
Matahari sudah tenggelam di peraduannya beberapa jam yang lalu. Dan disinilah Yurry sekarang, di kamar yang hanya berukuran 3×3 meter. Matanya menatap langit-lagit kamar berwarna putih yang tampak masih kokoh dengan bayangan ayahnya muncul disana.
Tidak sulit bagi Yurry beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pembawaannya yang humble dan suka bergaul serta ceria membuatnya mudah disukai orang-orang di sekitarnya termasuk para santri disana. Yurry hanya sedikit keras kepala, tapi itu tidak mungkin ditunjukkan jika tidak ada sesuatu yang memaksa.
Hari sudah larut, jarum jam menunjukkan pukul 23.11. Yurry kembali ke kamar bersama Nindi dan Ayu pukul 22.05 usai belajar dan mengaji. Selama di aula santriwati Yurry tidak henti-hentinya mengipas-ngipaskan kerudung besarnya karena hawa panas yang menerpa.
Flashback on.
Selepas sholat maghrib berjamaah, semua santri baik santriwan dan santriwati berbondong-bondong pergi ke aula masing-masing tidak terkecuali Yurry juga harus kesana. Ya, aula santriwan dan santriwati terpisah.
Di aula.
"Yur kamu kenapa?" tanya Ayu keheranan melihat Yurry tidak henti-hentinya mengucurkan keringat dari wajahnya.
"Gue- eh aku maksudnya, aku ngga papa ko, cuma kepanasan aja. Disini ngga ada AC-nya ya?" jelas Yurry seraya tersenyum manis.
"Disini mana ada AC, cuma ada kipas doang, tuh (menunjuk kipas di samping kiri kanan atas) emang ngga kerasa?" kejar Ayu.
"Tapi aku ko tetep kepanasan ya. Mungkin kerudung aku yang kegedean kali ya" jawab Yurry.
"Emang kamu pake kerudung lagi? Kenapa ngga dibuka aja tadi" celetuk Nindi menimpali dari samping kanan Yurry.
Yurry dan Ayu menatap Nindi sebentar sebelum Yurry berkata "emang boleh?" dengan polosnya.
"Ya bolehlah!" Nindi bersuara cukup keras disana, hingga beberapa orang yang dekat dengan mereka menatap ketiganya dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Boleh Yur. Gantinya kamu pake mukena aja. Nanti ngga terlalu panas, kayak aku nih". Ayu memperlihatkan bajunya yang tidak tertutup kerudung.
"Gitu ya? Kenapa kalian ngga bilang daritadi sih?" kelakar Yurry membuat Ayu dan Nindi melengos enggan disalahkan.
"Kan kamu ngga nanya!" balas Ayu dan Nindi bersamaan.
Yurry hanya menatap sekilas kedua teman barunya itu sebelum mendengus kesal dengan kelakuan mereka. Yang bisa-bisanya menjadi sangat kompak saat menimpali ucapannya.
Flashback off.
Kenalan dulu yuk sama Ayu dan Nindi.
Ayu Pratiwi. Gadis cantik berkacamata kelahiran Sleman yang juga selalu memakai kerudung besar seperti yang diberikan Fakry pada Yurry, bahkan mungkin lebih besar. Dia seorang yatim piatu, setelah orang tuanya meninggal 10 tahun silam saat dirinya berusia 10 tahun, dia diasuh oleh bibinya yang tinggal tidak jauh dari pesantren. Beruntung bibinya sangat menyayangi Ayu seperti anaknya sendiri.
Sedangkan Nindi?
Laisa Nuranindi adalah nama lengkapnya. Bagus bukan? Tentu saja! Sebenarnya masih ada lagi kepanjangannya, marga ayahnya. Hendarto.
"Oke. Oke. Calm"..
Orangnya marah-marah gengs. Kita lanjut. Nindi lahir di Gunung Kidul 19 tahun yang lalu. Sengaja kabur dari rumah orang tuanya yang besar sebagai pemberontakan pada kedua orang tuanya. Sebagi seorang yang berada, orangtuanya hanya sibuk bekerja sepanjang hari, mereka akan pulang setelah Nindi tidur dan pergi setelah sarapan. Tidak pernah ada waktu untuk buah hatinya. Itulah yang membuat Nindi pergi dari rumah. Apalah artinya rumah mewah, harta berlimpah, jika waktu dan kasih sayang bersama orang-orang tercintanya tidak pernah ia dapatkan.
Berbeda dengan Ayu, Nindi terkesan lebih simple dalam berpakaian, dia hanya mengenakan gamis dan kerudung dengan ukuran normal, L atau kadang M jika sedang di area santriwati. Perawakan Nindi hampir sama dengan Yurry hanya lebih pendek sedikit, dan Ayu dia lebih tinggi dari Yurry tapi badannya kurus.
Begitulah gambaran Ayu dan Nindi teman sekamar Yurry. Keduanya sangat baik dan ceria. Nindi sangat cempreng tapi Ayu terlihat lebih dewasa, ya memang di yang paling tua diantara kami.
*-*-*-*-*-*-*-*-*
"Ahh kepalaku" pekik Yurry dengan suara tertahan.
"Kamu ngga papa Yur?" tanya Ayu yang baru saja datang dari kamar mandi.
"Aku ngga papa, cuma sedikit pusing aja"
"Kamu sakit?". Ayu mencoba memeriksa Yurry dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Yurry.
"Ngga panas" ujar Ayu.
"Mungkin cuma karena kurang tidur aja. Semalem aku ngga bisa tidur, mungkin baru bisa tidur setengah empat-an". Yurry masih memegangi kepalanya yang terasa berat sambil sesekali memijatnya.
"Loh kenapa?" tanya Ayu heran.
Gimana nih. Ngga mungkin kasih tau alesan yang sebenarnya. Bisa mati kutu gue.
"Belum terbiasa kali, jadi ngga bisa tidur" jawab Ayu sembari tersenyum.
"Yaudah ngga papa, maklum. Nanti juga biasa". Ayu berlalu mencari pakaian dan bersiap untuk sholat subuh berjamaah. "Cepetan bangun, bentar lagi sholat subuh berjamaah. Nanti kalau udah sarapan kita cari obat biar pusingnya berkurang" sambungnya.
"Hmh"
.
.
.
.
tbc.