My Miracle

My Miracle
Bab 10 Handphone



Setengah jam lagi menuju maghrib, Fakry sudah tiba di pesantren. Tangannya membawa sebuah bungkusan kecil berisi handpone jaman dulu yang hanya bisa untuk menelpon dan sms lengkap dengan sim card yang sudah terpasang.


"Assalamu'alaikum" sapa Fakry saat memasuki rumah.


"Wa'alaikum salam" jawab umi.


"Yurry dimana mi?"


"Yurry udah di kamarnya, kamar nomor tiga belas"


"Umi bisa kasih ini ke dia ngga. Nanti hpnya yang lama suruh simpen aja"


"Kamu aja sana yang kasih, umi mau ke mushola. Oh iya sekalian suruh dia ke mushola buat sholat berjamaah ya". Umi langsung berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Fakry yang kebingungan. Apa iya dirinya harus ke kamar santriwati? Rasanya belum pernah ia kesana apalagi untuk urusan perempuan.


Aneh.


-----------


"Assalamu'alaikum"


Kini Fakry sedang berdiri di depan pintu kamar santriwati nomor 13 menunggu seseorang membuka pintu.


"Wa'alaikum salam" jawab Nindi teman sekamar Yurry yang mebukakan pintu.


"Yurry nya ada?" tanya Fakry canggung, bukan canggung lebih tepatnya malu.


Malu setengah mati.


"Ada ustad, sebentar". Fakry mengangguk.


Tak lama datanglah Yurry dengan kerudung yang lebih kecil berwarna pink. " Eh ustad ada apa ustad?"


Fakry menatap Yurry dengan tatapan sedikit kesal, baru kali ini Yurry melihat tatapan itu, sangat menyeramkan.


Apa Yurry membuat kesalahan?


Tentu saja!


"Kenapa pakai kerudung itu?" tanya Fakry dengan nada sedikit tinggi.


"Gerah ustad. Ustad beli kedurung semua ukurannya sama. Itu kegedean buat Yurry"


"Aku ngga mau lagi liat kamu pake kerudung kayak gini. Pake kerudung yang saya beli atau saya kasih kerudung yang lebih gede dari itu"


"Iya ustaaad" kata Yurry "Sayang" lanjutnya pelan.


Deg.


Apa-apaan gadis ini. Dasar bocah.


"Berhenti mengatakan itu, apalagi di depan umum. Gimana kalau orang lain denger"


"Berarti kalau cuma kita berdua doang boleh dong? :D"


Astagagfirullahal'adzim.


"Ngga boleh! Mana handphone kamu?"


Yurry mnegerucutkan bibirnya sebal dengan jawaban Fakry, tapi Fakry tak menggubrisnya.


"Buat apa? Mau dipakein kerudung juga?"


"Di pondok ini gaada yang boleh main hp. Jadi hp kamu saya sita". Mata Yurry terbelalak mendengar ucapan Fakry.


Baru kali ini dia tidak bisa bermain handphone. Masalahnya dia tidak akan bisa tidur jika tidak mendengar suara Fakry. Ia hanya akan tidur jika mendengar Fakry mengaji atau berceramah.


Berarti dia tidak akan pernah bisa tidur kalau malam. Huhuuu


"Masalahnya ustad, itu- eee saya ngga bisa tidur kalau ngga denger suara ustad"


"Maksudnya?"


"Saya cuma bisa tidur kalau sambil dengerin ustad ngaji atau ceramah"


Fakry menahan gelak tawa mendengar penuturan Yurry. Gadis tomboy seperti Yurry ternyata sangat manja, tidurpun harus ada yang menemani meski hanya lewat suara. Entahlah Yurry merasa kalau dirinya mendengar Fakry mengaji rasanya seperti ada yang mengelus kepaalnya hingga tertidur.


"Ko ketawa sih. Yaudah ah aku mau siap-siap sholat maghrib"


"Eh tunggu tunggu. Tetep aja ngga bisa sini dulu hp kamu aku sita. Nih ganti sama yang ini"


"Ini mah ngga bisa buat dengerin murotal"


"Udah kamu ambil aja dan buruan sini hp kamu. Disitu udah ada nomor telpon aku sama ayah kamu. Tapi awas kamu cuma boleh main hp abis sholat ashar sampai menjelang maghrib. Dan jangan telpon aku kalau ngga ada yang penting"


"Yaudah bentar aku ambil dulu"..


......


"Nih. Awas ya jangan dijual"


"Siapa juga yang mau sama hp butut kayak gini"


*Sembarangan. Itu keluaran terbaru"


"Yaudah. Buruan sholat maghribnya berjamaah di mushola. Satu lagi jangan pake kerudung kayak gitu lagi. Atau aku gamau kenal lagi sama kamu"


"Iyaa sayangku cintaku honey bunny muah muah" ucap Yurry tertahan.


"Mimpi apa aku semalem" kata Fakry seraya berjalan cepat meninggalkan Yurry yang terkekeh melihat Fakry berjalan sambil bergidik.


.


.


.


.


tbc.