
Hari sudah menjelang siang, Fakry dan keluarganya pamit untuk pulang setelah terlibat obrolan panjang yang membuat Yurry harus ikut bersama mereka untuk menimba ilmu di pondok.
Baik Yurry maupun ayahnya tidak keberatan akan hal itu, tapi Yurry sedih karena harus meninggalkan ayahnya seorang diri dirumah sebesar ini. Dia tidak tahu kalau ayahnya juga sedang menjalin hubungan dengan seorang guru di SMP Yurry dulu. Seorang guru agama.
"Ayah jaga diri baik-baik yah. Kalau ada apa-apa kasih tau Yurry, jangan bikin Yurry khawatir"
"Iya sayang pasti. Kamu juga harus belajar yang rajin ya. Biar bisa jadi istri yang sholehah"
"Yurry bakalan kangen banget sama ayah"
"Ayah bakalan sering-sering berkunjung ko"
"Ayah ngga ada sedih-sedihnya ngelepasin Yurry" rengek Yurry.
Umi yang menyaksikan keharuan itu, hanya mengelus pundak Yurry lembut menenangkan. Ia paham betapa sayangnya Yurry pada ayahnya yang sudah merangkap jadi ibu untuknya sejak kecil. Pasti sangat berat untuknya meninggalkan orang terkasihnya seorang diri.
...*-*-*-*-*-*-*...
Keempatnya tiba di pondok sebelum ashar, semua mata tertuju pada kedatangan mereka, ditambah ada orang asing yang menyertai. Ada yang menatap tidak suka, tak sedikit pula yang terkesima dengan kecantikan Yurry. Gadis tomboy itu hanya memakai celana jeans longgar warna abu dan hoodie putih serta sepatu putih saat menginjakkan kaki ke pesantren. Ia memang sempat berbelanja pakaian muslim tadi sebelum kesini, tapi tidak berniat langsung memakainnya. Toh umi ataupun abi dan Fakry juga tidak menyuruhnya. Jadi ia akan memakainya nanti saja pikirnya.
Laras. Gadis cantik dengan kerudung merah menyala khasnya itu sedang menatap Yurry dengan tatapan tidak suka, apalagi saat Fakry membantu Yurry mendorong kopernya masuk kedalam rumah abi Syakir.
Selama ini hanya dirinya santriwati yang bisa bebas masuk kerumah abi Syakir, tapi kali ini Yurry di antar langsung oleh Fakry.
Siapa perempuan itu. Berani sekali dia.
Hingga Fakry dan Yurry menghilang dibalik pintu, Laras kembali masuk kedalam kamarnya, disana juga ada Wiwin dan Ani teman sekamarnya yang sedang membicarakan kedekatan Fakry dengan perempuan tadi. Yurry.
"Dia cantik yah. Apa dia sepupunya ustad Fakry?" kata Wiwin.
"Tapi mukanya kayak orang China. Matanya sipit hidungnya mancung kulit putih, badannya juga bagus tinggi. Kayaknya bukan deh" ucap Ani menimpali.
"Mungkin dia santri baru kali ya. Tapi ko diperlakukan khusus gitu" Wiwin.
"Udah ahh jangan nebak-nebak gitu, takutnya nanti jatuhnya suudzon" tutup Ani.
Laras yang mendengar obrolan dua teman sekamarnya itu sengaja menutup pintu lemari dengan keras sampai Wiwin dan Ani menatapnya heran. Mereka tau kalau Laras sudah lama menaruh perasaan pada Fakry tapi Fakry tidak pernah memperlakukannya seperti Yurry. Fakry selalu mamganggapnya sama seperti santri-santri lainnya. Tidak pernah diistimewakan.
...*-*-*-*-*-*...
"Mau istirahat dulu, atau mandi dulu?" tanya Fakry lembut, namun dengan ekspresi datar.
Suaranya selalu sama seperti saat dia membaca al-Quran. Lembut dan menenagkan. Batin Yurry.
Yurry tersenyum. Tekadnya sudah bulat, ia akan berusaha menjadi wanita sholehah agar pantas menjadi pendamping ustad Fakry. Kedua keluarga sudah menentukan bahwa Yurry akan menimba ilmu dulu di pesantren sambil menjalani taaruf selam tiga bulan. Setelah tiga bulan, terserah keduanya, akan melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak. Tergantung.
"Aku mau mandi dulu ustad. Abis itu baru istirahat" jawab Yurry malu-malu.
"Iya ustad. Bye bye" kata Yurry sambil terus tersenyum tanpa disadari.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
-------------
"Sayang. Udah sholat?" tanya umi yang tiba-tiba datang menghampiri Yurry di kamar tamu.
Entah kenapa umi sangat suka pada Yurry, meski penampilannya tidak seperti perempuan tapi sekarang dia sangat cantik dan anggun dengan balutan kerudung warna hitam ukuran XL yang sengaja di pilihkan oleh Fakry lengkap dengan gamis warna biru corak-corak hitam.
Umi merasa gadis ini sangat polos dan murni, sepertinya hatinya belum pernah tersentuh oleh siapapun, apalagi mendengar ceritanya yang ingin menjadi mualaf karena melihat Fakry dari youtube membuat hati umi terenyuh.
Ia berinisiatif akan bersikap sebaik mungkin layaknya seorang ibu pada Yurry, agar Yurry betah di pesantren sekaligus memberikannya kasih sayang seorang ibu yang belum pernah di rasakannya.
"Iya umi baru beres. Umi, apa umi punya kerudung yang lebih kecil dari ini? Yurry kegerahan pakenya ini terlalu gede" kata Yurry manja layaknya anak yang merengek pada ibunya.
"Umi punya nya yang lebih gede dari ini" jawab umi.
"Yahh. ustad Fakry beliinnya yang segede ini semua mi. Dia ngga kasian apa sama Yurry"
Umi tersenyum manis kemudian duduk di tepi ranjang bersama Yurry "Panas karena memakai kerudung tidak sebanding sama panas api neraka loh. Fakry sengaja beliin kamu kerudung ini supaya kamu terbiasa dengan semua ini. Justru ini karena dia kasian sama kamu, dia ngga mau kamu merasakan panasnya api neraka di akhirat jadi lebih memilih kamu merasakan panas karena memakai kerudung ini di dunia".
"Gitu ya mi?"
"Iyaa, yaudah yuk umi anter ke kamar kamu"
"Loh aku ngga tidur disini mi?"
"Belum saatnya dong sayang, nanti kalau udah sah jadi istrinya Fakry baru tidur di rumah ini di kamarnya Fakry"
"Hehe, aku ngga sabar deh mi" cetus Yurry membuat umi terkekeh mendengarnya.
Polosnya.
.
.
.
.
tbc.