My Miracle

My Miracle
Bab 6 Yurry's Pov-



"Janji apa?"


Aku melirik sebentar ke ayah karena tak kunjung menjawab. Sebenarnya aku bertanya-tanya janji apa yang ayah maksud. Sebelumnya ayah tidak pernah bicara seserius ini.


Aku tidak menyerah, sekali lagi aku bertanya hal yang sama pada ayah "janji apa yah?" tanyaku. Kali ini aku tidak melepaskan pandanganku darinya, sampai ia menepikan mobilnya dan berhenti.


"Kamu inget pak kyai yang menuntun kita untuk masuk islam?" tanya ayah sembari menatap lekat manik mataku serius.


Otakku berpikir keras, mengulik milyaran ingatan di kepalaku, mencoba mencari serpihan ingatan 6 tahun lalu.


Oh shit.


Aku gagal mengingat semuanya, kejadian itu sudah sangat lama saat kami masih tinggal di Bogor. Dan hanya saat itulah pertama dan terakhir kali aku bertemu pak kyai itu.


"Ngga inget ayah" ucapku sedikit menyesal.


"Ngga papa sayang. Wajar kalau kamu ngga inget sama dia" sambungnya.


"Emangnya apa hubungannya janji yang ayah bilang sama pak kyai itu?" tanyaku.


Penasaran!


Satu kata itu yang berkecamuk dalam otakku saat ini. Janji apa? apa hubungannya dengan pak kyai? Oh otakku tidak sampai memikirkan itu semua.


"Dua minggu lalu, ayah ketemu sama dia. Kami ngobrol tentang banyak hal dan dia nanyain kamu" katanya, entah kenapa aku melihat ada sedikit kecemasan saat ayah mengucapkan kata 'kamu'.


"Terus?" tanyaku.


"Bukannya alasan kamu pengen masuk islam gara-gara nonton ustad ganteng?" tanya ayah lagi, kali ini dengan smirk diwajahnya.


"Iya" jawabku enteng. Itu memang benar jadi aku tidak perlu menyangkalnya. Tapi ayah bilang, semasa hidup ibu ingin kami menjadi seorang muslim. Sampai keluarga kami di usir dan memilih pindah ke Yogya. Sayangnya, ibu meninggal sebelum menjadi mualaf karena asma yang dideritanya.


"Katanya pak kyai itu lagi cari menantu" ucap ayah yang sontak saja membuatku mengernyit heran.


Putrimu ini masih ingin bebas!


Apa ayah akan menikahkanku dengan anak pak kyai? Bagaimana dengan impianku yang ingin menikah dengan ustad Fakry? Ahh ayah tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia mematahkan impian putrinya sendiri.


"Maksud ayah? Jangan bilang kalau ayah akan menikahkanku dengan anak pak kyai itu? Yurry masih sangat muda ayah! Yurry bahkan gatau anak pak kyai itu mukanya gimana"..


Ekspresiku berubah tiga ratus enam puluh derajat saat ini. Mana mungkin aku melupakan begitu saja orang yang ku cintai hampir sembilan tahun ini. Ustad Fakry. Ya, aku mencintainya, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan cintaku padanya. Apalagi dengan kondisi kami jarang bertemu, bukan jarang. Hanya baru sekali! Ingat, baru sekali aku bertemu dengannya yaitu seminggu yang lalu.


Sejak kelas lima SD, di otakku tidak ada lelaki lain selain ustad Fakry, aku menontonnya setiap saat jika ada waktu luang. Walaupun tidak ada waktu luang, aku akan sengaja meluangkan waktu untuk menontonnya. Maka dari itu aku tidak pernah berpacaran, sekalipun tidak dipungkiri banyak lelaki yang mencoba mendekatiku meski penampilanku mirip dengan mereka. Alias tomboy.


"Aaa ayah ngga ngerti. Kan Yurry bilang Yurry mau masuk islam biar bisa nikah sama ustad ganteng. Dan Yurry cuma mau nikah sama ustad ganteng yang Yurry tonton waktu itu" balasku seraya merengut.


"Sayang, coba kamu kenalan dulu sama dia. Istilahnya taaruf dulu. Ngga perlu buru-buru kalian bisa saling mengenal satu sama lain dulu, kalau cocok baru" bujuk ayah memegang bahuku.


"Ngga mau!" aku masih keukeuh.


Tiba-tiba ayah merogoh ponsel dari saku jasnya, membuatku melirik sebentar melihat apa yang dibuka ayah di ponselnya.


Cih. Disaat seperti ini kenapa ayah malah membuka sosial media.


"Ini" katanya.


Aku melihat ayah menunjukkan sebuah foto yang tampak usang, karena kamera yang digunakan tidak sejernih smartphone jaman sekarang. Foto itu menampilkan dua orang anak laki-laki dan perempuan. Yang aku tau perempuan itu aku dan...


Laki-lakinya aku tidak tahu dia siapa, wajahnya sangat buram aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki yang aku tebak mungkin sudah berumur belasan tahin itu tersenyum di depan kamera seraya merangkul bahuku yang lebih pendek darinya.


Kenapa senyumnya sangat familiar?


"Ini siapa yah?" tanyaku menatap ayah.


"Ini anaknya pak kyai itu. Dan yang ini", ayah menunjuk anak perempuan yang ada di ponselnya "ini kamu" katanya.


"Lihat, dia sangat tampan kan?" godanya.


"Ustadku lebih tampan dari dia" sergahku.


"Benarkah? ayah jadi penasaran setampan apa ustad yang dicintai putri cantik ayah ini" ledeknya seraya mengelus pucuk kepalaku gemas.


"Dia sangat tampan ayah. Aku tidak ingin menikah dengan pria lain selain dia" 'ustad Fakry' lirihku sembari mengurai pelukan pada pahlawan no 1 di hidupku. Ayahku.


.


.


.


.


tbc.