
Sore hari, Yurry berjalan-jalan di taman kota dengan headset terpasang di telinganya. Ekor mata Yurry menatap setiap pasangan yang berjalan bergandengan di depan matanya.
"Dosa" ucapnya sembari mengerucutkan bibir kearah pasangan muda mudi tersebut seraya terus berjalan dengan meminum boba di tangannya.
"Ar-rahmaan, allamal qur'aan, kholaqol insaan, allamahul bayaan, assyamsu walqomaru bihusbaan, wannajmu wassyajaru yasjudaan, wassamaa'a rofa aha wawadhoalmiizaan, ala tathghoufil miizaan"..
Mulut Yurry terus melantunkan ayat-ayat suci al-quran mengikuti irama yang ia dengar melalui headset sepanjang kakinya berjalan, ia seakan terhanyut dengan suara merdu yang keluar dari mulut seorang ustad muda idolanya. Sejak kecil ia selalu ingin bertemu dengan ustad itu, tapi belum kesampaian. Sekarangpun sebelum tidur Yurry selalu ditemani ceramah ustad muda idolanya itu. Ia tidak akan bisa tidur kalau tidak sambil mendengarkan ceramah ustad kesukaannya. Ditambah, ia hanya berdua saja dirumah dengan ayahnya. Kata ayah ibunya meninggal saat Yurry berusia 9 bulan, jika Yurry rindu pada ibunya ia akan bercermin dikaca besar menatap dirinya sendiri setelah itu ziarah ke makam ibunya. Ayah bilang ibunya sangat mirip dengan Yurry, cantik berperawakan ramping dan tinggi, hidung mancung wajah tirus, dan sangat baik.
Yurry selalu merasa tersanjung bila disamakan dengan ibunya yang sangat sempurna menurutnya.
Lelah berjalan menyusuri trotoar, Yurry membanting pantatnya di sebuah kafe pingging jalan yang menyediakan outdoor untuk para pelanggannya.
Tadinya Yurry hanya akan numpang duduk disana, tapi menatap menu yang tersedia, cacing di perut Yurry meronta minta jatah mereka. Akhirnya Yurry mengalah dan pindah masuk. Hawa dingin setelah turun hujan membuat Yurry enggan menghabiskan makanannya diluar, bisa-bisa dirinya masuk angin.
Sampai didepan pintu masuk, matanya terbelalak menatap wajah yang sangat akrab di matanya.
"Ustad Fakry" gumam Yurry.
Kemudian Yurry merogok ponsel di saku hoodie warna merahnya, mencari foto ustad idolanya untuk memastikan.
"Aaaa..." teriakan Yurry begitu nyaring hingga membuat semua orang di dalam cafe termasuk Fakry dan Bondan menatap ke arahnya.
Buru-buru dia menutup mulutnya setelah sadar apa yang barusaja dia lakukan. Tak bisa digambarkan lagi sebahagia apa Yurry sekarang, matanya menatap kearah Fakry dan seketika manik keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum Fakry memalingkan wajahnya.
"Aaa mimpi apa gue semalem ketemu ustad kesayangan" Yurry berucap lirih sambil menutup mata dan menggoyangkan tubuhnya sendiri.
Ehh ngga sendiri deng. Ada yang menggoyangkan tubuh Yurry. Yurry berbalik menatap siapa yang ada di belakangnya.
"Jangan ngalangin jalan dong mbak!" ucap seorang gadis bersama dua temannya dengan nada ketus tak bersahabat.
"Huh biasa aja dong" balas Yurry pelan tak kalah ketus.
Merasa sangat bahagia dengan pertemuan pertamanya dengan Fakry, Yurry langsung memperbaiki tatanan rambut pirangnya dan juga penampilannya. Hari ini dia hanya memakai hoodie berwarna merah maroon dan celana jeans longgar diatas lutut, bawahnya dia menggunakan sepatu berwarna putih.
"Gue ngga dandan lagi. Bau ngga yah". Yurry mengendus badannya sendiri takut mengeluarkan bau tak sedap saat berada di dekat Fakry, ia harus menunjukkan kesan pertama yang baik pikirnya.
Selangkah demi selangkah, perlahan tapi pasti Yurry mendekati meja makan Fakry dan Bondan tanpa diketahui sang empunya.
"Boleh saya duduk disini?" tanya Yurry. Dengan entengnya dia duduk di sebelah Fakry meski keduanya belum berkata boleh.
Refleks Fakry dan Bondan menatap Yurry yang nyerobot duduk di sebelah Fakry. Keduanya saling bertukar pandangan sebelum menggelengkan kepala seolah sedang berteleportasi.
"Oh iya saya lupa. Assalamu'alaikum ustad" ucap Yurry lagi masih dengan senyum bahagia yang mengembang.
"Wa'alaikum salam, ustad?" tanya Fakry sembari melihat Yurry.
"Wa'alaikum salam".. Samar-samar terdengar suara Bondan.
Fakry segera memalingkan wajahnya menatap piring makanan di atas meja, mencoba mengalihkan pikiran dari Yurry yang terus menatapnya.
"Iya ustad. Ustad namanya dr. Fakry Adam Muhammad S.Farm. kan? Saya sering nonton ceramah ustad, di youtube di tv di radio semua saya tonton"
"Radio itu di denger bukan di tonton" balas Fakry seraya menyuapkan makanannya, "dan tolong, jaga pandangan matamu itu" lanjutnya.
"Tapi radio saya tonton juga ustad. Saya taro radionya di depan mata saya, terus saya nontonin bentuk radio sambil dengerin ustad". Celetukan Yurry membuat Bondan terkekeh dan langsung mendapat tatapan tajam dari Fakry yang tepat berada di depannya.
"Ustad boleh minta foto ngga? Buat dipajang di kamar. Saya ngefans banget sama ustad" ucap Yurry sangat antusias memberikan ponselnya pada Fakry.
Fakry yang mendapat sodoran ponsel dari Yurry menatap sebentar ponsel ini kemudian memutar pandangan pada Yurry. Lagi-lagi matanya harus berpapasan dengan mata Yurry yang berbinar dan senyum yang tak memudar.
"Apa ini?" tanya Fakry mengernyitkan dahinya.
"Hp" jawab Yurry.
Bondan malah terkekeh mendengar jawaban Yurry yang seperti anak kecil, tatapan Yurry pun seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru saat menatap wajah tampan Fakry. Tapi yang di tatap malah terlihat risih.
"Maksudnya apa dikasih ke saya?" tanya Fakry.
"Bukan dikasih ustad, di pinjemin doang buat selfi. Ustad yang megang, kita selfi berdua" jawab Yurry.
Fakry semakin mengernyitkan dahinya, tidak habis pikir dengan tingkah kekanakan Yurry.
Oh shit.. Fakry baru engeh kalau Yurry adalah anak SMA yang tadi pagi hampir ia tabrak "pantesan" gumam Fakry.
"Apa ustad? ustad ngomong apa tadi?" tanya Yurry dengan wajah penasaran. Fakry enggan menjawab dan malah meneguk minumannya sampai tandas.
"Udah sini sini hp nya biar gue fotoin berdua" sergah Bondan buru-buru, melihat gerak-gerik Fakry yang sepertinya akan segera beranjak karena jengah.
.
.
.
.
tbc.