
"Walah walah telat telat telat"...
Seorang siswi SMA akhir berlari tergesa-gesa menerobos hujan gerimis yang turun pagi ini. Sepatunya basah, tidak perlu ditanya lagi karena hujan turun dengan derasnya semalam hingga menyisakan genangan disepanjang jalan. Tas ransel warna ungunya ia gunakan sebagai payung untuk melindungi kepala.
"Kopi sialan. Gara-gara elo gue kesiangan!"
Mulut manis siswi SMA itu menggerutu.
Siswi itu bernama Mi Yurry, gadis cantik blasteran China-Indo yang kini duduk dibangku kelas 3 SMA dan hari ini hari terakhir ujian untuk kelulusannya. Sialnya ia harus terlambat karena kopi yang ia minum setelah sholat maghrib mengakibatkan dirinya baru bisa tidur pukul setengah 4 dini hari.
"Andai ada ibu, gue pasti ngga bakalan telat gini" gerutu Yurry sambil terus berlari menerobos jalanan.
Ciiitt...
"Aaa!"
Langkah Yurry terhenti saat sebuah mobil BMW warna putih hampir menabraknya. Yurry baru tersadar saat matanya menatap lampu hijau di sebrang jalan menyala. Saking terburu-burunya Yurry tidak sadar kalau dirinya sedang menyebrang jalan tanpa tengok kanan-kiri. Untung mobil tidak dalam kecepatan tinggi.
Yurry memandang mobil itu sebentar kemudian kembali berlari dengan wajah tanpa dosa. Bahkan tanpa meminta maaf.
Fakry Adam Muhammad, pria itu sedang terkejut didalam mobilnya karena Yurry yang melintas tiba-tiba. Pria tampan berusia 27 tahun dengan setelan kemeja putih dan celana hitam itu hanya bisa menggelengkan kepala atas kecerobohan Yurry.
Setelah detak jantungnya kembali normal, Fakry kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup lenggang untuk jam masuk kantor seperti ini. Mungkin karena hujan yang sedang turun membuat beberapa orang enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Ria!"
Yurry berlari semakin cepat saat melihat sahabatnya juga tergesa-gesa memasuki lorong sekolah.
Maria Adeva, sahabat Yurry yang memang terkenal sering terlambat masuk kelas seperti hari ini. Gadis yang khas dengan jepit rambut di kepalanya itu tersenyum dan melambai pada Yurry dari kejauhan.
Entah kemana satpam yang berjaga pagi ini. Gerbang tidak dikunci, membuat Maria dan Yurry bebas memasuki area sekolah, biasanya kalau keduanya terlambat akan masuk lewat pagar belakang. Disana ada tangga darurat yang mereka buat bersama murid-murid teladan yang lain untuk antisipasi kalau keadaan tidak memungkinkan.
"Asik gue ada temennya" ucap Maria dengan wajah berbinar menatap Yurry yang sedang menepuk pakaian serta tangannya yang basah.
"Gue terpaksa jadi temen kesiangan lo. Dimasa depan ngga ada lagi istilah temen kesiangan" balas Yurry dengan wajah cemas "ayo buruan" sambungnya.
Keduanya segera berlari kecil menuju lantai dua dimana ujian dilaksanakan.
Tok tok tok...
"Masuk" ucap seseorang dari dalam ruangan ujian.
Semua mata tertuju pada Yurry dan Maria yang berdiri di depan pintu dengan wajah cemas, serta nafas yang tak beraturan.
"Assalamu'alaikum"..
Yurry dan Maria menyalami pengawas perempuan yang diketahui adalah guru b. Inggris mereka.
"Wa'alaikum salam" jawab bu Lucia, satu-satunya guru yang memakai jilbab di sekolah itu. Namun meski terlihat alim, bu Lucia juga terkenal sangat tegas pada murid-muridnya.
"Maaf bu kami-"
"Makasih bu" ucap Yurry dan duduk di kursi kosong sebelah kanan di samping seorang lelaki berkacamata.
Tanpa menunggu lama, Yurry langsung mengetikkan nama dan password yang sudah tertulis di white board untuk memulai ujian berbasis komputer hari ini.
Semangat Yurry. Ini hari terakhir! batinnya.
*-*-*-*-*-*-*
"Maaf dok. Pasien di kamar Mawar memanggil anda" kata seorang wanita berseragam suster di ruangan Fakry.
"Saya akan kesana" balas Fakry tanpa mengalihkan pandangan dari foto di genggamannya.
Beberapa detik kemudian Fakry menaruh kembali foto itu dimejanya lalu melangkah keluar dengan wajah datar tapi tetap terlihat ramah.
Cklek...
"Assalamu'alaikum. Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Fakry pada pasien laki-laki seumuran dirinya yang sedang berbaring di ranjang.
"Wa'alaikum salam. Hati gue sakit dok" ujar lelaki itu.
Bondan Pratama, pria bule dengan kulit putih dan rambut coklat sahabat Fakry. Terbaring dirumah sakit karena mengalami anemia akibat di putuskan oleh pacarnya seminggu yang lalu.
"Allah itu udah baik karena ngejauhin kamu dari zina. Harusnya kamu bersyukur jangan malah kufur" ucap Fakry malas menanggapi sahabatnya yang bereaksi berlebihan menurutnya.
"Tapi hati gue sakit banget tad. Lo belum pernah kan ngerasain patah hati itu kek gimana sakitnya? Bagaikan ketiban durian runtuh terus ketiban si trunk.. Huhuu"
"Durian runtuh cuma ada di upin-ipin"...
"Bukannya durian di belakang pesantren juga pernah runtuh?"
Fakry hanya diam tidak menanggapi celotehan Bondan sambil memeriksa detak jantung sahabatnya.
"Kamu udah boleh pulang hari ini. Beberapa hari juga udah baik lagi, cuma harus rutin minum vitamin dan pil penambah darah"
"Gue ikut pulang sama lo ya tad"
"Tunggu sampe sore berarti". Fakry berjalan meninggalkan Bondan yang sedang cemberut karena harus menunggu lama.
"Kita bisa pulang lebih cepet ngga? Gue ngga sabar mau ketemu Laras. Tad! Ustad!" teriak Bondan. Tapi Fakry tetap mengacuhkan.
Begitulah pertemanan, apalagi kalau tahapnya sudah mencapai persahabatan. Tahap tertinggi dalam hubungan beda darah antara laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan, atau bisa juga mungkin lawan jenis adalah persaudaraan. Tidak ada rasa canggung dalam setiap hal, terlebih kalau sudah tau sifat dan karakternya seperti apa. Apapun yang dilakukan dianggapnya sebagai bentuk jati diri yang terpancar. Mengesampingkan ego dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
.
.
.
.
tbc.