My Miracle

My Miracle
Bab 3 Bertemu



"Deketan dikit dong"


Bondan mengarahkan Fakry dan Yurry supaya duduk lebih dekat.


"Ngga boleh terlalu deket, dosa. Iya kan ustad?"


Fakry diam. Dalam hati, heran lagi. Lah, itu tau dosa kenapa daritadi ngga bisa jaga pandangan. Polos apa bodoh sih ni cewek.


"Yaudah berarti gue foto Fakry aja nih ya sendiri, lo ngga usah ikutan"


"Ngga bisa gitu dong. Itukan hp Yurry"


Yurry merengut kesal.


Sreekk...


Lamunan Fakry buyar. Saat Yurry mulai mendekatkan kursi miliknya pada Fakry dan bergaya ala abg bau kencur bertemu idolanya.


Ckrek ckrek ckrek..


Mula-mula Fakry biasa saja dengan tingkah polah Yurry. Dia hanya memasang ekspresi datar.


Yurry mendekatkan tubuhnya pada Fakry membuat Fakry refleks menjauh sampai Yurry hampir terjerembab.


"Bisa kita pulang sekarang"


Fakry berdecak kesal menatap Yurry yang kebingungan.


Manik mata Fakry gusar menatap Bondan masih asik memotret dirinya dan Yurry. Tangan mungil Yurry bergaya mengacungkan dua jari sejajar pipi dengan mata dikedipkan satu, gaya lainnya manyun dan menaruh tangan dibawah dagu ala girlband cherrybell.


Belum cukup sampai disitu, kali ini Yurry berdiri dibelakang Fakry mengangkat sebagian rambut Fakry ke atas, sontak saja anak kyai itu memutar bola mata ke atas untuk menatap Yurry. Disaat yang bersamaan Bondan berhasil memotret momen langka itu. Dengan Yurry yang tersenyum tiga jari menatap kamera.


Sudah waktu ashar, tanpa peduli dengan Bondan dan Yurry. Fakry beranjak dari kursi meninggalkan dua orang yang menjadikannya seperti mainan. Sebelum pergi ia merogoh beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja.


Yurry dan Bondan menatap kepergian Fakry heran.


Ko pergi sih. Kan belum minta nomor telpon. Ujar Yurry dalam hati. Kecewa.


Hatinya berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu lagi dengan Fakry, mengingat pria itu pergi begitu saja tanpa pamit. Bahkan belum sempat ia bertanya dimana Fakry tinggal. Ia ingin sekali berkunjung kesana. Besar harapan sebenarnya Yurry ingin memiliki pasangan hidup seperti Fakry.


Kejadian beberapa tahun lalu, saat Yurry menginjak kelas 5 SD. Dirinya berkunjung ke rumah saudara di Bogor. Saat itu Yurry masih seorang kristiani. Iseng, ia dan saudaranya Yun Boona mencari sesuatu yang dianggap mereka extreme. Keduanya menonton sebuah kajian Islamic lewat laptop Boona. Pertama mereka membuka kajian ustad yang memiliki ukuran tubuh besar.


"Ganti"


Pinta Boona mengernyitkan dahinya.


"Baiklah"


Tangan mungil Yurry kecil sibuk mengutak-atik laptop Boona. Mengetikkan kata kunci lain pada kolom pencarian "kajian ustad ganteng" tulisnya. Muncullah video Fakry muda berusia 20 tahun dengan balutan koko putih dan peci hitam. Sangat tampan dan gagah.


Waahh.


Yurry kecil seakan terhipnotis oleh karisma Fakry yang terpancar. Suara Fakry bagaikan musik yang mengalun di telinganya. Apapun yang Fakry ucapkan semuanya membuat Yurry mengulum senyum. Sangat tampan.


"Kenapa orang muslim wajahnya selalu bercahaya?" celetuk Yurry disela-sela menonton.


"Apa orang muslim bisa menjadi istri seorang kristiani?" kejar Yurry penasaran.


Tanpa berpaling. Entah pikiran darimana, tapi Yurry ingin sekali bisa dekat dengan ustad yang ada di layar laptop. Mungkin jadi adiknya. Muncul pikiran dewasa dari Yurry kecil, dirinya ingin jadi istri ustad saja, kalau hanya jadi adik, dia pasti akan ditinggalkan oleh ustad kalau sudah menikah.


Senangnya.


Batin Yurry memekik keras. Yurry mengusap layar laptop, memperhatikan dengan seksama wajah ustad yang baru dilihatnya beberapa menit lalu.


"Sangat tampan" bisik Yurry.


"Bagi umat muslim, menikah beda agama itu haram. Itu disebutnya zina" jawab Boona mendekat pada Yurry.


"Darimana kamu tau banyak soal orang muslim?"


Mimik wajah Yurry menunjukkan keheranan sekaligus kekaguman.


"Ini". Boona menunjukkan i pad nya, dan Yurry membaca tulisan disana 'google'.


Kenapa aku ngga kepikiran sampe situ. Ahh aku searching aja nanti di handpone ayah tentang ustad ganteng ini. Pikirnya.


"Oh".."Kalau begitu aku mau jadi muslim saja".


Boona tercengang mendengar ucapan Yurry, saudaranya itu sungguh tidak tau apa-apa tentang agama. Dengan mudahnya dia berucap mau pindah agama tanpa memikirkan konsekuensinya.


---------


"Ka boleh minta nomor telpon ustad ngga?"


Bondan melongo, menatap ponsel yang masih digenggamnya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya pada Yurry.


"Hah?"


"Minta nomor telpon ustad" ulang Yurry sekali lagi.


"Oh". Buru-buru Bondan mengetikkan nomor ponselnya, bukan nomor Fakry. Gue mana hafal nomor dia.


"Nih. Gue balik dulu"


Sedetik setelahnya Bondan tidak terlihat lagi didalam kafe itu.


Eumm akhirnya dapet jugaa hihi..


Tangan Yurry terkepal, mata tertutup tapi mulut tersenyum lebar, bergumam terus-menerus dalam hati. Aku harus cepat pulang dan bersiap. Nanti malam aku akan menelponnya. Hihi.


.


.


.


.


tbc.