
****
"T..tolong" Lirih Nayla berulang kali dengan suara parau, berharap ada yg mendengarkannya. Kepalanya pusing pandangan nya mulai gelap kesadarannya mulai berkurang.
"Nayla" Ujar seseorang yg baru mendobrak pintu dengan kaget nya karena melihat kondisi nayla yg tak berdaya di situ orang itu adalah Alvin yg kebetulan mendengar suara nayla.
"Kak... Al.. Vin to..longin aku" Kata Nayla terbata-bata lalu kesadaran nayla hilang dia pingsan. Alvin pun segera mengangkat tubuh nayla.
"Lho nayla kenapa?" Ujar beberapa mahasiswa yg melihat Nayla di gendong oleh Alvin. Cowo itu segera membawa nayla ke dalam mobilnya lalu bergegas ke rumah sakit untung rs nya tidak jauh dari situ.
~~
"Pada liatin apa sih?" Tanya Rivan pada beberapa mahasiswa.
"Itu si Nayla" Kata seorang mahasiswa buat mata Bara melebar seketika.
"Nayla kenapa ah?" Tanya Bara kaget.
"Pingsan trs kayak ada bercak darah gitu, itu lagi di bawa ke.." Belum selesai orang itu bicara bara sudah kalang kabut pergi.
"Bar,, bara lu mau kemana?" Tanya Rivan tapi Bara tak pedulikannya, ia terus melajukan motornya dalam kecepatan tinggi ia tau Nayla akan di bawa kemana.
****
"Dokter" Teriak Alvin, kala membawa masuk tubuh Nayla yg tak berdaya para suster dan seorang dokter pun langsung membawa Nayla ke UGD.
"Alvin, Nayla mana? Dia ga papakan?" Kata Bara. Alvin hanya diam.
"Alvin jawab" Teriak Bara.
"Lagi di tanganin sama dokter" Ujar Alvin. Bara hanya bolak-balik gak jelas di depan ruang UGD itu sesekali mengacak rambut frustasi, sesekali meninju tembok rs itu, ini salahnya seharusnya tadi ia ikut untuk menjaga Nayla.
"Bodoh banget gue, harusnya tadi gue temenin dia", gue bener-bener gak berguna" Lirihnya.
"Sabar Bar, berdoa aja semoga mereka baik-baik aja" Kata Bara menenangkan Bara.
"Gimana bisa kayak gini?" Tanya Bara.
"Tadi gue kebetulan lewat depan toilet terus gue denger ada suara minta tolong suaranya pelan banget tpi gue yakin itu suara nayla yaudah gue dobrak pintu toiletnya karna pintunya di kunci pas gw masuk ya udah liat dia ga berdaya di situ" Jelas Alvin.
"Gue gak akan biarin orang yg udah buat Nayla kayak gini" Kata Bara. Beberapa saat kemudian seorang dokter wanita keluar.
"Dokter gimana kondisi dia?" Tanya Bara kalang kabut.
"Syukurlah kalian cepat membawanya ke sini jika terlambat beberapa menit mungkin bisa terjadi hal-hal yg fatal, tapi sekarang kalian gak perlu khawatir mba nayla dan bayinya selamat" Kata dokter itu, Bara bisa menghembuskan nafas lega sekarang begitu juga Alvin.
"Saya permisi, kalo mau liat boleh tapi dia belum sadar dan kalo dia udah sadar tolong jangan bagi tekanan dulu ya mas" Pesan dokter itu.
"Oke dok makasih" Kata Bara dan Alvin. Bara segera masuk ke ruangan itu.
"Maafin aku nay, ini salah aku, aku bener-bener gak bisa jadi yg terbaik buat kamu" Lirih Bara mengengam tangan istrinya yg masih belum sadar.
"Aku janji nay, mulai sekarang aku akan selalu di samping kamu" Sambungnya, kemudian mengecup kening Nayla.
****
"Pak Handra, akhirnya bapak datang juga silakan duduk pak" Kata Wira, mempersilakan.
"Ada urusan apalahi?" Tanya Handra.
"Begini pak, saya mohon sama bapak untuk kasih saya kesempatan buat bujukin bara agar mau tunangan lagi sama cindy" Jelas Wira.
"Saya janji akan lakukan apapun biar bara mau, tapi saya mohon sama bapak jangan buat perusahaan saya ini bangkrut" Sambung Wira.
"Anda yakin bisa bikin bara balikan dengan cindy?" Tanya Handra.
"Baik, tapi ingat ya kalau anda ingkarin lagi janji itu saya gak akan kasi kesempatan lagi paham" Ujar Handra.
"Paham pak," Ujar Wira.
"Saya juga akan tolong karena cindy itu bener-bener mendesak banget dia terlalu cinta sama anak kamu itu" Ujar Handra.
"Kata Cindy, ada seorang wanita yg merebut bara dari cindy kamu kenal sama wanita itu?" Tanya Handra.
'Lebih baik Handra jangan tau kalau Nayla itu istrinya Bara' Batin Wira.
"Saya tau karena itu kita harus pisahin mereka dulu baru urusin perjodohan itu lagi" Kata Wira.
"Oke" Sahut Handra.
****
Sudah tiga jam nayla pingsan tapi bara tetap setia mendampinginya di rs.
"Bar, lo mau makan gue beliin makan ya" Kata Alvin.
"Ga usah buat lo aja" Jawab Bara, menatap wajah damai istrinya. Kemudian ia berdiri menghampiri Alvin.
"Al, makasih lo udah nolongin nayla tadi, gue gak tau kalo lo gak nolongin dia tadi pasti.." Bara tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Ga papa bar santai aja," Kata Alvin.
"Gue cuma mau ingatin aja, lo harus lebih giat menjaga Nayla ya karena Cindy semakin hari semakin gak tau diri tuh" Pesan Alvin.
"Iya, gue udah gak tau harus pake cara apa biar hidup gue dan nayla tenang" Kata Bara.
"Kalo lo butuh bantuan bilang aja gue dengan senang hati menolong" Kata Alvin menepuk bahu Bara.
"Thanks Al, gue gak tau mau bales dengan apa" Ujar Bara.
"Santai aja kali" Ujar Alvin. Lalu Alvin melihat tangan nayla mulai bergerak.
"Bar, nayla udah mau sadar" Kata Alvin, Bara segera mendekat ke istrinya. Mata wanita itu mulai terbuka perlahan lahan.
"A..aku dimana" Ujarnya.
"Kamu di rs sayang" Kata Bara.
"Anak.. Anak kita gimana bar, dia ga papa kan? Dia selamat kan?" Tanya Nayla panik sambil mengusap perutnya.
"Udah gak usah panik, dia baik-baik aja kok, dia kuat kayak mamanya" Ujar Bara.
"Maafin aku nay, aku lengah jagain kamu tadi, aku gak tau kalo gak ada Alvin tadi gimana" Ujar Bara.
"Ga papa bar aku juga kan yg ngelarang kamu buat ikut" Ujar Nayla.
"Kak Alvin makasih banyak udah nolongin aku" Kata Nayla.
"Sama-sama, sekarang kamu istirahat ya" Kata Alvin.
"Iya sekarang kamu istirahat ya" Kata Bara pula, ia sebenarnya ingin bertanya siapa yg sudah berani mencelakai Nayla tapi ia tau Nayla baru sadar Bara tak mau menambah tekanannya dulu.
"Aku takut bar" Kata Nayla, bayang-bayang perlakuan Cindy tadi masih terbayang di pikiran Nayla.
"Udah tenang ya aku di sini jagain kamu oke" Kata Bara.
~Bersambung~