My One And Only

My One And Only
BAB 6



Setelah selesai rapat tadi Leana sekarang melanjutkan pekerjaannya sampai waktu jam istirahat tiba.


"Leana, ayo kita makan siang bersama." Ajak Karin.


"Baik Mbak,"


Karin dan Leana pun pergi untuk makan siang di kantin perusahaan, di saat hendak memasuki pintu lift karyawan Leana berpaspasan dengan Kenan yang juga hendak masuk ke dalam lift khusus di samping lift karyawan.


Kenan yang melihat sosok Leana, lalu berhenti hanya untuk meliriknya sebentar. "Wanitaku" Gumamnya. Lalu melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Leana dia lebih memilih tak menghiraukan akan ketidak sengajaan bertemu dengan pria yang sangat dia benci itu. Sesampainya di kantin kantor Leana dan Karin pun memilih meja untuk mereka tempati, lalu memesan makanan yang akan mereka santap.


Seorang pelayan menghampiri Leana dan Karin untuk menanyakan pesanan mereka.


"Kamu pesen apa Lea?" Tanya Karin.


"Emm... Saya pesen Nasi paket A aja Mbak." Jawab Leana.


"Oh Oke, samain aja kalo gitu pesenannya ya." Ucap Karin pada pelayan itu dan pelayan itu segera pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


Setiba pelayan mengantarkan pesanannya, mereka lantas segera memakan makanannya. Beberapa saat kemudian Leana merasakan gejolak pada dirinya seakan ingin memuntahkan apa yang dia baru saja makan.


"Hoekkkk...Hoekkk..."


"Lea, kamu kenapa?" Tanya Karin.


"Gak tau Mbak, permisi ke toilet dulu ya Mbak!!" Izin Leana lalu bangkit dari duduknya.


"Aku temenin ya, Lea." Pinta Karin.


"Gak usah Mbak, permisi ya Mbak."


Leana lantas pergi meninggalkan kantin menuju toilet, sesampainya di dalam toilet langsung saja Leana tidak bisa lagi menahan rasa mualnya lalu dia memuntahkan apa yang yang dia ingin lakukan dari gejolak mualnya barusan.


Hoekkk.. Hoekkk.. Hoekkk..


"Aku kenapa ya, tiba-tiba mual banget gini. Apa karena langsung makan pedes ya." Gumamnya pada dirinya sendiri di hadaan cermin wastafel.


Merasa lebih enakan Leana lantas membasuh mukanya, lalu keluar toilet untuk kembali ke ruangan kerjanya.


"Udah enakan Lea, kamu gak apa-apa kan Le?" Tanya Karin yang melihat Leana masuk ke dalam ruangan.


"Gak apa-apa kok Mbak, mungkin karena tadi Aku langsung makan pedes. Jadi badannya langsung gak kuat kali Mbak." Jawab Leana.


"Syukur deh kalo gak kenepa-kenapa,"


"Emang kenapa kamu Lea?" Tanya Rio.


"Cuman gak enak badan aja pas tadi makan Kak." Jawab Leana.


"Oh.. Kirain." Kata Rio.


"Kirain apanya curut." Ucap Vino.


"Kagak, cuman basa-basi aja Gue."


"Heleh, garing Lo."


"Hhehehee"


Sudah hampir mau setengah jam Leana menunggu, tapi bis yang di tunggu tak kunjung tiba.


"Mana nih bisnya, kok lama datengnya. Gak lewat-lewat." Gumamnya.


Di tengah-tengah penungguannya, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju ke arah Leana lalu berhenti. Setelah itu keluar sosok pria yang ada di dalam mobil tersebut dan Leana yang melihat pria itu langsung bangkit dari duduknya lalu hendak pergi dari halte itu.


"Tunggu, Hei." Ucap Kenan.


Ternyata yqng menghampiri Leana itu Kenan Lauro.


Dengan cepat Kenan mengejar lalu menggapai lengan kiri Leana.


"Hei, tunggu sebentar." Ucapnya lagi meminta Leana berhenti.


"Lepasin, brengsek." Ucap Leana menghempaskan tangan Kenan lalu ingin lari, tapi sayang kalah cepat karena Kenan sudah lebih dulu lagi mencekal pergelang tangan Leana dengan lebih kuat


"Sebentar, Aku ingin bicara sama Kamu." Pinta Kenan


"Gak sudi, lepasin saya." Jawab Leana lantas dia mengigit lengan Kenan dengan kuat sampai dia meringis sakit, sampai Kenan melepaskan cekalan tangannya dan Leana langsung saja lari pergi meninggalkan Kenan di sana.


"Awwww.. " Ringis Kenan.


"Sial, wanita itu." Gerutunya.


Dengan sesal Kenan membiarkan Leana pergi, mungkin besok saat di perusahaan dia akan secara langsung menyuruhnya ke ruangan dia untuk lebih leluasa berbicara tentang semuanya.


Sedangkan Leana kini dia sudah menaiki taxsi untuk segera pulang terlebih lagi menjauh dari sosok Kenan yang sempat tadi menahannya dan memaksanya untuk ikut pergi bersamanya.


Di perjalanan pulang dia duduk termenung sambil menutup kedua bola matanya dengan menahan butiran bening di pelupuk matanya.


Huaaa... ada apa dengan pria brengsek tadi


apa dia sengaja ingin memaksaku seperti waktu itu


ahhh.... haruskah aku keluar dari perusahaannya itu


tapi.. sungguh takdir yang kejam Tuhan. Hiks ( batin Leana).


Dan tak terasa taxsi yang di tumpangi Leana sudah sampai di depan rumah tempat tinggalnya, ia lalu turun setelah menyerahkan ongkos taxsi.


Dengan lagkah lemah dan terasa sedikit merasakan pusing serta mual, Leana masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.


"Assallamuaallaikum Ma, Pa,"


"Wa'allaikumsalam Sayang" Jawab kedua orang tua Leana.


"Tumben baru pulag Sayang" Tanya Sang Ibu.


"Ada kerjaan tambahan Bu, jadi sedikit lembur'' Jawab Leana.


"Ya Sudah, sana segera mandi terus makan dulu. Baru deh istirahat'' Kata Sang Ibu.


"Iya Bu'' Ucap Leana dengan senyuman di wajahnya.


Leana bergegas pergi ke kamarnya, lalu membersihkan diri lantas tanpa terasa langsung merebahkan diri di tempat tidur dan seketika terlelap dengan melewatkan makan malamnya.