Nothing Impossible

Nothing Impossible
part 8



Sesampainya dibawah, aku melihat semua orang sudah duduk rapi ditempatnya masing-masing. Aku mendekati kursi dekat Bening dan duduk disana.


"Ini namanya Binar. Adiknya Bening satu-satunya." Aku tersenyum sambil mengangguk ketika Tante Mutia mengenalkanku kepada Pria paruh baya yang duduk disamping Om Wahyu.


"Binar, ini Om Darma. Teman Om Wahyu. Dia tamu kita malam ini."


"Hallo om." Aku menyapa seadanya.


"Hallo juga. Kamu sama Bening kembaran ya? Mirip sekali."


"Ha? Enggak Om. Kita kakak adik."


"Oh, ya? Beneran itu? Selisih berapa tahun?"


"2 tahun."


"13 Bulan."


Suara itu berasal dariku dan juga Bening secara bersamaan. Setelahnya kami langsung berpandangan sementara Om Darma kelihatan tak faham.


"Cuma 13 bulan aja ya Binar. Please lo gak usah lebih-lebihin!" Ujar Bening dengan nada jengahnya.


"Kalo dibuletin kan jadi 2 tahun" aku memperbaiki jawaban Bening yang mencoba membela diri.


Tolong ya, tolong! Bening itu sudah tua. Bening mengabaikan senyum kemenanganku dan melirik Om Darma dengan senyum termanis.


"13 Bulan Om. Binar agak-agak gitu deh anaknya. Mohon di ma'lum ya." Lalu gadis itu memunculkan smirk kenenangan melihat aku cemberut.


"2 tahun Bening!"


"Oke, oke. 13 bulan atau 2 tahun tidak beda jauh kok. Kalian kelihatan sama,seperti pinang dibelah dua."


Seakan tahu kalau kami sedang mengibar bendera perang. Om Darma menengahi kami dengan kalimatnya yang membuat Bening besar kepala.


"Oh tentu, aku memang awet muda. Aku bisa mengimbangi wajah Binar yang 2 Tahun dibawahku."


"Cantikan Bening lah kemana-mana. Lebih anggun, passionable. Beda banget sama yang disebelahnya. Norak! dekil! Beda lah pokoknya." Tiba-tiba Aga menyeluk.


Serentak semua orang tertawa mendengar celetukannya Tak terkecuali Raka yang sedari tadi nampak tak minat berada di meja makan ini.


Aku melirik Aga tajam. Apa-apaan dia ini? lalu dia juga meliriku dengan isyarat seolah berkata. 'Wajah lo terlalu boros, ketuaan diusia yang ntidak seharusnya.' Aku mengancamnya kalau mulai sekarang tidak mau mengenalnya lagi, tapi lelaki itu malah mengedik bahu acuh lalu meledekku dengan memeletkan lidah.


Kesal, karena Aga sudah tidak mempan dengan pelototan andalanku. Aku menyerah dan mengambil nasi ke piring dalam jumlah banyak. Moodku sedang buruk, dan biasanya hanya dengan perut kenyang moodku akan stabil lagi.


"Lihat aja tuh, makannya aja kayak preman pasar. Aish! cewek tuh gak boleh kayak gitu. Jaga image dikit lah."


Sontak semua mata tertuju pada piringku. Lalu mereka terkekeh geli. 0m Wahyu dan Om Darma Nampak menahan tawa karena tidak mau menyinggungku yang sudah masam ini.


"Sudah-sudah. Aga, Binarnya jangan diledekin terus dong." Tante Mutia mengakhiri tertawaannya lalu mengusap pundakku dengan lembut.


"Binar sama Bening itu sama kok. Sama-sama cantik dan manis. Tante lebih senang kalau kamu banyak makan. Itu tandanya kamu menikmati hidup." Wanita ini tersenyum hangat, mengisyaratkan kalau yang aku lakukan adalah perbuatan baik dan ucapan Aga tidak perlu didengarkan.


Aku mengangguk senang." Makasih Tante."


"Iya benar itu, ada beberapa anak yang kurang berselera untuk makan bahkan cenderung pilih-pilih. Itu membuat orang tua kebingungan mencari solusi agar anaknya mau makan. Anak yang seperti itu sulit dipahami." Kalimat Om Wahyu barusan membuatku bertambah optimis, dan menyunggingkan senyum kemenangan kepada Aga.


"Kalau Binar dan Bening ini anaknya penurut. Gampang diatur." Tante Mutia berujar lagi.


"Oh ya? Bagus itu. Pasti gampang sekali mengurus mereka."


"Selain itu mereka juga anak yang mandiri, rajin, pintar-pintar, dan punya semangat yang besar untuk meraih sukses. Keduanya bersinar seperti namanya masing-masing. Tante bangga melihat kalian berdua."


"Iya Om juga bangga. Di jaman milenial ini anak-anak seusia kalian pergaulannya sudah bebas, tidak sedikit dari mereka memilih melangkah keluar batas sampai mengecewakan orangtuanya. Tapi kalian berbeda." Tambah Om Wahyu.


Aku dan Bening saling pandang, kenapa ya aku merasa tidak senang saat mendapat pujian. Hatiku seolah berontak, ingin menyangkal semua persepsi itu. Mereka tidak sedalam itu mengenal kami sampai bisa menilai kami hanya dari luar saja.


Karena sejujurnya yang terjadi tidak seindah yang mereka lihat. Aku dan Bening banyak mengalami kesakitan menjalani hidup.


Banyak pengorbanan yang kami lakukan agar bisa bertahan hidup diantara duri-duri disepanjang kaki kami.


Aku dan Bening harus saling menguatkan demi menahan kesakitan itu. Namun kami juga harus memendamnya karena tidak ingin terlihat lemah dan semua orang malah bersimpati.


"Anak yang hebat berasal dari orang tua yang hebat juga. Pasti orangtua kalian juga hebat-hebat, benar bukan?" Timpal Om Darma.


Sendok ditanganku terlepas. Aku merasa punya kewajiban untuk menyangkal persepsi ini. Aku tidak terima dibalik apa yang terjadi padaku dan Bening semua orang malah menyanjung orangtuaku. Tidak, bukan maksudku melupakan pengorbanan Mama yang telah mengorbankan seluruh harta jiwa dan raganya untuk membesarkan kami. Tentu aku akan mengagungkan nama Mamaku seandainya yang disebut beliau.


Tapi yang dibicarakan Om Darma disini adalah orangtua. Dimana sosok lelakiyang seharusnya bertindak sebagai Ayah tersangkut didalamnya.


Aku tak terima karena nyatanya aku tak kenal sosok itu.


"Tidak juga. Menurutku karakter seseorang tercipta berdasar dari bagaimana orang itu menjalani hidupnya. Asal Om tahu, Sebagian anak beruntung punya keluarga yang sempurna. Tapi, ada juga beberapa anak yang menjalani hidupnya karena keeogoisan orangtua. Dan ya, aku dan Bening sayangnya masuk kedalam beberapa orang itu."


Semua orang terkesiap, meluruskan pandangan kepadaku. Mungkin mereka terkejut aku membahas masalah pribadiku dimeja makan. Ah, tapi biarlah. Kapan lagi aku bisa membuka pola pikir orang-orang yang selalu berfikir monoton.


Karena suasana menjadi hening. Aku berniat melanjutkan kalimatku.


"Tapi menjadi beberapa orang itu juga tidak membuat kami pesimis. Kami menghadapi dunia ini dengan kesakitan tapi kami tidak mengeluh. Hal itu juga yang mendasari kami jadi seperti ini. Karena apa? Tidak sedikit juga sebagian orang yang punya keluarga utuh, yang hidupnya dilimpahi kasih sayang justru berbuat tidak sepadan dan justru mengatasnamakan kasih sayang untuk berbuat semaunya." Aku tertawa, entah kenapa kedengaran miris bagi telingaku sendiri.


"Ya, manusia memang unik dengan perbedaannya."


Aku mengakhirinya dengan senyuman, lega sudah mengutarakan apa yang mengganjal dipikiranku.


Mereka harus tau, tak melulu orang tua andil dalam kesuksesan anaknya.


Detik itu juga suasana berubah, menjadi dingin bahkan mencekram. Semua orang terpaku menatapku dengan berbagai ekspresi danpemikiran mereka yang tak kutahu.


Aku membalas tatapan mereka dengan kernyitan kebingungan. Kenapa? Apa aku salah bicara?


Kulirik Bening yang juga menatapku dengan mata berkaca. Dia tersenyum mengangguk sekali, jempolnya teracung mengisyaratkan bahwa yang kulakukan sebuah kebenaran.


Lalu yang pertama sadar disini adalah Tante Mutia, wanita itu tersenyum mengusap ujung pelupuk matanya dengan ibu jari." Ah, Tante jadi terharu mendengarnya. Coba kalau Mamamu ada disini. Dia pasti bangga, anaknya tumbuh menjadi gadis yang membanggakan."


"Tante setuju sama Binar. Jadi ingat Anak teman Tante. Dia terlahir dari keluarga berada, orangtuanya lengkap, dilimpahi kasih sayang yang tiada tara. Tapi kini dia tumbuh menjadi gadis remaja yang manja. semua yang dia mau menjadi sebuah keharusan baginya. Sayanynya dia membalas pengorbanan orangtuanya dengan kekecewaan. Miris sekali!"


Tidak ada yang angkat bicara setelah itu, Hening yang mendera belum juga mereda. Semua orang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tapi berpasang-pasang mata itu masih dapat kurasakan menatap intens padaku. Aku menyadarinya meski dalam keadaan tertunduk Tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk tidak peduli, menghabiskan sisa makanku yang sudah tak berselera ini.


Selesai makan, Kami berkumpul diruang keluarga. Om Darma dan Om Wahyu sedang membicarakan sesuatu disudut ruang, Tante Mutia sedang berbagi trik kepada Bening tentang bagaimana mengurus bayi ataupun balita, setidaknya Bening harus belajar sedari sekarang agar kelak saat Bening menikah dan mempunyai anak, Bening tidak perlu merasa kaget. Begitu katanya.


Aku sendiri sedang memperhatikan dua wanita beda usia itu disisi sudut lainnya, lalu mulai merasa bosan dan berniat mengajak Aga bermain Ps. Tapi aku tak melihatnya lagi setelah acara makan malam tadi usai. Mungkin anak itu sedang berada dikamarnya. Meratapi kepedihan sehabis ditolak cinta. Ckckck! Dasar Aga, picisan sekali kisah cintanya.


Aku berdiri, tiba-tiba merasa membutuhkan toilet sekarang, aku berjalan menuju Toilet belakang yang letaknya dekat kolam ikan, sebab toilet didalam sedang ada kerusakan. Selepas keluar Toilet aku dikejutkan oleh cekalan tangan seseorang yang muncul dibalik pintu.


Aku memekik kaget begitu menyadari orang yang mencekal lenganku adalah Raka.


"Lo ngagetin, sumpah!" Cicitku sambil mengelus dada.


"Lepasin!" Aku meringis menahan sakit.


Tapi lelaki ini mengabaikan dan malah membawaku ke suatu tempat yang gelap. Lalu melemparku ke sudut dinding dengan kasar.


Apa sih ini maksudnya?


"Jelasin, apa maksud lo ngomong kayak gitu didepan orangtua gue?!"


Aku mengerjap sekaligus merinding mendengar bentakan Lelaki ini. Tentu saja aku terkejut, baru tahu ternyata Raka punya sisi yang mengerikan dibalik sikap pendiamnya. Kupikir dia hanya punya watak angkuh saja ternyata kasar juga. Oh, atau aku saja yang baru tahu kalau ini sifat asli Raka.


"Jawab?! Lo gak bisu kan?"


"A-Apa? Emang gue ngomong apa?"


Seingatku aku tidak mengatakan apa- apa sehingga membuat Raka tiba-tiba semarah ini padaku padahal sebelum ini kami baik-baik saja sekalipun dia bersikap culas kepadaku.


"Gak usah pura-pura polos! Udah gue duga dari awal kalo tampang lo itu palsu!"


Aku melotot padanya. Tidak terima setengah mati atas tuduhan itu." Tolong dijaga ya mulutnya! Gue gak ngerti lo ngomong apa? Gue rasa gue gak melakukan apa-apa sampai lo marah gak jelas kayak gini?"


"Kalo lo masih pura-pura bego dan gue perlu tegasin, oke, Denger ini." Raka mendengus sebentar.


"Menurutku karakter seseorang tercipta berdasar dari bagaimana orang itu menjalani hidupnya. Sebagian anak beruntung punya keluarga yang sempurna. Tapi ada juga beberapa anak yang menjalani hidupnya karena keeogoisan orangtua. Dan ya, aku dan Bening sayangnya masuk kedalam beberapa orang itu."


Raka menyeringai sinis, tangannya bersedekap, netranya menatapku dengan tajam. Hih! Sungguh seram sekali.


"Kenapa? Ada yang salah dengan kata- kata gue?" Sekarang aku merasa benar- benar seperti orang bodoh didepannya.


"Oh jelas! Gue terganggu. Lo ngomong kayak gitu seolah punya kewajiban untuk mengagungkan orang-orang yang ditakdirkan masuk kedalam beberapa orang itu. Lo gak tau apa apa soal sebagian orang itu dan lo gak berhak menyimpulkan sesuatu soal mereka."


"Memang seharusnya begitu kan? Supaya orang yang termasuk dalam sebagian orang itu sadar kalo menjadi beberapa orang saja gak kelihatan buruk."


"Biar apa? Biar Lo keliatan kayak malaikat?" Dia menatapku penuh cibiran.


Aku balas menatapnya tanpa rasa takut." Sebenernya enggak! Tapi kalau lo mau beranggapan begitu ya silahkan!"


"Lo ternyata gak tau diri ya orangnya?"


"Dan lo gak semanis sikap lo didepan Tante Mutia ternyata!" Aku menatapnya sengit.


Lelaki dihadapanku ini menggertakan giginya. Matanya yang berapi-api seolah siap membakarku bulat- bulat. Dan respon Raka selanjutnya membuatku menyesali ucapanku yang tadi. Lelaki itu melempar Guci Bunga yang berada didekat jendela menimbulkan suara bedebam yang keras.


Aku celingukan kekanan dan kekiri. Seharusnya sekarang orang-orang didalam mencari sumber suara ini atau paling tidak satu orang saja.


Sekarang lelaki itu berjalan mendekatiku tapi sialnya aku sudah tak bisa bergerak karena posisiku berhimpitan dengan dinding.


Matilah aku sekarang! Habis sudah dimakan sijago merah ini.


Aku menunduk, berusaha menelan ludah yang mendadak terasa sulit sekali. Kini aku dapat merasakan hembusan nafas kasar Raka yang menyerbu wajahku.


"Kenapa lo nunduk?!"


Lalu aku harus apa? Menatapnya?


Dalam keadaan lo yang seperti monster begini? Hih maaf-maaf saja.


"Liat mata gue!" dia menyentuh kedua pundakku dan mengguncangnya dengan kasar. Detik itu juga aku merasa saluran pernafasanku menyempit. Apa ini sebagian tanda- tanda seseorang mengalami kematian? Apa aku akan mati?


"Liat gue bodoh!"


"Woy! Lagi ngapain lo berdua?! Mau Mesum ya?" itu suara Aga. Guncangan dipundakku terhenti, derap langkah menjauh dapat kudengar setelah itu.


Aku mengerjap dan membuka mata, menghembuskan nafas lega diam-diam.


"Untung lo dateng." Ujarku, benar- benar bersyukur Aga datang disaat yang tepat.


"Lo gak papa, Bi?"


Aku menggeleng lemah. Tapi mungkin memang bakatku berakting kurang bagus jadi Aga tak mempercayainya. Aga membawaku kesisi kolam dan menyuruhku duduk dikursi santai.


"Lo kelihatan ketakutan banget."


"Gue kayak habis berhadapan sama malaikat maut." Tuturku masih merasa syok berat.


"Raka emang kelewatan kalo lagi emosi. Cerita ke gue, kalian tadi kenapa?"


Aku menatap Aga, menimbang sekali lagi untuk menceritakan kejadian tadi kepada Aga atau tidak. Setelah kupikir lagi, tidak ada salahnya juga kalau Aga tahu. Siapa tahu suatu saat dia bisa membantu.


Tetapi bukannya bersimpati Aga malah tergelak. Tentu saja aku mengerutkan kening tak faham. Apa menurutnya aku sedang sirkus? Begitu?


"Aga tolong ya, gue gak lagi bercanda ini!"


"Lo lucu banget sumpah! Lo berani nantangin abang gue. Gue aja mikir lagi kalo mau nyawa gue selamat."


"Sejujurnya sih gue juga agak ngeri. Tapi gue berasa bego banget kalo gue diem aja."


"Terus?"


"Ya gitu, dia merasa terganggu sama omongan gue dimeja makan tadi. Aneh banget tu orang perasaan gue lagi ngomongin diri gue sendiri kenapa dia yang merasa tersinggung."


"Lo emang salah Binar."


Aku mengerutkan kening, kenapa jadi Aga juga ikut menyalahkanku?


"Kok lo jadi ikut-ikutan nyalahin gue?!"


"Lo gak seharusnya ngomong kayak tadi. Dasarnya, lo memang gak tau apa-apa soal sebagian orang itu. Apa yang mereka alami, kenapa mereka bisa berbuat nekat padahal gak kekurangan apapun. Kadang kala mereka punya alasan yang beda-beda. Ya, seperti yang lo bilang, manusia itu unikdengan perbedaannya."


"Ah lo rese Ga! Lo bukan temen gue lagi sekarang."


Aku pergi saat itu juga. Kesal sekesal- kesalnya. Masa iya Aga menyalahkanku juga? Atas dasar apa dia menjudge kalau aku salah. Perlu digarisbawahi, Aku berani berbicara begitu berarti yang kubicarakan itu fakta.


Teman-teman SMAku buktinya. Tidak sedikit diantara mereka beruntung punya segalanya, kasih sayang yang cukup, uang yang tumpuk-tumpuk, famor yang diturunkan orangtua, mereka menggunakan itu untuk kebebasan, bebas menghambur- hamburkan uang, bebas berbuat hal yang tidak benar, bebas menindas, dan apapun itu yang jelas bukan suatu kebaikan. Sejujurnya mereka itulah yang perlu dikasihani. Masa depan mereka tidak teratur dan terancam hancur karena ulah mereka sendiri.


Setelah aku mengetahui itu semua dan menjadi pakar pembicara yang baik, lalu kakak beradik itu mengatakankalau aku tidak tahu apa-apa dan yangkukatakan itu menurutnya hanya sebuah karangan indah? Begitukah? Huh!


Menyebalkan! Aku berjalan keruang keluarga, melihat beberapa orang sedang berkumpul disana. Mataku bersipandang dengan Raka yang sedang menggendong Rama dengan begitu manisnya.


Oh, sekarang dia sedang menjelma menjadi Kakak yang manis dihadapan orangtuanya.


Waw! Acting yang luar biasa. Apa aku perlu mengatakan bakatnya itu perlu diasah siapa tahu Entertement tempat Bening bekerja bisa memberinya pamour sebagai aktor yang hebat kelak.