My One And Only

My One And Only
BAB 7



Pagi ini seperti biasa Leana sudah bersiap untuk berangkat bekerja, setelah tadi ia terbangun dengan sedikit agak kesiangan tidak seperti mana biasanya. Di tambah lagi tumbuhnya terasa tidak enak badan dan kepalanya agak sedikit terasa pusing juga.


Tapi dia tidak mungkin untuk tidak masuk bekerja, karena banyak pekerjaan yang harus ia segera bereskan, lagi pula Leana merasa tidak enak sebagai pegawai baru yang magang pula harus bolos bekerja. Nanti ia cukup meminum obat saja pasti badannya akan kembali sehat, Pikirnya.


Setelah sarapan dulu sebelum berangkat kerja setelah itu Leana berpamitan pada orang tuanya dan Kakaknya juga.


"Lea pergi ya Yah, Bu," Ucap Leana.


"Iya Nak, hati-hati di jalan Sayang,'' Jawab sang Ibu.


"Assalamuallaikum."


"Wallaikumsalam."


"Eh Dek, gak mau bareng Abang aja?" Kata Rizky yang baru saja mendudukan dirinya di meja makan.


"Gak deh Bang, Lea hampir telat buru-buru. Dah Abang" Jawab Leana yang langsung pergi keluar rumah.


Di Perusahaan


Leana sekarang sudah berada di tempat kerjanya, setelah tadi ia naik ojol biar sampai cepat menuju perusahaan tempat dia bekerja.


Dengan kondisi yang masih lumayan kurang fit Leana masih tetap melakukan kewajibannya dalam pekerjaan.


Di tengah sedang mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba datang sekertaris CEO, Rere namanya. Masuk ke dalam ruangan devisi team Leana.


"Permisi, ada yang bernama Leana Carroline?" Tanyanya.


"Emm... Saya Mbak." Jawab Leana.


Sedangkan yang lainnya, seperti Mbak Karin ,Evan, Roy dan Chika, sedang saling pandang satu sama lain. Mencoba mencari sesuatu hal, alasan atau perbuatan apa yang sudah di lakukan Leana?, sampai-sampai seorang sekertaris CEO sengaja menumuinya.


"Anda di minta Pak Kenan untuk menghadapnya, di ruangannya sekarang." Ujar Rere.


"Eh, ada hal apa ya Mbak?" Tanya Leana penuh penasaran.


"Saya kurang tau, saya hanya menyampaikan yang di perintahkan." Jawabnya.


"Oh, Baiklah saya akan segera menghadap." Kata Leana.


"Baik, kalo begitu saya permisi. Maaf sudah menganggu waktunya." Ucapnya pamit pada karyawan lainnya yang berada satu ruangan dengan Leana.


Setelah Rere yang sudah duluan pergi, Leana kini bangkit untuk segera mengikuti perintah yang di dapatnya untuk menghadap CEO. Tapi langkahnya tertahan sejenak atas pertanyaan rekan-rekannya itu.


"Lea, kamu kenapa di suruh menghadap CEO?" Tanya Mbak Karin yang penasaran.


"Iya Lea ada apa? apa kamu bikin kesalahan Lea?" Sekarang Evan yang menanyakan hal yang sama padanya.


"Saya juga kurang tau Mbak, Mas. Makanya saya harus segera menghadap biar tau alasannya kenapa." Jawab Leana yang dia sendiri tidak tau alasannya kenapa harus menghadap.


Apa pria itu sengaja memintaku menghampirinya,


karena masalah kemarin saat dia memaksaku untuk berbicara


tapi aku malah menolaknya ya, (batin Leana).


"Kalo begitu sana cepat pergi, segera menghadap." Suruh Mbak Karin.


"Iya Mbak," Ucap Leana yang berjalan keluar ruangan devisi, untuk pergi ke ruangan CEO yang berada di lantai sepuluh gedung ini.


Leana memasuki lift, menekan tombol angka menuju lantai yang dituju. beberapa saat terdengar bunyi bahwa lift sudah berhasil sampai di lantai sepuluh.


Melangkah dengan sedikit waswas menuju ruangan CEO, tepat sampai di depan pintu Leana menyakinkan diri untuk masuk tanpa berpikiran negatif. Karena pintu ruangan agak sedikit terbuka, pikir Leana sekertaris CEO sedang ada di dalam ruangan tersebut juga, Karena di meja depan tempat sekertaris bekerja nampak kosong.


Dengan terpaksa Leana mengetuk pintu ruangan tersebut.


TOK..TOK..


Mendengat suara ketukan pintu, Kenan segera meminta sekertarisnya untuk keluar, dan meminta orang yang tengah berdiri di depan pintu untuk masuk ke dalam.


"Masuklah, Pak Kenan sudah menunggu." Ucapnya.


"Baik, permisi." Kata Leana yang mulai melangkah masuk.


Rere sebenarnya merasa aneh dengan perintah Bosnya itu, yang meminta khusus memanggilkan seorang anak magang baru ke hadapannya. Tapi ya apalah daya perintah ya perintah, tidak ada bantahan untuk menanyakan hal alasan lainnya, kalo masih mau bekerja di perusahaan ini.


Kenan yang menunggu di kursi kebangsaannya dengan membelakangi itu, seketika berbalik setelah mendengar suara Leana.


"Permisi, Pak." Ucap Leana dengan hati yang mulai gundah.


"Duduklah di sana." Suruh Kenan sambil menunjuk arah sofa.


Leana mengikuti perintahnya, lalu mendudukan dirinya di sofa itu. Lantas Kenan juga sudah beranjak untuk menuju sofa tersebut dan duduk di sana bersama dengan Leana.


"Kamu kemarin lari, disaat saya ingin berbicara dengan kamu. Kenapa harus lari?" Tanya Kenan.


"Menurut saya, jika Bapak ingin membicarakan perihal pribadi yang sudah terjadi, di antara saya dan Bapak. Lebih baik tidak usah ada pembicaraan apapun lagi." Jawab Leana.


"Kenapa?" Tanya Kenan lagi.


"Karena saya sudah ingin melupakan semua itu," Jawab Leana yang memejamkan matanya karena teringat kejadian yang telah dia alami oleh pria yang ada di hadapannya sekarang.


"Aku hanya ingin memberikan ini padamu," Kata Kenan menyodorkan cek yang sudah tertulis nilai uang yang begitu besar.


"Itu anggap saja, sebagai uang konpensasi atas apa yang sudah Aku renggut darimu."


Leana yang mendengar itu, ia lantas membuka matanya dan melihat sebuat cek di depannya. Dia merasa sangat di rendahkan, memangnya dia wanita murahan seperti yang di luaran sana, yang menjajakan tubuhnya lalu menerima imbalan setelah memuaskan nafsu bejat seseorang.


Sangat di sayangkan Leana bukan wanita yang mudah untuk menerima perlakuan di rendahkan Seperti itu, walau dia sudah tidak suci lagi tapi dia bukan wanita yang mengharapkan sesuatu atas apa yang telah terjadi pada dirinya, sekalipun ia waktu itu di perkosa oleh pria brengsek di hadapannya ini.


"Maaf saya tidak membutuhkan itu, sebaiknya Bapak simpan kembali saja," Ucap Leana tegar.


"Cih, dasar perempuan bilang saja kalau uangnya kurangkan." Kata Kenan yang menambahkan satu NOL lagi di dalam ceknya itu.


Pria brengsek ini keterlaluan sekali. (batin Leana).


Dengan terpaksa Leana mengambil cek itu dan di lihatnya sebentar nominal yang tertera disana.


"Well, ujung-ujungnya juga di ambil jugakan. Sama saja tidak ada bedanya." Ucap Kenan sinis sambil menatap ke arah Leana


"Anda salah Pak, jika berfikiran Saya akan menerima selembaran kertas ini." Jawab Leana sambil merobek cek tersebut di hadapan Kenan langsung, lalu melemparkannya ke udara.


"Maaf Pak, kalo tidak ada perihal yang penting lainnya lagi, saya permisi." Pamitnya yang ingin segera keluar dari ruangan itu.


Kenan melongo dengan tindakan Leana yang menolah cek yang di berikannya lalu memilih merobeknya, sungguh wanita keras kepala, pikir Kenan.


Dan baru saja Leana melangkah pergi menuju pintu keluar, tapi rasanya kepalanya malah terasa sangat pusing. Mungkin efek badannya yang dari tadi pagi tidak enak badan. Dengan masih menguatkan dirinya dia terus berjalan sampai dia hendak membuka pintu, tiba-tiba tubuh Leana ambruk terjatuh ke lantai.


Bruukk..


Saat itu Kenan yang melihat Leana terjatuh seperti tidak sadarkan diri lantas ia menghampirinya, begitupun dengan Rere yang di luar melihat Leana terjatuh langsung menghampirinya juga.


"Cepat suruh supir siapkan mobil Re." Titah Kenan pada Rere.


"Baik Pak."


Rere langsung menelpon supir Bosnya untuk standby, selain itu Kenan langsung menggendong tubuh Leana untuk dia bawa ke rumah sakit. Entah kenapa dia tiba-tiba merasakan khawatir melihat Leana pingsan tak sadarkan diri seperti ini.


Kenapa Gue malah ngerasa khawatir? apa karena Gue masih ngerasa bersalah sama kejadian yang udah Gue perbuat ke Dia. (batin Kenan).


**TERKADANG NULIS ITU BUTUH PENYEMANGAT😉


DAN OBAT PENYEMANGATNYA ITU ILIKE ,KOMEN AND RATE


YANG KALIAN KASIH SETELAH BACA


BACA KALO GAK DI LIKE PERCUMAKAN 😁😚**