My Miracle

My Miracle
Bab 4 Bondan



Malam harinya, Yurry baru selesai melaksanakan sholat isya. Matanya menatap ponsel yang tergeletak diatas tempat tidur. Masih memakai mukena, Yurry menelpon nomor yang diberikan oleh Bondan tadi sore tanpa beranjak dari posisi semula.


"Ehem ehem"


"Ehrrg ehem"...


Beberapa kali Yurry berdehem menetralkan suaranya. Takut kalau suaranya terdengar seperti kuda liar nanti.


 *-*-*-*-*-*


Pesantren al-Ikhlas


"Assalamu'alaikum warohmatullah"...


"Assalamu'alaikum warohmatullah"...


Fakry dan Bondan serta para santriwan dan santriwati juga baru selesai melaksanakan ibadah sholat isya. Seperti biasa selepas sholat akan ada kajian dari ustad-ustad di pesantren. Dan malam ini adalah bagian Abi Syakir Ibnu Zulkarnain atau ayah dari ustad Fakry.


Semuanya diam, tenang, mendengarkan dengan seksama setiap kata dan ilmu yang diberikan lewat ceramah tersebut. Tapi tidak bisa dipungkiri ada orang-orang tertentu yang sering merasa kantuk saat mendengarkan kajian. Contohnya Bondan, saat ini dia sudah tidak tahan dengan kantuknya, tubuhnya berkali-kali terhuyung kadang ke samping kanan dimana ada Fakry disana, kadang ke kiri dimana ada Adit teman sekamarnya, kadang hampir terjungkal bahkan terjerembab ke depan. Pokoknya mata Bondan seakan digantungi batu sekarung.


Satu jam berlalu. Akhirnya Abi (panggilan untuk ayah Fakry) mengakhiri ceramah singkatnya. Menjelang pukul setengah sembilan, para santriwan dan santriwati bersiap untuk memulai pembelajaran mereka dimalam hari sampai pukul 22.00. Santriwan di bimbing oleh Fakry dan santriwati di bimbing oleh Umi Zahroh (ibunda Fakry).


Dikerumunan santriwati, ada sosok Laras. Laras Khoirunnisa. Gadis cantik dengan kerudung warna merah mencolok sangat kontras dengan kulitnya yang putih, sedang fokus memperhatikan pembelajaran malam ini yaitu tentang hadist sahih.


Laras adalah santriwati paling lama di pesantren al-Ikhlas ini, bisa dibilang dialah senior untuk para santriwati. Dia juga terkenal sangat cantik dan baik. Banyak santriwan yang kagum dan menyukainya termasuk Bondan. Bahkan Bondan putus dengan pacarnya yang juga santri disana karena terlalu dekat dengan Laras. Tapi Laras tidak pernah menggubris perasaan Bondan, hatinya sudah tertaut pada Fakry saat pertama kali menginjakkan kaki ke pondok itu. Yaa tapi begitulah, seperti halnya dia tidak menggubris perasaan Bondan, Fakry juga tidak pernah menanggapi perasaannya.


*-*-*-*-*-*


Dikamar Yurry


"Ishh ko ngga diangkat sih"..


"Apa ustad lagi sibuk? atau udah tidur? tapi inikan baru jam sembilan"...


"Aku coba lagi besok pagi deh"..


Saat ini Yurry sudah ada diatas ranjang. Menyelimuti tubuhnya sampai ke perut. Menatap foto dirinya dan ustad Fakry saat di cafe tadi sore yang ia jadikan walpaper lockscreen seraya berkata,


"Wan an (selamat malam) ustad" Yurry tertawa renyah, kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas berwarna tosca disamping tempat tidur. Lalu tertidur dengan lelapnya.


*-*-*-*-*-*


"Fahimtum (kalian paham)?" ucap Fakry mengakhiri pembelajaran malam ini.


"Fahimna ustad (paham ustad)" sahut para santri. Kecuali Bondan.


Bocah itu sedang mendengkur diatas mejanya tanpa memperdulikan siapapun.


"Bondan lo mau balik ke kamar atau mau tidur disini?" tanya Adit menggoyangkan bahu Bondan. Bondan menggumam tidak jelas, tanpa merubah posisi.


"Pergi sana banteng guling" racau Bondan.


Fakry yang baru saja selesai membereskan buku-bukunya segera menghampiri Bondan yang masih asik dengan dengkuran halusnya.


"Kamu ngga tau disini kalau malam suka ada yang melayang" ucap Fakry sambil berjalan melewati Bondan dengan setengah berteriak.


"Apa yang melayang? Dia pikir gue takut" gumam Bondan tak peduli.


Tengah malam. Fakry sudah terbaring dengan nyenyak di kamarnya. Dan Bondan? Jangan ditanya, tentu saja Bocah itu masih tertidur di aula santriwan. Desir angin yang menembus ventilasi ruangan ditambah kipas yang menyala ditiap sudut ruangan tak menyurutkan kantuknya. Meski berkali-kali ia meringkukkan badannya menahan hawa dingin yang menusuk.


Wusshh...


"Ngeehh"..


Wussshh...


Lagi-lagi suara yang entah datang darimana itu mengganggu mimpi indah Bondan. Suara yang mirip seperti angin tapi lebih kencang itu memaksa Bondan untuk mengerjapkan matanya dan terbangun.


"Siapa sih?" katanya pelan.


"Bondaan" samar-samar dan sangat halus, suara itu mengalun di telinga Bondan. Sekelebat bayangan di jendela kaca yang tertutup gorden membuat bulu kuduk Bondan berdiri seketika.


Sontak saja semua anggota tubuh Bondan menegang. Suasana yang hening membuatnya semakin merinding, untuk menghilangkan ketakutannya berkali-kali Bondan mengelus pundak. Sampai suara yang tadi memanggilnya terdengar lagi.


"Bondaan".. Terdengar sangat lembut dan sayu-sayu seperti terbang terbawa angin.


Jangan-jangan apa yang dibilang si ustad bener. Pikirnya.


"Bondaan"..


Lagi?


Kakinya sudah mewanti-wanti hendak berlari.


Prakk..


"Ahh". Kakinya malah menabrak meja kecil di depannya saat baru selangkah akan berlari. Dan ia sukses mencium lantai aula karena tersungkur.


"Hahahahaha"...


Bondan yang tersadar sedang ditertawakan dari luar, menatap tajam ke arah sumber suara. Berani-beraninya mereka menertawakan Bondan Pratama, kesalnya.


.


.


.


.


tbc.