Naila & Keyren

Naila & Keyren
Ch 1.1 pindah



Namaku naila ahmad subardi, kamis 2020 kami sekeluarga pindah dari bandung ke Jakarta karena papaku mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih bagus di sini dari teman lamanya, semua hal di luar jendela masih sangat asing bagiku itu semua merupakan awal yang baru bagiku. aku harap Jakarta akan lebih baik dari pada bandung aku juga berharap mendapatkan beberapa teman baru yang baik padaku. semoga semuanya berjalan lancar sampai aku diterima di Universitas impianku.


"nai ini buku-buku mu kamu masuk aja duluan beresin kamar mu sekalian istirahat"


naila hanya menganggukkan kepalanya. menatao rumah yang lumayan besar ketimbang rumahnya yang di bandung.naila cepat-cepat ingin masuk dan istirahat karena perjalanan dari bandung ke Jakarta lumayan melelahkan.


"keyren keyren kuncinya mana"


namun langkahnya terhenti mendengar seseorang tengah meneriaki nama seseorang yang bernama keyren namun yang terdengar oleh telinga naila adalah keren bukannya keyren. hingga membuat naila memperhatikan dua cowok yang satu memakai baju kemeja warna coklat dengan gaya rambut belah tengah sedangkan yang satunya lagi memakai jeket kulit berwarna hitam.


"kenapa kau melemparnya ke sana, apa salahnya kau turun hah" teriak cowok yang memakai baju kemana tersebut sementara temannya tengah tertawa melihat temannya yang tengah mengumpat sambil mencari kunci di semak-semak sehingga membuat kakinya tertusuk duri.tanpa sadar kedua bibir naila terangkat melihat tingkah konyol kedua cowok yang tertusuk duri.


"apa yang kau tertawakan, apa kau nggak ada kerjaan lain cepat pindahin, hari sudah mulai siang panas"


naila yang dimarahi ibunya cepat-cepat masuk kerumah membereskan semua Barang-barangnya dan membantu ibunya mengangkat barang yang lainnya.


"lumayan luas dibandingkan rumah kita di bandung"


naila melihat sekitar ruangan yang masih berantakan karena belum dibersihkan. mungkin saat ini masih terlihat jelek namun naila yakin setelah direnovasi pasti akan sangat bagus. "cepat-cepat kenapa kalian sangat lambat kek kura-kura, nah letakkan di sini,oh iya nanti kita akan makan siang di rumah teman papa kalian jadi cepat bereskan sebelum siang"


naila tidak menghiraukan ucapan ibunya. naila berjalan ke satu ruangan ke ruangan lain mencari ruangan yang cocok untuk jadi kamarnya nanti.


"naila dian kalian kesini cepat" naila yang mendengar panggilan dari kepala suku segera menghampiri tak berani menunda-nunda.


"ada apa ma? "


"naila dian, untuk saat ini kalian berbagi satu kamar"


Kata-kata yang keluar dari mulut mamanya itu merupakan sebuah hal yang tidak mungkin akan terjadi karena naila dan dian itu bagaikan dua negara yang sudah berperang betahun-tahun lamanya jadi meminta mereka berdua untuk berbagai kamar merupakan hal yang sangat tidak mungkin terjadi.


memang benar kata orang dua musuh bebuyutan dipersatukan tidak akan mungkin terjadi bahkan pemikiran mereka akan hal itu juga sama dengan serentak mereka berkata "aku nggak setuju" tak lupa mengangkat tangan seolah-olah sedang melakukan voting.naila dan dian sama-sama melihat ke mamanya yang tengah berdiri di depan mereka sambil membalutkan kedua tangan di dadanya menatap kedua anaknya yang begitu kompak tidak menyetujui rencana berbagai kamar tersebut.tatapan mereka teralihkan satu sama lain sehingga membuat mata naila dan dian saling bertemu.


"aku udah kelas 1 SMA ma, masa aku satu kamar sama bocil kelas 5 SD, kalau nggak biari aku ngekos aja"naila berusaha mencari keuntungan dari rencana ibunya setidaknya kalau dia ngekos dia tidak akan sering bertemu adiknya yang selalu menjahili nya dan setidaknya dia bisa lebih tenang tidak akan ada lagi yang mengganggu Barang-barangnya.


" ngekos, apa kau nggak tahu berapa biaya kos sebula, kau ingin Menghamburin uang mama nggak punya uang sebanyak itu untuk bayar kos"


naila yang mendengar perkataan mamanya hanya menundukkan Kepalanya dengan wajah cemberut.hal itu juga membuat naila sadar akan perekonomian keluarganya saat ini tidak bagus untung saja sekarang papanya sudah mendapatkan pekerjaan di jakarta dan gajinya lebih besar ketimbang gaji sebelumnya.


"udah udah jangan marah-marah lagi bukannya ada satu kamar lagi meskipun sedikit kecil, pakai saja yang itu"


"tapi kamar itu untuk dijadiin ruangan kerja"


"kerja bisa dimana aja dikamar bisa, di ruang tamu bisa, ditaman bisa, dimanapun bisa" goda papanya berusaha meredakan amarah mama naila yang meluap lupa. "terserah kalian, lakuin aja apa yang kalian mau sejak kapan kalian dengerin perkataan ku"


mamanya meninggal kakak beradik tersebut berdua di ruangan tamu.dapat terlihat di wajah naila bahwa dia sangat bahagia mengetahui bahwa dia tidak jadi berbagi kamar dengan musuhnya yang sedang berdiri tak jauh darinya. perang Dingin pun terjadi menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti.


"kalau gitu ini kamar ku"


naila berjalan ke kamar yang menjadi pilihan untuk menjadi kamarnya setelah proses pemilihan yang dia lakukan dari tadi setelah mengengksekusi seluruh kamar yang dia sudah dia kunjungi.namun tiba-tiba dian berlari ke kamar tersebut mendahului naila sehingga tanpa sengaja mendorong naila hingga membuat lutut naila terbentur ke meja.


"akkhh muhammad dian subardi"


teriak naila sehingga membuat dian ketar ketir mendengar kakaknya memanggilnya dengan nama lengkap itu artinya naila sudah benar-benar marah. naila menggunakan kanan kanannya memegang lututnya yang terbentur kemeja semntara tangan kirinya digunakan untuk memukul dian yang sudah mendorongnya dan membuat lututnya sakit.


"maa kak naila mukul dian"


berlari kebelakang kepala suku mecari perlindungan tak lupa memasang wajah polosnya seakan-akan dia adalah korban.


"kenapa kau memukul adikmu, apa kalian tidak bisa berdamai sehari saja"


mamanya menghampiri naila. menceramahi naila tanpa mencari tahu apa yang sudah terjadi. sementara papanya berusaha menenangkan amarah naila yang meluap luap. melihat apakah lututnya memar atau tidak.


"kau ini kenapa selalu menjahili kakak mu, kamu juga kenapa datang-datang memarahi naila tanpa tau apa yang dilakukan putramu ini"


papanya memarahi dian dan berusaha membela naila yang sebenarnya tidak bersalah karena kalau dian tidak mendorongnya dia juga tidak akan memukul adiknya itu.sementara mamanya yang sudah mengetahui kebenarannya masa bodo karena menurutnya dian masih kecil jadi sudah sewajarnya dia bersikap nakal di usianya saat ini.


"oke minta maaf sekarang"


naila yang melihat mamanya yang bersikap bodo amat akan hal yang terjadi padanya sudah mengetahui ending dari masalah ini.hingga membuat naila berusaha mendapatkan keadilan untuk dirinya sendiri karena mengharapkan keadilan dari mamanya itu tidak mungkin.


"nggak".bantah dian karena aturan perang di antara dia dan kakanya adalah siapa yang minta maaf maka dialah yang kalah. sementara dian tidak akan mau mengaku kekalahannya apalagi kalah dari naila kakaknya sendiri yang selalu kalah dari dulu.


"oke, kalau kau nggak mau minta maaf juga nggak papa tapi kamar ini punyaku"


naila berusaha mendapatkan keadilan sekaligus keuntungan dari hal yang dilakukan adiknya kepadanya anggap saja sebagai kompensasi dari perlakuan adiknya itu.ya kali udah kebentur masa nggak dapet apa-apa setidaknya dapat kamar yang menjadi pilihannya itu.