
"Aiya, terus janji? janji apa yang ayah maksud?" kejar Yurry masih penasaran.
Ayahnya hanya sedikit berdehem kemudian melepaskan pelukannya dan kembali menghidupkan mobil seraya berkata "bukan apa-apa. Lupakan" katanya.
*-*-*-*-*-*
Ditempat lain Fakry sedang memarkirkan BMW putihnya, langkahnya gontai memasuki pekarangan pesantren sekaligus rumahnya itu.
Tidak ada yang berubah dari Fakryku..
Fakry-ku?
Seorang wanita cantik berucap lirih dibalik pintu memandang pria yang disukanya sejak kecil sebelum berlalu masuk.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab umi.
"Abi memintamu untuk menemuinya nanti. Sekarang mandilah dulu dan istirahat ya" sambungnya.
"Ada apa mi?" tanya Fakry penasaran.
Ia mendudukkan pantatnya di sofa ruang tamu berasama umi yang sedang membaca buku.
"Umi ngga tau, udah sana kamu mandi dulu baru temui Abi"
"Yaudah, Fakry mau mandi dulu"
Umi mengangguk.
Satu jam kemudian pria berkacamata itu keluar dari kamar dan langsung menemui abinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum bi"
"Wa'alaikum salam warahmatullah"
Fakry memilih duduk berhadapan dengan abinya. Abi tidak langsung memulai pembicaraannya hanya menatap kitab yang di pegangnya seraya mulut yang berucap tanpa suara.
"Bagaimana pekerjaan kamu?" kata abi kemudian menutup kitabnya.
"Alhamdulillah lancar bi. Hari ini Fakry melakukan operasi dua kali, dan alhamdulillah semuanya berhasil"
"Syukurlah"..."Begini Ry, abi sama umi ini sudah tua. Sebelum abi pergi abi ingin merasakan yang namanya menimang cucu. Lagian umur kamu juga sudah tidak muda lagi kamu harus segera mencari pendamping hidup"
Fakry menatap abinya dengan seksama, ia bingung harus menjawab apa, pasalnya ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
"Tapi abi, Fakry belum terpikir untuk menikah"
"Kenapa nak? Apa karena kamu belum ada wanita pilihan?"
Sial!
Kenapa abinya bisa tau, Fakry memang sama sekali tidak terbayang sosok wanita yang akan mendampinginya, selama ini dirinya hanya fokus bekerja dan mengurus pesantren aja, tidak ada hal lain apalagi mengenai perempuan.
"Abi kan tau sendiri, aku tidak suka mengurusi perempuan"
"Kalau begitu abi mau kamu bertemu dengan anak teman abi, dia masih muda dan sangat butuh bimbingan dalam hal agama. Abi rasa kamu cocok untuknya"
Abi tergelak.
"Abi rasa kamu pernah bertemu dengannya sebelumnya bukan? Ituloh waktu kita ke Bogor ada seorang anak perempuan dan ayahnya yang ingin masuk islam, kamu ingat?"
"Aku ingat kejadiannya tapi tidak ingat wajahnya"
"Syukur kalau kamu masih ingat. Sekarang mungkin gadis kecil itu sudah lulus SMA. Abi berencana akan menjodohkanmu dengan dia. Abi juga sudah bicara dengan ayahnya"
"Aku tidak ingin abi terburu-buru dalam mengambil keputusan, setidaknya biarkan aku mengenalnya dulu. Dia juga kan belum tentu mau padaku"
"Baiklah, tapi abi sangat berharap kamu bisa bersamanya. Membimbing dia menuju jalan yang di ridhoi Allah, dan kalian bisa bersama-sama menuju jannah-Nya"
"Insya Allah bi"
"Besok kamu libur kan? Kita akan menemui mereka besok pagi"..
Fakry hanya membalas dengan anggukan seraya menuangkan segelas air putih untuknya sendiri.
"Oh iya, tapi sebagai yang lebih dewasa kamu harus bersabar. Kata ayahnya dia mengidolakan seorang ustad yang juga sangat tampan. Abi tidak tahu, sepertinya kamu akan mendapat saingan nanti" Abu tersenyum lalu berdiri hendak bersiap untuk berjamaah sholat maghrib.
Tidak terpikir dalam benak Fakry siapa wanita yang di maksud abinya. Fakry hanya akan mengikuti alur saja, berkenalan dulu kalau cocok baru. Ia tidak mau menikah dengan sembarang orang apalagi tanpa adanya perasaan apapun diantara mereka.
Jujur selama 27 tahun usia, ia belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun, meski di rumah sakit maupun di pesantren dan lingkungan lainnya banyak wanita yang mengidolakan dan menyukai Fakry, tapi hatinya belum terpaut pada siapapun, hanya ada cinta untuk Allah dan Rasulnya serta keluarga.
Tidak ada yang lain!
...*-*-*-*-*-*-*...
Hari yang cerah. Matahari terbit dengan senyum yang memancarkan cahaya pagi ini. Dua orang lelaki paruh baya dan perempuan muda cantik berambut pirang sebahu sedang menyusun sarapannya diatas meja.
Pagi ini semua terlihat beda. Pikir Yurry.
Semua menu makanan yang tersusun diatas meja sangat menggiurkan, menu makan yang berbeda dari hari-hari biasanya membuat air liur Yurry seakan menetes hanya dengan melihatnya. Ada apa ini? Tumben.
"Kamu mandi dulu, dan dandan yang cantik yah" ucap ayah Mi (ayahnya Yurry) sambil mendorong pelan tubuh putrinya untuk naik ke atas.
"Tapi ayah, Yurry mau sarapan dulu. Itu makanannya melambai terus ke Yurry"
"Sarapannya nanti kalo udah mandi. Masa anak perawan makan sebelum mandi, jorok!"
"Haaa ayah. Ini air liur Yurry udah mau netes"
"Cepat cepat jangan banyak alasan"...
Akhirnya mau tidak mau Yurry melangkah menjauhi meja makan dengan wajah ditekuk.
.
.
.
.
tbc.