Naila & Keyren

Naila & Keyren
Ch 1.2 Rebutan kamar



sementara dian yang sudah mengetahui pemikiran kakaknya itu mau tidak mau hanya bisa mengeluarkan jurus andalannya yang mematikan itu.karena kalau menggunakan jurus ini mamanya pasti akan menuruti seluruh permintaannya.melihat ayra dengan senyum licik di wajahnya.naila yang melihat senyum licik di wajah dian sudah tau rencana licik yang tertanam di otak adiknya itu.


"maa aku nggak mau kamar yang lain aku maunya yang ini,kalau nggak biari aja aku tidur di lantai"


yah itulah jurus mematikan yang biasanya ada di otak para bocil merengek.dian merengek histeris duduk di lantai sembari memeluk kaki kanan mamanya.


hufft acting aja terus ngerengek aja sampai malam sampai abis tuh suara, nih bocil lama lama gw jadiin makanan buaya


"naila kasih aja kamar ini ke adikmu napa, lagian adik kamu masih kecil juga ngalah aja sekali kali sama anak kecil"


ucap mamanya dengan santainya kepada naila. naila masih saja tidak dapat menerima keputusan mamanya meskipun sudah menduga endingnya akan seperti ini dimana naila selalu diminta untuk mengalah kepada adiknya.


"kau masih kecil buat apa punya kamar sebesar ini gunain sesuai besar tubuh kau napa sedangkan aku udh besar seharusnya kamar ini untukku"


tegas naila yang kecewa dengan keputusan mamanya itu.naila mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membantah keputusan mamanya itu meskipun masih ada sedikit rasa takut di dalam hatinya.naila Mencelendengi dian adiknya yang selalu mengambil apa yang selalu dia inginkan dari dulu.


"maa kakak nggak mau ngalah. tuh mama lihat dia Celendengi dian diam takut"


lagi dan lagi dian menggunakan jurus mematikan para bocil.dian merengek sambil menunjuk nunjuk naila yang sedang Mencelendengi nya itu.


"naii kamu udah dewasa kenapa cuma gara-gara kamar harus diperebutkan kek gini, udah kasih aja kamar itu buat adik mu"


naila menghirup nafas dalam dalam berusaha mengumpulkan keberaniannya lagi.namun masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya untuk menjawab perkataan mamanya itu.hingga membuat naila berpikir beberapa kali karena takut nanti mamanya akan berfikir kalau naila sudah pandai melawan kepada orang tua.hingga suatu waktu naila sudah tidak tahan untuk tidak mengatakan kalimat yang sudah lama sembunyi di dalam hatinya"maa mama kenapa naila mulu yang harus ngalah.apa cuma gara-gara naila udah dewasa mangkanya naila harus ngalah mulu sama dian, ini nggak adil ma"


"udah lh intinya kasih aja kamar itu ke adikmu,udah kelar kan mama masih banyak kerjaan"


tak lama setelah perginya mamanya dian berdiri dengan ekspresi kemenangan di wajahnya penuh bangga sudah menang dari naila. berlari ke kamar yang seharusnya menjadi kamar kakaknya itu.


"naila.... "


dian berteriak dengan posisi berada depan pintu kamar.naila yang mendengar ada orang yang memanggilnya pun menoleh ke arah dia. naila melihat dian yang tengah menggoyang goyangkan pantatnya seolah-olah sedang mengejek naila. tertulis jelas di wajah dian penuh kebahagiaan bahwa dia lagi-lagi menang sedangkan naila lagi-lagi kalah. naila yang sudah kesal melemparkan buku hingga tepat mengenai pantat dian hingga membuat dian teriak kesakitan.


"ma... "." apa mau ngadu,mau ngerengek, ya udah ngadu sana ama mama. emang apa lagi yang bisa dilakuin bocil ingusan kayak kau selain ngadu"sela naila sebelum diam mengadu ke mamanya.dian yang mendengar perkataan naila pun kembali mengurungkan niatnya untuk mengadu kepada mamanya.dian sekaligus sadar akan kebenaran perkataan kakaknya tersebut selain ngadu tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. naila mengambil tas ransel yang disandang di punggungnya. lalu duduk di sofa yang baru saja di pindahkan berencana mengobati memar di lututnya.


"nai masih sakit kah? "tanya papanya dengan suara lembut.naila yang mendengar suara papanya yang sedang berbicara kepadanya hanya membalas dengan senyum manis di bibirnya. naila menatap papanya yang sendang menatapnya dengan tatapan hangat.


" nggak kok pa, ini mau.. "." kalau nggak sakit lagi cepat beresin sisanya. kita nanti mau makan siang di rumah teman papamu"


naila yang belum selesai mengatakan omongannya tiba-tiba dipotong oleh mamanya hingga membuat naila diam tidak melanjutkan omongannya tadi. naila yang berencana mengobati lukanya tiba-tiba mengurungkan niatnya tersebut setelah mendengar perkataan mamanya.


"kaki kau kan cuma memar nggak patah juga bentar lagi juga sembuh tuh, nggak usah banyak alasan"


naila yang sudah kesal dengan persoalan kamar yang seharusnya untuknya malah menjadi kamar adiknya ditambah dipaksa harus pergi makan siang di rumah teman papanya yang tidak dia kenal. menyandang tas ransel ke pundaknya berjalan ke lantai dua yang merupakan letak kamarnya.naila menutup pintu dengan kesar melampiaskan amarahnya.


"maaf ya pintu aku nggak maksud kayak gitu"


naila mengelus elus pintu dengan rasa bersalah di hatinya karena melampiaskan amarahnya kepada pintu yang tidak ada salah padanya.naila.melemparkan tas ransel yang disandangnya di pundaknya ke kasur lalu diikutu merobohkan tubuhnya. naila menatap langit-langit melamun beberapa menit lalu mengeluarkan ponselnya menghidupkan musik kesukaannya.naila menutup matanya menghayati musik berusaha tidur melupakan sejenak pertengkaran antara dia dan mamanya.


belum lama setelah naila tertidur mamanya sudah memanggilnya untuk bangun."nai nai cepat siap-siap yang lain udah nunggu ".naila yang sudah mau tertidur nyenyak seketika terbangun mendengar panggilan dari mamanya dari luar kamarnya.


" udah dibilang naila nggak mau pergi, naila capek".renggek naila dengan suara khas bangun tidurnya.


"uda cepat turun siap-siap kalau kamu nggak kebawah lima belas menit lagi yang jajan kamu mama potong"


"dikit dikit potong uang jajan ancamannya tambahin kek sekali-kali" rengek naila tak lupa memasang wajah cemberut.naila menghentak hen takkan kakinya ke kasur saking kesalnya hingga hampir membuat kasur itu roboh.berusaha membuka matanya yang sudah melekat seakan-akan matanya tadi di kasih lem saking susahnya dibuka.


"ekspresi macam apa itu"


"apanya".naila kebingungan dengan perkataan mamanya yang sedang melihatnya di bawah.


" kau lihat aja wajahmu sendiri di cermin, kalau orang lain lihat wajahmu yang sekarang mereka pasti ngira kalau mama maksa kamu ngelakuin sesuatu yang nggak kau mau"


Naila dengan memasang wajah betenya menundukkan kepala malas menatap mamanya yang sedang melotot kepadanya seakan-akan bola matanya akan keluar dari matanya.naila memainkan jari jarinya sambil berbisik kecil"bukannya kenyataannya emang gitu"


"kamu bilang apa? "


"nggak ada, nah kek gini, udah puas kan".naila memberikan senyum termanisnya dengan kedua telapak tangannya berada di pipinya hingga membuat matanya sedikit menyipit.


" nah kayak itu kan cantik, ya iya lah cantik turunan dari mama"


mamanya bercermin tersenyum senyum sendiri menatap wajahnya sambil merapikan tatanan rambutnya. sementara papa dan adiknya menggelengkan kepala tak lupa menghela nafar melihat tingkah mamanya dengan pedenya mengatakan menyombongkan dirinya sendiri.


"maa kita kapan perginya.cacing diperut ku udah demi dari tadi butuh makanan katanya"


"Ooh iya iya cepat kita pergi, nggak baik buat mereka nunggu lama"