
Keesokan harinya Leana beraktivitas seperti biasanya kembali, bangun pagi - pagi untuk bersiap pergi bekerja.
Dan sekarang Leana sudah berada di kantor, dengan penampilan casual yang memaparkan aura kecantikannya.
Tidak sedikit karyawan pria yang bekerja sekator dengan Leana itu diam - diam sering memperhatikan Leana karena kecantikannya. Lebih tetapnya lelaki mata keranjang yang kurang iman dan yang gak inget pasangan di rumah, liat cewek bening sedikit matanya pada langsung jelalatan.😆
"Pagi Mba Karin, Pagi Semua." Sapa Leana setiba di ruangan devisinya.
"Pagi Juga Lea." Jawab empat orang yang ada di ruangan itu termasuk Karin.
"Eh iya Lea berkas yang kamu kerjain udah selesai belum?." Tanya Evan rekan segroup Leana.
"Udah kok Kak Evan. Mau langsung jadi bahan presentasi sekarang emang nya ya Kak?." Tanya balik Leana pada Evan.
"Iya disuruh di presentasiin di rapat nanti." Jawab Evan.
"Oke deh, Aku siapin dulu dan cek ulang lagi takut ada yang salah ya Kak tunggu sebentar." Tutur Leana.
"Iya Lea." Kata Evan.
Leana pun lantas memeriksa kembali berkas yang telah dia kerjakan kemarin, untuk melihat ada kesalahan atau tidak dalam berkas itu, karena berkas yang di kerjakannya ini adalah bahan presentasi atas group team devisinya untuk proyek pengerjaan tender perusahan.
Selang satu jam kemudian dirasa tidak ada kendala kesalahan dalam berkas nya, Leana lantas memberikan berkas itu kepada Evan sebagai wakil yang bertanggung jawab untuk mempresentasikan di hadapan petinggi perusahaan dalam agenda rapat nanti.
"Kak Evan ini berkas nya, Aku udah ngecek ulang tadi." Kata Leana sambil menyerahkan berkas nya.
"Thanks Lea." Ucapan terima kasih dari Evan.
"Sama - sama, udah kewajibankan." Timbal Leana dan berjalan ke arah meja kerjanya kembali.
"Eh Lea bentar." Pinta Karin pada Leana.
"Iya Mba Karin ada apa?." Tanya Leana.
"Kamu gantiin saya temenin Evan wakilin buat rapat ya." Kata Karin.
"Eh kok sama Leana sih Rin, kan harusnya sama Loe." Timbal Rio sepupu Karin yang sama sudah lama bekerja di perusahaan ini juga, Senior kalo di sebutnya.
"Gue sakit perut dodol, entar Gue mana tahan pas rapat kalau kebelet ih." Tutur Karin yang diangguki oleh Rio seraya paham atas yang dia dengar.
"Gimana Lea, mau ya? Nggak apa - apakan Van sama Leana gantiinnya."
"Ya Gue oke - oke aja." Kata Evan.
"Ekhemm... sambil kesempatan ya kan Van." Goda Rio.
"Berisik Curut."
"Baik Mba Karin saya bisa gantiin Mba." Jawab Leana akhirnya setuju.
"Kalau si Cerin masuk, pasti dia yang heboh minta yang gantiin.. hahaha😆." Goda lagi Rio.
"Rio berisik ih Loe." Kata Karin.
Leana hanya geleng - geleng kepala dengan tingkah Rio seniornya itu
"Ya sudah kalau begitu kalian berdua cepat pergi ke ruang rapat, semoga sukses persentase nya. Semangat Guys." Titah Karin dengan penuh dukungan.
Lalu Evan dan Leana lantas pergi menuju ruang rapat untuk persentase hasil team mereka, sungguh hal pertama yang sangat menegangkan menurut Leana. Dia berpikir apa berkas yang telah ia kerjakan akan di hargai di depan para petinggi - petinggi tempatnya bekerja ini. Karena Dia hanyalah anak baru magang yang belum pernah punya pengalaman bekerja katoran sebelumnya.
Mereka sudah ada di ruangan rapat, di ruangan itu sudah ada team devisi lainnya juga. Mereka semua menunggu petinggi - petinggi perusahaan datang.
Selang beberapa saat hampir semua sudah hadir memenuhi ruangan rapat kecuali Direktur Utama dan CEO perusahan ini.
"Kok masih belum di mulai rapatnya?." Tanya Leana berbisik pada Evan.
"Nungguin Direktur Utama." Jawab Evan.
"Oh pantes, tapi udah lewat Lima menit dari jadwal rapat."
Dan panjang umur atasan yang baru saja tengah Leana gosipin akhirnya datang ke dalam ruangan rapat. Semua orang berdiri dan menyambut atasan mereka.
"Selamat Pagi Bapak Direktur." Sapa semuanya.
"Pagi juga semua, maaf terlambat jalanan sedikit menghalangi." Tutur sang Direktur yang begitu humble terhadap semua bawahannya.
"Oke rapat akan segera Saya mulai, dan materi pembahasan akan Saya wakilkan kepada anak Saya." Kata Direktur Bapak Willson Lauro.
Tap.. Tap .. Tap..
Deru suara langkah terakhir masuk ke dalam ruangan rapat, lalu berjalan menuju kursi kosong di sebelah Direktur Utama dan itu adalah anak Direktur perusahan ini sekaligus CEO perusahaan.
Mata Leana melihat si Pria itu lagi, dan dia tidak memikirkan kemungkinan bertemu dengan dia di ruang rapat sebelumnya. Karena terlalu fokus ke dalam pekerjaannya sendiri.
Ya ampun Aku lupa, kalo pasti bakal ketemu Pria brengsek itu di disini. Semoga Dia tidak menyadari keberadaanku di rapat ini. (batin Leana)
"Hallo Semuanya, Saya mewakili Dirut bla..bla..bla.." Tutur Penjelasan Kenan di dalam rapat.
"Silahkan persentasekan, hasil pendapat yang layak untuk perusahaan ini kembangkan." Titah Kenan kepada semua wakil devisi yang ada di ruangan ini.
Sambil mendengarkan hasil persentase dari perwakilan setiap devisi, Kenan sesekali memperhatikan Leana dari kejauhan. Kenan tidak menyangka karyawan baru anak magang bisa ada di acara rapat kali ini, suatu kebetulan yang tidak pernah di harapkan menurut Kenan.
Ternyata Dia berada disini. (Gumam Kenan)
Beberapa jam kamudian rapat persentase selesai, semua orang pergi dari ruangan rapat lalu melanjutkan kegiatan pekerjaan mereka. Termasuk Leana dan Evan juga mereka berdua meninggalkan ruang rapat juga. Dan di saat hendak berdiri untuk berjalan pergi keluar ruangan, Leana malah merasakan sedikit pusing, menyebabkan diri sedikit oleng hampir saja Leana terjatuh tapi Evan sigap menahan tubuh Leana.
Adegan itu tak luput dari pandangan Kenan.
"Hati - hati Lea." Kata Evan.
"Makasih Kak." Ucapnya.
"Kamu gak apa - apa Lea?." Tanya Evan yang sedikit khawatir.
"Gak apa - apa kok Kak." Jawab Leana.
"Beneran baik - baik aja."
"Iya Kak Evan, ayo kita lanjutin kerja."
"Ya udah ayok."
Evan dan Leana pun lantas pergi menuju ruangan kerja mereka kembali, dan Kenan hanya bisa melihatnya dari arah dia berada sekarang. Sampai tak terlihat sosok Leana lagi.
"Ken." Panggil Willson pada sang putra.
"Kenan." Kedua kalinya memanggil.
Tapi tidak di dengar oleh orang yang tengah melamun.
"Astaga anak ini, KENAN LAURO." Panggil sekali lagi agak sedikit teriak.
"Ada apa sih Pah, teriak segala manggilnya ngagetin aja." Timbal Kenan sedikit terkejut atas panggilan sang Papa.
"Cih Papa panggil - panggil Kamu gak nyaut, di teriakin baru nyaut Kamu." Tutur Willson pada Kenan.
"Ya maaf Pah, terus ada apa?." Tanya Kenan.
"Papa mau ajak Kamu makan malam sama Keluarga Paman Hadsen, Jangan lupa untuk pulang ke Mansion."
"Iya kalau gak lupa, ya udah Kenan mau lanjut kerja lagi." Ucap Kenan lalu pergi meninggalkan Papanya di ruangan itu.
"Dasar anak itu." Kata Willson.
Kenan sesegera mungkin meninggalkan Papanya dari ruangan rapat itu, karena malas jika harus menanggapi obrolan yang menuju ke arah pembahasan perjodohan. Jadi dia sengaja melarikan diri dari hadapan Papanya. Wkwkwk😂