Nayla & Bara

Nayla & Bara
part 14



Acc kak🙏


"Nayla & Bara"


#part14


****


"Bar.. Bangun dong udah lebih 10 menit nih" Kata Nayla.


"Hmm iya iya" Cowo itupun akhirnya melepas pelukannya.


"Good morning anak papa" Kata Bara seketika mengecup perut Nayla.


"Hari ini kita ke dokter ya priksa kandungan" Kata Bara.


"Yaudah nanti selesai kuliah ke rs" Kata Nayla.


"Oke" Setelah itu merekapun bersiap untuk ke kampus.


****


"Oke grils inget ya hari ini kalian harus jalanin tugas kalian" Kata Cindy, pada ketiga temannya.


"Siap Cin, tenang aja" Kata Fina.


***


Seperti biasa saat mendekati kampus Nayla akan turun dan hanya berjalan kaki ke kampus.


"Tuh dia orangnya" Ujar Fina pada kedua temannya. Kala melihat Nayla berjalan masuk ke kampus. Merekapun mulai merencanakan tugas.


~Di kelas~


"Hai ran, udah sarapan blum kita sarapan yuk" Ajak Zayn pada Rania.


"Dasar modus lo playboy" Ejek Rivan.


"Eh lu jones gak usah ikut campur" Balas Zayn.


"Siapa bilang gua jones? Gue punya pacar tau" Kata Rivan.


"Siapa pacar lo, muka kek kerak panci mana ada yg mau" Ejek Zayn.


"Eh enak banget tuh mulut kalo ngomong, lo kali yg mukanya kek kerak panci" Balas Rivan kesal.


"Tapi pacar gua banyak daripada lo" Ujar Zayn.


"Brisik" Triak Reza.


"Brisik bgt sih lu bedua org mau tidur juga" Sambungnya.


"Tidur mulu lo, semalam ngapain aja?" Tanya Rivan.


"Ada deh kepo lu"Jawab Reza lalu melanjutkan tidurnya.


****


"Ba.." Ucapan Nayla untuk memanggil suaminya terhenti kala Cindy memotong.


"Hai bar," Panggil Cindy, dan langsung mengandeng tangan cowo itu. Nayla hanya mampu diam, walaupun hatinya sakit. hati siapa ygperpustakaan ihat suaminya di gandeng wanita lain.


"Ngapain lagi sih Cin, lepasin" Ujar Bara kesal dan menepis tangan Cindy.


"Bar, aku kan udah bilang sama kamu kalo aku gak bakal berhenti ngejar kamu" Kata Cindy.


"Cin, lo itu jadi cewe kok gak malu ya, udah jelas-jelas semua orang tau gue tuh gak suka sama lo, kok lo kekeh banget sih ngejar-ngejar gue" Kesal Bara.


"Kamu tau kan aku tuh cinta mati sama kamu, jadi sampai kapanpun aku akan terus ngejar cinta kamu" Kata Cindy.


"****" Ujar Bara.


"Terserah kamu mau ngomongin aku apapun. Tapi satu hal kamu harus tau bar, ayah aku punya segalanya dan dia bisa ngelakuin apapun untuk ngehancurin keluarga kamu kalo kamu gak mau balikan sama aku dan satu lagi dan perempuan itu" Kata Cindy, sedikit perlahan kan suaranya, lalu melangkah pergi. Begitu juga nayla.


'Perempuan itu? Maksudnya siapa Nayla' Batin Bara mulai was was.


~~


Nayla berjalan pelan di koridor kampus, ia hanya mampu menangis dalam diam.


"Nay," Panggil seseorang buat wanita itu segera menghapus air mata nya.


"Kak Alvin, kenapa?" Tanya Nayla. Ia memanggil dengan sebutan kakak karena Alvin senior di kampus itu.


"Ga papa aku tau kamu lagi sedih makanya aku mau samperin kamu" Ujar Alvin.


"Jangan sedih terus kasian tuh nanti dia ikutan sedih" Sambungnya, nayla tau apa maksudnya.


"Kak Alvin itu siapa sih sebenarnya kok bisa tau semua?" Tanya Nayla.


"Siapa aku itu gak penting yg penting sekarang adalah kamu gak boleh sedih gak boleh nangis, kamu harus kuat jalanin ini ya" Kata Alvin, sembari menghapus air mata Nayla, tanpa di sadari sepasang mata tajam sedang melihat mereka.


Kini jam kelas sudah selesai.




"Ehm kalian duluan aja deh nanti gue nyusul" Kata Nayla.



"Oke kalo gitu bye" Kata Vivi dan Mila merekapun melangkah ke kantin sementara Nayla berniat mencari suaminya karena mereka kuliah beda kelas, dan tadi bara chat untuk bertemu. tapi belum sempat kaki nayla melangkah keluar kelas tiga orang menghadang nya.



"Mau kemana lo?" Tanya Fina dengan tatapan sinis.



"Keluar, ke toilet" Kata Nayla.



"Gak usah bohong deh lo" Kata Yura pula.



"Enggak kok" Kata Nayla. Dan langsung melangkah pergi.



"Gue curiga, grils kalian tau harus ngapain kan?" Kata Fina.



"Tau dong" Jawab Yura dan Cici.



~Di perpustakaan ~ tepatnya di lorong paling belakang.



"Bar," Panggilnya pelan, Bara hanya berdiri bersandar di dinding dan menatap datar wanita itu.



"Kenapa?" Tanya Bara datar. Buat Nayla mengerutkan kening.



"Harusnya aku yg nanya sama kamu, kenapa mau ketemu di sini" Kata Nayla.



"Kenapa? Kenapa dekat\-dekat sama Alvin?" Tanya Bara.



"Bar, tadi aku tuh cuma.." Omongan Nayla terhenti kala bara memotong.



"Gak butuh penjelasan." Kata Bara.



"Kamu marah?" Tanya Nayla, dengan hati\-hati ia tau bagaimana brutalnya cowo itu kalau sedang marah.



"Gak marah tapi cemburu" Ujar Bara lalu melangkah pergi. Hati nayla kembali tergores.


Nayla kini berjalan pelan menuruni tangga, tinggal tiga buah anak tangga lagi untuk kakinya sampai di lantai tapi tiba-tiba.


"Auuh" Jerit Nayla kala seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah belakang dengan keras, mata nayla terpejam ia harus siap menahan sakit entah itu bagian tubuh lainnya atau perutnya yg berisi bayi itu. Tubuh nayla hampir saja mendarat di lantai tapi penolong datang di waktu yg tepat. sepasang tangan langsung menangkap tubuh wanita itu.


Cindy hanya memasang muka kesalnya karena rencananya untuk menjatuhkan Nayla gagal. Dan apalagi penolongnya adalah Bara.


"Kamu gak papa?" Tanya Bara ia sungguh khawatir, kalau saja ia terlambat beberapa detik nyawa Anak dan Istrinya mungkin terancam.


"Ga papa" Jawab Nayla, masih mengatur nafas jantungnya seakan ingin lepas bagaimana kalau tadi ia sampai terjatuh ke lantai jika dirinya sendiri mungkin tak apa tapi ia harus ingat ada bayi dalam perutnya.


"Eh Cin, lo sengaja ya" Bentak Bara, menunjuk Cindy.


"Kok aku sih bar, aku gak ngapa-ngapain kok" Elak Cindy.


"Ngak ngapa-ngapain, buktinya nih apa? Kalo tadi Nayla sampe jatoh, gue gak akan biarin hidup lo tenang Cin," Kata Bara, emosinya semakin memuncak.


"Bar, kok kamu belain dia. dia tuh siapa sih sebenarnya?" Tanya Cindy.


"Lo gak perlu tau, sekali lagi lo ganggu dia siap lo" Kata Bara, lalu mengajak Nayla pergi.


"Ck, awas lo Nay" Kata Cindy.


~~ Bersambung ~