My One And Only

My One And Only
Bab 11 (I'm back)



Setelah acara selesai, Keluarga besar Kenan lantas meninggalkan kediaman Leana, sementara Kenan masih disana sambil di temani William karena Kenan akan menemui Leana terlebih dahulu sebelum ia pamit pulang juga.


"Will, Lo tunggu sebentar. Gue mau ke dalem dulu nemuin Leana."


"Oke deh, Gue tunggu Lo di mobil aja kalo gitu."


Setelah itu Kenan lantas masuk ke dalam rumah kembali untuk menemui Leana, tapi sebelumnya dia mencari sosok calon ibu mertuanya untuk bertanya di mana letak kamar Leana.


Dari arah dapur sosok yang di cari pun nampak sedang membenahi sesuatu disana, Lantas Kenan menghampirinya.


"Permisi Bu."


Sapa nya saat berada di dapur.


Lalu sang Ibu yang mendengar seseorang lantas menoleh dan tersenyum saat melihat siapa yang sedang berdiri menyapanya.


"Iya nak Kenan, ada apa? apa ada hal yang di butuhkan?" Tanyanya sambil menghampiri Kenan lebih dekat


"Oh tidak Bu, Saya cuman mau bertanya dimana letak kamar Leana saja."


"Oalah, tak kirain butuh sesuatu, ayo kalo gitu Ibu antar ke atas."


Kenan hanya mengangguk, sambil mengikuti langkah sang calon Ibu mertua ke lantai atas menuju kamar Leana.


Setelah sampai di lantai atas, mereka berjalan ke arah kanan pojok dari lantai atas ini, dan berhenti tepat di depan pintu bercat warna coklat yang bertuliskan, Kamarku Pribadiku.


Lucu sekali pikirnya, depan kamar sampai harus di tuliskan kata-kata yang konyol seperti itu.


"Nah ini kamarnya, coba kita ketuk ya."


Tok.. Tok.. Tok..


"Lea, Nak ini ada Kenan." Ucap Ibu memanggil.


Leana yang sedang merebahkan dirinya, lantas saja bangun untuk menghampiri, karena mendengar seruan sang Ibu dari luar kamarnya.


"Iya Bu sebentar"


Dalam hatinya Leana menggerutu mendengar nama Kenan yang ibunya sebutkan.


"Ngapain sih harus nyamperin segala tuh orang, ngeganggu aja."


Setelahnya Leana langsung membuka pintu kamarnya, dan menampakkan dua orang yang sedang menunggunya. "Ada apa Bu?" Tanyanya


"Ini loh Lea, Nak Kenan mau ketemu pamitan sebelum pulang."


"Hmm.. Iya Bu,"


"Ya udah, Ibu ke bawah lagi ya Nak Kenan." Pamitnya kepada Kenan yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Ayo, silahkan duduk." Titah Leana.


Kenan menurut dan hendak bicara, namun kalah cepat sebelum Leana menimpalinya lagi.


"Kenapa, harus menemui Saya terlebih dahulu Pak." Tanya Leana yang langsung to the poin.


Hah Kenan di buat melongo, karena masih saja dia di panggil sebutan pak, padahal dia calon suaminya.


"Yang benar saja huh, sabar Nan." Batinnya berucap.


"Tidak, hanya ingin melihat kondisi Kamu saja dan Calon anak kita." Entah kenapa Kenan malah mengucapkan kata itu, ada perasaan aneh yang dia rasakan saat menyebut kan kata Anak Kita.


"Dia pasti baik, dan jangan sampai keceplosan bicara, di saat ada keluarga ku disini."


"Mereka belum tau, kalau Saya sedang mengandung."


"Apalagi mengandung sebelum kita ada ikatan." Tambahnya lagi karena Leana belum bisa bicara jujur kepada keluarga nya tentang kondisinya, yang sudah berbadan dua.


Mendengar Leana berbicara seperti itu, membuat Kenan merasa bersalah kembali atas apa yang dia sudah perbuat.


Tapi ada sedikit rasa bahagia yang dia rasakan, karena bisa memiliki Leana yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Iya, Saya tidak akan sampai kelepasa "


"Lagian sebentar lagi juga, Kita akan menikah. Tinggal menghitung Minggu." Ucap Kenan yang ingin mengurangi rasa beban yang di rasakan oleh Leana.


Leana hanya menanggapi ucapan Kenan dengan cuek dan acuh, karena menurutnya kenapa harus terjadi seperti ini. Menerima kenyataan ini sungguh sulit baginya, bukan tidak menerima kehadirannya, tapi kenapa harus karena masalah, kesalah pahaman saja membuat masa depannya yang di pertaruhan kan seperti sekarang ini.


Melihat Leana yang tidak menanggapinya, Lantas Kenan berdiri hendak berpamitan untuk pulang saja.


"Ya sudah kalo gitu, Saya pamit pulang dulu."


"Jaga kesehatan, demi Anak yang ada di perut mu." Ujarnya lagi dan lantas pamit pergi meninggalkan Leana yang masih terdiam.


Hidup terkadang bukan suatu pilihan, tapi juga tak seharusnya mudah menerima. Harus ada pegangan juga untuk menggenggam kendali untuk jalan hidup kita masing-masing.


✨


✨


Alhamdulillah bisa update lagi, lanjutin ngehalu lagi 🤧


bahagia aku tuh guys 😂


See next eps 😉