
Ian terdiam mendengar jawaban Nia, sedikit ambigu jawaban yang diberikan Nia barusan. Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan untuk menghilangkan kelakuan yang terjadi diantara mereka.
"Kayaknya acara api unggunnya udah mulai tuh!" ucapnya
Nia menoleh ke arah kumpulan teman-temannya, dia kemudian berdiri mengibaskan pasir di pantatnya.
"Yuk kesana" ajak Nia.
Ian berdiri mengikuti gadis itu, berjalan kearah teman-teman mereka.
Mereka kemudian berbaur dengan yang lainnya mengikuti acara demi acara, lumayan seru juga acaranya.
Tidak terasa malam semakin larut makin seru acaranya, tapi Nia sudah nggak bisa lagi menahan kantuknya, dia memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat, besok masih ada acara sebelum mereka pulang kembali ke rutinitas sehari-hari di kilang tempat mereka mencari ringgit.
*****
Setelah kemarin off dua hari, hari ini Nia masuk Shift pagi. Seperti biasa dia melakukan rutinitas pekerjaannya, pagi ini ini banyak lot yang harus di sampling, tumpukan PCB diatas pallet berjejer dimana-mana memenuhi ruangan QA membuat sedikit stres bagi member QA karena harus kerja extra hari ini untuk mengatasi jammed.
Nia sedang asyik dengan sample nya saat ada seorang cowok bertanya mengejutkannya.
"Sorry, awak nampak lot ini tak?" tanya cowok itu sambil memperlihatkan kode PCB yang di carinya
Nia tidak langsung menjawab pertanyaan cowok itu, dia mengernyitkan dahinya, cowok itu baru pertama kali dia lihat semenjak bekerja di sini, Nia melihat name tag cowok itu 'Sham' nama cowok itu, rupanya dia anak PC.
"Coba aku tengok kode nya" jawab Nia kemudian, Sham memperlihatkan kode itu pada Nia
"Oh, sebentar" Nia kemudian mencocokan kode itu dengan catatan PCB yang susah dia chek
"Em.. PCB tu dah hantar kat Packing lah" lanjut Nia.
"Oke, takpe. Thanks ye" Sham berterimakasih pada Nia, "Biar aku cari sendiri kat Packing" lanjutnya.
Nia mengangguk "Eh.. awak baru ke kat sini?" tanya Nia penasaran.
"Ye, baru dua hari kat sini" jawab Sham sambil tersenyum
"Thanks ye, aku nak cari dulu PCB tu kat Packing" Sham berpamitan pada Nia.
Nia memperhatikan Sham yang meninggalkannya, pantesan dia merasa baru pertama melihat cowok itu, rupanya dia anak baru.
Dari kejauhan, Nia melihat Sham sedang berbincang dengan bang Alwi anak Packing, nggak tahu apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya anak itu sedang menanyakan keberadaan PCB yang dicarinya tadi.
Nia kembali melanjutkan aktitasnya yang sempat tertunda.
Tak lama kemudian terdengar bel istirahat pertama berbunyi, Nia bergegas menuju lift bermaksud naik ke kantin, dia harus menyelesaikan urusan perutnya dulu yang mulai berdangdut ria karena tadi pagi dia nggak sempet sarapan, ia harus cepat-cepat ke kantin soalnya telat sedikit antriannya bisa panjang.
Istirahat pertama ini waktunya cuma sebentar hanya lima belas menit, kalau Shift malam dia bisa sedikit curi waktu karena orang office nggak ada, kalau Shift pagi mana bisa begitu.
Untunglah, di kantin belum ada siapa2 yang ada cuma penjaga kantinnya he..he. Nia langsung memilih makanan, kali ini dia pengen makan kwetiaw goreng dan segelas air tebu.
Selesai membayar dia langsung duduk dan melahap makanannya tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Dari kejauhan di barisan anak cowok, Ian melongo memperhatikan Nia yang sedang sibuk dengan makanannya
"Itu anak lapar apa kelaparan" gumamnya,
lucu juga melihat cara Nia makan yang buru-buru itu sampai tidak mengangkat kepalanya saking serius.
Ian sebenarnya menyukai Nia dari semenjak masih di Indonesia, sekarang setelah mengenal Nia bertambah rasa sukanya apalagi setelah mengetahui sedikit tentang kehidupan Nia, ia ingin slalu menghiburnya.
Tapi Nia sepertinya tidak peka dengan perasaan Ian terhadapnya, bahkan sepertinya Nia membuat batasan yang nggak bisa dia langkahi.
Waktu di Tanjung Leman kemarin Nia berkata "Jangan coba-coba, sekali masuk takan bisa keluar lagi!" Ian merasa itulah batasan ya, Nia tidak mengizinkan siapa pun masuk kedalam hatinya.
Ian bersyukur ternyata sikap Nia tidak berubah setelah obrolan terakhir di Tanjung Leman, waktu itu dia fikir gadis itu pasti marah dengan kata-kata nya yang menyimpan keseriusan salam candaan.
Ternyata sikapnya biasa saja, ini yang membuat Ia penasaran, apa gadis itu memang nggak peka sama sekali.
Sementara itu, Nia bukannya tidak paham dengan maksud Ian, dia hanya tidak ingin memberi harapan padanya, karena sampai saat ini dia belum bisa membuka hati untuk siapapun, hatinya masih terkunci rapat, belum ada satu orang pun yang bisa membukanya.
Dia hanya ingin berteman saja dengan Ian, karena Ian kelihatannya baik dan menyenangkan orangnya.
Bell masuk sudah berbunyi, Nia beranjak dari duduknya segera berlari menuju lift, setelah terlebih dulu meletakkan piring dan gelas kotor ya di tempat cuci piring.
Ian berusaha mengejarnya namun sayang Nia sudah lebih dulu masuk kedalam lift. Yaah.. padahal dia pengen sekedar menyapa Nia, tapi kelihatannya gadis itu terburu-buru.
Sampai di area QA dia melanjutkan kerjaannya yang tertunda tadi, masih banyak yang harus dia chek, target random nya baru lima lot, setidaknya sepuluh lot lagi yang harus dia cek supaya sampai target.
"Tolong buat yang ini dulu ye!" Sham membawa satu pallet PCB meletakkan ya di depan Nia.
"Urgent!" lanjutnya.
Nia mengernyitkan dahi nya, seenaknya aja anak baru itu main perintah, smua PCB yang sedang di kerjakan olehnya juga urgent, tadi bang Nizam sudah lebih dulu minta tolong dia, ni anak baru seenaknya aja mau nyalip.
"Minta tolong Atie, boleh tak?!" Nia menolak PCB yang dibawa Sham, dia menunjuk meja Atie. Saat ini dia harus komit menyelesaikan yang punya Nizam terlebih dulu.
Sham terlihat sedikit kesal, tapi dia sadar dia masih baru di sini, belum bisa menunjukan taringnya.
"Jaga kamu nanti" umpatnya dalam hati, tanpa bicara Sham, menarik kembali pallet PCB itu dengan handjack kemudian meletakkan ya di samping meja Atie yang kosong, Atie sepertinya sedang pergi ke tandas.
Nia tersenyum puas melihat anak baru itu tidak bisa ngomong apa-apa selain menuruti kata-katanya.
"Emang enak di kerjain!" gumam Nia dalam hati.
Atie yang baru kembali dari tandas, ngomel-ngomel saat melihat tumpukan PCB di samping meja ya
"Woii.. ape nih!" serunya pada Sham yang sedari tadi menunggunya.
"Kau buat dulu yang ni!" Sham memberi perintah pada Atie
Atie melotot "Suka-suka dia je, suruh orang buat keje!" umpatnya kesal.
Nia terkekeh diam-diam sambil menutup mulutnya, dua orang itu akhirnya sukses dia kerjain hari ini.
"Nah loh.. alamat perang dunia nih" umpat Nia
"Tolong, chek yang ni dulu, PCB ni urgent sangat! petang ni harus dah kena hantar lah!" kali ini Sham mengulangi permintaannya, memohon dengan baik-baik pada Atie.
Atie sedikit melunak setelah mendengar Sham memohon dengan cara yang baik. Walau masih sedikit kesal Atie menuruti permintaan Sham untuk mendahulukan PCB yang dibawanya.
Nia diam-diam memperhatikan mereka berdua, dia nyengir sendiri "Untung mereka gencatan senjata" gumamnya, bisa repot juga kalau terjadi perang.
Nia kembali meneruskan pekerjaannya sementara Atie pun melakukan hal yang sama.
"Camne?" tanya Sham setelah melihat Atie menyelesaikan pekerjaannya
"Oke, lepas!" jawab Atie singkat
Sham terlihat sumringah,
"Thank You!" Sham berterimakasih kemudian membawa kembali PCB yang telah selesai di chek itu mengantar ya ke tempat Packing.
***