My Love Undercover

My Love Undercover
Kesalahan Fatal



Mobil yang di tumpangi Sham dan Nia berhenti di depan sebuah rumah di kompleks perumahan. Sham melirik gadis yang duduk di sampingnya, dari JB tadi Nia lebih banyak diam tidak banyak bicara.


"Jom.." Sham memecah keheningan, mengajak Nia keluar dari mobilnya.


Nia melirik Sham, tidak beranjak dari posisinya dari tadi dia sibuk berfikir, apa kata kakanya Sham nanti seorang gadis menginap di rumah laki-laki, hadeh..


Dia sebetulnya merasa segan untuk menginap di rumah kakanya Sham, malu rasanya.


"Bang, Akak takpe ke Aku menginap?" tanya Nia


Sham menghela nafas. Dia faham gadis itu ragu saat ini, pasti malu dan segan menginap di rumah orang yang belum dia kenal.


"Takpe, nanti Abang cakap kat Akak, nanti Kamu bisa tidur kat bilik Abang!" jawab Sham.


Nia terdiam lagi, Oke lah fikirnya, sekarang ini nggak ada pilihan lain.


"Oke" sahut Nia


Sham membuka pintu mobil mengajak Nia turun dari mobil, Nia menurut mengikuti langkah Sham.


Sham kemudian membuka pintu gerbang berjalan menuju pintu rumah, Dia mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Eh.. apa hal ni?" Sham bicara sendiri


"Kenapa Bang?" tanya Nia penasaran


"Ni, macam tak da orang kat umah lah.." jawab Sham, "Kejap Abang telpon dulu" lanjut sham, dia mengeluarkan hanphone nya bermaksud menelepon kakaknya.


Ada pesan masuk di handphone yang belum terbaca dari kakaknya, Sham membuka pesan itu,


"Alahmak..!


Sham terlihat bingung setelah membaca pesan itu, membuat Nia tambah penasaran


"Kenapa Bang, Ada apa?" tanya Nia


"Mereka takde kat umah lah mereka gi rumah orangtua abang ipar, tapi kalau kunci umah tu ada lah Akak simpan bawah pasu." jawab Sham bingung,


Sebetulnya nggak jadi masalah sih Nia bisa aja nginap di sini sekarang, tapi dia merasa canggung kalau harus berduaan saja di rumah.


Nia terdiam, Dia jadi tambah bingung sekarang, nggak enak juga kalau harus berduaan di rumah, takut jadi fitnah.


"Takpe Bang, hantar Aku balik hostel je!" Nia mengambil keputusan lebih baik kembali ke hostel dan di marahin guard daripada harus nginap, masalahnya nggak ada orang lain di rumah itu, takut jadi fitnah.


Sham mengerutkan keningnya, Ia menyesal menemparkan Nia dalam posisi sulit saat ini. dia melirik jam tangannya hampir jam sebelas malam. kalau sekarang pergi menganrar Nia, minimal jam dua belas malam baru sampai hostel.


"Camni je, takpelah sekali ni kamu nginap je kat sini, kalau balik hostel nanti kasian Iren, Passcard kamu sudah Iren ambil kan, nanti jadi problem juga dengan dia!" sahut Sham


Nia menepuk jidatnya, baru ingat passcardnya sudah diambil Iren, kalau dia pulang ke hostel sekarang pasti jadi masalah besar, guard itu pasti mengecek passcard nya.


Setelah menemukan kunci yang di simpan kakanya di bawah vas, Sham mengajak Nia masuk rumah, dengan ragu Nia mengikutinya.


"Kamu tidur sini, kalau nak gi bilik air tu kat sana!" tunjuk Sham. Dia kemudian mengambilkan T-shirt dan sebuah sarung untuk Nia salin.


Setelah cuci muka dan mengganti seragamnya, Nia merebahkan dirinya di tempat tidur ukuran double yang ada di kamarnya Sham, tak banyak barang di sini cuma ad tempat tidur dan sebuah lemari.


Nia belum bisa memejamkan matanya, fikirannya kembali melayang pada Isman, dia kangen banget sama Isman, cowok yang berhasil membuat hidupnya ceria.


Tak terasa sebutir air matanya jatuh, "Abang kamu jahat banget.. kamu dimana?" bisiknya dalam hati.


Sementara itu Sham berbaring di sofa di ruang tamu, Dia masih asyik memainkan game di handphone nya sambil menonton tv.


"Yah.." Sham kesal, batre hanphone nya tinggal lima belas persen lagi, padahal game nya tengah seru-seru nya. Dia bermaksud mengecas handphone nya tapi jadi ragu, charger itu ada di kamarnya.


"Takpelah, mudah-mudahan Nia belum tidur" fikirnya, Sham beranjak menghampiri pintu kamarnya bermaksud mengetuk pintu tapi di urungkannya takut gadis itu sudah tidur dan membangunkannya. Perlahan Dia membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci.


Sham tertegun melihat pemandangan di hadapannya, Dia lupa dengan maksudnya mengambil charger.


Nampak di hadapannya Nia sudah lelap tertidur memakai T-sirt dan sarung yang di berikan tadi. Nia terlihat begitu imut polos seperti bayi dalam keadaan tidur seperti itu.


Diluar kesadarannya Sham mendekati Nia yang sedang terlelap, ingin sekali mengecup kening itu, perasaan sayangnya pada gadis itu memang belum hilang sampai saat ini walaupun dia tahu gadis itu tidak mencintainya karena hanya Isman yang ada di hati Nia.


Terpaku di samping tempat tidur, Sham melihat gadis itu yang merubah posisi tidurnya yang menyebabkan kain sarung yang dipakainya sedikit tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih.


Darah bergejolak di seluruh tubuh Sham, kali ini dia bukan hanya ingin mengecup kening Nia, ada hasrat lebih dari itu, ia ingin lebih.. ingin menjadikan gadis itu miliknya.


Nafsu sudah menguasai akal sehatnya , di ciuminya wajah gadis yang sedang terlelap itu, kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir lembutnya Nia. Tangan Sham bergerilya mengelus apa yang dia suka.


Dalam tidurnya Nia bermimpi bertemu Isman, Isman memeluknya dan menciumnya, Isman yang selalu nakal kalau sedang berduaan.


Setengah tidak sadar Nia merasakan tubuhnya berat seperti terhimpit, Dia membuka matanya dan alangkah terkejutnya saat mendapati bukan Isman yang sedang menciumnya tapi Sham yang menindih tubuhnya.


Sham betul-betul telah di kuasai oleh hawa nafsunya, dia menciumi Nia dengan sedikit kasar tangannya begerak kesana kemari, menyusuri tubuh gadis itu.


"Jangan Bang..lepaskan !" Air mata menetes di pipi Nia, Nia memohon pada Sham agar melepaskannya.


Sham tidak memperdulikan permohonan Nia, di terus meneruskan keinginanmya, hasratnya.


"Aaaah.." Nia menjerit, saat Sham yang telah hilang kesadarannya menerobos garis pertahanan Nia


Ada rasa sakit dibagian bawah tubuhnya..Nia meronta berusaha melepaskan diri dari himpitan Sham..tapi sia-sia, nafsu yang telah menguasai laki-laki itu lebih kuat dari tenaganya. Nia tidak bisa berteriak karena bibir Sham mengunci rapat mulutnya.


Air mata tak berhenti menetes dari pipi gadis itu hatinya hancur saat ini.


*****