
Selang berapa menit sebuah mobil memasuki halaman rumah Yurry, tampak keluar seorang lelaki dan perempuan paruh baya berpakaian putih rapih. Disusul oleh seorang lelaki yang berumur lebih muda dari keduanya mengenakan kemeja biru garis-garis putih tanpa balutan jas.
Ketiganya melangkah menuju pintu masuk rumah bernuansa hitam putih itu dengan wajah sumringah, kecuali pria muda yang bersama mereka, hanya sesekali mengulum senyum bila kedua paruh baya itu menatapnya.
"Assalamu'alaikum" teriak lelaki paruh baya.
"Wa'alaikum salam" samar-samar terdengar balasan salam dari dalam diikuti langkah kaki.
"Ayah siapa yang datang?". Tiba-tiba Yurry memekik saat turun dari tangga, membuat ayahnya menghentikan langkah dan berbalik.
Hah?
Ayah Mi terbelalak menatap putrinya yang berdiri dua meter di belakangnya. Bukan terkesima karena kecantikan putrinya, melainkan heran dengan kelakuan anaknya itu.
"Kenapa kamu memakai baju seperti itu?" tanya ayah seraya mendekati Yurry yang keheranan.
"Memangnya kenapa? Biasanya juga begini" santai Yurry berjalan mendekati pintu.
"Wa'alaikum salam"
Aduh!
Ayah memukul jidatnya sendiri, merutuki dirinya yang salah memberikan arahan pada putri semata wayangnya. Harusnya dia meminta Yurry berdandan layaknya seorang perempuan. Feminim. Bukan seperti begajulan begini.
"Eh.. e.. ini-"
Tetiba saja mulut Yurry menganga dengan mata terbelalak serta mulut tidak bisa berkata-kata.
Bagaimana tidak? Pujaan hatinya ada di hadapannya saat ini. Dan....
So handsome. Very! Very handsome. No. More handsome more and much. Too much...
Melihat putrinya mematung tanpa suara, ayah segera menengahi dan menghampiri mereka dengan sedikit tawa renyah kemudian mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Selamat datang pak Syakir. Silahkan masuk"
"Terimakasih pak Mi"
Dan Yurry. Gadis tomboy itu masih belum sadar dari apa yang dilihatnya, ia tidak percaya kalau ustadnya ada disini, di rumahnya, sekarang. Pandangan matanya tak pernah lepas dari Fakry, langkahnya mengekori Fakry dari belakang tanpa berkedip. Seolah dunianya hanya berputar di Fakry saat ini.
Saat semua sudah duduk di meja makan, Yurry malah tak bergeming dan hanya memandangi Fakry. Tentu saja itu membuat semuanya heran, tidak terkecuali Fakry.
Ia bahkan tidak ingat pernah bertemu Yurry beberapa hari yang lalu di sebuah cafe. Karena waktu itu ia tidak memperhatikan gadis tomboy yang seenak jidat ingin berselfie dengannya.
"Yurry" kata ayah dengan sedikit berteriak membuyarkan lamunan Yurry.
"Ah ya?" jawabnya tersadar kemudian.
"Ayo duduk nak" pinta ayah dan Yurry mengiyakan.
Kedua keluarga sudah duduk bersebrangan di samping meja makan dengan Yurry yang selalu mencuri pandang pada Fakry.
Apa aku harus bertanya kenapa dia tidak pernah menjawab telponku? Lalu mau apa dia kesini? Darimana dia tau alamat rumahku? Dan.. Kenapa ayah terlihat sangat akrab dengan mereka?
Ahh banyak sekali pertanyaan di benak Yurry saat ini. Juga kebahagiaan yang tidak bisa disangkalnya memuncak di kepala. Kerinduan yang dirasakan Yurry akhirnya terobati dengan kehadiran Fakry di rumahnya. Tapi...
Kenapa ayah tidak memberitahuku kalau ustad akan datang, kalau aku tau aku akan berdandan secantik mungkin dan pakai baju yang bagus. Bukan begini...
Haaah ayah benar-benar tidak tahu sikon. Pikirnya.
Begitu juga sebaliknya abi Syakir memperkenalkan istrinya umi Zahroh dan Fakry pada ayah Mi dan Yurry.
"Maaf sebelumnya, saya tidak melihat ibunya Yurry dimana dia?" tanya umi lembut.
Senyum yang tadinya mengembang di wajah cantik Yurry seketika sirna saat mendengar pertanyaan umi.
"Ibunya sudah meninggal saat Yurry berumur sembilan bulan" jawab ayah dengan senyum yang dibuat setegar mungkin.
"Maaf, saya benar-benar tidak tahu"
"Ngga papa, jangan sungkan. Bukankah semua yang bernyawa memang akan mati"
"Iya benar" jawab abi Syakir.
"Ah iya mari sarapan dulu. Nanti dilanjut lagi ngobrolnya" ujar ayah.
...*-*-*-*-*-*-*...
Diruang tamu, selepas sarapan kedua keluarga berkumpul, awal-awal banyak hal yang mereka bicarakan, pengalaman hidup, cerita masa kecil anak-anak mereka, bagaimana kehidupan selama ini dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya mengatakan maksud dan tujuan sebenarnya mengadakan pertemuan pagi ini.
"Sayang, ini nak Fakry. Dia adalah lelaki yang ayah ceritakan kemarin. Bagaimana? Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya ayah.
"Emm..eee anu. Itu- dia"
Yurry! Kenapa dia jadi gugup begini. Bukankah dia selalu petakilan dimanapun berada, kenapa sekarang mendadak jadi pemalu dan pendiam begini.
Kenapa perempuan ini. Dari tadi selalu menatapku, kenapa sekarang juga sangat aneh. Pikir Fakry.
"Itu ayah.. Dia- dia adalah ustad yang Yurry maksud" ucap Yurry terbata-bata.
"Maksudnya?"
"Dia ustad yang sering Yurry ceritain ke ayah"
Seketika ayah tersenyum senang, begitu juga dengan abi dan umi mereka saling berpandangan dan tersenyum. Pasalnya mereka sering mendengar dari ayah Mi kalau Yurry sudah ada orang yang disuka, mereka pikir akan sulit untuk menjodohkan keduanya, tapi ternyata takdir berkata lain, Fakry lah orang yang selama ini di sukai Yurry. Dan itu sangat bagus.
"Benarkah nak?" tanya ayah lagi memastikan.
"Iya yah"
"Ayah senang banget"..
"Ini kabar baik, ternyata Fakry yang disuka sama Yurry. Umi pikir Yurry suka sama orang lain" celetuk umi dengan raut bahagia terpancar.
Fakry daritadi hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun, lalu melihat kebahagiaan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya, membuat Fakry hanya bisa menghela nafas sambil melirik Yurry sebentar saat Yurry juga tengah menatapnya.
.
.
.
.
tbc.