
"Sayang aku laper deh kita makan siang bareng yuk" ajak cindy
"Gak² makan aja sendiri" kata bara lalu pergi meninggalkan cindy
"Bara.. bar.. ihh sayang tunggu" cindypun mengejar bara
"**Kok ada suara orang nangis**" ujar seorang pria yg kebetulan lewan depan toilet
"**Misi... anda baik² di dalam**" tanya pria itu
"**Ahh iya.. saya.. saya baik² aja**" ucap nayla dari dalam
"**Oh ya sudah saya permisi**" pria itupun berlalu pergi
~~
'**Nayla mana sih katanya ke kantin tapi gak ada**' ujar bara dlm hati ia sudah cari ke kantin tapi nayla tak terlihat batang idungnya
"**Sayang... kamu cari apaan sih**" kata cindy tapi tak di hiraukan oleh bara yg sibuk mengetik pesan di hp nya
**Bara** : "hei, dimana? katanya ke kantin kok ga ada, jadi gak ngomongnya"
~ting~ pesan masuk di hp nayla yg masih berada dlm toilet
**Nayla** : *Gue gak jadi ngomong sekarang nanti aja*" \(read\)
'**Nih semua gara² cindy**' umpat bara dlm hati
**Bara** : *Tapi lo dimana sekarang*?" pesan bara kali ini hanya di read dan ga di balas oleh nayla
"Istri dan anak kamu udah pulang ya dari luar negeri?" tanya seorang pria parubaya dia adalah Wira ayahnya bara
"Iya sudah" jawab seorang lagi
"bagus lah jadi kita bisa merencanakan perjodohan anak² kita lebih cepat sekarang" ujar wira
"Betul sekali Wir, Cindy itu udah bener² gak sabar mau tunangan sama anak kamu si bara itu" kata hendra dia adalah ayahnya cindy. Handra dan Wira adalah rekan akrab sejak dulu karena itu mereka ingin menjodohkan Cindy dan Bara
~~ Sepulang kampus ~~
Bara, dan ke3 sahabatnya kini di parkiran tapi bara masih mencari keberadaan nayla
"Bar, ayo cabut nyari apaan sih dari tadi celinak celinuk" tanya rivan
"Gue tau pasti nyariin cindy ciee udah mulai suka lo ya ma cindy" ujar zayn buat pala nya di tampol oleh bara
"Lo aja yg suka ma dia gue ogah" Kata bara
"Wihh, jadi lo ikhlas nih kalo gue ambil" tanya zayn
"Ambil aja gue ikhlas lahir batin" jwb bara sambil melihat isi pesan di hpnya berharap nayla mengirim sesuatu tapi tidak ada
"Thankyou bar otw pdkt nih gue" ujar zayn cengir
"Ehh dasar playboy lo zayn,, rania pa kabar?" kata reza
"Kalo rania tenang aja dia tetep yg pertama kalo cindy yg kedua aja trs yg lain itu nyusul di belakang" kata zayn sok laku
"Semua aja lo embat" kesal rivan
"Orang ganteng mah bebas bro" ujar zayn
"Iyain deh iyain" pasrah rivan dan reza
'Nih cewe kemana sih' batin bara
"Eh yaudah ayo cabut" ajak reza
"Siapa? evan lagi? klo ada urusan ma dia kita² ikut" kata rivan
"Gak bukan dia,, udahalh kalian cabut aja sana brisik tau gak" usir bara
"Lah di usir lagi" kata zayn
"Yaudah kita cabut" ketiga sahabatnya itupun pergi
"Tuh cewe udah pulang apa blom ya" ujarnya tak lama wanita yg di cari² muncul di pandangannya ia baru saja turun dari tangga kampus, iapun langsung melihat ke arah bara
tapi seketika ia langsung pergi
"Loh malah pergi,, nay.. nayla tunggu" titah bara nayla hentikan langkahnya
"Kok malah pergi ngomong dulu soal yg tadi" kata bara
"Gak sekarang bar gue blom mikir matang²" ujar nayla mencoba tak menatap cowo itu
"Tadi di pas di gudang katanya udh mikir matang² kenapa skrng?" kata bara
"Itu tadi sekarang gue gak yakin ma keputusan gue yg itu jdi gue mikir² lagi dulu" ujar nayla
"Gara² cindy ya" kata bara pelan nayla hanya diam
"Nay, lo perlu tau dia bukan siapa²nya gue" jelas bara
"Bukan siapa²? trus kenapa tadi dia bilang kalo kalian pacaran" celetuk nayla
"Duhh,, itu gue cuma terpaksa nay gue gak cin..." blum selesai bara bicara nayla sudah memotong
"udahlah bar, gue mau pulang" kata nayla dan berlalu pergi
"Gue anterin pulang ya" kata bara nayla kembali menoleh
"Gak usah" jwb nayla
"Jadi pulang sama siapa?" tanya bara
"Sama vivi dan kamila, klo kak rania udh pulang duluan" jelas nayla
"Ohh yaudh, jagain ya" ujar bara nayla seketika bingung apa yg harus di jagain
"Jagain apa?" tanya nayla lalu bara menunjuk ke arah perut nayla kini nayla tau maksudnya harus menjaga kandungannya
~~
"Hai sayang anterin aku pulang ya" di tengah pembicaraan nayla dan bara tiba² datanglah cindy yg sok manja dan langsung mengandeng tangan bara
"Gak, pulang aja sendiri" kata bara
"Ihh, kok kamu gitu tadi aku bela²in ke sini nya naik taksi biar pulangnya bisa di anter sama kamu" rengek cindy
"Gue bukan tukang ojek" kata bara menaiki motornya, jujur ia sama sekali tidak suka dgn cindy karena sikapnya yg terlalu manja, sok cantik, dan pecicilan. meski sudah di bilang bara gak mau mengantar nya tapi degan cepat Cindy naik ke motor bara kedua tangannya langsung melingkar sempurna di pinggang bara
"Heh, lo gak ngerti bahasa apa gimana sih, gue kan bilang gak bisa anterin lo" kesal bara
"Turun gak"
"Gak mau" jwb cindy tambah mengerat kan pegangan, nayla hanya mampu diam melihat semua itu
"Turun atau gue pake kekerasan" ancam bara
"Kamu berani pake kekerasan, bakal aku laporin ke ayah aku nanti, mau kamu?" tanya cindy ntah kenapa saat mendengar itu bara langsung mengalah iapun melajukan motornya Meninggalkan kampus
"Kenapa hati gue kayak gak terima melihat dia sama yg lain" lirih nayla seketika air mata nya menetes
"Nih" kata seseorang seraya memberi tisu pada nayla
"Ahh,, mak.. makasih" kata nayla mengambil tisu itu yg ternyata di beri seorang pria tampan itu
"Kenapa nangis?" tanya pria itu datar
"Gpp kok..." jwb nayla
"Jangan bohong pasti kamu liat pacar kamu jalan ma cewe lain kan?" tanya cowo itu sok tau segera nayla menggeleng keras
"Engak kok sok tau deh" jwb nayla cowo itu tersenyum
"Lo inget ya gue bukan sok tau tapi gue emang tau apa yg sebenarnya terjadi apa yg buat lo nangis, gue tau semuanya jadi jangan ada yg lo sembunyi in dari gue tapi lo tenang aja gue gak bakal bongkar ke siapa² oke bye" kata pria itu dan berlalu pergi
"Maksudnya apa" Kata nayla bertanya² darimana cowo itu tau semuanya memang dia siapa kenal saja tidak
~Bersambung~