My Love Undercover

My Love Undercover
Keputusan



Air mata mengalir membasahi pipi Nia yang semakin tirus, entah berapa banyak air mata yang tercurah dalam selama ini.


Dua minggu semenjak kejadian itu dia selalu berusaha menghindar dari Isman maupun Sham. Setiap kali bertemu keduanya dadanya pasti terasa sesak.


Dia rindu Isman, rindu berbincang dengannya, rindu senyum dan tatap matanya tapi keberaniannya berhadapan dengan Isman hilang sudah. Di sisi yang lain dia benci pada Sham yang telah menyebabkan semua ini terjadi, membuat hidupnya menjadi berantakan.


"Nia.." Isman menyapa Nia dengan lembut,


Nia terkejut tidak menyadari kehadiran Isman di sisinya.


"Ada apa sayang, cakaplah nape Ayang buat abang macam ni, kenapa diamkan Abang?" tanya Isman lembut.


Nia menunduk tidak menjawab pertanyaan Isman, karena dia sendiri bingung, apa yang harus di katakannya pada Isman. Dia sengaja menghindari Isman karena belum sanggup berhadapan dengan Isman seperti saat ini.


Isman tak tahan melihat Nia seperti ini, dia merasa asing dengan gadis itu, tidak seperti Nia yang di kenalnya. Dipeluknya Nia dengam lembut,


"Sayang..!" bisik Isman


Tangis Nia pecah seketika mendengar bisikan Isman, Dia sudah tidak kuat lagi membendung perasaannya.


"Maafkan Aku Bang!" bisik Nia lirih.


Isman memegang wajah Nia, menatap mata gadis itu dalam-dalam, dia tidak suka melihat orang yang di sayanginya menangis, disapunya air mata Nia dengan lembut.


"Cakaplah..!" bisik Isman.


"Aku nak kita putus!"  jawab Nia,


Sebelumnya dia sudah mempertimbangkan keputusan ini berulangkali, Dia memilih memutuskan Isman sekarang daripada membuatnya kecewa nanti. Pasti lebih membuat Isman terluka.


"Sayang, kenapa cakap macam ni?" tanya Isman kaget dengan ucapan Nia yang tiba-tiba ingin putus.


"Tak nak, Abang tak nak putus!" lanjut Isman dengan nada sedikit tinggi.


Nia berusaha melepaskan pelukan Isman, dia tidak menghiraukan kata-kata Isman. Nia berlalu meninggalkan Isman yang termenung sendiri di sudut tangga darurat.


*****


Isman tercengang melihat Nia memasuki mobil Sham di tempat parkir, apa sebetulnya yang sedang terjadi? timbul banyak pertanyaan di kepalanya.


Perubahan sikap Nia, Keinginan Nia untuk putus dan kenyataan saat ini melihat Nia memasuki mobil Sham menjadi teka-teki baginya, mungkinkah Nia memang sudah berpaling pada Sham?. Isman merasa kakinya lemas saat ini, begitu cepatkah Nia betubah?


Sementara itu, sedikit ragu Nia membuka pintu mobil Sham, dia sempat melihat sekilas sosok Isman di area itu, bayangan itu membuatnya memantapkan hati untuk masuk kedalam mobil Sham.


Sham terlihat gembira melihat Nia, akhirnya gadis itu setuju berbicara dengannya setelah selama ini selalu menghindarinya.


"Baiklah.. nak cakap apa?" tanya Nia, dia berusaha membuat dirinya tegar.


"Kita gi dari sini dulu ye!" Sham belum menjawab pertanyaan Nia, Dia menjalankan mobilnya keluar dari area kilang. Nia terdiam.


Di area parkir sebuah kebayan Sham memarkirkan mobilnya.


"Nia, Abang mohon ampunkan abang kerana peristiwa itu abang pun tersiksa, abang merasa sangat berdosa pada kamu!" 


Sham bicara sambil menunduk dia tidak sanggup menatap mata gadis di hadapannya itu.


Nia menghela nafas panjang, seribu penyesalan atas semua kejadian itu memang tidak ada artinya, tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang darinya.


Nia masih diam merenungkan kata-kata Sham. Dia dulu punya impian untuk menikah, tapi bukan dengan orang yang ada di depannya saat ini, mimpinya adalah Isman.


"Abang tahu kan.. Aku tidak mencintai Abang?" tanya Nia.


"Abang tahu!"


Jawab Sham pendek. Ya Dia tahu lelaki yang Nia cintai itu Isman bukan dirinya.


"Cam mana aku sanggup menikah dengan orang yang tidak aku cintai?"


Tanya Nia pelan, sebetulnya dia bertanya pada dirinya sendiri, tapi Sham mendengarnya.


Dipandanginya wajah Nia lekat-lekat, Sham faham mudah baginya tapi pasti sulit bagi gadis itu.


"Belajarlah.. Abang akan sabar menunggu sampai kamu cintai abang!"


Sham berusaha meraih jari Nia, tapi Nia mengelak tidak ingin di sentuh.


Hati Nia sedikit luluh mendengar keseriusan Sham, mungkin dia bisa memberikan kesempatan itu pada Sham, kesempatan bagi dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Tapi yang lebih penting dari itu ada satu hal yang membuatnya mau menerima Sham.


"Baiklah.." Akhirnya Nia mengambil keputusan, dengan satu syarat kita menikah satu tahun lagi, setelah aku habis kontrak! dan Abang kena pergi ke Indonesia untuk menikahi aku.


"Tapi.."


Sham terdiam, Niatnya ingin menikahi Nia saat ini, nggak apa-apa nikah siri dulu sebelum Nia habis kontrak.


"Kenapa?" tanya Nia heran


"Takde pape, tapi cam mana kalau ada baby?" tanya Sham bingung


Nia tersentak, dia tidak berfikir sampai sejauh itu. Mungkin saja kejadian saat itu bisa membuatnya pregnant. Dua minggu sejak kejadian itu, Nia memang belum pernah melakukan test pack apalagi memang jadwal tamu bulanannya belum sampai waktunya.


"Tengoklah, dalam satu bulan Ni!" jawab Nia sambil menghela nafas


"Kita bicara lagi nanti! Lanjutnya.


Ucapan Sham sebetulnya membuat Nia jadi pusing, Ya Allah apa yang harus di perbuatnya jika memang betul-betul dirinya pregnant, Apa kata semua orang tentang dirinya nanti, bagaimana dengan nasib kontraknya saat ini.


Nia termenung, kenapa Dia harus menerima nasib seperti ini.


"Baiklah," sahut Sham, dia berusaha mengikuti kemauan Nia.


"Cam mana dengan Isman?" Sham sebetulnya tidak ingin menanyakan masalah ini, takut Nia kembali marah. Tapi dia penasaran apa yang akan Nia lakukan dengan Isman.


"Biar aku yang selesaikan!" jawab Nia pendek.


Nia menunduk berusaha menahan air matanya, hatinya sebetulnya sakit tapi tidak ada pilihan lain selain meninggalkannya.


"Maafkan Abang!" ucap Sham lirih. Dia menyesal membuat Nia dihadapkan pada pilihan yang sulit seperti ini.


*****