
"eh keyren kau udah pikirkan belum hadiah untuk hari guru besok nggak? " ucap chiya dengan nada lembut.
"hadiah apa? " ucap keyren yang tidak mengerti apa maksud perkataan chiya."hadiah untuk hari guru,dalam perjalanan ke kantor guru tadi aku udah kasih tau, kau lupa kah? "ucap chiya kembali mengingatkan keyren yang sepertinya lupa.
" Oh yang itu besok ku beritahu".ucap keyren singkat kembali membaca komik yang hampir tamat itu."Oke kalau gitu kita langsung beli aja besok, gimana? ".ucap chiya mengode agar keyren menemaninya ke mall membeli hadiah untuk hari guru.
" aku ikut... ".ucap keyden membalikkan badan sambil mengangkat tinggi tangan kanannya." apaan sih".sebuah cubitan mendarat di pinggang keyden."dia nggak ngajak kau ngapain kau ikut campur ".ucap ellic kesal menatap tajam chiya yang bersikap sok imut di depan keyren.
lihat aja gimana kau bakal nyelesain soal di depan
ucap naila dalam hati meremehkan keyren karena keyren sibuk membaca komik dari tadi tidak memperhatikan pelajaran.naila terkejut prediksi nya mengenai keyren ternyata salah. keyren dengan gampangnya menjawab soal tersebut dan mendapatkan sebuah hadiah berupa tepuk tangan dari seluruh siswa di kelas.
"suka? " ucap keyren dari belakang melihat naila yang diam-diam ketahuan membaca komiknya.perkataan keyren berhasil membuat naila ketakutan dengan cepat meletakkan komik di tangannya ke tempat asalnya.
"nggk,nggk usah narsis" ucap naila dingin.keyren yang baru saja duduk sudah mendapatkan perlakuan dingin dari cewek di sampingnya.
"bukunya bukan aku"ucap keyren pelan lalu lanjut membaca komik yang belum selesai dia baca.naila mendecus.
" kau nyatat sebanyak itu, kau bisa nge hafal semuanya kah? "ucap keyren melihat naila yang bukannya meringkas melainkan mencatat semua isi buku."buka urusanmu".ucap naila.keyren yang sudah jengkel melemparkan komik di tangannya ke meja lalu merebut buku nailanaila lalu menandai dengan pena materi penting yang seharusnya di catat.
naila yang seharusnya berterima kasih malah mengatai keyren di dalam hatinya yang bertingkah sok keren di depannya "meskipun namamu keren kau juga nggk usah bersikap sok keren,lagipula peringkat ku lebih tinggi di banding kau" ucap naila dengan lantang membuat satu kelas dapat mendengar perkataannya.
"wah sepertinya ini pertama kalinya aku mendengar seseorang menghina mu" ucap keyden membalikkan badannya ke belakang."dan orang itu ternyata teman semejamu sendiri".lanjut keyden yang sudah susah menahan tawanya.
"kalian jangan ganggu naila lagi,naila kan masih siswa baru jadi dia nggak tau kalau keyren adalah juara Olimpiade matematika" ucap chiya yang tiba-tiba datang ke meja naila."Oh iya namanya itu keyren bukan keren"ucap chiya lanjut yang semakin membuat naila malu di depan semua orang.
"Oh iya keyren aku nggak paham soal yang ini,kau bisa nggk ngejelasin" ucap chiya meletakkan bukunya di meja naila. "kau bisa minggir nggk? " ucap chiya yang merasa naila menghambat dia dengan keyren.naila berdiri membiarkan chiya menduduki tempatnya.
zayen yang sedang berbicara dengan temannya secara tidak sengaja melihat naila yang berlari seolah sendang mengalami masalah mengikuti naila naila dari belakang.zayen melihat seorang cewek duduk sendrian di tangga.
"naila? " ucap zayen pelan menatap punggung gadis itu yang ternyata benar naila. "ada apa, kenapa wajahmu cemberut kek gitu? " ucap zayen melihat mata naila yang berkaca-kaca seolah akan menangis kalau dia tidak datang.
"kakak nggk masuk kelas kah, kak jayen kan mau ujian? " ucap naila.
"nanti" ucap zayen matanya tak berhenti menatap cewek kecil di sampingnya yang sepertinya sedang mengalami masalah namun tidak mau membagi masalahnya dengannya.
"ikut kakak,kakak bawa naila ke tempat yang bagus" ucap zayen menarik tanggan naila.
"sekarang udah bisa cerita kan? " ucap zayen menghampiri naila yang terpukau melihat indahnya pemandangan bawah sekolah."nggk ada yang serius,naila cuma ngerasa kesenjangan antara aku dan teman kelasku semakin besar"ucap naila memberanikan diri untuk memberitahu zayen apa yang sebenarnya terjadi.
"aku juga pernah merasakannya" ucap zayen tersenyum melihat naila.tingkah zayen yang masih bisa tersenyum saat mengatakan hal itu semakin membuat naila kebingunga.
"kau jangan lupa,aku datang ke Jakarta lebih dahulu di banding kau".ucap zayen
"jadi kak jayen juga pernah ngerasain apa yang naila rasain? " ucap naila yang sepertinya semakin membaik setelah mendengar perkataan zayen.
"emm tapi kakak tidak se depresi mu cari teman untuk menangis diam-diam"ucap zayen yang berhasil membuat naila tersenyum.
" sejujurnya naila sangat iri dengan mereka, mereka sangat pintar, mungkin kami tidak akan berada di dunia yang sama"ucap naila berkecil hati.
"ehh kau jangan berpikir kek gitgitu, memang benar ada kesenjangan antara kita dan mereka, tapi kau tidak boleh berkecil hati,kepintaran dapat diperoleh dengan belajar, tapi yang paling penting adalah kita sudah di sini" ucap zayen, yang seperti sebuah tamparan untuk naila yang membuat nyan sadar.
"keyren bisakah kau ngejelasin sekali lagi, aku masih kurang paham" ucap chiya yang masih duduk di tempatnya naila.naila yang tidak tau harus bagaimana memanggil cewek yang duduk di mejanya hanya bisa batuk menginformasikan kalau dia ingin duduk.
"eh naila, tunggu bentar lagi ya" ucap chiya yang seolah tidak mempedulikan naila yang sudah berdiri dari tadi menunggunya.naila yang mendapat perlakuan tidak ramah dari chiya seketika mengingat perkataan zayen di atap sekolah yang memintanya untuk jangan pernah menyerah.
"nggk papa, gimana kalau kita ceng tempat duduk aja? , kau bisa duduk di sini" ucap naila membereskan barangnya.
"apa maksud kau? " ucap keyren jengkel mendegar keputusan naila. "aku sedang membantumu untuk menjelaskan pelajaran" saut naila dengan polosnya mengatakan itu tampa berpikir terlebih dahulu.
"kalau udah pindah jangan pernah kembali lagi" ucap keyren dingin mengantar kepergian naila.
"bawa motor harus kah ngebut kek gitu, pamer banget" ucap naila yang dikagetkan oleh motor keyren yang mengebut yang hampir mengenainya.
naila yang baru saja pulang ingin istirahat ke kamarnya malah mendapatkan sebuah kejutan dari adiknya yang membakar buku hariannya menggunakan kaca pembesar."dian kau ngapain"
naila berteriak merampas buku harian yang di pegang dian."maa, kakak mau mukul aku"ucap dian berlari menghampiri mamanya.
"ada masalah apa lagi" ucap asri. naila memberikan buku harian yang sampulnya sudah di bakar oleh dian lalu menceritakan semua yang dian lakukan terhadap buku hariannya.
"sudahlah kan cuma buku harian, dia juga nggk sengaja" ucap asri yang semakin membuat naila tidak bisa menahan air mata di matanya."lagipula dia yang salah kenapa mama nyalahin naila, bukankah naila juga anakmu juga"ucapan naila membuat asri marah merasa naila seakan menuduhnya pilih kasih.asri melemparkan buku harian naila ke meja dengan kuat.persoalan buku harian itu berhasil membuat keributan antara naila dan asri
"jangan nangis naila, nggk boleh nangis" ucap naila mengipas ngipas matanya dengan tangannya.naila mengeluarkan buku di tasnya berencana mengerjakan PR nya.