja pagi-pagi gini.”


Aku mencemooh diam-diam. Huuu! Anak mama sekali dia.


“Oh ya. Kelihatannya enak tuh Tan.”


“Kamu ikut makan ya. Pasti belum sarapan kan?"


“Emm. Gak deh Tan makasih, aku udah sarapan kok.”


“Sarapan apa? Jangan bohong. Disini jauh loh kemana-mana. Tante gak yakin kamu mau jalan kaki kedepan pagi-pagi gini.”


“Heheh.” Aku nyengir ketahuan berbohong.” Tapi Tan. Gak enak deh masa pagi-pagi udah ngerepotin aja.”


“Kamu ini. Kayak kesiapa aja. Udah kamu duduk dulu di sofa sana. Temenin Rama main gih.”


“Aku bantuin Tante aja disini deh.”


“Jangan! Kamu temenin Rama aja sana. Tante gak yakin Aga bisa jagain adeknya.”


“Oke deh kalau gitu.”


Lalu aku berjalan menuju ruang tengah dimana Aga sedang menemani Rama menonton kartun di televisi.


Balita berusia 2 tahun itu Nampak anteng dibawah pangkuan Aga. Sesekali berceloteh ria mengikuti percakapan kartun ditelevisi. Sementara Aga malah tertidur.


Ckck.. kakak yang payah memang Aga ini.


“Hallo Rama. Udah gede ya sekarang.” Sapaku sok akrab kepada Rama. Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Balita itu tercengang menatapku seolah sedang mengingat aku ini siapa.


“Hidih lo sok kenal deh!”


Malah Aga yang menjawab.


“Oh iya. Rama belum tau ya kakak cantik ini siapa?” Aku mengibaskan rambut bak model iklan shampoo di televisi.


“Hallo, nama kakak Binar, kamu bisa panggil kak Bi ya.” Aku tersenyum semanis mungkin dan mengulurkan tangan kehadapan Rama yang dibalas balita itu dengan wajah ketakutan.


Aga yang melihat interaksi kami kurang baik menahan tawa dan menyembunyikan Rama dibalik ketiaknya. Aku cemberut lalu membuang muka.


“Adek lo ngeselin Ga.”


“Emang! Tapi dia gemesin. Pengen gue bikin nangis deh rasanya. Tapi takut gue yang dibikin nangis sama Mama.”


“Huuu. Dasar anak Mama.” Cibirku.


“Elah Bi, lo tuh belum pernah sih ngerasain gimana rasanya jatah bulanan lo dipotong dan lo terlunta-lunta karena kekurangan dana. Minjam sana, minjam sini alhasil tagihan gue numpuk diakhir bulan.”


“Elah lebay lo! Baru dipotong setengah. Belum tau aja rasanya  gak dikasih bulanan sama sekali.”


“Idih jangan dong! Tar gue pakek apa ngajak jalan anak orang.” Aga mengerlingkan matanya melirikku.


Maksudnya kode nih?


“Halah lo! Masih bocah aja belagu ngajak jalan. Belajar sono, biar pinteran dikitlah. Masa bego terus.”


“Anjir. Omongan lo Bi.” Aga mengusap dadanya dengan dramatis.


“Kenapa? Memotivasi banget ya?”


“Iya. Bikin orang tambah cinta aja. Gak bisa move on kan gue.”


“Idih! Sinting lo!”


☆☆☆


“Aga panggilin kakaknya dong diatas!”


“Yaelah Ma. Kak Raka juga nanti turun. Gak usah dijemput segala. Udah kayak Tuan Putri aja.”


“Aga ya, kalo disuruh Mamanya, bantah mulu. Gak pernah sekali perintah langsung jalan. Beda banget sama kakaknya.”


Mendengar itu Aga mendengus keras-keras sampai suaranya terdengar jelas. “Iya Ma, iya. Aga panggilin sekarang.”


Selepas Aga pergi. Tante Mutia memintaku menata makanan dimeja makan. Rama mulai rewel sehingga aktifitas Tante Mutia yang sedang menata meja makan jadi terganggu.


“Maaf ya, Sayang. Tante jadi nyuruh kamu. Abis, Rama lagi rewel.”


“Gak papa kali Tan. Santai aja.”


“Makasih ya, Binar sayang.”


“Sama-sama Tan.”


“Selamat pagi Mama.”


Perhatianku langsung teralih Ketika mendengar sapaan seorang lelaki. Aku melihat lelaki itu turun dari tangga dengan wajah berserinya menghampiri Tante Mutia. Wajahnya Nampak segar seperti baru selesai mandi, kentara sekali dari rambutnya yang basah.


Raka hendak mencium pipi mamanya namun urung Ketika mendapati orang asing berdiri disamping meja. Lelaki itu segera mengalihkan perhatian dan mendaratkan ciumannya kepada Rama.


“Pagi ade ganteng.” Ujarnya sambal mengelus kepala Rama.


“Anak mama udah ganteng aja pagi-pagi.” Tante Mutia mengusap kepala Raka penuh sayang.


Raka tidak menjawab dia memilih duduk dimeja makan tanpa menyapaku. Jangan berharap soal itu darinya. Sejak kecil Raka memang tidak begitu akrab denganku sekalipun aku sering main bersama Aga dirumah ini. Dia cenderung acuh dan lebih suka diam disudut ruangan yang latarnya perpustakaan.


Hmmm. Apa dia masih seperti itu sampai sekarang?


“Raka itu tamunya masa gak disapa?” Tante Mutia duduk disebelah Raka setelah menyimpan Rama kedalam ayunan dan memberi mainan kecil agar balita itu tidak rewel.


Raka sempat menghentikan aktivitasnya yang sedang mengunyah, barulah selepas itu dia menoleh kepadaku.


Matanya lurus sekali Ketika menatapku. “Hai.” Ujarnya yang didetik berikutnya lagi sudah membuang muka.


Aku melongo tidak menyangka. Ternyata dia masih searogan itu ya?


“Kok gitu doang sih? Kaku banget kaya baru kenal  aja. Ini Binar loh Ka, temen mainnya Aga waktu kecil. Masa kamu lupa?”


Dia mengangguk. “Inget kok.”


Sumpah! Raka selain arogan ternyata menyebalkan.


“Ah, kamu ini. Kaku banget sama cewek. Gak kuat ya liat yang cantik-cantik.” Alih-alih kesal Tante Mutia malah terkekeh geli menggoda anak sulungnya.


Raka terlihat tegang. Candaan Tante Mutia itu seolah dianggapnya serius. Lalu dia menundukkan kepalanya.


“Aku mau sarapan Ma.”


“Iya, iya. Yuk kita sarapan. Binar, ayo sayang makan. Jangan malu-malu anggap aja rumah sendiri.”


Ya, aku sih maunya juga begitu, tapi sikap Raka yang demikian membuatku jadi sungkan. Lelaki itu seakan-akan tidak menyukai kehadiranku disini.


“Binar sayang, ayo makan. Kok melamun?”


“Eh! Iya Tante.” Aku tersentak dan segera mengambil piring Ketika mendapat teguran dari Tante Mutia. Samar aku mengintip Raka sempat melirikku sekilas. Sudut bibirnya berkedut, seperti sedang menahan tawa.


Jadi dari tadi aku melamun? Sambil memperhatikan Raka?


Oh, Tuhan!!! Betapa memalukannya.


☆☆☆


“Bi, gue titip Rama bentar aja. Gue mau mandi gerah banget.”


Aga mengibaskan tangannya dileher dengan nafas tersendat-sendat seolah anak itu sedang sekarat karena kepanasan.


“Eh, entar aja sih. Tunggu Tante Mutia pulang. Ini kalo Rama kebangun gimana?”


“Gak bakal, Rama kalo tidur anteng. Asal lo jangan berisik.”


Aku berdiri, menghalang Aga yang hendak menaiki tangga. “Gak mau! Lo jangan ninggalin gue! Kalo Rama nangis gue gak bisa …”


“Yailah tinggal lo gendong terus bikini susu. Rama cepet ngantuk kalo kenyang.”


Aga melongo saat itu juga. Namun sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak. Membuatku khawatir Rama mendengarnya lalu terbangun.


“Serius lo gak bisa gendong balita?”


Aku hanya bisa mendengus menjawabnya.


“Lo kan cewek. Nanti nanti kalau punya anak gimana? Masa iya lo gak mau gendong anak lo.”


“Gue kan gak bisanya sekarang. Bukan nanti! Pokoknya lo gak boleh pergi!” Aku memasang wajah semelas mungkin.


“Hadududu! Ini anak siapa sih? Gemes banget gue.” Aga menangkup kedua pipiku dan meremas dengan kekuatan penuh lalu setelahnya berlari terbirit menaiki anak tangga karena aku memelototinya.


Ingin rasanya aku berteriak, memaki, menyumpah serapah Aga tapi takut suaraku malah akan membangunkan Rama dan justru akan merepotkanku jika balita itu terbangun.


Jadi dengan perasaan menahan kesal aku duduk dikursi disamping ayunan Rama, Sebelah tanganku bergerak mendorong ayunan itu dengan hati-hati. Tante Mutia bilang, Rama akan semakin terlelap apabila ayunannya didorong pelan-pelan.


Sebelah tanganku yang lain, menopang wajahku, memperhatikan Rama yang ternyata benar-benar anteng tidurnya. Balita itu mempunyai wajah yang dominan dengan Tante Mutia. Pipinya bulat, hidungnya mancung, alisnya tidak tebal tapi rapi seperti habis diukir. Kulitnya putih, bersih agak kemerahan dipipi. Ah, aku jadi gemas.


“Eh, eh Rama kenapa bangun!” Aku panik bukan main saat Rama terusik dari tidurnya dan mulai menjebi-jebi. Aku baru sadar kalau ternyata aku mendorong ayunan Rama dengan kencang.


Tangisan Rama mulai mengencang, sementara aku tak kalah kencang paniknya. Bagaimana ini? Demi tuhan aku tidak bisa menggendong balita, terakhir kali aku berani mencoba ketika menggendong adik sepupuku yang berakhir masuk rumah sakit. Semenjak itu, aku menyerah tidak mau menggendong balita lagi.


“Haduh, Rama please jangan nangis dong! Please, please!” Aku memohon dengan sungguh-sungguh kepada Balita ini tapis sama sekali tak diindahkan. Kepanikanku kian memuncak ketika tangisan Rama tersendat-sendat membuatnya kesulitan bernafas.


“Aga, jangan ngusilin Rama kenapa sih? Lo kebiasaan banget iseng!”


Aku terlonjak dari dudukku, itu suara Raka dari lantai dua. Dan setelahnya aku mendengar derap langkah yang tergesa.


Habislah aku!!!


“Lo tuh ya..”


Umpatannya terjeda, Ketika dia menemukan aku diruang keluarga ini. Aku meringis takut saat Raka menghampiriku dengan wajah merah padam.


“Sorry, gue gak sengaja bikin Rama Bangun.” Ujarku merasa tidak enak hati.


Sementara Raka menghiraukan dan mengambil Rama dari ayunan. Dia menenangkannya dengan cara menepuki punggung Balita itu penuh kehati-hatian.  Tangis Rama belum juga reda, membuat aku semakin dirundung perasaan bersalah.


Raka kelihatan mulai risi sekarang, dia melihatku yang sedang berusaha menenangkan Rama dengan mengipasinya menggunakan tanganku.


Mulutnya memang diam saja, tapi sorot matanya seakan sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin mengira aku gadis yang aneh.


Ya, memang konyol sih ini, tapi aku benar-benar panik sekarang dan tidak tahu harus melakukan apa.


“Lo bisa bantu buatin Rama susu gak? Dia kelaperan.”


Aku segera mengangguk dan berlari kedapur. Meracik susu Formula yang sebelumnya sudah diajarkan oleh Tante Mutia. 2 menit kemudian aku selesai dan memberikan susu ini pada Raka.


“Ini.”


Raka menerimanya namun tak langsung diberikan kepada Rama. Dia malah menyimpannya dimeja.


“Ini terlalu panas. Lo terlalu banyak ngasih air panasnya.”


“Oh ya? Emm..biar gue tambahin air dinginnya deh.”


Aku mengambil botol susu itu dan Kembali kedapur, dengan bodohnya menambahkan air dingin. Tapi tiba-tiba Raka muncul dibelakangku dan berujar.


“Kalo lo tambahin air dingin, jadinya malah keenceran. Rama gak suka.”


“Emmm..gitu ya. Gue bikinin yang baru aja deh.”


Aku berinisiatif membuatkan susu yang baru, tapi karena gugup atau apa aku malah menjatuhkan botol susu Rama sehingga airnya berceceran dilantai. Tubuhku otomatis bergeser kebelakang demi menghindari air yang hampir mengenai kakiku tapi yang terjadi selanjutnya aku menabrak peralatan dapur Tante Mutia hingga berjatuhan dilantai.


Alhasil Raka yang menyaksikan kebodohanku melirikku sinis, kelihatan tidak suka.


“Maaf, gu-gue gak sengaja.” Cicitku takut-takut.” Biar gue beresin.” Aku membungkuk, niatnya mau memunguti barang-barang itu.


“Gak usah. Lo mending minggir, gue mau bikin susunya."


Aku jadi serba salah. Tapi menurut saja karena tangisan Rama semakin kencang. Ketika aku berdiri lelaki itu berancang-ancang memberikan Rama kepadaku.


Aku menggeleng keras-keras dengan wajah yang mungkin sudah pucat tapi Raka tak menyadarinya dan tetap memaksa memberika Rama. Mau tidak mau aku harus menerimanya jika tidak rama akan terjatuh.


Tubuhku langsung kaku seperti kanebo kering begitu Rama berada dalam gendonganku. Jantungku rasanya melorot sampai keperut, tanganku gemeteran. Sementara Rama menggeliat tidak nyaman karena aku menggedongnya dengan cara yang salah.


Oke, aku tahu mungkin ini kelihatan berlebihan tapi sungguh sejak peristiwa jatuhnya sepupuku aku tidak berani menggendong balita lagi. Aku benar-benar merasa trauma.


Dan sekarang sewaktu menggendong Rama rasanya seperti sedang menggendong mainan yang enak untuk di lempar-lempar.


Aku menggeleng keras-keras. Jangan! Jangan sampai aku melakukannya, bukan Cuma Rama yang akan celaka, tapi aku juga!


Sekarang aku mulai pasrah sambil menunggu Raka selesai meracik susu, memeluk Rama dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya.


“Coba deh lo gerak-gerak.”


“Gerak-gerak?” Aku mengerut tidak faham? ”apanya yang digerakin?”


“Lo jalan-jalan bawa Rama. Biasanya Mama suka bawa Rama ketaman kalo lagi rewel kayak gini.”


“Gue mesti jalan gitu maksudnya?” Aku bertanya masih kebingungan.


“Iya! Lonya biasa aja gak usah tegang gitu.”


Jalan-jalan sambil gendong Rama? Ke Taman? Jelas itu bukan ide yang baik. Jangankan bisa jalan, gerak saja aku tidak berani. Takut salah.


“Gak ah, gue disini aja.”


“Yaudah terserah. Kalo lo tahan sama jeritan Rama.”


Memang tidak tahan sih. Rama kalau ngamuk tidak tanggung-tanggung. Jeritannya hampir memecahkan indra pendengaranku. Tapi selang beberapa detik, tiba-tiba tangis Rama terhenti. Aku malah ketakutan sekarang, jangan-jangan ada yang salah dengan balita ini.


Bukankah anak kecil seusia Rama itu sensitive ya?


“Emmm. Rama kok diam ya?”


Persetan dengan kata canggung. Aku menanyakan kenapa Rama tiba-tiba menjadi diam. Raka justru berdecak kecil melihat kecemasanku dan mengambil alih Rama kedalam gendongannya.


“Rama cocok sama lo. Seharusnya lo gendong Rama dari tadi. Dia gak akan nangis kejer kalo digendong dari awal.”


“Ha?” aku melongo tidak mengerti.


Raka ini bicara apa sih? Pakek bahasa manusia dong biar aku faham gitu.


“Udah lupain. Tolong bawain botol susu Rama.”


Kemudian tanpa permisi tanpa apa Raka berlalu menuju ruang keluarga. Aku membuntutinya dibelakang dan memberikan botol susu itu kepadanya.


Rama kelihatan tenang setelah mendapat susunya. Aku mengambil tempat diseberang Raka memperhatikan lelaki yang sedang mengajak Rama bermain dengan jarinya.


Diam-diam aku jadi melamun, memikirkan bagaimana rasanya punya adik ya? Raka sendiri kelihatan begitu menyayangi Rama, apa aku juga akan sesayang itu kalau punya adik tiri?


“Lo seharusnya gak sekaku tadi pas gendong Rama.”


Kesadaranku kembali ketika mendengar suara Raka. Mataku mengerjap begitu menyadari lelaki itu sedang berbicara denganku.


“Sebenarnya gue gak bisa gendong balita apalagi bayi.” Jujurku yang membuatnya kebingungan.


“Kenapa?”


“Emmm...kenapa ya?” Aku bergumam tidak jelas, mengatakan kalau aku mengira menggendong mainan ketika menggendong bayi hanya karena kulit bayi terlalu kenyal dan lembut jelas akan kedengaran lucu. Jadi dengan terpaksa aku berbohong.


“Mungkin karena gue belum siap jadi ibu.”


Raka kelihatan heran melihatku. Aku tidak merasa tersinggung sih.


“Lo aneh.”


“Memang. Bening juga bilangnya gitu.”


“Seharusnya lo mulai membiasakan gendong anak kecil dari sekarang.”


“Kenapa? Gue belum punya pemikiran punya anak diusia sekarang.”


“Bukan lo, tapi nyokap lo. Bukannya nyokap lo mau nikah lagi, ada kemungkinan lo bakal punya adik juga.”


Aku mematung seketika. Kemungkinan itu memang sempat aku fikirkan tadi, tapi tidak menyangka jika akan keluar dari mulut orang lain. Dan orang itu justru Raka. Apa semua orang juga berfikir begitu ya? Mama akan punya anak lagi lalu aku akan punya adik.


Aku menunduk, menyelami sebuah objek yang menarik minatku. mendadak jadi memikirkan apa mungkin aku akan baik-baik saja jika punya adik? Tapi jika aku menolak lagi untuk yang kedua kalinya aku juga tidak bisa menjamin pernikahan Mamaku yang ketiga ini akan langgeng sampai tua.


Karena dulu, saat Mama menikah dengan Papa Aftar suami kedua Mama yang berkebangsaan Pakistan itu, aku menolak keras tidak mau punya adik. Alasannya klasik, takut kasih sayang Mamaku yang sudah terbagi-bagi akan terbagi lagi. Dan ya, Mama menurut karena tidak mau mengecewakan aku, karena ketika itu aku masih marah dan enggan menerima Papa Aftar sebagai Papa tiriku.


Tapi sekarang aku menyesal, seandainya Mama punya anak dari Papa Aftar, mungkin Papa Aftar tidak akan Kembali kenegaranya dan meninggalkan Mama. Seandainya  juga Papa Aftar tidak pergi mungkin Mama tidak akan menjanda lagi dan jadi bahan gunjingan para tetangga dan sudah pasti tidak akan memilih menikah dengan Om Adit.


Menyesal memang selalu berada di bagian akhir.


☆☆☆


“Lo kenapa deh? Ngelamun terus dari tadi. Kaya ayam tetangga gue kemarin.” Komentar Aga saat lelaki itu menghampiriku didalam kolam renang.


Aga kelihatan memperhatikanku seperti sedang mencari tanda-tanda orang kesambet, kubalas sikap Aga denngan pelototan.


“Ti-ati kesambet lho. Gue gak bisa ya nyembuhinnya.”


“Gue gak kesambet!” Aku membalas dengan nada jutek sementara Aga justru tertawa.


Aga beranjak menuju kursi untuk mengambil handuk lalu duduk disebelahku yang sedang menenggelamkan kaki disisi kolam. Kebiasaanku yang sulit diubah ketika merasa galau.


“Gue mau nanya boleh?” Aku menimbang untuk mendiskusikan perkara ini bersama Aga. Meski sedikit gengsi, karena lawan bicaraku ini anak SMA.


“Nanya ya nanya aja kali. Pakek ijin segala.” Lelaki itu dengan sengaja mengacak rambutku hingga berantakan. Aku tidak suka perbuatannya, tapi suasana hatiku sedang kelabu dan malas menciptakan pertikaian.


“Lo sayang sama Rama?”


Aga kelihatan kaget mendengar pertanyaanku. “Sayang lah! Gila kali! Ade gue itu. Aneh-aneh aja nanyanya.” Protesnya.


“Lo sama sekali gak merasa takut kalau kehadiran Rama bikin lo kurang perhatian?”


Tapi seolah faham makna dari pertanyaanku. Aga menatap kedua mataku yang sayu lalu tersenyum mengalihkan pandangan kearah lain.


“Awalnya sih iya sempet berfikir kayak gitu. Tapi gue gak bisa dong egois sementara Mama pengen banget punya anak lagi.”


“Oh ya? Terus apa yang lo lakuin pas Tante Mutia melahirkan Rama?”


“Belajar ikhlas, dengan ikhlas akhirnya gue bisa menerima.”


“Tapi diawal-awal gue gak terima sih, karena pengennya punya ade cewek biar ada yang bis ague sangarin sampe nangis. Eh, dikasihnya cowok. Gue bisa apa?”


“Oh, ya? Terus?”


“Lama-lama seneng juga punya adek, jatah jajan gue ditambahin dan gue dikasih Motor baru. Jadi kepikiran kenapa Rama gak lahir dari dulu-dulu gitu?”


“Seseneng perasaan lo?”


“Jujur sih gak seseneng itu juga. Tapi kayak ada perasaan gimana gitu pas pertama kali gendong Rama. Keren aja, gue bakal jadi abang dan punya tanggung jawab nantinya. Terus kesininya mikir apa gue juga bakal kayak gini pas nanti punya anak. Yah, tiba-tiba mendadak dewasa gitu.”


Aku diam-diam mencerna cerita Aga. Tidak kedengaran dibuat-buat, itu artinya Aga memang tidak bohong.


Sampai diakhir cerita Aga menanyakan kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu yang kujawab berupa gelengan kepala.


“Lo berencana punya adek nanti?”


Aku diam. Tidak mengiyakan juga tidak menolak.


“Kalo gue nolak, ap ague kelihatan jahat ya?”


Sebenarnya aku tidak berniat menanyakan pertanyaan ini kepada Aga. Tidak akan dapat solusi kalau berfikir lagi. Hanya saja tiba-tiba kalimat itu justru terujar dari mulutku tanpa kuminta.


“Gak sepenuhnya. Gue juga gak tau bakal seneng atau marah kalau seandainya Rama bukan anak dari Papa.” Aku melirik Aga dengan dahi mengerut. Lalu Aga meralat ucapannya. “Maksud gue, seandainya gue ada diposisi lo, gue gak tau bakal apa seandainya Mama mengandung Rama hasil dari laki-laki lain. Ya meskipun hasil dari pernikahan yang sah.”


“Berarti gue gak salah kan kalo gue nolak punya adik?”


Aga mengedikan bahu. “Mungkin. Tapi lo juga harus inget, Anak itu anugerah pemberian Tuhan. Nolak pemberian Tuhan sama aja lo nolak Takdir.”


Kepalaku menoleh mendengar itu. Kalau aku bilang aku juga tidak suka Mama menjanda dan menikah lagi. Apa aku juga akan dibilang menolak takdir?


Ah, sulit sekali berada diposisiku. Ingin mencurahkan isi hati tapi takut malah menyakiti hati lainnya.


“Terus menurut lo gue harus apa?”


Aga diam, mungkin karena menangkap nada putus asa dari suaraku. Apa Aga menyadarinya?


“Seperti yang gue bilang diawal. Belajar ikhlas, dengan ikhlas lo pasti bakal nerima.” Kemudian Aga tersenyum, lalu mengacak kepalaku, lagi.