
"pak bram - ehh pak ahmad, mari silahkan masuk"
naila dan adiknya yang melihat papa dan mamanya sudah masuk mengikuti langkah kedua orang tuanya karena yah nggak mungkin baru masuk ke rumah orang nggak dikenal langsung masuk dan duduk tanpa di suruh ama tuan rumah.
"eeh yang cantik ini pasti naila.kamu bisa panggil paman paman bram"
"hai paman bram"
naila sedikit panik karena tiba-tiba bram yang sibuk berbicara dengan papanya tiba-tiba saja memanggilnya karena bagi cewek pemalu seperti naila di sapa oleh orang yang tidak terlalu akrab merupakan hal yang sangat menguji nyali dan menakutkan.naila menyapa bram sambil mengayunkan tangannya.berusaha untuk tidak panik meskipun jantungnya berdetak cepat. naila bahkan dapat mendengar suara detak jantungnya.sementara bram masih saja tersenyum penuh kepadanya.
"dulu kalau nggak salah paman terakhir ketemu kamu itu kamu itu masih setinggi pinggang paman sekitar usia tujuh tahunan lah.lihatlah sekarang bocil kecil yang dulu sering minta permen sekarang sudah jadi cewek dewasa yang cantik sekali"
naila hanya membalas ucapan bram dengan senyuman lalu mengangguk ngangguk kan kepalanya. naila ingin membalas perkataan bram namun entah kenapa mulutnya begitu menempel satu sama lain seperti di kasih lem hingga tak bisa terbuka. dian yang tidak mau kalah pun ikut menyela pembicaraan bram yang dari tadi hanya menanyakan kakaknya tidak menanyakan dia.seolah-olah dian hanyalah patung tak di anggap ada di sana."kalau aku gimana paman"
"kalau kamu pasti dian kan. kalau kamu dulu masih bayi. kalau nggak salah sekitar umur dia tahunan. kamu dulu sangat nakal suka sekali ngerengek sampai-sampai mamamu selalu ngeluh tidak bisa tidur semalaman".
jangankan waktu bayi sampai sekarang aja sifat buruknya nggak hilang-hilang malah makin menjadi jadi.
Naila melihat dian dengan ekspresi mengejek. dian yang melihat tatapan naila sudah mengetahui pasti kakaknya sedang mengatainya di dalam hati.
bram yang tadi asik mengobrol mengenai masa kecil naila dan dian tiba-tiba memukul kepalanya.hingga membuat naila dan dian kebingungan mengapa bram tiba-tiba memukul kepalanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang penuh pertanyaan menatap bram."paman lupa nyuruh kalian duduk.kalau kalian terus aja ngajak paman ngobrol mungkin sampai nanti kita tetap berdiri aja disini sampai lupa waktu"
bram memimpin jalan di depan menyuruh yang lain untuk mengikuti langkahnya.namun langkahnya dihentikan oleh papanya naila yang tiba-tiba memegang tangan bram.bram yang tangannya dipegang pun menoleh ke arah papanya naila dengan wajah penuh pertanyaan mengapa temannya itu tiba-tiba memegang tangannya.
"pak ahmad ini apa? "
bram sedikit kebingungan karena temannya itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kantong yang tak tau berisi apa."oleh-oleh, sekaligus anggap saja sebagai permintaan Terima kasih karena kalau bukan karena bantuan kamu mungkin aku tidak akan mendapatkan pekerjaan yang sebagus ini"
"kenapa kau begitu sungkan denganku, kita sudah berteman selama belasan tahun bahkan sudah seperti saudara. jadi ucapan terima kasih itu kau simpan saja untuk orang lain"
" ella, lihat siapa yang datang"
bram memanggil nama seorang cewek sepertinya itu istrinya.tak lama kemudian pun bram mendapatkan balasan dari Ella yang keluar dari dapur dengan memegang mangkuk di tangannya. berjalan ke tempat mereka berdiri menatap hangat dengan senyuman yang manis bagaikan buah ceri dan suaranya yang begitu enak di dengar sangat lembut berbeda sekali dengan mamanya.
"halo pak ahmad buk asri, selamat datang"
naila yang baru pertama kali bertemu dengan Ella itu langsung merasakan sebuah kenyamanan ingin sekali berkenalan dengan Ella.kesan naila terhadap Ella berbeda sekali ketimbang kesannya pertama kali bertemu dengan bram.tanpa sadar bibir naila melengkung sendiri saat semakin memperhatikan wajah Ella yang begitu enak di pandang beserta senyum manis di wajahnya.
"ini itu tante ella yang dulu sering mama bilang sama kalian dulu" senyum naila seketika memudar kebingungan mendengar perkataan mamanya karena mamanya tidak pernah membicarakan tentang tante Ella kepada mereka dari dulu.di tambah dengan sikap mamanya yang berubah drastis dari biasanya yang selalu marah-marah sekarang berusaha untuk bersikap lemah lembut seperti tante Ella namun peran lemah lembut itu sama sekali tidak cocok untuk mamanya bukannya lemah lembut malah semakin mengerikan dibandingkan sikap biasanya yang selalu marah-marah.
sorry tante Ella. sebenarnya mama nggak pernah sama sekali bicara tentangmu.
Sementara mamanya masih saja sibuk melanjutkan karangan yang mamanya buat. mungkin kalau di suruh membuat sebuah skenario mungkin mamanya akan menjadi juara pertama. "aku sebenarnya ingin ngunjungin kalian ke Jakarta soalnya udah bertahun-tahun kita nggak ketemu, salahnya jakarta-bandung lumayan jauh di tambah ada anak-anak ntar siapa yang ngurusin"
naila terus melihat mamanya yang terus mengarang sebuah cerita dengan rapinya tanpa berpikir dua kali akan kalimat yang akan dia ucapkan. naila sama sekali tidak melihat sedikit kegugupan di mulut mamanya yang terus mengarang cerita yang langsung dia buat di tempat.naila akhirnya mengetahui salah satu bakat mamanya yang terpendam yaitu dapat mengarang cerita di tempat dengan cepat.
"benar kan".mamanya menatap ke arah naila dengan senyuman palsu dan tatapan mematikan seolah-olah sedang meminta sebuah kebenaran dari cerita karangan yang dia buat kepada naila.
Tatapan ini. aku benci tatapan ini. tante Ella naila sebenarnya tidak ingin menjadi cewek pembohon apalagi berbohong kepada orang tua, kalau mau salahin sesuatu salahin aja mama ku. jadi cewek baik itu memang sulit bagiku karena punya mama kek gini bukannya ngajarin anaknya jujur malah di ajarin bohong nge benerin karangan ceritanya. sekali lagi maaf tante Ella.
"emmm, tante Ella. akhirnya ketemu tante dari dulu aku sering dengar banyak tentang tante dari mama akhinya sekarang bisa ketemu langsung".naila membenarkan karangan mamanya dengan terpaksa.naila menatap wajah Ella dengan senyum terpaksa di wajahnya mata naila tak berkedip sedikitpun.hati naila merasa sedikit bersalah karena sudah berbohong kepada Ella.
" iya kah kalau gitu mari silahkan masuk, duduk terus siap-siap untuk makan"
naila yang berencana masuk mengikuti Ella pun terhenti karena tiba-tiba ada yang menarik bajunya dari belakang hingga membuat naila mundur beberapa langkah.hingga membuat naila tepat berdiri di samping mamanya.mamanya mengode naila akar masuk nanti bersama mamanya "papamu dan paman bran dulu berteman saat kecil karena bantuan dari paman bram akhirnya papamu dapat pekerjaan di kota.kalian berdua jangan bikin ulah. paham".bisik mamanya memperingati naila dan dian untuk tidak membuat kehebohan nanti saat makan siang karena kalau tidak diperingati mungkin saja mereka nanti akan buat sebuah ulah yang akan membuat papa dan mamanya malu.