
Yurry's Pov
Aku mengerjap saat sinar mentari menyapaku. Hari ini adalah hari kelulusanku, tepat setelah satu minggu yang lalu pertemuanku dengan ustad Fakry.
Disinilah aku, duduk di kursi yang ada di samping meja makan bersama ayah. Menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutku.
Sialan!
Kenapa lagi-lagi aku teringat bagaimana ustad Fakry mereject panggilanku. Ya, sejak hari itu aku selalu menelponnya setiap hari, pagi dan malam lebih tepatnya. Karena akhir-akhir ini aku sibuk menyiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.
Tapi bagaimanapun, harusnya dia mengangkat telponku, walaupun tidak setiap saat aku menelpon, setidaknya sekali saja. Ahh aku jadi kesal jika mengingat hal itu.
"Nak, apa pengumuman di universitas sudah keluar?"
Ayah berucap lembut meski aku hanya menatapnya dengan datar. Aku benar-benar kehilangan moodku pagi ini. Rasanya aku ingin menonton ustad Fakry saja di laptop sambil memarahinya.
"Belum yah. Mungkin bulan depan"..
Tidak seperti biasanya tatapan ayah kali ini seolah mengulik diriku yang terdalam. Matanya menatap tajam manik mataku dan aku membalasnya dengan mengerutkan alis.
"Ayah kenapa?" tanyaku.
Dia terus menatapku dalam tanpa memberi jawaban.
Aiya. Apa aku benar-benar kentara kalau sedang kesal. Lama ayah masih saja menatapku seperti mata elang. Menusuk.
Sudah cukup! Aku tidak tahan dengan tatapannya itu. Itu seperti membuatku berada di rel kereta yang akan melintas. Buru-buru aku mengalihkan pandangan seraya tersenyum paksa dan mengunyah roti ditangan.
"Apa yang membuatmu begitu kesal pagi ini?"
Nah. Darimana ayah tau kalau aku sedang kesal? Sekarang apa yang harus aku katakan?
"Ngga ada yah. Aku- aku lagi pms jadi ngga ada mood" aku berucap seraya terkekeh masam.
Oh, ayah. Maafkan anakmu ini karena sudah berbohong. Mana mungkin aku bilang kalau aku minta nomor laki-laki dan menelponnya setiap hari tapi tidak pernah diangkat. Tengsin dong!
Aku tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan ayah sendiri di meja makan. Dan melengos ke kamarku di lantai atas.
"Rupanya putri kecilku sudah dewasa" kata ayah pelan.
*-*-*-*-*-*-*
Pukul 08.00 tibalah acara perpisahan kami dimulai. Para wali murid kelas XII semua berdatangan, ada yang hanya ibunya/ayahnya, ada pula mereka yang lengkap satu keluarga, atau yang hanya datang dengan wali mereka entah itu kakek/nenek atau mungkin saudara mereka. Aku tidak tahu. Dan...
Tidak terlalu penting juga untukku.
Yang pasti hari ini aku datang bersama ayah. Keluargaku satu-satunya di kota ini. Yogyakarta. Kebanyakan keluarga dari ayahku ada di Shanghai sedangkan keluarga ibuku di Bogor. Ayah sangat tampan, memang selalu tampan sih. Beliau mengenakan kemeja warna maroon yang dibalut dengan jas hitam dan sepatu pantofel warna senada.
Ahh. Andai dia bukan ayahku dan masih muda, aku pasti jatuh cinta padanya. Dia sangat tampan, sungguh!
Sedangkan aku, karena semua kelas XII sudah dibuatkan pakaian dengan rancangan dan warna yang sama kami memakai kebaya simple berwarna pink dengan taburan silver di area dada dan lengan serta pita berwarna silver pula menghiasi punggung atas kami. Tak ada satupun rambut siswi yang digerai, semua harus di tata rapi diatas kepala. Hanya beberapa siswi yang rambutnya pendek.
---------
Dengan rambut di kepang separo dan ditata rapih diatas kepala. Karena rambutku hanya sebahu jadi tidak dibuat keatas semua.
Pokoknya aku cantik. Titik.
Oke kembali ke keramaian di sekolah.
Kepala sekolah memberikan sambutannya selama kurang lebih 30 menit, dilanjut wakil kepala sekolah, kemudian para petinggi sekolah lainnya. Tidak terkecuali bapak dan ibu dewan guru.
Waktu berjalan cukup cepat bagiku, sejenak melupakan ketampanan ustad Fakry yang menghantuiku setiap malam, kali ini banyak pria tampan yang menampilkan kebolehan mereka dalam berbagai bidang di hadapan kami. Mereka adalah adik-adik kelas X dan XI.
Saat ini aku tidak boleh kelihatan bar-bar. Harus anggun! Bisa dibilang ini adalah hari terakhirku di sekolah jadi aku harus tenang dan menikmati semua suguhan yang diberikan.
"Lo mau kuliah dimana Yur?". Suara si manis yang selalu memakai jepit rambut. Seperti sekarang ini, membuyarkan fokusku. Maria.
"Gue"..
Aku ragu akan menjawab apa. Aku sudah mengajukan pendaftaran di beberapa universitas besar yang ada di Yogya, tapi tidak yakin dengan hasilnya.
"Gue- kayaknya di UNY deh. Udah daftar di UGM juga tapi gue ngga yakin sama hasilnya" ucapku ragu-ragu.
"Oh. Sama dong berarti. Tapi kalo gue keterima di UI kita harus bye bye" kata Maria seraya tersenyum mengejek dan mengelus pundakku.
"Gede juga nyali lo daftar di UI" senyumku tak kalah mengejek.
Nilai Maria sebelas dua belas lah denganku. Sama-sama tidak pernah lebih dari 90. Apalagi absensi selalu berpengaruh pada nilai. Untuk seorang Maria yang hobi terlambat bagaimana mungkin akan dapat nilai bagus. Dan...
Harapan diterima di UI? Sepertinya aku harus memberinya support yang ekstra kali ini.
---------
Acara berjalan lancar sampai sore menjelang. Semua orang pulang dengan wajah sumringah. Ada pula yang merengut kesal, bahkan ada yang seperti ketakutan. Mungkin nilai mereka jelek dan takut pulang kerumah karena ayah ibunya akan memarahi mereka.
Dasar!
"Nak. Apa kamu mau berjanji sesuatu pada ayah?". Ayah berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan karena dia sedang menyetir dan aku duduk di sebelahnya.
Aku tidak pernah melihat ayah seserius ini sebelumnya, tapi wajahnya tampak biasa saja, hanya nada suaranya yang berubah.
"Janji apa?"
.
.
.
.
tbc.